
****
Karna, ke dua bocah itu tak ada yang menjawab. Alya pun langsung membungkuk, dan mensejajarkan dirinya pada ke dua bocah tersebut. Lalu, ia menatap lembut pada mereka.
"Aunty ada es krim ne. Tapi, Aunty nak awak bedua bagi tau Aunty. Kenape, awak bedua begado, dan Allysa menangis?" tanya Alya kembali, sambil membujuk mereka bedua dengan es krim yang ia beli tadi
Hiks ... hiks!
"Akak Nanaz, tak nak kawan dengan saye ... Aunty," ucap Allysa, bocah berusia 5 tahun itu sambil terisak.
"Adek comel, jangan nangis ye. Bila adek nangis, nanti hilang comelnya," bujuk Alya sambil menghapus air mata di pipi Allysa dengan lembut.
"Allysa, nak es krim 'kan?" tawar Alya kemudian.
Allysa pun mengangguk, bertanda ia mau.
"Ok. Ne buat Allysa ... tapi, Allysa tak boleh nangis lagi ye." Alya berucap, sambil memberikan satu bungkus es krim kepada Allysa.
"Ye Aunty. Terimah kasih," sahut Allysa bahagia, saat menerima es krim pemberian Alya.
"Same-same, sayang."
Setelah berhasil mendiamkan Allysa. Alya kemudian beralih kepada Shanaz, yang merupakan Kakak dari Allysa.
"Shanaz? Kenape, awak tak nak kawan dengan adek Allysa?" tanya Alya lembut, kepada bocah yang baru berusia 8 tahun itu.
"Saye tak suka, sebab adek nak ikut main dengan saye," sahut Shanaz jutek.
"Shanaz, awak tak boleh macam tuh. Bila awak tak suka, adek ikut main bersama awak. Lalu, adek nak main dengan sape?"
"Sesame saudara ... kita harus saling menjaga, dan mengasihi Shanaz," lanjut Alya kemudian
"Shanaz, tak sayang kah dengan adek Allysa?" tanya Alya kemudian.
"Saye, sayang Aunty. Tapi, saya tak suka ... sebab Allysa suka kacau mainan saye," jelas Shanaz jujur.
"Shanaz, adek Allysa 'kan masih kecil. Karna, Shanaz seorang kakak ... jadi, Shanaz harus lebih mengalah ya Sayang," ucap Alya memberikan nasehat, kepada Shanaz.
"Adek Allysa, juga tak boleh kacau Akak ye," ucap Alya kemudian kepada Allysa, yang tengah sibuk menikmati es krim yang ia berikan tadi.
"Ye, Aunty," sahut Allysa, dan tetap fokus menikmati es krimnya.
"Janji?" tanya Alya memastikan.
"Janji, Aunty ... ,"
"Ok. Sekarang ... Allysa harus minta maaf dengan Akak," ucap Alya kemudian.
"Ye Aunty, sekejap ... Allysa nak habiskan es krim ne dulu," sahutnya polos.
Alya yang mendengar ucapan Allysa pun menjadi tersenyum.
Sementara tanpa sepengetahuan Alya. Ada seseorang yang memperhatikannya, saat ia sedang membujuk Shanaz dan Allysa. Sedangkan Makcik Diana yang mulai menyadari ke dua cucunya, tak ada bersamanya di dalam resto. Langsung ke luar resto untuk mencari Shanaz dan Allysa. Dan, Makcik Diana pun melihat ke dua cucunya sedang bersama Alya.
