Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 8 Jalan-jalan


__ADS_3

****


"Alya, makasih ye ... sebab awak dah nak jaga ke dua cucu-cucu Makcik," ucap Makcik Diana pada Alya, yang tengah memperhatikan Shanaz dan Allysa bermain sepeda di halaman belakang.


"Makcik! Bila Makcik Ade Kat sini?! tanya Alya kaget, saat tiba-tiba terdengar suara Makcik Diana dan Makcik Diana udah berdiri di samping Alya.


"Baru saje, maaf bila Makcik buat awak kaget." Makcik Diana berucap, dan ikut duduk di kursi samping Alya.


"Makcik sebelumnya, tak pernah tengok mereka bedua sesenang ne Al," ucap Makcik Diana bersuara.


"Maksud Makcik?" tanya Alya tak paham.


"Mereka bedua tak pernah mendapat kasih sayang yang utuh, dari ke dua orang tua mereka, Al."


"Papa dan Mama mereka bercerai, saat Shanaz berusia 3 tahun dan Allysa baru berusia 1 bulan lebih," lanjut Makcik Diana kemudian, dengan Suara lemah.


"Biasanya, Shanaz sangat susah akrab dengan orang baru, Al. Berbeza dengan Allsya yang muda akrab pada siapa pun. Makanya, saat Shanaz mulai banyak bicara pasal awak, Makcik sangat senang. Sebab, beberapa tahun terakhir ne, Shanaz tak banyak bicara ... kecuali kita yang ajak bicara dia duluan, Al. Bahkan, pada Papanya pun ... Shanaz tak akrab. Sebab, Shanaz jarang bertemu Papanya." Makcik Diana pun menjelaskan panjang lebar, pada Alya.


Setelah cukup lama hanya menjadi pendengar, kini Alya pun mulai berbicara.


"Sabar ye Makcik. In saya Allah, saye akan buat Allysa dan Shanaz bahagia.


"Ape yang Shanaz dan Allysa rasakan, saye juga rasakan Makcik," lanjut Alya lirih.


Alya pun menceritakan tentang dirinya, yang dari umur 8 tahun udah menjadi yatim-piatu. Dan, tinggal di panti asuhan.


"Maafkan Makcik ye, Al. Makcik tak tau, bila kisah hidup awak seperti ne."


"Dan, awak boleh anggap saye Emak awak sendiri, Al." lanjut Makcik kemudian dengan tulus.


"Makasih ... Makcik," ucap Alya memeluk Makcik Diana.


*


*


*


Pukul 7 pagi, Zein yang baru balik dari Singapore. ingin menemui Anak-anaknya di dalam kamar. Namun, saat Alya ingin ke luar dari kamar Shanaz dan Allysa, bertepatan pula dari luar Zein membuka pintu kamar duluan.


Auw!


Alya meringis memegang keningnya, yang terbentur pintu sebab Zein yang ingin masuk ke dalam kamar, bertepatan dengan dirinya yang ingin ke luar kamar.


"Sorry. Saye, tak sengaja." Zein berucap, dan akhirnya menatap orang yang ada di depannya, yang tengah memegang keningnya.


"Awak? Kenape, awak Ade Kat sini?" tanya Zein bingung, sesaat setelah ia mengingat siapa orang yang ada di dalam kamar anaknya.


"Saye ...." belum sempat Alya menjelaskan, Makcik Diana datang ke arah mereka.


"Zein. Alya sekarang jaga Anak-anak awak," jelas Makcik Diana.


"Awak, masih ingat dengan Alya ... yang keje di resto Mak Ngah 'kan Zein?" tanya Makcik Diana kemudian.


"Dan, Alya ... ne Zein. Anak-Makcik, Papa-nya Shanaz dan Allysa," ucap Makcik kemudian pada Alya.


Shanaz dan Allysa yang baru selesai berenang, langsung memeluk Papanya.


"Papa!" teriak mereka bedua bersamaan.


"Anak-anak Papa, pagi-pagi dah berenang?" tanya Zein mengelus pundak ke dua anaknya, penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Tak biasanya, awak bedua ne berenang, same-same?" tanya Zein kembali.


