Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 25 Takdir


__ADS_3

****


Setelah Buk Irawan masuk ke dalam kamar, Alya kemudian mengajak Buk Ipah untuk ke kamarnya.


"Ayuk, Buk. Kamar Alya, ada di ujung sana." ajaknya sambil menunjuk ke arah kamarnya, yang berada di ujung anak tangga, menuju lantai 3.


"Iki rumah? Opo istana ... Nduk?" Buk Ipah menatap kagum rumah calon besannya.


"Ini rumah, Buk ... ," jelas Alya tersenyum lucu, melihat tingkah Ibu asuhnya, yang udah dianggapnya seperti Ibu kandungnya sendiri.


"Rumah sebesar ini, apa nggak capek bersihkannya?" tanya Buk Ipah kembali.


"Pekerja rumah Makcik Diana ... masing-masing ada bagian tugasnya, Buk. Lagian kalo untuk bersihkan rumah ini, semuanya menggunakan mesin Buk." Alya menjelaskan panjang lebar.


"Oh ... gitu toh,"


"Di atas itu tempat apa, Al?" tanya Buk Ipah kembali, sambil menunjuk ke arah anak tangga yang bersebelahan dengan kamar Alya.


"Di lantai 3 itu, kamar Bang Zein dan Bang Faiz ... Buk. Terus ada ruang kerja, sama ruang tv. Kalo di lantai 4 itu khusus untuk mencuci pakaian, dan tempat jemur pakaian, ada juga sih kamar mandinya." jelas Alya panjang lebar.


"Pasti capek sekali ya, Al. Harus bolak-balik naik turun tangga," ucap Buk Ipah.


"Di rumah ini ada liftnya juga, Buk. Kalo Alya capek naik tangga, Alya tinggal gunakan lift aja."


"Masya Allah ... lift yang kayak di Mall itu?" tanya Buk Ipah.


Alya pun mengangguk.


"Ya udah, ngobrolnya dilanjut di kamar aja ya, Buk," ucap Alya saat udah berada di depan pintu kamarnya.


Ceklek!


"Ayuk, Buk masuk." ajak Alya pada Buk Ipah.


"Masya Allah ... kamarnya bagus ya, Al." Buk Ipah menatap kagum.


"Ibu lihat, calon mertuamu itu sangat menyayangi kamu ya, Al." lanjut Buk Ipah kemudian.


"Alhamdulillah ... Buk," sahut Alya mengucap syukur.


Lalu, Buk Ipah dan Alya pun duduk bersampingan di sofa, yang ada di dalam kamar Alya.


"Oh iya, Al? Apa lelaki yang jemput Ibu, dan Buk Irawan di bandara tadi itu Zein? Yang pernah kamu ceritakan sama Ibu, waktu kamu menelpon Ibu beberapa minggu lalu? Dan, yang ingin menjadikan kamu istri, serta Ibu untuk ke dua putrinya?" tanya Buk Ipah, saat mengingat tentang percakapannya dengan Alya di telpon beberapa Minggu lalu.


*Flash Back On*


Beberapa minggu lalu, saat Zein melamar Alya, yang bertepatan dengan hari ulang tahun Alya. Zein pun meminta Alya untuk segera memberitaukan kepada keluarganya di Indonesia, mengenai niatnya yang ingin menjadikan Alya istri, dan ibu bagi ke dua putrinya.


Alya pun langsung menelpon Buk Ipah, dan memberitahukan pada Buk Ipah, tentang lelaki yang ingin melamarnya.

__ADS_1


["Buk, Alya mau bicara serius pada Ibu. Ini ... Ibu lagi tidak sibuk 'kan?"]


"Tidak, Al. Memangnya kamu mau bicara tentang apa? Kok kedengarannya seperti serius sekali? Kamu baik-baik aja di sana 'kan, Al?" Buk Ipah langsung melontarkan berbagai pertanyaan, karna takut terjadi hal buruk pada Alya di negri orang.]


["Ibu, tenang dulu. Alya baik-baik saja di sini,"]


["Alya mau bilang hal serius sama, Ibu. Tentang ... ," ucap Alya kemudian, namun menggantung ucapan terakhirnya.


["Tentang apa, Al?" tanya Buk Ipah tak sabar, serta penasaran.]


["Tentang lekaki, yang ingin melamar Alya Buk. Lelaki itu, Ayah dari ke dua anak ... yang Alya jaga," jelasnya.]


["Apa itu nggak terlalu cepat, Al? Karna kamu 'kan, kerja jadi pengasuh Anak-anaknya baru beberapa bulan?".]


["Lagian lelaki itu juga berbeda negara dengan kamu, Al. Ibu nggak ingin, hubungan kalian menggantung. Seperti Faiz yang menghilang tanpa kabar, Al." lanjut Buk Ipah kemudian, dan khawatir pada Alya. ]


["Jika Ibu setuju, Alya akan balik ke Indonesia ... bersama Bang Zein beserta beberapa orang keluarga Bang Zein sekalian, Buk.]


["Maksud kamu, melamar dan sekalian melangsungkan akad nikah di Indonesia?" tanya Buk Ipah memastikan.]


["Iya, Buk. Jika Ibu setuju, Bang Zein akan segera mengurus dokumen di sini untuk pernikahan Kami, Buk."]


["Jika kamu bahagia dengan pilihan, kamu. Ibu akan merestuimu, dan hanya bisa mendo'akan untuk kebahagiaan kamu, nak."]


