
****
Alya yang mulai merasa tak nyaman, dengan pertanyaan yang dilontarkan Faiz pada Zein. Memilih untuk segera ke luar dari kamar Faiz.
"Alya masih ade keje kat dapur, so ... Alya ke luar ye, Abang." pamitnya pada Faiz.
"Ye, makasih ye. Sebab, Alya dah sudi rawat Abang," sahut Faiz menatap Alya lekat.
"Same-same, Abang."
Setelah mengatakan itu, Alya pun segera ke luar dari kamar.
"Awak cinta sangat ye pade, Alya." Zein berucap pada Faiz, setelah Alya pergi.
"Saye, sangat-sangat mencintainya ... Along,"
"Tapi, macem mane Along boleh tau? Bila saye ne sangat cinta pade Alya?" tanya Faiz kemudian, pada Zein yang merupakan Abangnya.
"Dari tatapan mata awak, terhadap Alya."
"Hem ... Along nak pigi ke syarikat (perusahaan) dulu ye. Bila Along tak sibuk, kita bincang lagi." pamit Zein kemudian.
"Baiklah Along,"
"Ok. Awak harus cepat sihat ye. Sebab, awak 'kan nak melangsungkan pernikahan dengan Alya." Zein berucap sambil tersenyum dan menepuk lembut pundak Faiz. Namun ada perasaan sesak di hatinya. Kala ia mengatakan kalimat yang barusan ia katakan tadi pada Faiz.
'Ya Allah ... jadikan saye manusia yang lebih sabar dan ikhlas. Mungkin Alya bukan jodoh saye' batin Zein lirih.
"Zein? Awak nak pigi mane?" tanya Mama, saat berpapasan dengan Zein di teras rumah.
"Nak pigi ke syarikat sekejap, Ma."
"Awak ne, baru tadi malam balik dari Singapore pasal urusan keje. Lantas, sekarang awak nak pigi ke syarikat lagi. Jangan lah awak paksa sangat buat keje, Zein. Awak tak tiba kat syarikat sehari saje pon, tak akan buat syarikat kita bangkrap (bangkrut)." omel Mama.
"Ma, Zein tau. Tapi, sebagai pemimpin ... kita juga harus disiplin. Dan, tak boleh tiba ke syarikat sesuka hati saje,"
"Mama jangan risau, Zein baik-baik saje. Zein pigi dulu ye, Ma." pamit Zein kemudian, dan berjalan menuju mobilnya.
"Hari ne, Zein yang akan jemput Anak-anak dari sekolah. Sebab, Zein nak ajak Anak-anak makan angin (jalan-jalan)." Zein berucap pada Mamanya, saat udah masuk ke dalam mobilnya.
*
*
*
Pukul 12 siang, Zein pun udah tiba di parkiran tempat ke dua anaknya bersekolah. Tak lama kemudian, jam pulang sekolah pun berlalu. Zein yang melihat ke dua anaknya berjalan bersama teman-teman sekolah mereka, ke arah pagar sekolah. Langsung ke luar dari mobil, dan berjalan menghampiri ke dua anaknya.
"Papa!" seru Allysa anak ke dua Zein, sambil memeluknya.
"Macem mane belajarnya hari ne? Ok, tak?" tanya Zein pada anak keduanya, yang lebih manja padanya.
"Ok, Papa."
__ADS_1
"Aunty Alya, tak ikut dengan Papa kah?" tanya Shanaz, anak pertama Zein. Saat tak melihat keberadaan Alya.
"Aunty Alya tengah sibuk, sayang." Zein berkata bohong pada Shanaz.
"Jom, kita pigi sekarang. Dah lama 'kan, kita tak makan angin(jalan-jalan) bertiga." ajak Zein kemudian.
"Kita pigi makan dulu ye, Anak-anak. Lepas tuh, Papa akan hantar kemana pon yang Shanaz dan Allysa nak kunjungi," ucap Zein yang tengah fokus menyetir.
"Ye, Papa ... ," sahut Allysa seorang.
30 menit kemudian, mereka pun telah sampai di resto seafood Bert's Garden, yang berada di jalan kampung pinang Tanjung Kling, Melaka. Yang merupakan salah satu resto seafood terpopuler di Melaka, yang menyediakan menu Asian, local, dan western.
Tak lama mereka duduk, salah seorang waiters perempuan yang berusia sekitar 25 tahun, datang menghampiri meja di mana Zein dan ke dua anaknya duduk.
"Selamat siang Cik, ne daftar menu kat resto ne." Waiters perempuan itu menyapa Zein ramah, dan memberikan daftar menu yang ia pegang kepada Zein.
"Akak dan adik, nak makan ape?" tanya Zein kepada ke dua anaknya, sambil meletakkan daftar menu itu, ke hadapan ke dua anaknya.
"Allysa, nak black pepper crab Papa," sahut putri ke dua Zein.
"Akak Shanaz, nak makan ape?" tanya Zein mengulang kepada putri pertamanya, yang terlihat tidak bersemangat.
"Fried fresh squid with garlic, Pa."
"Minumnya, Akak dan Adik nak ape?" tanya Zein kembali pada ke dua putrinya.