Karna, Zein tau ... jika putri pertamanya, tidak suka ketika Allysa mengikuti apa yang Shanaz lakukan.


"Mulai saat ne, Shanaz akan selalu maen bersama adek, Papa." Shanaz menjawab ucapan Papanya.


Zein pun terlihat senang, karna akhirnya ke dua putrinya mulai akrab. Sebab, dulu Shanaz merasa Papanya pilih kasih terhadapnya. Karna, Papanya selalu mengurus Allysa dan ada di rumah. Ya ... itu karna Zein memilih berhenti menjadi Kapten awak kapal. Dan, sekarang terjun ke dunia bisnis ... meneruskan usaha Alm Papanya. Meskipun 2 Minggu sekali, Zein harus berada di Singapore. Tapi, setiap weekend ... Zein selalu balik ke Melaka, menemani Anak-anaknya. Berbeda saat ia dulu masih menjadi kapten awak kapal. Ia, hanya bisa bertemu dengan Shanaz kecil dalam waktu 1 bulan setiap tahunnya.


"Kebetulan awak dah balik, Zein. Jadi, awak boleh ajak Anak-anak pigi jalan-jalan," ucap Mama.


"Ye Papa, kita nak pigi jalan-jalan. Aunty Alya juga ikut," sambung Shanaz dan Allysa serempak, dengan bahagia.


Melihat Anak-anaknya yang bahagia, Zein akhirnya mau. Meskipun sebenarnya ia penat, dan ingin rehat sebentar.


"Ok, baiklah ... jom awak bedua mandi." perintah Zein, pada ke dua anaknya.


"Hore!" teriak mereka bedua riang, sambil masuk ke dalam kamar mandi, yang ada di dalam kamarnya.


"Alya. Awak juga bersiap ye, sebab awak akan temani Anak-anak," ucap Makcik Diana kemudian, pada Alya.


"Ye, Makcik."


****


"Ma. Mama ade rencana ape sebenarnya?" tanya Zein to do point pada Mamanya, ketika hanya ada mereka bedua saja di ruang tamu.


"Maksud awak ape, Zein?"


"Mama, jangan lah pura-pura tak paham."


"Pasal Alya ade Kat sini, dan kenape pula Alya yang jaga Anak-anak," lanjut Zein kemudian.


"Oh, pasal tuh. Shanaz dan Alya yang nak selalu ingin jumpa dengan Alya. Sebab, awak tak bagi Mama bawa kereta jauh-jauh. Jadilah, Alya ... Mama minta keje Kat sini saja. Untung lah, Makcik Ngah bagi Alya keje Kat sini. Bila tak bagi ... awak yang repot hantar Anak-anak ke sana saat weekend," jelas Mama panjang lebar.


"Papa jom." ajak Shanaz dan Allysa tak sabar.


"Ok-ok. Pamit dengan Oma dulu," ucap Zein.


"Oma. Kami pigi dulu ye," pamit ke dua cucunya.


"Ye, Sayang. Awak bedua jangan nakal ye," sahut Makcik Diana.


"Baik Oma "


Setelah Shanaz dan Allysa masuk ke dalam mobil, bagian belakang kemudi dari sisi kiri. Alya pun bermaksud membuka pintu mobil dari sisi kanan, karna ia ingin duduk di belakang, bersama Shanaz dan Allysa. Namun, saat tangan Alya membuka pintu mobil setengah. Zein pun bersuara sambil menahan pintu mobil ....


"Awak duduk Kat Depan, awak fikir saye ne supir kah?" ucap Zein dingin, dan segera masuk ke dalam mobil.


Dengan terpaksa Alya pun, akhirnya duduk di depan bersama Zein.


"Shanaz, Allysa. Kita pigi breakfast dulu ya. Sebab, Papa tadi belum breakfast," ucap Zein melirik ke dua putrinya, dari kaca spion.


"Ye, Pa. Shanaz juga masih lapar, sehabis berenang tadi," sahut putri pertama Zein.


"Aunty Alya juga belum breakfast, Papa." sambung Allysa.