["Jadi, Ibu setuju?" tanya Alya memastikan.]


["Heem ... kabari Ibu saja, jika kamu dan keluarga calonmu akan datang ke Indonesia. Dan, kamu jaga diri baik-baik di sana ya, Al."]


["Waalaikumsalam ... Ibu juga sangat menyayangi, Alya." Buk Ipah menyahut ucapan Alya.]


Dan panggilan pun berakhir ....


*Flash Back Off*


"Iya, Buk ... ," jelas Alya lirih.


"Jadi, Zein dan Faiz itu ... Abang-beradik?" tanya Buk Ipah serius.


Alya pun mengangguk, membenarkan ucapan Buk Ipah.


"Astaghfirullah al-adzim ... kenapa jadi seperti ini ya, Al?" Buk Ipah pun merasa terkejut.


"Saat Zein melamarmu, apa kamu udah mengetahui ... jika dia dan Faiz itu Abang-beradik?" tanya Buk Ipah kemudian.


Alya pun menggeleng bertanda tidak.


"Apa Faiz tau, jika Zein Abangnya ... melamar kamu?" tanya Buk Ipah kembali, dengan serius.


Alya pun menggeleng kembali, bertanda tidak.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan Zein?" Buk Ipah melontarkan pertanyaan, untuk sekian kalinya pada Alya.


"Saat Alya tau ... Bang Faiz itu Adik kandungnya Bang Zein. Dan, sebab Bang Faiz yang menghilang tanpa kabar, saat 2 tahun yang lalu. Alya langsung meminta Bang Zein, untuk melupakan rencananya yang ingin menikahi Alya, Buk." Alya menjelaskan dengan raut wajah yang mulai sedih.


"Astaghfirullah al-adzim ... kasihan sekali Zein," ucap Buk Ipah prihatin.


"Apa kamu memiliki perasaan ... pada Zein, Al?" tanya Buk Ipah tiba-tiba.


Namun Alya hanya diam saja, dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Setelah 2 tahun lost contact dengan Faiz? Apa perasaanmu saat ini ke Faiz, masih sama seperti perasaanmu dulu terhadap Faiz, Al?" tanya Buk Ipah kembali.


'Kenapa pertanyaan Ibu sama, seperti yang pernah Makcik Diana tanyakan padaku' batin Alya melamun.


"Al? Kok mala meneng wae toh?" tanya Buk Ipah membuyarkan lamunan Alya.


"Eh ... iya maaf Buk," ucap Alya cepat, setelah ia sadar dari lamunannya.


"Ibu lihat, Zein dan Faiz itu lelaki yang baik ... Al," ucap Buk Ipah mengeluarkan pendapatnya.


"Ibu ... benar," sahut Alya membenarkan ucapan Buk Ipah.


Lalu, tiba-tiba saja Buk Ipah menggenggam ke dua tangan Alya, dan menatapnya serius.


"Apa kamu udah mencintai Zein, Al?" tanya Buk Ipah serius.


"Kenapa Ibu tanya seperti itu ke Alya?" tanya Alya balik dan membuang pandangannya dari Buk Ipah.


Namun, detik kemudian ... Buk Ipah langsung mengarahkan wajah Alya, agar menatapnya. Dan Buk Ipah pun bisa melihat jelas dari sorot mata Alya, jika sebenarnya Alya mencintai Zein.


"Al, jika kamu mencintai Zein? Lantas, kamu memilih menikah dengan Faiz, karna cinta atau kasihan?" tanya Buk Ipah to do point.


Deg!


Alya pun merasa terkejut dengan pertanyaan, yang dilontarkan Buk Ipah kepadanya. Namun Alya tak bersuara, dan hanya diam membisu.


"Al, kamu dengar 'kan? Ibu bilang apa?" tanya Buk Ipah kemudian, meminta penjelasan Alya.


"Buk, Alya memilih menikah dengan Bang Faiz ... karna gara-gara Alya lah Bang Faiz menjadi seperti itu Buk. Bang Faiz kecelakaan, selepas pulang membeli cincin nikah untuk Alya ," jelasnya lirih.


"Karna kecelakaan itu juga, Bang Faiz harus meninggalkan pekerjaannya sebagai Tentara. Akibat kaki Bang Faiz lumpuh, Buk." Alya melanjutkan ucapannya kembali dengan lirih.


"Astaghfirullah al-adzim ... Alya. Kamu salah jika menyalakan diri kamu sendiri, atas apa yang terjadi sama Faiz. Semua itu terjadi karna takdir Allah, Al." Buk Ipah menentang cara berpikir Alya yang konyol.


"Kenapa, kamu mengambil pilihan segegaba ini Al. Itu sama saja kamu menyakiti perasaan Faiz, dan juga Zein. Bagaimana jika sewaktu-waktu Faiz mengetahui, jika Zein Abangnya memiliki perasaan sama kamu. Dan kamu memilih melanjutkan rencana pernikahanmu dengan Faiz yang tertunda. Karna rasa bersalah kepadanya." Buk Ipah melanjutkan ucapannya kembali, dengan panjang lebar.


Sementara Alya yang mendengar semua ucapan Buk Ipah, hanya bisa diam dan terisak.


TBC

__ADS_1


Thanks buat yang udah mampir di cerita recehku 😚, jangan lupa tinggalin jejak ya 🥰.


__ADS_2