__ADS_1
Setelah Makcik Diana, mengetahui jika ke dua cucunya ada bersama Alya di luar resto. Makcik Diana pun terlihat lega, namun Makcik Diana tak menghampiri mereka, dan mala memperhatikan Alya yang tengah membujuk ke dua cucunya sambil tersenyum
'Masya Allah ... ternyata selain comel, Alya juga sangat menyayangi Anak-anak. Bahkan Alya begitu sabar, menghadapi Shanaz yang terlihat lebih garang dan jutek dibandingkan Allysa, ketika berinteraksi dengan orang lain yang belum ia kenal' Makcik Diana bergumam dalam hati, dan terus memperhatikan Alya beserta ke dua cucunya, dari dalam resto. Dan, pandangan Makcik Diana pun ... tertuju pada sosok lelaki yang begitu ia kenal. Tengah memperhatikan ke arah Alya juga, Makcik Diana pun kembali menyunggingkan senyum.
Namun, ketika Makcik Diana menyadari Alya dan ke dua cucunya, ingin masuk ke dalam resto. Makcik Diana pun segera ke luar, dan pura-pura panik.
"Shanaz! Allysa!" teriak Makcik Diana menghampiri ke dua cucunya, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Darimana saja awak bedua ne? Oma dari tadi cari-cari awak bedua tau?" Makcik Diana melanjutkan ucapannya kembali.
"Makcik, jangan marahkan Shannaz dan Allysa. Dari tadi mereka bedua, dengan saye Kat sini." Alya membela, Shanaz dan Allysa.
Mendengar ucapan Alya, yang membela ke dua cucunya. Makcik Diana pun tersenyum dalam hati.
'Tak salah lagi' gumam Makcik Diana dalam hati.
"Maaf Oma, karna Shanaz bawa adek Allysa maen Kat luar, tak izin dengan Oma," ucap Shanaz menunduk.
"Tak ape sayang, Oma tak marah dengan Shanaz. Yang Oma risaukan tuh, sebab Shanaz dan adek Allysa tak ada Kat dalam resto," jelas Oma lembut, dan memeluk cucu pertamanya yang tengah takut jika Oma akan memarahinya.
Lalu, Makcik Diana beralih menatap cucu ke duanya, yang tengah fokus menikmati es krim.
"Saye, yang bagi es krim dengan Allysa Makcik. Maaf bila saye lancang," ucap Alya ketika menyadari Makcik Diana, tengah memperhatikan Allysa.
"Tak ape, Alya. Makasih, sebab Alya dah baik dengan cucu-cucu saye," sahut Makcik Diana.
"Maaf, bila ke dua cucu saye, buat repot Alya," lanjut Makcik Diana kemudian.
Dan, sebelum masuk ke dalam resto. Alya pun tak lupa memberikan sebungkus es krim, yang ia janjikan kepada Shanaz.
"Shanaz, ne es krim buat awak. Tapi, dah agak cair, tak ape 'kan?" Alya memberikan es krim corn, yang ternyata merupakan es krim kesukaan Shanaz.
"Tak ape, Aunty. Makasih," sahut Shanaz berbinar.
"Ok. Aunty masuk duluan ye," pamit Alya kepada Shanaz.
*
*
*
Saat Alya udah masuk ke dalam resto, lelaki yang dari tadi hanya memperhatikan, kini berjalan menghampiri Mama dan ke dua anak perempuannya.
"Papa!" teriak Allysa, yang mulutnya belepotan karna es krim yang dimakannya tadi.
Lelaki yang berusia 33 tahun, dan bernama Zein itu. Langsung menggendong putri kecilnya, dengan penuh kasih sayang.
"Anak Papa habis makan ape? Kenape, mulut dan pipi awak ne penuh dengan coklet?" tanyanya, yang sebenarnya udah tau mulut anak ke duanya belepotan karna apa.
"Ta ...." belum sempat mulut mungil Allysa menjawab pertanyaan papanya. Makcik Diana, Mama dari Zein langsung memotong ucapan cucunya
Ha ... ha ... ha!
__ADS_1
"Masya Allah ... Zein. Janganlah awak ne pura-pura tak tau. Sebab, Mama dah tau ... bila awak tuh Ade Kat ujung sana. Tengah memperhatikan Alya," sindir Makcik Diana dengan tergelak.