Zein pun akhirnya memilih resto seafood, yang cukup terpopuler di kawasan Melaka.


"Awak, boleh makan seafood 'kan?" tanya Zein pada Alya.


Alya pun mengangguk. Dan, mereka langsung masuk ke dalam resto seafood itu. Namun, saat mereka baru duduk, seorang perempuan menyapa Zein.

__ADS_1


"Zein?"


Zein menoleh, namun ia tak berniat menyahut. Bahkan, Zein pun terlihat malas ketika bertemu dengan perempuan itu.


"Zein, ape ne Anak-anak kita?" tanyanya kepada Zein, sambil melihat Shanaz dan Allysa bergantian.


Lalu, ia pun beralih menatap Alya ... yang duduk di samping Zein.


"Ne, istri awak kah Zein?" tanyanya kembali.


"Bukan urusan awak! Lebih baik awak pigi!" usir Zein tegas.


Alya yang tak tau apa-apa, cuma diam menjadi pendengar.


"Zein. Saye minta maaf, sebab saye dah buat awak kecewa. Tapi, saye menyesal Zein," ucap perempuan itu kembali.


"Tak payah lah awak cakap pasal hal tuh! Sebab, saye pun dah tak nak ingat pasal tuh lagi!" tegas Zein kembali.


"Kita pigi cari tempat makan yang lain ye, Sayang." ajak Zein kepada Alya, sambil mengenggam tangan Alya.


Alya yang terkejut, dengan sikap Zein yang tiba-tiba mengenggam tangannya, berusaha ingin melepas genggaman Zein. Namun, Zein mala mempererat genggaman tangannya.


"Shanaz, Allysa ... jom kita cari tempat makan yang lain." ajak Zein kembali, pada ke dua anaknya.


"Ye, Papa."


"Zein. Kenape, awak pigi. Saye, masih nak bertemu dengan Anak-anak, saye." ucap Ira, mantan istri Zein menahan mereka.


"Shanaz, Allysa. Ne, Mama ... sayang." Ira mendekati ke dua anaknya, dan memeluk mereka.


Namun Shanaz dan Allysa, kompak menolak pelukan dari Ira.


"Aunty, bukan Mama kami!" tolak mereka bedua tegas.


Ira pun terlihat geram, atas penolakan dari ke dua putrinya.


"Awak bedua ne, dasar Anak-anak kurang ajar! Saye ne Mama kandung awak bedua! Tapi, awak bedua kenape cakap macem tuh hah?! Ira berkata berang.


"Ira! Cukup!" bentak Zein, kala mendengar Ira berkata kasar kepada ke dua putrinya.


Lalu, Zein menarik lembut Shanaz dan, Allysa dari hadapan Ira. Dan, memberikan mereka bedua pada Alya.


"Awak ne memang Ibu yang melahirkan mereka! Tapi, awak tak pantas disebut Ibu ... sebab perangai awak yang tak elok!" tegas Zein penuh emosi.


Untungnya pengunjung resto belum ramai, dan mereka memilih meja di bagian outdoor resto. Yang ternyata ... Ira mantan istri Zein juga tengah berada di situ.


"Jangan salahkan mereka, bila mereka tak kenal sape Ibu kandung mereka! Sebab, awak sendiri lah yang buat mereka tak kenal pada awak!" lanjut Zein kemudian dengan tegas.


"Papa ... Allysa tak nak di sini. Jom, kita pigi dari sini, Pa ... ," rengek Allysa.


Zein akhirnya pun membawa mereka pergi, dari resto itu menuju tempat lain.


"Papa, boleh kah Allysa duduk Kat Depan same Aunty?" tanya Allysa saat sudah berada di parkiran resto.


Zein pun menoleh ke arah Shanaz ....


"Shanaz, tak ape 'kan duduk seorang Kat belakang?" tanya Zein.


"Tak ape, Pa."


Zein mengusap lembut pucuk kepala Shanaz. "Ok, jom masuk. Papa akan bawa kemana saje yang Shanaz dan Allysa nak kunjungi."

__ADS_1


TBC


__ADS_2