Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 27 Wali


__ADS_3

****


POV Author


Pukul 8 setengah pagi waktu di Malaysia, Makcik Diana bersama supir pribadinya, tengah bersiap untuk mengantar Alya dan Ibunya ke kediaman Makcik Suh yang berada di Port Klang, Selangor. Sementara Buk Irawan, memilih menginap di rumah Adik lelakinya, yang berada di Kuala Lumpur.


Ya, karna esok Alya dan Faiz akan melangsungkan pernikahan. Jadi, Makcik Diana beserta sanak saudaranya, memilih kediaman Makcik Suh sebagai tempat untuk dilangsungkannya pernikahan Alya dan Faiz. Dan, juga karna Alya tak ingin acara pernikahannya dilangsungkan di aula hotel. Meskipun sebelumnya Makcik Diana udah menawarkan ke Alya, hotel bertaraf bintang 5. Untuk tempat dilangsungkannya pernikahannya dengan Faiz putra bungsunya.


POV End


"Alya? Awak dan Ibu dah siap kah?" tanya Makcik Diana pada Alya, saat berada di depan pintu kamarnya.


"Dah, Makcik."


"Tak payah bawak pakaian banyak-banyak, Al. Sebab, selepas majelis perkawinan awak dan Faiz selesai. Awak pon balik ke rumah ne lagi, Makcik tunggu kat luar ye." Makcik Diana kemudian berucap, sambil tersenyum ke arah Alya.


"Baik, Makcik."


Tak lama kemudian, Alya dan Ibunya pun udah tiba di teras rumah Makcik Diana. Dimana Makcik Diana sedang menunggu kedatangan Alya dan Ibunya.


"Encik Irawan, tak nak sekalian ikut kereta kita kah?" tanya Makcik Diana pada Buk Irawan, sebelum masuk ke dalam mobil.


"Terima kasih atas tawaran, Puan. Tapi maaf ... Puan, sekejap lagi Adik lelaki saye datang nak jemput saye kat sini," sahut Buk Irawan menjelaskan.


"Oh, macem tuh rupanya. Baiklah ... kita akan tunggu ketibaan (kedatangan) Adik-Encik saje," ucap Makcik Diana kemudian, dan duduk kembali di kursi jati teras rumahnya.


"Tak ape, bila Puan nak pigi hantar Alya dan Ibunya ke Port Klang Sekarang. Sebab, saye boleh tunggu kat sini seorang. Lagi pon ade maid, Puan yang boleh kawani saye kat sini, sampai ketibaan Adik lelaki saye."


Belum sempat Makcik Diana menyahut ucapan Buk Irawan, mobil berwarna merah keluaran terbaru dari perusahaan otomotif Proton, berhenti tepat di depan kediaman Makcik Diana.


"Kereta sape tuh? Kenape berhenti dekat sana?" tanya Makcik Diana saat melihat mobil itu berhenti di depan rumahnya, dikarenakan pintu pagar rumahnya terbuka setengah.


"Tuh kereta Adik lelaki saye, Puan." Buk Irawan menjawab pertanyaan Makcik Diana.


Tak lama kemudian ke luar lah 3 orang lelaki, dari dalam mobil itu. Buk Irawan pun langsung melambaikan tangannya, ke arah lelaki yang dikenalnya.


"Papa, ikut ke sini juga rupanya? Bila Papa datang ke Malaysia?" tanya Buk Irawan pada lelaki berusia 41 tahun, yang tak lain adalah suaminya.


"Tadi malam pukul 9, Papa dan Adit sampai Malaysia, Ma." Jawab suami Buk Irawan.


"Tak payah 'kan, cari alamat rumah ne?" tanya Buk Irawan kemudian, pada Adik lelakinya.


"Tak lah, Akak. Sebab, saye 'kan dah lama berada kat Malaysia ne, mesti lah tau kawasan kat Malaysia," sahut Adik-Buk Irawan, dengan logat Melayunya. Karna Adik lelaki Buk Irawan, udah hampir 12 tahun tinggal di Malaysia.


Setelah menyapa suami dan adik lelakinya, Buk Irawan kemudian memperkenalkan mereka pada Makcik Diana, dan juga Alya beserta Buk Ipah.


"Puan, Alya, Buk Ipah. Yang ne suami saye, dan yang ne lah adik saye." Buk Irawan memperkenalkan suami dan adiknya, kepada ke tiga perempuan di hadapannya.


Setelah mereka berkenalan, Makcik Diana pun mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Jom lah kita bincang kat dalam." ajak Makcik Diana.


