
Karna ini akhir pekan, Zein akhirnya mengajak ke dua anaknya, dan Alya untuk mengunjungi Jonker Walk. Kawasan yang akan ramai dikunjungi wisatawan dan penduduk setempat, saat hari Sabtu dan malam minggu saja. Dan pastinya, akan dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang menjual makanan, suvenir dan lainnya. Bahkan, jika beruntung ... juga dapat melihat pertunjukan di atas panggung.
Beberapa menit kemudian, Zein dan yang lainnya telah sampai di Jonker Wall. Zein pun mengajak ke dua anaknya, beserta Alya berkeliling di sekitaran Jonker Walk. Hingga pada akhirnya, Allysa merengek pada Papanya ... untuk melihat pertunjukan yang ada di panggung.
"Papa. Allysa nak tengok tuh, boleh kah Pa?" tanya Allysa, diiringi rengek manjanya sambil menunjuk ke arah panggung, yang sedang mengadakan pertunjukan tarian ular.
Zein, lantas menoleh ke arah yang di tunjuk Allysa.
"Awak, tak takut kah?" tanya Zein lembut.
"Tak, Papa ... ,"
"Ok. Baik lah, jom kita ke sana." ajak Zein.
"Shanaz, Allysa. Awak bedua Kat sini dulu ye, dengan Aunty," ucap Zein saat sudah berada di dekat panggung.
"Papa nak ke Mane?" tanya ke dua anaknya bersamaan.
"Papa, nak beli minum dan cemilan sekejap je."
"Oh. Ok, Papa ... ,"
"Awak, tolong jagakan Shanaz dan Allysa ye," ucap Zein kemudian pada Alya.
"Ye, pasti lah saye jaga ... ," sahut Alya ketus.
"Ok. Makasih ...." setelah mengatakan itu, Zein pun pergi.
Tak lama kemudian, Zein datang dengan menenteng berbagai macam cemilan dan juga minuman boba.
"Pakcik, kenape belinya banyak sangat?" tanya Alya, saat ia melihat ke dua tangan Zein menenteng beberapa plastic bag.
"Ye kah. Saye, fikir ne tak cukup buat awak, dan Shanaz ... Allysa," sahut Zein tersenyum.
Lalu, Zein memberikan boba beserta cemilan yang ia beli tadi, kepada Alya dan juga Anak-anaknya.
Saat Alya tengah menikmati pertunjukan di atas panggung. Tiba-tiba ia merasa risih pada area sensitifnya, dan tak nyaman saat duduk.
'Astagfirulloh, ne dah jam 1 siang, pantas aja aku ngerasa risih. Seharusnya aku tuh udah ganti pembal**t' gumam Alya dalam hati.
"Awak, kenape? Macem gelisah gitu?" tanya Zein, yang dari tadi memperhatikan Alya.
Alya pun menoleh pada Zein. "Saye, ingin ke bilik air."
"Nak ganti .... " Alya tak meneruskan ucapannya, karna malu pada Zein.
Zein yang mengingat ucapan Alya, yang mengatakan jika ia sedang kedatangan tamu bulanan. Saat Zein mengajak Alya sholat di Masjid tadi pun langsung paham, apa yang ingin Alya ucapkan.
"Jom, saye hantar awak ke bilik air." ajak Zein pada Alya.
"Anak-anak dengan sape?" tanya Alya khawatir, jika Zein menemaninya pigi ke kamar mandi, maka Shanaz dan Allysa tak ada yang jaga.
"Saye, cuma nak tunjukan di mana tempat bilik airnya, pada awak saja. Lepas tuh ... saye balik ke sini lagi," jelas Zein.
"Atau awak nak, saye ikut temani awak dalam bilik air?" tanya Zein menggoda Alya, dengan senyum devilnya.
Plak!
Refleks, Alya memukul lengan Zein.
Auw!
Ringis Zein. "Sakit tau ... ," ia lantas berpura-pura kesakitan.
"Papa? Are you ok?" tanya ke dua anaknya bersamaan, saat mereka mendengar ringisan Papanya.
"I'ts ok, Sayang." Zein menyahut cepat.
Tiba-tiba ... cuaca yang tadinya cerah, kini jadi mendung gelap. Angin pun bertiup kencang ....
"Sepertinya nak hujan, kita balik ke rumah saje ye Anak-anak?" tanya Zein.
"Ye, Papa."
Mereka pun berlalu dari panggung itu, untuk menuju tempat parkir.
