Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 17 POV Alya


__ADS_3

****


Aku tak menyangka akan bertemu kembali dengan Bang Faiz. Lelaki yang 2 tahun lalu aku kenal, dan lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Jika semua anak perempuan akan mengatakan ... kalo Ayah mereka lah lelaki yang menjadi cinta pertama bagi mereka. Namun aku tidak ... karna, aku dari kecil tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari seorang Ayah. Aku pun tak tau seperti apa wajah Ayahku. Karna yang aku ingat, aku dulunya hanya tinggal berdua saja bersama Ibuku. Ibuku yang begitu menyayangiku, dan selalu menjagaku dengan baik. Namun, setelah usiaku 8 tahun ... Ibuku menjadi korban tabrak lari oleh orang yang tak bertanggung jawab. Dan, kejadian itu terjadi tepat di hadapanku sendiri. Aku yang saat itu masih berusia 8 tahun, hanya bisa menangisi Ibuku yang terlempar ke bahu jalan dengan darah yang mengalir dari bagian kepala Ibuku.


Saat itu ... di tempat kejadian Ibuku ditabrak, begitu sunyi. Untungnya ada perempuan yang melintasi tempat dimana Ibuku ditabrak. Ya, perempuan itu adalah Buk Ipah ... perempuan yang sangat berjasa dalam hidupku. Ia pun membawa Ibuku ke rumah sakit, namun saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nyawa Ibuku tak tertolong, karna mengalami pendarahan dibagian kepala. Dan dari situlah ... aku diasuh oleh Buk Ipah, dan dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Begitu juga aku, yang udah menganggap Buk Ipah seperti Ibu kandungku sendiri.


Kembali lagi soal Bang Faiz, setelah hampir 2 tahun lebih aku lost contact dengannya. Bahkan aku pun tak pernah memikirkan, akan bertemu kembali dengannya. Apalagi saat aku melihat keadaan Bang Faiz yang sekarang. Ada rasa ibah dalam hatiku .... Terutama saat aku mendengar penjelasan dari Bang Faiz, yang mengatakan jika kondisinya seperti itu, karna ia mengalami kecelakaan setelah pulang dari toko perhiasan membeli cincin nikah kami. Bahkan ia pun sempat koma selama 2 tahun, semakin nyeri hatiku mendengar penjelasan dari Bang Faiz.


Tiba-tiba ... Bang Faiz menanyakan tentang diriku, apakah aku udah berkeluarga atau tidak? Saat aku katakan aku belum berkeluarga, Bang Faiz terlihat bahagia ... dan, ia kemudian memintaku untuk melanjutkan rencana kami yang tertunda. Cukup terkejut aku mendengarnya, bahkan aku lihat Makcik Diana pun ikut terkejut. Saat mendengar Bang Faiz memintaku untuk menjadi istrinya.


Cukup lama aku terdiam, tak memberikan jawaban pada Bang Faiz. Hingga akhirnya aku pun menjawab iya, karna aku tak tegah melihat Bang Faiz yang sedih dan merasa kurang percaya diri dengan keadaannya yang sekarang. Disebabkan kondisinya yang tak bisa berjalan seperti dulu.


Saat malam harinya, Makcik Diana ... Mamanya Bang Faiz. Menyuruhku untuk datang ke kamarnya, setelah aku selesai makan malam. Makcik Diana pun menanyakan tentang perasaanku pada Bang Faiz, apakah masih sama seperti 2 tahun yang lalu?. Namun aku tak menjawabnya, dan aku mala bertanya balik pada Makcik Diana. Apa ia tak setuju jika aku menikah dengan Abang Faiz?. Itu lah yang ada dalam pikiranku, sebab ... saat Bang Faiz memintaku untuk menjadi istrinya. Dan, aku pun menjawab iya. Makcik Diana begitu terkejut, dan terlihat sedih.


Namun dugaanku salah, ternyata Makcik Diana memang teringin aku menjadi menantunya. Dan, Makcik Diana juga memberitaukan padaku ... mengapa ia terlihat sedih. Ya, itu karna ia memikirkan tentang hati anak pertamanya. Yang tak lain adalah Zein, lelaki yang beberapa hari lalu melamarku. Dan, aku juga telah menerima lamarannya.


Hati ini begitu sesak, kenapa aku bisa tak mengingat Bang Zein. Aku pun jadi semakin serba salah, dan tak tau harus berbuat apa. Hingga akhirnya ... aku pun menangis di depan Makcik Diana. Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku seakan-akan seperti perempuan yang tak punya hati dan tak punya pendirian. Dalam jarak beberapa hari, aku telah menerima lamaran dari 2 lelaki sekaligus, yang ternyata mereka berdua itu merupakan Abang beradik.