"Tapi, Puan nak pigi hantar Alya ke Klang? Bila kita bincang lagi, pasti Puan akan lambat ke Klang?" Buk Irawan menyahut ucapan Makcik Diana.


"Tak ape lah, Encik. Dari sini ke Klang pon, hanya menghabiskan massa 2 jam saje," ucap Makcik Diana.


"Jom lah kita masuk, tak baik ade orang jauh datang, tak kita layan." ajak Makcik Diana kemudian, dan berjalan duluan menuju ruang utama rumahnya.


"Puan, tak jadi pigi ke Klang kah?" tanya salah satu maid Makcik Diana, yang tengah mengepel lantai ruang utama, saat melihat Makcik Diana masuk kembali ke dalam rumah.


"Jadi, tapi agak lambat sikit piginya. Sebab ade tamu datang," jelas Makcik Diana pada salah satu asisten rumahnya.


"Makcik dah selesai mop(mengepel) lantai kah?" tanya Makcik Diana kemudian.


"Dah, Puan."


"Tolong buatkan minum untuk tamu saye ye, Makcik." perintah Makcik Diana pade asisten rumahnya, yang berusia 47 tahun itu.


Kini mereka semua pun udah duduk di sofa, yang ada di ruang utama.


"Maaf ye, Puan. Bila ketibaan kami ke sini, buat kepergian Puan jadi tertunda," ucap suami Buk Irawan tak enak hati.

__ADS_1


"Tak ape, Cik. Jangan risau," sahut Makcik Diana.


"Oh ye Encik Irawan, Cik yang satu ne sape?" tanya Makcik Diana kemudian, karna tadi ia belum menyadari kehadiran lelaki itu. Dan Buk Irawan pun belum mengenalkan lelaki itu, pada dirinya, Alya, dan juga Buk Ipah.


"Oh ye maaf, Puan. Saye sampai terlupa, Cik ne Uncle-Alya," jelas Buk Irawan.


Alya dan Buk Ipah yang mendengarnya begitu terkejut.


"Uncle? Maksud Ibu? Bukan kah Alya tak memiliki sanak saudara satu pun?" tanya Alya bingung.


"Aditya ne memang Om kamu, Al." Buk Irawan berucap untuk meyakinkan Alya.


"Tapi, Buk. Saat saya sebelum mengadopsi Alya, saya mendatangi tempat tinggal almarhumah Ibu Alya, sesaat setelah Ibu-Alya mengalami kecelakaan. Yang saya dapat dari KTP almarhumah Ibu-Alya. Dan ketua RT di tempat Alya tinggal dulu bilang, jika Ibu Alya dan Ayahnya sama-sama anak tunggal. Dan tidak memiliki sanak saudara," jelas Buk Ipah panjang lebar, menyambung obrolan mereka.


*Flash back On*


15 tahun lalu, saat Buk Ipah dan suaminya baru pulang dari dokter kandungan, menggunakan motor. Yang kebetulan jalan yang mereka lalui itu sepi. Tiba-tiba ada seseorang perempuan tergeletak di trotoar jalan, dengan darah yang mengalir dari bagian kepalanya. Dan di sampingnya ada gadis kecil yang tengah menangis histeris, sambil mengguncang badan perempuan itu. Ya gadis kecil itu adalah Alya, dan perempuan yang tergeletak itu adalah Ibunya.


Buk Ipah dan suaminya pun langsung mendekati Alya. Kemudian Buk Ipah menenangkan Alya, sementara suami Buk Ipah langsung menelpon ambulance untuk ke lokasi kejadian. 15 menit berlalu, ambulance pun datang. Ibu Alya pun langsung di masukkan ke dalam ambulance, untuk di bawak ke rumah sakit. Buk Ipah dan Alya juga ikut bersama mobil ambulance, yang membawa Ibu-Alya. Sementara suami Buk Ipah mengikuti dari belakang, menggunakan motornya.


Namun saat di tengah perjalanan, Ibu Alya pun menghembuskan nafas terakhirnya. Dikarenakan banyak kehilangan darah, yang disebabkan pendarahan di bagian kepalanya. Semenjak kejadian itu Alya pun ikut tinggal bersama Buk Ipah dan suaminya. Setelah 2 hari kepergian Ibu Alya, Buk Ipah dan suaminya mendatangi tempat tinggal Alya, yang mereka dapat dari KTP Ibu-Alya.


"Maaf, Buk. Rumah Pak RT, di mananya ya?" tanya Buk Ipah pada wanita paruh baya, saat melewati jalan tersebut.


