
****
2 minggu berlalu ....
Setelah Zein mendengarkan ucapan Mamanya, yang meminta dirinya agar segera melamar Alya. Zein pun selalu menghindari Alya, kala ia bertemu dengannya, bahkan ia pun tak bertegur sapa dengan Alya. Meskipun Alya ada di dekatnya. Seperti hari ini, saat Zein sedang mengawasi ke dua putrinya berenang di kolam renang yang terletak di halaman belakang rumah. Zein yang melihat Alya berjalan ke arahnya, sambil membawa 3 cawan orange juice di nampan yang ia pegang. Langsung berdiri dan ingin beranjak, kala Alya hampir dekat dengannya. Alya yang menyadari ... jika Zein ingin menghindarinya lagi. Langsung meletakan cepat ke 3 cawan orange juice tersebut di atas meja. Dan, menahan langkah Zein.
"Alya, ade salahkah pada Abang? Hingga 2 minggu ne, Abang selalu menghindari Alya?" tanyanya cepat, dengan menarik ujung kaos yang Zein kenakan. Setelah Zein menoleh ke arahnya, ia pun melepas kaos Zein yang ia tarik.
"Awak, tak de salah ape-ape dengan saye," sahut Zein datar.
Melihat sikap Zein seperti itu, Alya merasakan ada yang sesak di hatinya. Bahkan, matanya pun mulai berkaca-kaca. Dengan sekuat hati, ia menahan agar tidak menangis di depan Zein.
"Bila saye tak ade salah dengan ... Abang. Lantas, mengapa Abang selalu menghindar dari Alya?" tanyanya mengulang dengan lirih.
"Saye, nak buat keje sekejap kat dalam. Awak, tolong jaga Anak-anak ye." Zein berucap, dan berlalu dari hadapan Alya.
Setelah Zein menghilang, air mata yang dari tadi ia tahan agar tak ke luar. Tapi, akhirnya buliran-buliran bening itu sudah membasahi pipi mulusnya.
'Kenapa hati aku sakit, saat Bang Zein menghindari aku begini? Saat Bang Faiz menghilang tanpa kabar, aku tak sesakit ini?' gumamnya dalam hati.
"Aunty? Aunty ... menangis kah?" tanya Shanaz, saat ia dan Allysa udah selesai berenang.
"Tak Ade lah ... mata Aunty hanya terkena debu saje," sahut Alya bohong.
"Shanaz dan Allysa, dah selesai kah berenangnya?" tanya Alya kemudian.
"Dah ... Aunty," sahut Shanaz dan Allysa serempak.
"Ok. Jom awak bedua mandi Kat bilik air. Biar Aunty siapkan pakaian awak bedua." ajak Alya pada kakak beradik itu.
*
*
*
"Papa?" panggil Shanaz pada Papanya, yang tengah fokus pada laptopnya.
"Hem ... ," sahut Zein tanpa menoleh.
"Papa ... Shanaz nak borak(bercerita) dengan Papa. Jangan lah sibuk buat keje saje," rengek Shanaz.
"Ye, sabar ye ... sayang. Papa nak selesaikan ne sekejap je," balas Zein.
"Ok. Awak, nak borak pasal ape pada Papa?" tanya Zein setelah selesai pada pekerjaannya.
"Pasal Aunty,"
"Kenape dengan Aunty?" tanya Zein menaikan satu alisnya.
"Tadi, Aunty menangis ... Pa," ucap Shanaz memberi tau.
"Nangis kenape? Dan, Akak tau darimana?" tanya Zein serius.
"Tadi, selepas berenang ... mata Aunty merah sangat, Pa. Aunty kata terkena debu, tapi Shanaz tak percaya," jelas Shanaz yang memang lebih peka, pada orang yang udah dekat dengannya.
'Ape Alya menangis ... sebab saye' gumam Zein dalam hati dan merasa bersalah.
"Papa?" kenape, Papa melamun?" tanya Shanaz saat melihat Zein terdiam saja.
"Sorry ... sayang," balas Zein.
"Papa harus hibur Aunty, agar Aunty tak menangis lagi, Pa." Shanaz berucap, yang lebih terlihat seperti memerintah Papanya.
