
****
Zein yang melihat ke dua anaknya, udah selesai mandi dan berganti pakaian. Langsung mendekati mereka.
"Papa, nak ke minimarket bawah. Shanaz, dan Allysa nak ikut tak?" tawar Zein.
"Nak!" seru Shanaz dan Allysa, serempak.
"Ok, jom."
Mereka bertiga pun pergi ke luar kamar, sementara Alya tetap berada di dalam kamar seorang diri.
"Papa, Allysa nak ne boleh?" tanyanya sambil menunjukan sebatang coklat, pada Papanya.
"Ye, boleh. Ambil juga buat Akak, dan Aunty ye ... " sahut Zein.
"Papa, nak cari ape?" tanya Shanaz, saat melihat Papanya yang tengah mondar-mandir di dalam minimarket itu.
"Papa nak cari pemba**t buat Aunty, tapi ...Papa tak tau Kat mane tempatnya," bisik Zein pada Shanaz, putri pertamanya.
"Papa, tanya lah pada Akak penjaga tuh. Sape tau, Akak tuh boleh tolong Papa," sahut Shanaz memberi saran.
"Pintar sangat ... anak Papa ne. Makasih ye, sayang ... ," balas Zein.
Zein yang sebenarnya merasa malu, tapi ia tetap harus bertanya pada karyawati penjaga Minimarket itu.
"Maaf, saye nak tanya? Perlengkapan khusus perempuan Kat mane ye?" tanya Zein.
"Cik, nak cari benda ape kah? Biar saye, tolong Cik carikan benda tuh," tawar penjaga Minimarket.
Zein akhirnya membisikan pelan, pada penjaga Minimarket itu, benda apa yang ingin dia cari. Dan, penjaga minimarket itu pun segera mengambilkan benda yang Zein butuhkan.
"Ne, Cik." penjaga minimarket itu, memberikan 1 pack Pemba**t yang berisi 50 pieches.
"Ok, makasih."
Setelah mendapatkan benda yang dibutuhkan Alya, Zein dan ke dua anaknya segera kembali ke bilik mereka.
*
*
*
"Ne." Zein memberikan pesanan Alya.
"Makasih, Abang ... ," sahut Alya.
"Kenape, Abang ... banyak sangat belinya?" tanya Alya, saat melihat isi dalam plastic bag yang Zein berikan.
"Tak ape, biar awak tak kehabisan benda tuh lagi," sahut Zein
"Dah sana ... awak pigi mandi, saye juga nak mandi ne." Zein berucap kemudian.
Alya pun segera masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Setelah beberapa menit kemudian, Alya yang udah selesai mandi. Langsung keluar ....
Zein, yang melihat Alya ke luar dari kamar mandi, langsung menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemeja Zein, yang terlihat kebesaran di badan Alya. Dan, hanya sampai sebatas lutut Alya. Maka membuat Alya jadi semakin terlihat seksi. Alya yang menyadari, jika Zein sedang memperhatikannya, langsung menarik ke bawah ujung kemeja yang ia pakai.
Lalu, Alya pun ikut bergabung duduk di sofa. Di mana Allysa dan Shanaz, sedang bermain puzzle yang ditemani Zein, Papa mereka
"Sayang, Papa mandi dulu ye. Awak bedua, main same Aunty ye." Zein berucap, kemudian langsung menuju kamar mandi.
Tak lama setelah Zein selesai mandi. Waktu sholat magrib pun tiba. Zein, langsung menggelar sajadah yang ia beli di minimarket tadi.
"Shanaz, Allysa ... jom sholat same Papa." ajak Zein pada ke dua anaknya.
"Ok, Papa."
Alya pun segera membantu Shanaz dan Allysa, memakai telekung.
Alya yang duduk di sofa, begitu kagum menatap Zein dan Anak-anaknya, yang tengah menunaikan sholat magrib berjamaah.