"Oh, Ibu lurus saja. Rumah paling ujung cat kuning, dan yang besar itu lah rumah Pak RT."


"Oh, iya. Makasih ya, Bu." Buk Ipah mengucapkan terima kasih, saat wanita paruh baya itu memberitau rumah Pak RT.


"Iya, sama-sama Buk."


"Lho, ini 'kan Alya? Kemana saja kamu dan Ibumu 3 hari ne, Al? Udah ada beberapa orang yang cariin Ibu-Alya lho, soalnya ada yang mau pesan kue untuk hajatan." Wanita paruh baya itu pun berucap kembali, saat melihat Alya ada di boncengan motor.


"Ibu Alya penjual kue ya, Buk?" tanya Buk Ipah ingin tau.


"Iya, Buk. Kue apa aja Ibu-Alya ini bisa buat, enak lagi rasanya,"


"Semenjak Ayahnya Alya meninggal, Ibu-Alya buka usaha itu, Buk." ucap wanita paruh baya itu kembali.


"Hemm, kami menemukan Alya di jalan. Saat kecelakaan yang dialami oleh Ibunya, dan Ibu-Alya telah meninggal," jelas Buk Ipah lirih.


"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un, kasihan sekali Alya." ucap wanita paruh baya itu terkejut, yang tak lain tetangga Alya.


"Maaf, Buk. Saya nggak bisa lama-lama, kalo gitu saya mau langsung ke rumah Pak RT ya." pamit Buk Ipah sopan.


"Ya, Buk. Silahkan."


Sesampainya di rumah Pak RT, Buk Ipah dan suaminya pun menceritakan tentang kejadian yang menimpa Alya dan Ibunya.


"Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Pak RT terkejut saat mendengar penjelasan dari Buk Ipah dan suaminya.


"Bapak turut berduka cita ya, Al. Semoga kamu sabar, ini semua udah takdir dari Allah." Pak RT berucap kemudian, dan merasa iba dengan Alya.


Sementara Alya pun hanya diam, dan terlihat berkaca-kaca.


Setelah itu suami Buk Ipah pun memberitaukan pada Pak RT, mengenai niatnya yang ingin mengadopsi Alya.


"Jika boleh, saya dan Istri saya ingin mengangkat Alya menjadi anak kami, Pak."


"Kebetulan udah sangat lama kami menginginkan anak, dan doktor mengatakan ... jika istri saya tidak bisa memiliki anak," ucap suami Buk Ipah kemudian, dengan lirih.


"Saya tergantung Alya saja, Pak. Karna yang saya tau, Almarhum Ayah dan Ibunya Alya ini sama-sama anak tunggal, dan tidak memiliki sanak saudara," jelas Pak RT.


"Dan sebenarnya pun, saya juga ingin mengangkat Alya menjadi anak saya. Karna saya tidak memiliki anak perempuan, dan istri saya juga udah tidak bisa hamil lagi. Karna, rahim istri saya terpaksa disteril. Dikarenakan, istri saya mempunyai riwayat penyakit yang beresiko tinggi, jika harus hamil lagi." Pak RT pun berucap kembali.


"Tapi, karna saya udah memiliki 3 orang anak lelaki. Dan, Ibu sama Bapak belum memiliki Anak. Saya mengalah lah, Pak ... biar Alya menjadi anak Bapak dan Ibu saja. Saya lihat, Bapak dan Ibu ini orang baik, pasti hidup Alya akan terjamin." Pak RT memberikan pendapat.


"Terima kasih, Pak. In sya Allah, saya dan istri saya akan menjaga Alya, seperti anak kandung kami sendiri," sahut suami Buk Ipah dengan senang.


"Baiklah Pak, Bu. Besok saya akan urus berkas pengalihan orang tua asuh, untuk Alya. Jadi, besok Bapak dan Ibu bisa datang kembali ke sini lagi." Pak RT menjelaskan pada Buk Ipah dan suaminya.


"Baik, Pak. Terima kasih."

__ADS_1


Dan keesokan harinya, Buk Ipah dan suaminya pun datang kembali ke rumah Pak RT. Setelah menandatangani surat adopsi Alya, Pak RT pun memberikan santunan untuk Alya.


"Pak, Buk. Ini untuk Alya dari saya, dan warga sini." Pak RT memberikan amplop coklat yang berisi uang.


"Ya Allah Pak, in sya Allah ... saya dan istri bisa mencukupi kebutuhan Alya," tolak suami Buk Ipah sopan.