Untungnya Makcik Diana, begitu paham dengan apa yang aku rasakan. Ia pun tak menyalahkanku, dan menyerahkan semua keputusan padaku. Namun, Makcik Diana ... tiba-tiba menanyakan padaku. Apakah aku betul-betul suka pada Zein? Aku pun menjawab iya. Meskipun aku baru beberapa bulan ini mengenal Bang Zein. Tapi, aku merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya. Bang Zein juga begitu perhatian padaku, dan aku juga merasakan seperti memiliki pelindung. Bang Zein bagiku ... adalah lelaki yang baik, apalagi saat aku melihat kasih sayang yang ia berikan kepada ke dua anaknya. Kesabarannya, kedewasaannya, dan jiwa penyayangnya lah yang membuat aku mudah terpikat padanya.


Berbeda dengan Bang Faiz, meskipun Bang Faiz baik, penyayang, dan juga perhatian padaku. Tapi, rasa sukaku padanya tak sebanyak rasa sukaku pada Bang Zein. Ntah lah aku juga bingung? Apalagi saat Bang Zein menghindariku selama 2 minggu, aku tiba-tiba merasa sedih. Padahal saat itu aku dan Bang Zein, tidak ada hubungan apa-apa. Berbeda saat dengan Bang Faiz, saat ia tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar. Aku memang merasakan sedih dan kegundahan dalam hatiku, tapi tak sebesar rasa sedihku pada Bang Zein. Saat Bang Zein sengaja menghindariku.

__ADS_1


POV End


*


*


*


Setelah Alya ke luar dari kamar Makcik Diana. Makcik Diana pun mengambil handphonenya, dan menghubungi seseorang.


["Hello, assalamualaikum ... Kak Long?" sapa seorang perempuan yang tak lain adalah Makcik Suh, adik iparnya ]


["Waalaikumsalam ... Suh. Awak dah Tido kah? Maaf bila saye ganggu awak rehat, tapi sekarang ne ... saye lagi butuh bebincang dengan awak, Suh." Makcik Diana terlihat panik.]


Ya, karna ketika Makcik Diana panik. Ia akan memanggil Makcik Suh, dengan namanya. Bukan Angah, seperti panggilan biasa yang Makcik Diana ucapkan pada Makcik Suh, yang merupakan adik iparnya.


["Suh, awak masih ingat kah? Soal perempuan yang Faiz katakan pade kita, sebelum Faiz mengalami accident?".]


["Ye, masih.]


["Ternyata perempuan tuh Alya, Suh." jelas Makcik Diana memberi tau.]

__ADS_1


["Ape! Lantas, ape yang terjadi Akak?" tanya Makcik Suh kaget.]


Makcik Diana pun menceritakan semuanya pada adik iparnya itu.


["Ya Allah ... kasihan sangat lah Zein," ucap Makcik Suh lirih.]


["Tuh lah, Suh. Saye juga tak tau harus cakap ape pade Zein. Saye, betul-betul bingung Suh, sebab Zein dan Faiz tuh Anak-anak yang saye sayangin," sahut Makcik Diana lirih.]


[" Akak yang sabar ye, serahkan pade Allah. Zein tuh lelaki yang kuat, in sya Allah ... Zein pasti boleh terima semua ne. Dan, betul yang Alya katakan pade Akak. Bila Faiz lah yang lebih butuhkan Alya. Sebab Alya lah semangat untuk Faiz agar sihat total, dan boleh berjalan. Cukup 2 tahun ne, Faiz terbaring tak bedaya di katil rumah sakit. Sebab Faiz koma, mungkin Faiz tuh memang takdir cinta Allah yang sesungguhnya, Akak." Makcik Suh mencoba menyemangati Makcik Diana.]


["Ne dah malam, lebih baik Akak rehat. Esok kita bincang lagi ye," lanjut Makcik Suh kemudian.]


["Terimah kasih ye, Ngah. Sebab awak dah nak bincang dengan Akak." Makcik Diana berucap, dan merasa lebih baik setelah berbicara dengan Adik iparnya.]


["Ye, Akak. Same-same ... assalamualaikum.]


["Waalaikumsalam ... Ngah."]


Panggilan pun terputus.


TBC

__ADS_1


Thanks buat yang udah mampir di cerita recehku ini 🥰😘. Jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 😂.


__ADS_2