Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 19 Balas Dendam


__ADS_3

****


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, Zein pun akhirnya telah sampai di Melaka tepat pada pukul 8 malam.


"Ne Pakcik ... makasih ye, Pakcik." Zein berucap pada Pakcik supir taksi, setelah membayar ongkos taksinya.


"Same-same," sahut Pakcik supir taksi itu, saat menerima uang dari Zein.


Setelah taksi itu pergi, Zein pun segera masuk ke dalam rumah.


'Akhirnya ... sampai juga. Dah tak sabar nak cepat-cepat berjumpa, dengan Alya dan Anak-anak' gumam Zein dalam hati.


"Assalamualaikum ... ?" ucap Zein saat memasuki rumah Mamanya.


"Waalaikumsalam ... ," sahut Mama Zein.


Zein pun kemudian mencium punggung tangan Mamanya.


"Kenape balik rumah tak bagi tau Mama, Zein. Bila awak bagi tau Mama nak balik, Mama boleh suruh supir jemput awak kat lapangan terbang (bandara)," ucap Mama kemudian.


"Maaf, Ma. Sebab, Zein tergesa-gesa ... ," sahutnya jujur.


"Sunyi sangat, Ma? Kemane Anak-anak?" tanya Zein kemudian.


"Anak-anak ade kat dalam bilik tidur mereka, tengah belajar," jawab Mama.


"Alya ade kat mana, Ma?" lanjut Zein bertanya kembali.


"Alya ade kat dalam bilik Anak-anak juga, tengah kawani Shanaz dan Allysa belajar," jelas Mama.


"Zein nak tengok Anak-anak dulu ye, Ma." pamit Zein dan segera beranjak.


"Zein, sekejap." Mama berusaha menahan langkah Zein.


"Ade ape, Ma?" tanya Zein setelah membalikan badan ke arah Mamanya.


"Awak pasti penat, sebab baru balik. Mestinya awak tuh pigi rehat, Zein. Esok 'kan, awak masih boleh berjumpa dengan Anak-anak," ucap Mama agar Zein tak berjumpa dulu dengan Alya.


"Zein tak penat lah Ma, lepas jumpa dengan Anak-anak ... Zein akan pigi rehat," balas Zein.


"Nak jumpa dengan Anak-anak kah? Atau awak nak jumpa dengan Alya?"


"Nak jumpa dengan Anak-anak, dan nak jumpa dengan Alya juga lah Ma," jawab Zein jujur sambil tersenyum.


Mama seketika merasa kasihan pada Zein.


"Zein. Mama nak bincang soal Angah pade awak," ucap Mama kemudian.


"Esok saje ye, Ma. Zein nak jumpa dengan Anak-anak dulu." setelah mengatakan itu Zein langsung berlalu.


Tok!


Tok!


Tok!


Zein mengetuk pintu kamar Anaknya.


"Sekejap," sahut seseorang dari dalam, sambil berjalan mendekati pintu.

__ADS_1


Ceklek!


"Assalamualaikum ... Alya. Seminggu tak jumpa dengan Alya, Abang dah rindu sangat," ucap Zein saat pintu kamar udah terbuka.


Namun Alya tak menjawab ucapan Zein, dan memilih menghindari Zein.


"Papa!" seru ke dua anak Zein senang, sambil berlari ke arah Zein.


"Shanaz rindu sangat pade, Papa ... ," ucap putri pertama Zein sambil memeluknya.


"Allysa juga, rindu sangat pade Papa ... ," sambung putri ke dua Zein, dan ikut memeluk Papanya.


"Papa juga, sangat merindukan Anak-anak ... Papa yang comel ne," ucap Zein kemudian dan membalas pelukan ke dua anaknya.


"Shanaz, Allysa. Awak bedua 'kan, dah selesai belajar. Aunty pigi ke bilik tidur Aunty ye, awak bedua juga jangan tidur terlalu lambat(lama) ye." pamit Alya kepada ke dua bocah yang dijaganya, dan sengaja pergi untuk menghindari Zein.


"Ye, Aunty ... ," sahut mereka berdua patuh.


"Shanaz, Allysa. Papa juga nak ke bilik Papa, esok selepas awak bedua balik dari sekolah. Papa akan ajak awak bedua makan angin(jalan-jalan)." Zein berucap, dan berniat menyusul kepergian Alya.


"Ok, Papa."


Muach ... muach!


Zein pun mencium pipi ke dua anaknya.


Saat Zein melihat Alya yang ingin menutup pintu kamarnya. Zein pun langsung mempercepat langkahnya dan menahan pintu kamar Alya dengan tangannya.


"Abang!" seru Alya kaget, saat tiba-tiba Zein menahan pintu kamarnya.


"Maaf bila Abang buat Alya terkejut," ucap Zein merasa bersalah.


"Alya nak rehat, lebih baik Abang ke luar." Alya mengusir Zein.


"Maaf bila 2 hari ne Abang tak ade call, Alya. Sebab Abang sibuk sangat, bukan sebab Abang lupakan Alya." Zein melanjutkan ucapannya, dan mengira Alya marah karena ia tak memberi kabar padanya selama 2 hari ini.


Namun Alya hanya diam, dan membuang pandangannya ke sembarang arah.


"Alya. Awak tak rindu kah pade Abang?" lanjut Zein bertanya.


"Saye penat sangat, dan nak rehat. Lebih baik Abang ke luar dari bilik Alya." usir Alya kembali, dan tak melihat ke arah Zein.


"Baik lah ... bila Alya masih marah pade Abang. Abang akan ke luar," sahut Zein mengalah dan segera ke luar dari kamar.