"Tidak apa, Pak. Terima lah untuk Alya, uang ini memang hak Alya. Setiap ada warga saya yang mendapat kemalangan, pasti akan menerima santunan," paksa Pak RT.


"Baik lah, Pak. Saya terima uang ini." Suami Buk Ipah akhirnya menerima uang tersebut.


5 tahun Buk Ipah dan suaminya mengadopsi Alya, mereka pun bisa merenovasi rumah mereka untuk dijadiin panti. Dan, Buk Ipah bersama suaminya pun menampung 16 orang anak jalanan yang terlantar. Dan setelah 2 minggu kemudian, suami Buk Ipah pun meninggal karna sakit.


*Flash Back Off*


"Tapi, ini memang Om-nya Alya, Buk. Adik satu-satunya, almarhum Ayah-Alya.


"Dan kebetulan Om-nya Alya ini, satu tempat kerja dengan suami saya," lanjut Buk Irawan kemudian.


"Kok bisa gitu?" tanya Buk Ipah bingung.


*Flash Back On*


5 hari lalu, saat Buk Irawan dan suaminya menumpang mobil Aditya, yang ternyata merupakan Om-nya Alya.


"Sibuk sangat akhir-akhir ini ya, Akak. Pulang-pergi Batam-Malaysia," ucap Aditya pada Buk Irawan yang duduk di kursi belakang, sambil fokus menyetir.


"Ya Dit, karna ada salah satu TKW Akak, yang mau nikah sama lelaki asal negri jiran. Itu sebabnya Akak sibuk, pulang-pergi Batam-Malaysia. Karna mau urus dokumen untuk pernikahan mereka, di kedutaan Malaysia." Buk Irawan pun menjelaskan pada lelaki, yang tengah fokus menyetir itu.


"Wah beruntung sangat lah perempuan tuh. Cantik kah, Akak?" tanya Aditya basa-basi.


"Cantik sangat lagi, Dit. Baik, rajin pula lagi,"


"Sebentar, ini Akak ada bawa berkas TKW Akak itu," ucap Buk Irawan kemudian.


Lalu ia memberikan lembaran identitas Alya, pada Aditya.


"Fokus menyetir dulu lah, Dit. Sampai rumah 'kan, bisa lanjut lagi ngobrolnya," sambung suami Buk Irawan khawatir.


Tiba-tiba Aditya pun mengerem mendadak


Citt!


"Astaghfirullah!" seru Buk Irawan kaget.


"Tuh 'kan, baru saya bilang Dit."


"Kamu nggak nabrak orang 'kan?" tanya suami Buk Irawan kemudian.


"Iโ€”ini, Alya keponakan saya. Udah lama sangat saya mencari keberadaannya dan Kakak ipar, saya. Setelah Abang saya meninggal," jelas Aditya masih dengan ekspresi terkejut.


Buk Irawan dan suaminya pun tak kala terkejut.


"Masya Allah, ternyata dunia ini begitu sempit. Alhamdulillah jika Alya masih memilik Om, dari almarhum Ayahnya," ucap Buk Irawan senang.


"Tapi, Ibunya Alya udah meninggal saat Alya usia 8 tahun," jelas Buk Irawan kemudian.


"Apa? Jadi, Alya tinggal dengan siapa, Akak?" tanya Aditya terkejut.


Buk Irawan pun menceritakan semuanya pada Aditya, mengenai kehidupan Alya setelah Ibunya meninggal. Yang ia ketahui dari Buk Ipah, Ibu asuh Alya.


"Ya Allah, kasihan sekali keponakanku itu," ucap Aditya lirih.


"Udah lah Dit, yang penting sekarang kamu udah mengetaui di mana keberadaan Alya. Lagian pun banyak yang menyayangi Alya, termasuk saya." Buk Irawan menjelaskan pada Aditya.


"Ya udah Dit, setelah kamu dan Abang pulang dinas dari luar kota. Kamu datang saja ke Malaysia bersama Abang, nanti Akak share lokasi tempat Alya tinggal. Adik lelaki Akak nanti bisa menjemput kamu dan Abang, di bandara Malaysia," lanjut Buk Irawan kemudian.


*Flash Back Off*


"Ya Allah, Al. Alhamdulillah, kamu masih punya Om dari almarhum Ayah, kamu. Jadi Om kamu bisa jadi wali kamu, di pernikahan kamu esok." Buk Ipah mengucap syukur dan bahagia.


TBC

__ADS_1


Makasih buat yang udah mampir di cerita recehku ๐Ÿ˜š. Jangan lupa tinggalin jejak ya ๐Ÿค—.


__ADS_2