
****
Melihat Alya hanya diam saja sambil terisak, Buk Ipah pun merasa kasihan padanya.
"Udah jangan sedih, maafin Ibu karna udah menyudutkan kamu," ucap Buk Ipah lirih, sambil mengelus lembut pundak Alya.
"Apa yang Ibu katakan itu memang benar, Buk. Secara tidak langsung, Alya telah mempermainkan perasaan Bang Zein dan Bang Faiz," sahut Alya lirih, membenarkan semua ucapan Buk Ipah.
"Udah lah Al, semua udah terjadi. Ibu juga tau, jika kamu tidak ingin berada di posisi seperti sekarang ini," sambung Buk Ipah mencoba menenangkan Alya.
"2 hari lagi kamu, 'kan akan menikah dengan Faiz. Ibu mohon, agar kamu melupakan perasaan cintamu kepada Zein," ucap Buk Ipah kemudian.
"Ibu tidak ingin, kamu menjadi Istri yang dzolim pada suamimu. Karna, kamu masih memiliki perasaan dengan lelaki lain. Meskipun Ibu tau, jika Zein itu lekaki yang baik." Buk Ipah melanjutkan ucapannya kembali.
"Iya, Buk. In sya Allah ... Alya tak akan mengecewakan Ibu," sahut Alya.
"Yo wes, Ibu mau sholat dzuhur dulu. Kamar mandinya di mana?" tanya Buk Ipah.
"Di situ, Buk." Alya menunjuk ke arah samping lemari, yang bersebelahan dengan kamar mandi.
*
*
*
Pukul 3 sore, Makcik Diana, Ibu dan Agency Alya tengah mengobrol di ruang keluarga. Zein dan ke dua putrinya yang baru saja pulang, langsung dipanggil oleh Makcik Diana.
"Zein? Kenape, jemput Anak-anak dari sekolah lama sangat?" tanya Makcik Diana, saat melihat anak lelaki pertama dan ke dua cucunya, melewati ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang keluarga.
"Tadi Zein, ajak Anak-anak makan kat luar sekalian makan angin (jalan-jalan), Ma." Zein menjawab pertanyaan Mamanya.
"Hem ... Zein pigi ke bilik dulu ye, Ma." lanjut Zein kemudian berpamitan untuk ke kamarnya.
"Shanaz, Allysa. Jom kenalan sama Ibunya, Aunty. Yang ne Ibu-Aunty," ucap Makcik Diana pada ke dua cucunya, memperkenalkan Buk Ipah.
"Hai Oma ... ," sapa Shanaz dan Allysa serempak.
Lalu ke dua bocah itu berjalan menuju tempat Buk Ipah duduk, dan mencium punggung tangan Buk Ipah bergantian.
"Masya Allah ... kamu berdua cantik sekali," ucap Buk Ipah kagum, pada ke dua bocah yang ada di hadapannya.
Shanaz dan Allysa pun saling pandang, karna mereka berdua tak paham dengan kalimat Buk Ipah.
"Maksud Ibu, Aunty. Shanaz dan Allysa lawa (cantik) sangat," sambung Alya memberitau pada Kakak beradik itu, saat menyadari jika mereka berdua bingung, dengan kalimat Ibu asuhnya.
"Oh ... macem tuh rupanya. Terimah kasih, Oma." Shanaz dan Allysa berkata secara serempak, sambil tersenyum ke arah Buk Ipah.
"Panggilnya jangan Oma ya, sayang. Tapi, panggil Nenek saja," ucap Buk Ipah tersenyum pada Shanaz dan Allysa.
"Ye, Nenek."
__ADS_1
Lagi-lagi Shanaz dan Allysa menyahut secara serempak.
"Shanaz, Allysa. Pigi salim sama Makcik juga." perintah Makcik Diana pada ke dua cucunya, untuk menyalim Buk Irawan-Agency Alya.
"Baik, Oma."
Shanaz dan Allysa pun kini berjalan ke arah Buk Irawan, dan kemudian mencium punggung tangannya.
"Amboy, comel sangat awak bedua ne." Buk Irawan pun menatap kagum Shanaz dan Allysa.
"Mereka bedua ne, Anak-anak Zein kah Puan?" tanya Buk Irawan kemudian, pada Makcik Diana.
"Ye, Encik."
"Pantas saje ke dua putrinya comel-comel, Papanya pon handsome," ucap Buk Irawan tertawa kecil.
"Faiz pon handsome juga, Puan ne beruntung sangatlah punya dua anak lelaki dah lah handsome, baik budi pekerti lagi," ucap Buk Irawan kembali memuji.
Makcik Diana yang mendengar ucapan Buk Irawan pun tersenyum.
"Alhamdulillah lah, Encik. Saye dibagi Allah Anak-anak seperti Zein dan Faiz, tuh anugerah terindah dari Allah."
"Pasti nanti Anak-anak Alya dan Faiz, juga comel dan handsome. Sebab Alya 'kan comel, Faiz pon handsome," ucap Buk Irawan menggoda Alya.
"Ibu ne lah, nikah pon belum. Dah bahas Anak," ucap Alya tersipu malu.
"Ya nggak apa bahas Anak sekarang, Al. Wong kamu 'kan lusa dah nikah sama Faiz. Yang nggak boleh tuh, produksi Anak duluan sebelum nikah," sahut Buk Irawan terkekeh menggoda Alya kembali.