__ADS_1
"Awak betiga nak makan ape?" tanya Zein, pada ke tiga perempuan yang ada di depannya.
"Ape saja, Papa. Terserah ... Papa nak beli ape," ucap Shanaz.
"Ye, terserah Papa. Allysa juga nak es krim ye Pa," sambung Allysa.
"Ok."
Setelah mengatakan itu, Zein segera berlalu.
"Papa?" panggil Shanaz, saat Zein ingin membuka pintu.
"Hem," sahut Zein menghentikan langkahnya, dan menatap Shanaz.
"Papa, tak tanya pada Aunty kah? Aunty nak makan ape?" tanya Shanaz.
Zein langsung tersenyum, melihat Shanaz yang begitu perhatian pada Alya.
"Papa, dah tau Aunty nak makan ape ... sayang," sahut Zein.
Alya yang mendengar ucapan Zein, jadi tersenyum.
****
Setelah menikmati makan malam, mereka pun berniat untuk istirahat.
"Biar saye saja yang tido Kat sofa," ucap Zein, saat melihat Alya yang berjalan ke tempat tidur untuk mengambil bantal.
"Awak ne perempuan, tak baik bila tido Kat sofa." Zein berucap kembali.
Alya pun menurut, dan segera naik ke atas tempat tidur bersama Shanaz dan Allysa. Namun, beberapa menit kemudian ... lampu kamar pun padam.
Akh!
Teriak Alya, Shanaz dan Allysa serempak. Zein yang berada di sofa, langsung berjalan cepat menghampiri mereka di tempat tidur. Dan, menyalahkan senter yang ada di hpnya.
"Papa, kenape lampunya padam?" Shanaz dan Allysa, merengek bersamaan.
"Papa tak tau, sayang ... ," sahut Zein, dan mengarahkan hpnya ke arah mereka.
"Ye, sayang ... Papa, tak kemana-mana. Papa, hanya nak tido Kat sofa tuh," sahut Zein.
"Papa, harus tido Kat sini ... ," rengek Allysa kembali.
Dan akhirnya mereka berempat pun tidur di tempat tidur bersama. Shanaz berada di pojok dinding, Alya di samping Shanaz, Allysa di tengah dan Zein di ujung Allysa. Alya yang memang tak merasa nyaman, berada satu tempat tidur dengan Zein. Meskipun, ada Shanaz dan Allysa berada di antara mereka. Tapi, Alya tetap takut ... jika Zein akan berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Awak tak boleh tido kah?" tanya Zein, saat merasakan pergerakan Alya yang tak tenang.
Lalu, Zein memposisikan badannya untuk duduk, dan bersender di dipan tempat tidur. Alya pun akhirnya ikut duduk, dan bersandar pada dipan tempat tidur juga seperti Zein.
"Kenape awak tak tido, Alya?" tanya Zein, dan untuk pertama kalinya ia memanggil nama Alya.
"Saye, tak mengantuk."
"Abang Zein juga, kenape tak tido?" tanya Alya balik, dan untuk pertama kalinya Alya tak memanggil Zein, dengan sebutan Pakcik lagi.
Zein pun tersenyum, saat Alya tak memanggilnya Pakcik lagi.
"Sebab, awak lah ... saye tak boleh tido," sahut Zein.
"Kenape, pula pasal saye?" tanya Alya bingung.
Namun Zein, tak menjawab pertanyaan Alya.
"Umur awak, berape?" tanya Zein, tiba-tiba.
"Nak jalan 24 ... ,"
"Kenape, Abang tanya pasal umur saye?"
"Tak boleh kah rupanya, Abang tanya umur Alya," sambung Zein.
__ADS_1
"Boleh, saye tak kesah. Asal, Abang tak tanya yang macem-macem," balas Alya tersenyum.
Hingga akhirnya, mereka pun saling mengobrol tentang kehidupan mereka masing-masing. Dan, mulai itu lah Alya dan Zein saling akrab.
