Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 13 Melamar


__ADS_3

****


Beberapa menit kemudian, Zein telah sampai di toko perhiasan yang tak jauh dari Bandara. Ia pun segera masuk ke dalam toko itu.


"Selamat petang, Encik? Nak cari barang kemas(perhiasan) ape, Encik?" tanya Karyawati toko perhiasan itu, sambil menyapa Zein.


"Saye, nak cari cincin buat lamar kekasih saye," sahut Zein.


"Encik, nak model cincin ape? Emas putih kah, atau emas 916?" tanya Karyawati itu.


"Saye, nak emas putih,"


"Tapi, tolong awak carikan yang paling bagus ye." Zein melanjutkan ucapannya kembali.


"Ok, Encik."


Karyawati toko itu pun langsung mengambil, cincin emas putih yang bermatakan permata bulat king safir biru.


"Ne, barang baru saje datang dari Jepang, Encik. Dan, cincin ne limited edition," ucap Karyawati itu memberi tau Zein.


"Kadar berape?" tanya Zein.


"24 karat ... Encik, dan beratnya 10 gram. 1 gramnya 650 ringgit,"


"Ok. Saye, ambil cincin tuh."


"Jadi, total semuanya enam ribu lima ratus ringgit ye, Encik ... ," ucap Karyawati itu.


Setelah membayar cincin itu, Zein langsung segera menuju pulang. Hampir 2 jam lebih akhirnya Zein sampai di Melaka. Dan, ia pun tiba di rumah tepat pada pukul 7 setengah malam.


*


*


*


2 hari kemudian ....


Pukul 5 petang, Zein yang baru pulang dari kantor. Tak melihat Alya dan ke dua anaknya di dalam rumah. Ia udah mencari di kamar Anak-anaknya, tapi ia tak menemukan mereka. Biasanya saat petang ... Alya dan ke dua anaknya, selalu menghabiskan waktu sore hari dengan menonton tv di ruang keluarga, sambil menunggu waktu magrib tiba. Tapi, hari ini ... entah ke mana mereka pergi. Zein yang mulai cemas, langsung bertanya kepada salah satu maid yang udah lama bekerja di rumah Mamanya.


"Makcik?" sapa Zein, pada maid yang tengah mencuci piring.


"Ye ... ,"


"Makcik, ade tengok Alya dan Anak-anak, saye kah?" tanya Zein.


"Alya dan Anak-anak, tadi tengah makan angin(jalan-jalan) ke rumah jiran, yang depan rumah ne, Zein."


"Ok, makasih ... Makcik." setelah mengatakan itu, Zein langsung berlalu untuk menyusul Alya dan Anak-anaknya.


Namun, saat Zein baru ke luar rumah ... Alya dan ke dua anaknya udah balik.


"Papa!" seru Shanaz dan Allysa serempak memeluk Papanya.


"Anak-anak ... Papa, belum mandi kah?" tanya Zein membalas pelukan ke dua anaknya.


"Belum, Pa ... ," sahut mereka bersamaan.


"Jom ... awak bedua mandi, lepas magrib nanti. Papa ajak awak bedua makan angin(jalan-jalan)." perintah Zein pada ke dua anaknya.


"Ok, Papa." Shanaz dan Allysa menuruti perintah Papa mereka, dan masuk ke dalam kamar mereka.


Alya yang dari tadi hanya berdiri, memperhatikan ke dua anak yang dijaganya tengah berbicara dengan Papa mereka. Ikut beranjak untuk menyusul Shanaz dan Allysa ke dalam.


"Alya, sekejap ... ," ucap Zein menahan lengan Alya, saat menyadari Alya ingin pergi.


Alya yang berpikiran jika Zein marah, karna ia mengajak ke dua anaknya main ke luar rumah. Langsung meminta maaf pada Zein.


"Maaf ... sebab, saye ajak Shanaz dan Allysa maen kat luar. Makanya ... pukul segini mereka belum mandi," ucap Alya menunduk

__ADS_1


"Saye tak tanya pasal tuh," sahut Zein cepat.