Setelah kepergian Zein, Alya langsung mengunci pintu kamarnya. Dan, ia pun menangis karna merasa bersalah pada Zein.


*


*


*


Pukul 7 pagi, Alya yang baru saja mengantar Shanaz dan Allysa sampai ke mobil. Ingin segera pergi ketika melihat Zein udah ada di dekatnya.


"Shanaz, Allysa. Awak bedua jangan degil kat sekolah ye. Aunty dah masukan bekal awak bedua, dalam tas awak masing-masing," ucap Alya kepada Shanaz dan Allysa.


"Ye, Aunty. Makasih ... ,"


"Anak-anak, Papa ... dah nak on the way kah? Kenape awak bedua tak salim pade, Papa?" tanya Zein yang udah berada di belakang Alya.

__ADS_1


Mendengar suara Zein, Alya pun segera menepi.


"Sorry, Papa. Sebab, tadi tuh ... Papa masih berada kat bilik. Shanaz dan Allysa fikir, Papa tuh masih tidur," sahut putri pertamanya.


"Baik lah, awak bedua belajar yang elok ye. Dan jangan degil-degil kat sekolah." pesan Zein pada ke dua anaknya.


"Ok. Papa."


Ke dua kakak beradik itu pun langsung mencium punggung tangan Zein.


"Pakcik, jangan laju-laju sangat ye nyetirnya," pesan Zein kemudian, pada supir yang bertugas mengantar ke dua anaknya ke sekolah.


Setelah mobil yang membawa ke dua anaknya pergi, Zein pun menoleh ke samping mencari keberadaan Alya.


'Kemane perginya Alya, perasaan tadi tuh masih ade kat sini' gumam Zein dalam hati.


Lalu, ia melihat Alya yang udah berjalan masuk ke dalam rumah. Dan Zein pun segera mengejar langkah Alya. Ya, setelah mobil yang mengantar Shanaz dan Allysa ke sekolah, udah pergi meninggalkan halaman rumah. Alya pun segera pergi masuk ke dalam rumah, untuk menghindari Zein kembali.


"Alya, sekejap." cegah Zein menahan langkah Alya, saat ia berhasil mengejar Alya dan memegang lengan Alya.


"Saye nak kemas rumah, tolong Abang jangan kacau Alya," ucap Alya bohong, agar Zein tak mengikutinya lagi.


"Sejak bila Alya buat keje kat rumah ne? Tugas Alya tuh hanya menjaga Anak-anak, dan tak payah Alya sibuk buat keje yang lain. Sebab kat rumah ne, dah banyak pekeje yang dah Abang gaji untuk kemas rumah dan memasak." Zein menyahut ucapan Alya.


"Alya, masih marah kah pade Abang?" tanya Zein kemudian.


Namun Alya tak menjawab pertanyaan Zein, dan mala menepis tangan Zein yang memegang lengannya. Lalu Alya berjalan menaiki anak tangga untuk menunju kamarnya. Zein pun mengikuti langkah Alya.


"Alya?! Tolong bagi tau Abang, salah Abang tuh ape pade Alya?!" tanya Zein dengan nada tinggi, karna ia udah ngak tahan dengan sikap Alya yang terus menghindarinya.


Alya pun seketika menghentikan langkahnya, namun ia tak berniat menghampiri Zein. Melihat Alya yang hanya diam mematung, Zein lantas mendekati Alya dan berdiri tepat di hadapan Alya.


"Tolong bagi tau Abang, kenape Alya seperti ne pade Abang? Salah Abang pade Alya tuh ape?" tanya Zein mengulang dan merendahkan nada bicaranya.


Melihat Alya yang hanya menunduk, Zein langsung memegang dagu Alya. Dan mengangkatnya pelan, agar Alya menatapnya.


"Alya nak balas dendam kah pade Abang? Sebab massa tuh ... Abang dah hindari Alya?" tanya Zein lembut sambil tersenyum ke arah Alya.


"Alya? Alya dengar tak ape yang Abang kata?" tanya Zein kemudian.


"Alya. Abang paling tak suka, bila Abang bicara ... tapi lawan bicara Abang hanya diam saje," ucap Zein protes.


"Alya nak ... Abang jangan kacau hidup Alya lagi," ucap Alya akhirnya.


"Maksud Alya Ape? Abang tak paham lah?" tanya Zein bingung.


"Saye nak Abang jauhi Alya! Anggap saje kita ne tak pernah dekat, dan tak ade hubungan ape-ape!" ucap Alya tegas.


Deg!


"Awak tengah kerjain Abang kah? Abang mohon, jangan cakap macem tuh Alya," sahut Zein menolak.


"Saye cakap serius! Selagi rasa ne belum terlampau jauh, saye mohon ... tolong Abang jauhi Alya," ucap Alya meyakinkan Zein dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Alya. Abang ade salah kah pade Alya? Tolong bagi tau Abang, ape kesalahan yang dah Abang buat pade Alya? Hingga Alya berkata seperti ne?" tanya Zein meminta penjelasan yang tepat, sambil memegang ke dua pundak Alya.


"Kenape tiba-tiba Alya cakap macem ne? Massa Abang lamar Alya kat resto, Alya dah terima Abang dan siap nak jadi pendamping hidup Abang? Sekarang, kenape Alya berubah pikiran?" tanya Zein kembali dengan sorot mata memerah.


"Tolong jangan paksa Alya, Bang. Ne lah keputusan Alya, bahwasannya Alya dah tak nak menikah dengan Abang." ucap Alya berbohong, dan segera pergi meninggalkan Zein yang masih terdiam.

__ADS_1


TBC


Thanks buat yang udah mampir 🥰 ... jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 😅.


__ADS_2