Zein, yang memang memiliki perangai cuek dan dingin. Bisa menutupi rasa malunya, dari karakter yang ia miliki. Ia pun hanya diam, dan tak menanggapi ucapan Mamanya.
Lalu, Zein mengeluarkan sapu tangan yang ia bawa, dan ia pun membersihkan bekas coklat yang menempel di mulut dan pipi anak ke duanya.
Sedangkan Makcik Diana begitu kesal, karna Zein anaknya tak menanggapi ucapannya.
"Zein. Alya tuh comel ye. Bahkan, Alya tampak sayang dengan Anak-anak," ucap Makcik Diana, mencoba memancing reaksi anaknya.
"Betul, Papa. Aunty Alya tuh comel sangat," sambung Allysa membenarkan ucapan Omanya.
"Aunty Alya juga baik, dan bagi Allysa sama Akak es krim," oceh Allysa kemudian memuji Alya.
Zein pun tetap diam, hanya mendengarkan celotehan anak ke duanya. Sambil terus membersihkan, bekas coklat yang menempel di pipi anaknya.
Melihat Zein, yang cuma menjadi pendengar ... tanpa mau menyahut ucapannya dan cucu ke duanya. Makcik Diana pun semakin kesal.
"Zein! Mama dan Allysa tuh, bukan bicara dengan patung, 'kan?! Kenape, awak tak respon ucapan Mama dan Allysa?!" tanya Makcik Diana tegas, sambil menatap Zein.
"Zein nak respon, ucapan Mama dan Allysa yang mana, Ma?" tanya Zein akhirnya, setelah ia sudah selesai membersihkan bekas coklat es krim di pipi Allysa.
"Awak tanya lagi? Kurang paham kah awak, Zein?"
"Mama dan Allysa tuh cakap, pasal Alya. Alya, comel 'kan, Zein?" tanya Makcik Diana mengulang.
"Zein tak tau lah, Ma. Sape Alya, yang Mama dan Allysa katakan," sahut Zein crpat.
"Yang awak perhatikan tadi, Zein. Saat awak tengah berdiri Kat ujung sana," ucap Makcik Diana, menyindir Zein kembali.
"Zein, tadi tuh tengah memperhatikan Anak-anak, Ma. Sebab, tak biasanya Anak-anak bersama orang asing," elak Zein cepat.
"Saye nak, Aunty Alya jadi Ibu Shanaz." tiba-tiba, Shanaz berucap dan langsung masuk ke dalam resto.
"Allysa juga," sambung Allysa mengikuti permintaan kakaknya.
Zein pun langsung menatap Mamanya dengan intens.
"Ma, janganlah Mama ajar Anak-anak macem ne. Apa pula, permintaan Shanaz tuh," ucap Zein menuduh Mamanya.
"Zein, Mama tak Ade ajar cakap tu lah. Awak ne, macam tak tau Shanaz je. Tak biasanya, 'kan Shanaz menyukai orang yang baru ia kenal," ucap Makcik Diana jujur, karna sebenarnya Makcik Diana pun begitu terkejut. Ketika mendengar permintaan Shanaz.
Sementara Zein, terlihat sedang memikirkan ucapan anak pertamanya.
"Udah lah Zein, tak payah banyak fikir. Jom masuk, dan bujuk Shanaz. Awak ne janji nak ajak jalan-jalan, Shanaz dan Allysa. Tak taunya, saat off day pun awak tak Ade waktu buat Anak-anak awak." ajak Makcik Diana, sambil mengomeli Zein.
"Ye, Ma ... sorry. Sebab, saye 'kan tadi jumpa sama kawan lama," sahut Zein.
"Awak ne lah, lebih penting kawan dari pada Anak sendiri," sindir Makcik Diana.
"Jom Allysa, kita masuk ke dalam." ajak Makcik Diana, sambil menuntun Allysa. Dan, meninggalkan Zein.
TBC
__ADS_1