"Pakcik. Tolong bagi tau saye dulu, Kat mane bilik airnya?" tanya Alya pada Zein, sambil menarik ujung kemeja Zein.
Lantas, Zein menoleh pada tangan Alya yang tengah menarik ujung kemejanya.
"Sorry, Pakcik ... ," ucap Alya cepat, saat menyadari kecerobohan yang telah ia lakukan.
"Jom, saye hantar awak." ajak Zein.
"Awak, jangan terlalu lama ye Kat dalam." Zein berucap, kemudian ia menunggu Alya di luar kamar mandi bersama ke dua anaknya.
Beberapa detik kemudian, Alya pun ke luar dari kamar mandi.
"Sudah, jom kita balek." ajak Alya pada Zein, dan Anak-anak Zein.
Alya dan ke dua anak Zein jalan duluan, sedangkan Zein jalan di belakang mereka.
"Sekejap!"
Seru Zein tiba-tiba ... Alya, Shanaz dan Allysa seketika menghentikan langkah mereka.
"Kenape?" tanya Alya kemudian.
"Belakang skirt(rok) awak, ade noda," jelas Zein memberitau Alya.
Alya terdiam sejenak, hingga akhirnya ia pun menyadari apa maksud ucapan Zein.
__ADS_1
'Ya Allah ... kok bisa tembus sih? Padahal aku, 'kan udah pake sot pants(celana sot) dan underwear double' gumam Alya dalam hati, dan juga malu pada Zein.
Hingga akhirnya, ia pun sadar ketika Zein memberikan sesuatu di tangannya.
"Ini?" tanya Alya bingung, saat Zein memberikan kemeja yang ia pakai, padanya.
"Buat tutup skirt(rok) awak, biar awak tak malu."
Setelah mengatakan itu, Zein menggandeng ke dua tangan anaknya, dan berjalan duluan.
Alya yang menerima perlakuan baik Zein, begitu terharu. Lalu, ia segera menutupi roknya yang terkena darah haidnya, menggunakan kemeja Zein dengan cara mengikat ke dua lengan kemeja itu di pinggangnya. Kemudian, ia segera menyusul langkah Zein.
*
*
*
Duar!
Duar!
Suara petir saling bersahutan ....
Zein dan yang lainnya mempercepat langkah mereka, agar segera sampai ke tempat parkir. Saat mereka sudah berada di dalam mobil, hujan pun turun sangat deras. Zein langsung mengemudikan mobilnya menuju jalan pulang.
Duar!
Duar!
"Akh!" jerit Alya, dan ke dua anak Zein bersamaan, saat terdengar suara petir yang begitu melengking, diiringi suara guyuran air hujan.
Citt?
Zein segera mengerim mobilnya, dan menepi. Agar pengendara yang lain bisa lewat.
"Awak betiga, tak ape?" tanya Zein khawatir, kepada Alya dan ke dua anaknya.
"Papa, Allysa takut ..." rengek Allysa, yang memang phobia dengan suara petir.
"Allysa tak usah takut, sayang. Ade, Papa kat sini dan juga Aunty," bujuk Zein pada anak ke duanya, yang tengah duduk di pangkuan Alya.
Lalu Zein menoleh ke belakang kemudi, di mana Shanaz duduk.
"Shanaz? Are you ok, sayang?" tanya Zein memastikan keadaan putri pertamanya.
Shanaz pun mengangguk, bertanda ia baik-baik saja.
Zein, lalu melanjutkan perjalanannya kembali. Dan, mengemudikan mobilnya pelan.
Dan, pada saat di pertengahan jalan. Jalanan begitu macet, disebabkan para pengendara yang berhenti. Zein yang penasaran, membuka kaca mobilnya setengah, dan ia pun bertanya pada pegendara yang ada di sampingnya.
"Ade ape ne, Pakcik?! Kenape, banyak pengendara yang berhenti?!" tanya Zein setengah berteriak, agar suaranya terdengar oleh lelaki setengah baya pengendara motor di sampingnya.
"Ok, makasih ye Pakcik." Zein berucap, dan segera menutup kaca mobilnya.
"Kenape?" tanya Alya, setelah Zein menutup kaca mobilnya.
"Pohon besar yang Ade Kat jalan, yang kita lalui tadi tumbang," jelas Zein.
"Sepertinya kita tak boleh balik, dan harus cari tempat Inap untuk malam ne. Sebab hari dah mulai nak petang, dan mungkin esok baru pohon tuh bisa dievakuasi," lanjut Zein kembali.