"Lusa ... birthday Aunty, so Papa harus buat Aunty bahagia." Shanaz berucap kembali.
"Darimana pula awak tau? Bila lusa birthday Aunty?"
"3 hari yang lalu, Shanaz tengok kat name card Aunty ... Pa,"
"Shanaz ke luar dulu ye, Pa." pamitnya kemudian.
__ADS_1
"Ye, sayang."
Setelah putri pertamanya ke luar dari kamarnya, Zein pun ikut beranjak. Saat ia ke luar dari kamar, ia melihat Alya yang sedang menemani ke dua putrinya makan di ruang makan. Namun, Zein melihat Alya yang seperti sedang melamun.
"Aunty. Aunty, kenape tak ikut makan?" tanya Allysa.
"Aunty, belum lapar ... sayang," sahut Alya bohong.
"Selalu saje Aunty cakap macem tuh. Dah berape minggu ne, Shanaz tengok Aunty makan tak banyak lah," sambung Shanaz.
Zein yang tak sengaja mendengar ucapan ke dua anaknya, jadi semakin merasa bersalah kepada Alya.
"Makcik. Mama, Ade Kat mane ye?" tanya Zein pada Maid, yang udah bekerja di rumah Mamanya saat ia masih bayi.
"Sepertinya ... Puan ade kat bilik tidur," sahut Maid yang berusia 50 tahun, dan bernama Nor.
"Makasih ... Makcik." Zein berucap dan segera berlalu, menuju kamar tidur Mamanya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Mama? Mama ade kat dalam tak?" tanya Zein, sambil mengetuk pintu kamar Mamanya.
"Ye, sekejap ... ," sahut Mama Zein dari dalam.
Tak lama kemudian, pintu kamar pun terbuka.
"Mama tengah sibuk tak?" tanya Zein saat pintu sudah terbuka.
"Tak,"
"Kenape, Zein?" tanya Mama balik.
"Zein, nak borak saje sama Mama ... ,"
"Pasal ape?"
"Halah ... lah, dah jadi Duda ... masih malu juga borak pasal perempuan pade Mama sendiri," goda Mama saat melihat Zein malu, ketika ia menjelaskan pada Mamanya. Ingin curhat soal Alya.
"Jom ... masuk, Mama juga ade yang nak tanyakan pade awak." ajak Mama.
"Mama, nak tanya pasal ape?" tanya Zein penasaran saat udah duduk di sofa, yang ada di dalam kamar Mamanya.
"Pasal Alya juga,"
"Mama tengok, beberapa minggu ne. Awak macem menghindari Alya," ucap Mama Zein kemudian.
"Zein, terpaksa ... Ma," sahutnya lirih.
"Kenape pula macem tuh?" tanya Mama gantian penasaran.
"Zein, hanya ingin memastikan perasaan Zein terhadap Alya tuh. Sebab rasa nyaman kah atau memang Zein, dah ade rasa pade Alya ... Ma," jelasnya.
"Maksud ... awak? Awak, suka dengan Alya, Zein?" tanya Mama memastikan.
"Betul, Ma ... ," sahut Zein membenarkan ucapan Mamanya.
"2 Minggu ne, Zein rutin melaksanakan sholat Istikharah, Ma. Dan, Zein dah siap lahir dan batin ... untuk meminang Alya," jelasnya kemudian.
"Awak ... serius kah, Zein?" tanya Mama memastikan.
"Ye, Ma!" sahutnya tegas.
"Alhamdulillah ... akhirnya, Alya bakal jadi calon menantu Mama," ucap Mama bahagia.
"Dan, Mama tak perlu susah-susah jodohkan awak dengan Alya," lanjut Mama kemudian.
"Maksud ... Mama?" tanya Zein bingung.
__ADS_1
"Sebenarnya, Mama dan Mak Ngah ... dah rencanakan ne semua. Pasal Alya yang keje kat sini, dan pasal Mama yang selalu suruh awak, untuk ajak Anak-anak dan Alya makan angin(jalan-jalan). Agar ... awak dan Alya jadi dekat," jelas Mama tersenyum bahagia.
