Takdir Cinta Alya

Takdir Cinta Alya
Bab 14 Singapore


__ADS_3

****


Setelah ke dua waiters tadi pergi, Zein langsung memanggil ke dua anaknya yang tengah melihat ikan koi.


"Shanaz, Allysa. Jom ke sini, sayang ... makanan dah datang ne." panggil Zein.


"Ye, Papa." sahut mereka bersamaan dan berjalan, menghampiri meja dimana Zein dan Alya berada.


"Awak bedua cepat makannya, ye. Sebab, ade yang nak Papa katakan pade awak bedua." Zein berucap pada ke dua anaknya.


"Ye, Papa."


Beberapa menit kemudian, mereka berempat telah selesai makan. Zein pun segera memberitaukan pada ke dua anaknya, mengenai dirinya yang ingin melamar Alya untuk menjadi Ibu sambung mereka.


"Shanaz, Allysa. Bila Papa menikah ... awak bedua setuju tak?" tanya Zein, sambil menatap serius ke dua anaknya.


"Papa, nak menikah dengan sape?" tanya Shanaz balik.


"Dengan Aunty, Alya. Shanaz nak ke, bila Aunty jadi Ibu Shanaz dan, Allysa? Sebab, kebahagian Anak-anak ... Papa tuh yang utama, buat Papa. Jadi, bila Shanaz dan Allysa tak setuju ... Papa, tak akan menikah dengan Aunty. Meskipun Papa, sayang sangat pada Aunty," jelas Zein panjang lebar, sambil melirik sekilas pada Alya.


Alya yang mendengar ucapan Zein, begitu terharu.


"Shanaz setuju, Pa. Bila Aunty yang akan jadi Mama, Shanaz ... ," ucap putri pertama Zein.


"Allysa juga ... Pa," sambung putri ke dua Zein.


"Alhamdulillah ... makasih ye Anak-anak, Papa." Zein berucap lega. Lalu, ia menoleh pada Alya.


"Alya, sekarang ... Abang hanya menunggu jawaban dari Alya. Bila Alya menerima pinangan Abang, in sya Allah ... setelah Mama balik dari Singapore. Abang akan menikahin Alya," ucap Zein menjelaskan.


"Abang tanya sekali lagi, nak ke Alya menjadi Istri, dan Ibu dari Anak-anak Abang?" lanjut Zein kemudian.


"Shanaz mohon ... agar Aunty nak menikah dengan Papa. Biar Shanaz dan adik Allysa, mempunyai Ibu ... Aunty," ucap Shanaz lirih.


Alya pun segera berdiri, dan menghampiri Shanaz yang duduk di hadapannya.


"Shanaz. In sya Allah, Aunty nak jadi Ibu awak, dan adik Allysa," ucap Alya sambil membelai rambut ikal Shanaz.


"Aunty ... serius kah?" tanya Shanaz memastikan, bahwa ia tidak salah dengar.


"Ye, sayang .... ," sahut Alya.


"Terimah-kasih Aunty," ucap Shanaz bahagia sambil memeluk Alya, yang berdiri di sampingnya.


"Allysa juga nak peluk Aunty," sambung Allysa manja.


"Jom, sini ... sayang." ajak Alya.


Dan mereka bertiga pun berpelukan.


Zein yang mendengar ucapan Alya pada putri pertamanya, juga ikut merasakan bahagia. Lalu Zein beranjak dari kursinya, dan berjalan menghampiri mereka bertiga.


"Papa, tak diajak pelukan juga kah?" tanya Zein pada ke dua anaknya.


"Jom ... Papa sini." ajak Allysa senang.


Zein pun langsung berjalan mendekati Alya.


"Makasih, sebab Alya dah menerima pinangan Abang," ucap Zein berbinar.


"Same-same, Abang ...."

__ADS_1


"Abang nak, Alya pakai ne selalu. Dan, segera bagi tau keluarga Alya kat Indonesia." Zein berucap dan, kemudian menyematkan cincin di jari manis Alya.


"Makasih ... Bang," ucap Alya, saat Zein selesai menyematkan cincin itu, ke jari manisnya.


"Biar Abang yang urus semuanya, termaksud tiket untuk keluarga Alya datang ke sini." Zein kemudian melanjutkan ucapannya.


Alya kemudian, mengangguk bertanda ia.


"Jom kita balik rumah, sebab ne dah nak pukul 10 malam." Zein mengajak Alya, dan ke dua anaknya pulang.


*


*


*


Beberapa menit kemudian, mereka pun telah sampai di rumah.


"Papa, Shanaz masuk bilik tidur duluan ye." pamit Shanaz, saat baru memasuki rumah.


"Allysa juga," sambung putri ke dua Zein.


"Ok. Tapi, sebelum awak bedua masuk bilik, kiss ... Papa dulu." Zein berucap, dan menyuruh ke dua anaknya untuk menciumnya.


Shanaz dan Allysa pun, langsung mendekati Zein. Setelah itu Zein membungkuk, mensejajarkan dirinya pada ke dua anaknya.


Cup!


Shanaz, dan Allysa serempak mencium pipi Papanya.


"Thanks you ... darling. Good night, and have a nice dream." Zein berucap, dan bergantian mencium pipi ke dua anaknya.


"Ye ... Abang. Alya, hantar Shanaz dan Allysa dulu." Alya menyahut.


"Shanaz, Allysa. Sebelum tido, awak bedua ganti pakaian dulu ye," ucap Alya saat udah di dalam kamar Shanaz dan Allysa.


"Ye, Aunty."