Alya pun memberanikan diri, menatap Zein. Ya ... karna udah 2 minggu lebih 2 hari Zein mendiaminya, makanya Alya merasa canggung ketika berhadapan dengan Zein. Zein yang menyadari, jika Alya mulai tak nyaman berada dekat dengannya. Langsung mengutarakan niatnya pada Alya.


"Saye, cuma nak katakan ... lepas magrib nanti awak dah bersiap juga. Sebab, saye juga akan ajak awak ke luar," ucap Zein kemudian.


"Ye ... bila tak ade hal penting lagi. Saye nak ke dalam, tengok Shanaz dan Allysa." Alya menyahut, sekalian pamit pada Zein.


"Ok," sahut Zein singkat.


Setelah mendapat izin dari Zein, Alya pun segera masuk ke dalam. Sementara Zein, ia memilih duduk di kursi teras rumahnya, untuk melepas penat sehabis pulang dari kantor beberapa menit tadi.


Huft!


Zein menghela nafas berat.


'Gara-gara saye, Alya jadi seperti menjaga jarak. Semoga nanti malam, Alya tak menolak lamaran saye' gumam Zein dalam hati, sambil menyenderkan badannya di kursi.


Tak lama kemudian, handphone yang berada di saku jasnya berdering.


'Mama' gumam Zein dalam hati, saat melihat nomor masuk yang tertera di layar handpone-nya, nomor Mamanya.


Zein pun segera menjawab panggilan masuk, dari Mamanya.


["Hello ... assalamualaikum, Ma?" sapa Zein.]


["Waalaikumsalam ... Zein. Bagaimana Zein, Alya menerima pinangan awak kah?" tanya Mama, setelah ia menjawab salam dari Zein.]


["Zein belum katakan pade Alya, Ma. In sya Allah, nanti malam Zein akan katakan padanya. Tolong do'akan Zein ye, Ma. Sebab, Zein rasa ... Alya juga nak menjaga jarak dengan Zein, Ma." Zein menjelaskan pada Mamanya.]


["Tuh semua sebab awak, Zein. Tapi, Mama akan selalu do'akan ... agar awak dan Alya berjodoh,"]


["Aamiin ... terimah kasih, Ma.]


["Oh ye, Ma. Bagaimana keadaan Angah?" tanya Zein kemudian.]


["Ye, Ma.]


Panggilan pun berakhir ....


****


Selepas magrib ... Zein dan Alya serta ke dua anaknya udah bersiap untuk jalan-jalan. Alya juga terlihat semakin cantik, dengan dress merah sebatas lutut yang ia pakai. Sedangkan Zein, ia pun semakin terlihat handsome, dengan kemeja hitam dan celana jeans navy yang ia pakai.


"Awak betiga, dah selesai kah?" tanya Zein pada ke tiga perempuan yang ada di depannya.


"Dah, Papa."


"Ok, jom masuk kereta." ajak Zein pada mereka.


"Papa nak aja kita ke mana, pa?" tanya Shanaz yang duduk di kursi belakang kemudi.


"Akak tengok saje nanti, Papa bawa awak betiga ne ke mana," sahut Zein melirik putri pertamanya, dari balik spion yang ada di depannya.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di restoran yang udah Zein reservasi sebelumnya.


"Jom ... turun." ajak Zein.


Mereka berempat pun jalan beriringan, memasuki restoran itu.


"Selamat malam ... selamat datang Encik dan Puan?" sapa karyawati restoran itu.


"Selamat malam juga,"


"Reservasi atas nama Encik Zein. Kat meja berape,?" lanjut Zein kemudian bertanya.


"Mari ... Encik, Puan silah ikut saye." ajak Karyawati resto itu ramah.


Mereka berempat pun mengikuti langkah karyawati itu, dari belakang.

__ADS_1


"Silahkan ... Encik, Puan ... ," ucap Karyawati itu, ketika udah sampai di meja yang Zein reservasi.


"Wah ... lawa sangat suasana di resto ini, Papa ... ," ucap Shanaz senang saat melihat air terjun buatan, yang di sampingnya ada kolam ikan koi.


"Shanaz boleh ke sana tak, Pa?" tanya Shanaz meminta izin.