*
*
*
"Assalamualaikum?" ucap Zein, saat masuk ke dalam rumah, dan disusul Alya dan juga ke dua anaknya.
"Waalaikumsalam ... ," sahut Mama Zein.
"Seronoknya ... lah yang habis jalan-jalan tuh," goda Mama Zein, pada ke dua cucunya yang semalam tak bisa pulang, dan harus menginap di Monten Village.
"Ye, dong Oma." Allysa dan Shanaz serempak menyahut, dengan mata yang berbinar.
"Alya? Zein tak Ade kacau awak 'kan?' tanya Mama Zein kemudian, pada Alya.
"Tak Ade, Makcik ... ,"
"Alhamdulillah ... ," sambung Makcik lega.
"Mama? Mama tak percaya kah, pada anak sendiri?" komplain Zein, pada Mamanya.
"Bukan begitu Zein, Mama hanya memastikan saje," balas Mama tersenyum.
"Oma, semalam tuh ... massa kami nak makan Kat resto. Ade, Aunty yang marah-marah pada Shanaz dan adek," adu Shanaz tiba-tiba
"Ye, kah ... sayang?"
Lalu, Mama Zein langsung melirik Zein. Untuk meminta penjelasan.
Akhirnya Zein pun menceritakan pada Mamanya, tentang Ira mantan istrinya yang ada di resto, saat ia juga berada di resto yang ternyata Ira juga ada di resto itu.
Mama Zein yang mendengar penjelasan dari Zein, begitu murka.
"Kurang ajar betul, perempuan tuh. Dah lah dia tak nak asuh Anak-anaknya, dan pergi tinggalkan Anak-anaknya dari kecik. Sekarang .. dia cakap kasar pada cucu-cucu saye," omel Mama Zein.
"Dah ... lah, Ma. Tak payah bahas pasal dia, yang terpenting ... Shanaz dan Allysa baik-baik saja," sahut Zein menenangkan Mamanya.
2 bulan kemudian ....
Tak terasa sudah 2 bulan, Alya bekerja di rumah Makcik Diana. Alya dan Zein pun terlihat semakin akrab.
Makcik Diana, yang menyadari Zein dan Alya sudah terlihat akrab. Langsung, menggoda Zein.
"Zein, sekejap?" panggil Mamanya, ketika Zein baru pulang dari kantor.
"Ye, Ma ... ," sahutnya dan menghampiri Mamanya, yang ada di ruang keluarga.
"Mama nak tanya sesuatu, awak jawab yang jujur ye," ucap Mama.
"Mama, nak tanya ape?" tanya Zein.
"Pasal Alya dan awak," sahut Mama.
"Mama tengok, awak dan Alya mulai dekat sangat, Zein. Tak nak kah, awak langsung menghalalkan Alya. Mama tengok pun Anak-anak dan juga awak, bahagia sangat sejak ade Alya kat rumah ne," lanjut Mamanya kemudian.
"Zein, memang mulai dekat dengan Alya, Ma. Alya juga baik ... tapi, Zein tak nak terburu-buru sangat. Bila Zein, rasa dah mantap ... Zein akan bagi tau Mama," ucap Zein jujur.
"Ye, Zein. Bila awak ragu, awak lakukan lah sholat istikharah, Zein. Jangan terlalu lama, sebab banyak yang suka pada Alya. Jangan sampai, nanti ade orang yang duluan meminang Alya," sahut Mama menasehati.
"Ye, Ma."
"Zein, ke bilik dulu ye ... Ma." pamitnya kemudian.
Sesampainya di dalam kamar, Zein pun merebahkan dirinya di sofa yang ada di dalam kamarnya. Ia pun teringat dengan ucapan Mamanya.
'Sepertinya ... yang Mama katakan tadi tuh benar' gumamnya dalam hati, membenarkan ucapan Mamanya.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa, like ... komen ... dan, ♥️ ya gengs. Terimah kasih ... sebab dah mampir 😍