"Jangan lupa, awak bedua sikat gigi ye ... sayang." perintah Alya kemudian.


"Ok, Aunty."


Setelah berganti pakaian tidur, dan menyikat gigi. Shanaz dan Allysa langsung naik ke tempat tidur.


"Good night, sayang ... ," ucap Alya setelah menyelimuti Shanaz dan Allysa.


"Night too ... Aunty," sahut Shanaz dan Allysa serempak.


"Aunty, terimah-kasih ye," ucap Shanaz kemudian.


"Terimah kasih pasal ape, sayang?" tanya Alya tak paham.


"Terimah-kasih ... sebab Aunty dah sayang pade Shanaz dan Adek. Aunty juga nak menikah dengan Papa," jelas Shanaz bahagia.


"Ye, sayang. Same-same ... dah malam awak bedua tido ye."


"Abang nak bicara pasal ape?" tanya Alya, setelah duduk di samping Zein.


"Pasal kita bedua," sahut Zein tersenyum.


"Abang nak tanya, tapi Alya harus jujur pada Abang ye," lanjut Zein kemudian.

__ADS_1


"Ye ... ,"


"Alya nak menerima pinangan, Abang. Pasal kasihan pade Anak-anak kah? Atau sebab Alya pun merasakan hal yang same, seperti yang Abang rasakan pada Alya?" tanya Zein serius, dan menatap lekat mata Alya.


"Hemm ... Alya sulit katakan pade Abang," sahutnya bingung, dan juga malu.


"Maksud Alya? Abang tak paham?"


"Hem ... Alya rasa nyaman bila berdekatan dengan Abang. Alya juga sedih, saat Abang menghindari, dan mendiami Alya seperti minggu-minggu kemaren," jelas Alya malu, dan menunduk.


Zein pun tersenyum, saat mendengar penjelasan dari perempuan yang telah berhasil menggetarkan hatinya pada pandangan pertama. Setelah 5 tahun lebih, Zein tak ingin mengenal perempuan. Karna, trauma atas penghianatan yang dilakukan oleh mantan istrinya. Tapi, kali ini dia pun memilih untuk berdamai dengan masa lalunya.


Melihat Alya malu-malu, dan menunduk. Zein semakin mendekatkan posisi duduknya pada Alya. Ia pun memegang dagu Alya, dan dengan lembut mengangkat wajah Alya. Kini manik mata mereka pun saling bertemu. Alya yang grogi, langsung memalingkan wajahnya. Dan, tiba-tiba Zein mencium pipi Alya. Lalu, Zein. pun memeluk Alya.


Deg!


Alya merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang. Begitu juga dengan yang Zein rasakan.


"Setelah 5 tahun lebih, Abang rasakan kehampaan dalam hidup, Abang. Tapi, saat Alya hadir dalam kehidupan Abang. Hidup Abang seakan bermakna," ucap Zein lembut, dan tetap memeluk Alya.


"Terimah-kasih ... sebab Alya dah nerima lamaran Abang." Zein melanjutkan ucapannya kembali, dan melepaskan pelukannya.


****


"Papa? Papa nak pigi mane?" tanya Shanaz, saat melihat Papanya turun dari tangga sambil menenteng koper kecil.


"Papa, nak ke Singapore ... sayang. Perusahaan Papa yang ade kat Singapore, tengah ade problem dikit," jelas Zein pada putri pertamanya.


"Oma, masih berada Kat Singapore. Dan, Papa nak pigi ke sane juga. Shanaz dan Adek tak ade kawan kat sini Papa," rengek Shanaz protes.


"Sayang, 'kan masih ade Aunty. Papa janji, tak akan lama kat Singapore, setelah 3 atau 4 hari ... in sya Allah, Papa akan balik ke sini," jelas Zein membujuk.


"Allysa dan Aunty, ade Kat mane?" tanya Zein kemudian, saat tak melihat putri ke duanya, dan Alya.


"Aunty dan Allysa, ade kat dalam bilik tidur, Pa,"


Tak lama kemudian, ke dua perempuan yang barusan Zein cari. Berjalan menuju ke arahnya ....


"Abang, nak pigi ke mane?" tanya Alya saat udah dihadapan Zein.


"Abang nak ke Singapore, Alya tolong jaga Anak-anak ye."


"Kenape, Abang selalu pigi ke Singapore?" tanya Alya yang memang belum tau mengenai pekerjaan lelaki, yang tadi malam melamarnya.


"Perusahaan almarhum Papa, Abang. Ade cabang kat Singapore, dan Brunei Darussalam. Yang ade kat Melaka ne, perusahaan pusatnya. Semenjak Papa Abang meninggal, semua tanggung jawab perusahaan dilimpahkan pade Abang," jelas Zein.


"Abang pigi dulu ye, sebab jadwal penerbangan Abang 2 jam setengah lagi. Abang percayakan Anak-anak pade Alya." pamit Zein kemudian.


"Abang hati-hati ... selalu bagi kabar pade Alya, dan jaga kesehatan kat sana," ucap Alya perhatian.


Zein pun tersenyum. "Abang, akan selalu bagi kabar pade Alya. Dan, jaga diri Abang baik-baik.


"Abang pigi ye, Alya. Shanaz, Allysa ... Papa pigi ye." pamit Zein kembali.


"Assalamualaikum ...." Zein kemudian mengucap salam.


"Waalaikumsalam."


TBC


Buat yang udah mampir, di cerita receh ku ini ... makasih ya 😅. Dan, jangan lupa tinggalin jejak ya gengs 🥰

__ADS_1


__ADS_2