"Shanaz, Allysa. Jom kita ke bilik." ajak Alya pada ke dua bocah itu, untuk menghindari percakapannya dengan Buk Irawan yang terus menggodanya.
"Kamu ini lah Ra, suka sekali menggoda Alya. Lihat pipi Alya sampe merah seperti itu," ucap Buk Ipah tersenyum kecil pada Buk Irawan, setelah kepergian Alya.
"Sepertinya Anak-anak Zein, sangat dekat pada Alya ye Puan?" tanya Buk Irawan pada Makcik Diana.
"Bukan hanya dekat, Encik. Tapi ke dua cucu, saya pon dah sangat menyayangi Alya," sahut Makcik Diana tersenyum.
Namun seperkian detik kemudian, raut wajahnya berubah sedih.
"Puan? Kenape, Puan macem sedih gitu?" tanya Buk Irawan, saat menyadari raut kesedihan di wajah Makcik Diana.
"Saye hanya sedih memikirkan Zein, dan ke dua anaknya, Encik."
"Maksud, Puan?" tanya Buk Irawan kembali dengan wajah bingung.
"Sebelum saye mengetaui, jika Alya tuh perempuan yang nak Faiz pinang massa 2 tahun lalu. Saye dah merancang ingin menjodohkan Zein dengan Alya. Tapi, sebelum saye bertindak untuk mendekatkan Zein dan Alya. Zein dah terpikat duluan pade Alya, dan akhirnya Zein pon meminang Alya," jelas Makcik Diana panjang lebar.
Buk Irawan, yang mendengar penjelasan dari Makcik Diana pun merasa terkejut.
"Astaghfirullah ... ," ucapnya beristighfar.
"Lantas, ape Faiz tau bila Zein dan Alya pernah merancang(berencana) untuk married, Puan?" tanya Buk Irawan kemudian.
__ADS_1
Makcik Diana pun menggeleng bertanda tidak.
"Alya yang tak ingin agar Faiz tau. Sebab, Alya merasa bersalah pade Faiz," ucap Makcik Diana kemudian.
"Masya Allah ... jadi Alya dan Zein berkorban perasaan," sambung Buk Irawan lirih.
"Boleh dikata macem tuh lah, Encik." Makcik Diana menyahut lirih.
****
Sementara Zein yang tadi berpamitan ingin ke kamarnya, mala pergi menuju kamar Faiz yang bersebelahan dengan kamarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Angah? Awak tengah rehat kah?" tanya Zein pada Faiz, sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Tak, Along. Bila nak masuk, masuk saje. Pintu tak terkunci pon." Faiz menyahut dari dalam.
Ceklek!
Zein pun masuk dan melihat Faiz yang duduk bersandar di kepala ranjang, sambil berkutat di depan laptop.
"Tengah busy(sibuk) kah awak ne?" tanya Zein saat udah duduk di sisi ranjang, berhadapan dengan Faiz.
"Tak lah, Along. Saye nak belajar urus dokumen syarikat saje, biar saye boleh tolong Along untuk urus syarikat arwah(almarhum) Papa kita," sahut Faiz tersenyum dan menghentikan kegiatannya.
"Tunggulah awak sihat betul, baru awak boleh handle syarikat yang kat sini. So, biar Along handle syarikat yang kat Singapore dan stay kat sana," ucap Zein tersenyum.
"Kenape, Along tak stay kat sini saje. So, kita boleh jaga Mama bersama, dan Anak-anak Along pon tetap dekat dengan Papa mereka," ucap Faiz menatap lekat Zein.
"Awak ne lah, Singapore kat Malaysia tuh tak jauh lah, Ngah. Setiap weekend pon Along dah balik ke Malaysia, untuk tengok Anak-anak."
"Ye, saye tau. Tapi, 'kan kasihan Shanaz dan Allysa, Along. Dah lah mereka bedua tak dapat kasih sayang dari Ibu mereka, lantas Papa mereka pon tak ade dekat dengan mereka," jelas Faiz kasihan terhadap ke dua keponakannya.
"Meski Along berada kat Singapore, 'kan masih ade awak dan Alya yang akan beri kasih sayang pade Anak-anak. Lagian Along busy pon, demi masa depan Anak-anak."
"Ye, tapi 'kan berbeza Along. Meskipun saye tau, Alya tuh sangat menyayangi Anak-anak. Tapi, tetap saje Shanaz dan Allysa meginginkan Papa mereka berada dekat dengan mereka," protes Faiz.
"Tuh 'kan belum pasti lagi, Ngah. Along pigi ke bilik dulu ye, awak jangan paksa sangat buat keje. Sebab, awak tuh baru saje sadar dari koma. Dan, masih dalam pemulihan." pamit Zein kemudian.
"Hemm," sahut Faiz singkat.
"Awak harus rehat, Ngah. Sebab, lusa awak 'kan nak melangsungkan pernikahan," ucap Zein sebelum menutup rapat pintu kamar Faiz.
Sesampainya di kamar tidurnya, Zein pun langsung merebahkan dirinya ke ranjang, untuk melepas penatnya.
'Bila saye tinggal kat rumah ne, pasti saye akan sulit menghilangkan perasaan cinta saye ne pade Alya' batinnya dalam hati.
__ADS_1
TBC
Happy reading 🤗, jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 😅. Dan, makasih buat yang dah mampir ke cerita recehku ini 🥰