"Mama, terimah-kasih ... sebab mama lah, Zein boleh jumpa dan kenal dengan perempuan sebaik Alya," ucap Zein.
"Mama dan Mak Ngah, hanya perentara ... Zein. Semua ne terjadi, sebab takdir Allah ... Zein," balas Mama.
"Alya tuh perempuan baik-baik, Zein. Dari massa pertama kali, Mama jumpa dengan Alya. Mama dah rasa suka pade Alya, apa lagi massa Mama tengok Alya bujuk Anak-anak awak,"
"So, awak dah katakan soal ... perasaan awak kah pada Alya, Zein?" tanya Mama kemudian.
"Belum, Ma. Rencananya ... lusa baru Zein nak katakan pada Alya, ma."
"Ok. Mama do'akan ... agar Alya menerima pinangan awak ye, Zein." Mama mendo'akan tulus.
Tiba-tiba, suara handphone Mama Zein berbunyi.
"Kejap ye, Zein. Mama nak angkat telpon." Mama berucap dan mengambil handphonenya, yang berada di atas tempat tidur.
["Hello ... assalamualaikum?" ucap Mama Zein]
["Waalaikumsalam ... Puan," sahut orang yang menelpon]
[ .... .... .... .... ....]
["Betul kah ... ?" tanya Mama Zein bahagia]
["Ye, betul Puan," jawab sipenelpon]
["Ok. Terimah kasih infonya, saye akan segera ke sana."]
Panggilan pun berakhir ....
"Sape yang call, Ma? Kenape, Mama happy sangat?" tanya Zein penasaran, saat Mamanya selesai menerima telepon.
"Dari Cik Arif, dia kata Angah dah boleh balik rumah," sahut Mama bahagia.
"Betul kah, Ma?" tanya Zein kembali memastikan ucapan Mamanya.
"Ye, Zein. Hari ne, Mama sangat happy. Sebab, Mama dapat kabar bahagia dari awak, dan juga soal Angah. Akhirnya, Allah telah mengabulkan do'a Mama," ucap Mama terharu.
"Alhamdulillah bila begitu, Ma." Zein menyahut.
"Biar Zein, temani Mama pigi ke Singapore," tawar Zein kemudian.
"Tak payah Zein, biar Mama pigi seorang. Lusa, awak 'kan nak lamar Alya, saat hari birthday Alya. Lepas tuh, baru lah awak susul Mama ke Singapore," ucap Mama memberi usul.
"Ok. Baik lah Ma," balas Zein.
****
Pukul 3 siang, Mama Zein sudah bersiap untuk menuju Bandara Kuala Lumpur di antar Zein.
"Shanaz, Allysa. Papa, hantar Oma ke lapangan terbang(bandara) dulu ye." pamit Zein pada ke dua anaknya.
"Ye, Papa ... ," sahut mereka bersamaan.
"Shanaz, Allysa. Oma pigi dulu ye, Sayang. Awak bedua same Aunty dulu, jangan degil(nakal) ye. Harus patuh same Aunty." pamit Mama Zein kemudian pada ke dua cucunya.
"Ye, Oma"
"Alya, tolong jaga Anak-anak ye. Saye, pigi dulu." Mama Zein pun pamit pada Alya.
"Ye, Makcik. Hati-hati ...." Alya menyahut.
Setelah berpamitan Zein dan Mamanya langsung pergi, ke Kuala Lumpur. Ya, Mama Zein memilih dari bandara Kuala Lumpur, menuju Singapore. Setelah 2 jam, mereka pun telah sampai di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Dan, Zein mengantarkan Mamanya sampai ke dalam bandara.
"Mama, pigi ye Zein." pamit Mama.
"Ye, Ma. Setelah sampai ... kabari Zein ye, Ma."
Setelah selesai mengantar Mamanya, Zein pun segera kembali ke Melaka. Dan tak lupa ia pun mampir ke toko perhiasan, untuk membeli hadiah ulang tahun Alya lusa nanti.
__ADS_1
TBC
Terimah kasih, buat yang udah mampir di cerita recehku ini 😂 .... Jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 🥰😘. Salam kenal dari Author pemula 😀