"Orange Juice saje, Pa." sahut mereka berdua serempak.
"Tak nak order ape-ape lagi kah?" tanya Zein memastikan.
"Makanannya tuh saje, orange Juice 3 ye." Zein berkata pada waiters perempuan, yang dari tadi berdiri menunggu orderannya.
"Ye, Cik. Silah tunggu sekejap ye." waiters itu berkata sopan, dan segera berlalu.
"Akak, kenape dari tadi Papa tengok. Awak tuh macem tak happy?" tanya Zein, setelah waiters itu pergi.
"Shanaz hanya penat saje, Pa ... ,"
Huft!
Zein terlihat menghela nafas berat.
"Awak tak happy, sebab Aunty tak ikut 'kan?" tebak Zein memastikan dugaannya.
Namun Shanaz tak menjawab dan hanya diam saja.
'Ya Allah ... macem mana bila Anak-anak tau, bahwasannya Alya tak jadi menikah dengan Papa mereka. Apa yang harus saye katakan pade mereka nanti' batin Zein lirih.
****
Pukul 8 malam, mereka semua tengah menikmati makan malam bersama di ruang makan. Setelah beberapa menit suasana di meja makan terasa hening, Makcik Diana pun buka suara untuk mencairkan ketidak nyamanan yang terjadi saat ini.
"Alya, awak dah bagi tau 'kan pade keluarga awak kat Indonesia? Pasal pernikahan awak ne, yang akan dilangsungkan kat Malaysia terlebih dahulu?" tanya Makcik Diana disela-sela makanya.
__ADS_1
"Dah, Makcik."
"Setelah Faiz sihat total, Makcik akan gelar pernikahan awak bedua kat Indonesia juga," ucap Makcik Diana kemudian.
"Ye, Makcik ... ," sahut Alya singkat, dan merasa tak enak hati pada Zein yang duduk berhadapan dengannya.
Zein yang tak ingin mendengar pembahasan tentang pernikahan Alya, dengan Faiz adik kandungnya. Memilih mengakhiri makan malamnya terlebih dahulu.
"Ma, saye duluan ye. Sebab, ade pekejean yang nak saye kejekan." pamit Zein beralasan.
"Tapi makanan awak belum habis lagi, Zein." Mama berkata sambil melirik ke arah piring Zein.
"Zein dah tak ralat nak habiskannya, Ma." Zein beralasan kembali.
"Anak-anak cepat habiskan makannya ye, lepas tuh masuk bilik." Zein berucap kemudian pada ke dua anaknya, dan kemudian berdiri dari kursinya.
'Ya Allah ... Emak macem ape saye ne, kenape saye bincang soal pernikahan Alya dan Faiz ade Zein. Tuh same saje saye melukai hatinya' batin Makcik Diana menyadari kesalahannya.
"Oma, kenape tadi Oma cakap pade Aunty? Bila Uncle sihat, maka Oma akan gelar pernikahan awak bedua kat Indonesia juga? Maksud Oma tuh ape?" tanya Shanaz yang dari tadi menyimak percakapan, Omanya dengan Alya.
Zein yang belum terlalu jauh meninggalkan ruang makan, berjalan kembali ke meja makan. Setelah mendengar Shanaz, anak pertamanya menanyakan perihal percakapan Mamanya tadi dengan Alya.
Ya, meskipun Shanaz baru berusia 8 tahun. Namun Shanaz memiliki pikiran yang dewasa, dibandingkan dengan anak seusianya.
"Akak, cepat habiskan makanan awak. Lepas tuh masuk bilik," perintah Zein saat udah berada dekat dengan kursi yang Shanaz duduki.
"Papa? Bukan kah Papa yang akan meni — ,"
"Shanaz! Kenape awak pembangkang sangat! Papa tak pernah ajar awak untuk jadi anak yang pembangkang ye!" bentak Zein refleks, memotong ucapan Shanaz. Karna ia tak ingin Faiz mengetahui, jika sebenarnya ia udah melamar Alya. Dan berencana melangsungkan pernikahan.
Deg!
Alya dan juga Makcik Diana, begitu terkejut ketika melihat Zein membentak Shanaz. Sedangkan Shanaz, ia langsung menangis ketika mendengar bentakan dari Papanya. Begitu juga dengan Allysa, ia pun ikut menangis saat melihat Papanya membentak kakaknya.
Hiks ... hiks ... hiks ... !
"Maaf ... Pa," ucap Shanaz terisak dan menunduk.
"Papa kenape marah same Akak?" tanya Allysa.
Hiks ... hiks ... hiks ... !
Tangis Allysa pun pecah.
"Along, jangan cakap dengan nada tinggi seperti tuh ... pade Anak-anak," ucap Faiz mengingatkan Abangnya.
"Bila Along ade persoalan pribadi, jangan luapkan amarah Along pade Anak." Faiz melanjutkan ucapannya kembali.
Zein yang menyadari kesalahannya, terlihat frustasi dan menjambak ujung rambutnya.
"Astaghfirullah ... ," ucapnya lirih.
TBC
__ADS_1
Thanks buat yang udah mampir di cerita recehku ini 🥰😅. Jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 😅.