"Allysa juga nak tengok ikan, Papa ... ," sambung putri ke duanya.


"Boleh. Tapi, bila pesanan dah datang. Awak bedua balik ke sini ye." perintah Zein.


"Ye ... Papa."


"Awak, suka kah tempat ne?" tanya Zein pada Alya yang duduk di hadapannya, ketika ke dua anaknya udah pergi melihat ikan koi.


"Suka," sahut Alya singkat, namun tak melihat ke arah Zein.


"Awak, masih marah kah? Pasal saye yang menghindari awak, selama dua minggu ne?" tanya Zein menggenggam tangan Alya.


"Maaf ... bila sikap saye selama 2 Minggu ne, buat awak sedih. Tapi, saye terpaksa ... ," lanjut Zein kemudian.


Alya pun langsung menatap Zein bingung.


"Terpaksa?" tanyanya kemudian.


"Hem ... ," sahut Zein cepat.


Lalu, Zein langsung berdiri dari duduknya. Dan, berpindah duduk di kursi samping Alya.


"Saye terpaksa, menghindari awak 2 Minggu ne. Sebab, saye nak memastikan rasa yang ade di hati saye ne. Rasa suka kah atau sebab nyaman saja bila ade di dekat awak," jelas Zein menatap Alya lekat.


"Maksud, Abang ape? Alya tak paham?" tanyanya kembali.


Zein yang memang tak suka berbelit-belit, dan tak romantis. Langsung mengambil kotak beludru warna merah hati, dari dalam saku kemejanya. Dan, Zein pun membuka kotak itu di hadapan Alya. Alya yang melihat cincin putih, bermatakan permata biru itu pun terlihat terkesima. Apalagi saat permata itu terkena cahaya lampu resto, semakin membuat permata itu berkilau.


"Will you marry me?" tanya Zein menatap Alya dengan serius, sambil menyodorkan cincin yang udah ia siapkan untuk melamar Alya.


"Abang, melamar Alya kah?" tanyanya memastikan, dan tak percaya dengan yang Zein katakan barusan.


"Masya Allah ... Alya, jangan lah awak buat kacau momen ne. Ye lah ... Abang melamar Alya, tak 'kan Abang lamar ikan koi yang ade kat kolam tuh," sahut Zein kesal.


"Maaf, sebab Alya terkejut, pasal Abang yang tiba-tiba melamar Alya. Pasal kita ne baru je kenal 2 bulan lebih, bahkan pun kita tak ade hubungan ape pun," ucap Alya jujur.


"Alya ... Abang ne bukan anak lajang lagi. Yang harus menjalani massa pendekatan dulu, atau orang kata pacaran macem anak remaja sekarang. Usia Abang tuh, dah nak jalan 34. So, dah tak ade massa buat Abang maen-maen dengan perempuan," jelas Zein panjang lebar.


"Ye lah, Alya tau ... bila Abang tuh duda dan dah tua," ledek Alya.


"Awak ne ye, memang lah Abang duda dan dah tua. Tapi, Abang 'kan masih handsome," ucap Zein memuji dirinya sendiri, yang memang betul handsome dari sejak lahir.


"Ye ... lah handsome. Bila tak handsome, mana mungkin Alya suk .... ," Alya tak melanjutkan ucapan terakhirnya.


Namun Zein udah mengerti, dengan apa yang mau Alya katakan.


"Awak, suka dengan Abang juga kah?" tanya Zein menatap lekat mata Alya.


Alya langsung membuang pandangannya cepat.


"Alya. Awak suk .... ," ucapan Zein terhenti, kala ia melihat 2 waiters resto mendorong troli yang berisi pesanannya, berjalan ke arah meja mereka.


"Nanti kita lanjut lagi," ucap Zein kemudian.


"Permisi ... Encik, Puan." ke dua waiters itu berucap, sambil menyusun semua pesanan Zein di atas meja.


"Silah menikmati ... Encik, Puan." Ke dua waiters itu berucap kembali, setelah selesai meletakan semua makanan dan minuman di atas meja.


"Same-same," sahut Alya ramah.


TBC


Jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 😅, thanks buat yang udah mampir 😘

__ADS_1


__ADS_2