"Maksud Pakcik, kita nginap di mana?" tanya Alya takut, jika Zein berniat jahat padanya.
"Di Morten Village, tempatnya tak jauh dari tempat yang kita kunjungi tadi. Awak tak usah risau, sebab awak satu bilik dengan Shanaz dan Allysa."
Setelah mendengar penjelasan dari Zein, akhirnya Alya pun merasa lega. Dan, Zein langsung mengemudikan mobilnya ke Morten Village. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di Morten Village. Zein kemudian, langsung reservasi 2 bilik.
"Selamat datang Cik, nak reservasi untuk berape hari?" tanya Resepsionis itu.
"1 hari, dan saye nak 2 bilik ye."
"Maaf Cik, bilik yang lain dah penuh semua. Ade tinggal 1 bilik je yang kosong," jelas Resepsionis itu.
"Ye, tak apa lah."
Setelah menerima kunci, Zein dan Alya beserta ke dua anaknya, langsung menuju lantai 2. Sesampainya di atas, Zein memberikan kunci kamar pada Alya.
"Awak, dan Anak-anak ... tido Kat bilik ne ye. Bila Ade ape-ape, awak call saye saje. Nanti, awak boleh minta nomor saye, pada Shanaz." Zein menjelaskan pada Alya.
"Pakcik, nak ke mana?" tanya Alya cepat.
"Saye, tido kat dalam kereta. Sebab, tak Ade bilik kosong lagi," jawab Zein, dan segera berlalu.
"Papa?" Allsya memanggil Papanya.
Zein akhirnya menghentikan langkahnya.
"Ade ape, sayang?" tanya Zein balik.
"Papa tak boleh pigi ... Allysa nak Papa juga tido Kat dalam bilik dengan Allysa," rengeknya.
Alya yang tak enak hati, melihat Allysa merengek pada Papanya. Akhirnya ia pun terpaksa, menyuruh Zein juga tidur di kamar.
"Hemm ... Pakcik, boleh tido kat dalam juga. Nanti saye tido Kat sofa saje." Alya pun akhirnya berucap.
****
"Shanaz, Allysa ... awak bedua pigi mandi ye. Aunty, Ade bawa baju awak bedua dalam bag." Alya berucap pada ke dua bocah itu.
"Ye, Aunty."
__ADS_1
Alya segera mengeluarkan pakaian, Shanaz dan Allysa yang ada di dalam tas. Setelah mempersiapkan pakaian ke dua bocah yang diasuhnya. Alya kemudian mengambil underwear baru punyanya. Dan, pada saat ia ingin mengambil Pemba**t baru, di dalam tasnya, ia pun tak menemukannya.
'Masya Allah ... aku 'kan cuma bawa stok Pemba**t 2. Wong aku fikir, jalan-jalannya cuma sebentar. Ngak taunya mala terjebak seperti ini di sini' gumam Alya dalam hati.
"Awak cari ape?" tanya Zein yang baru masuk.
"Tak Ade ape-ape," sahut Alya cepat.
"Ne, awak pakai dulu kemeja saye. Esok pagi-pagi, saye beli pakaian yang baru buat awak," Zein memberikan Alya kemeja baru miliknya.
"Tapi, kemeja Pakcik dah kotor sebab saye. Ne, baru beli kah atau —," ucapan Alya disergah Zein.
"Saye, selalu sediakan kemeja atau keperluan saye lainnya Kat dalam kereta," sambung Zein.
"Anak-anak Kat mana?" tanya Zein kemudian, saat menyadari ke dua anaknya tak ada.
"Shanaz dan Allysa tengah mandi,"
"Hemm ... Pakcik, boleh kah saye minta tolong?"tanya Alya kemudian.
"Awak ne lah, sejak kapan saye jadi Pakcik ... awak. Dah berulang kali saye katakan, awak tak boleh panggil saye Pakcik," jelas Zein kesal.
"Awak tengok saye ne, tua sangat kah?" tanya Zein kemudian, sambil mendekatkan wajahnya di hadapan Alya.
"Pakcik nak ape?" Alya langsung mendorong dada Zein pelan.
"Saye, nak awak." goda Zein, dan mendekati Alya lagi.
"Pakcik, jangan macem-macem ye!" ucap Alya tegas.
"Awak fikir, saye nak apakan awak hah?" Zein tersenyum lucu, saat melihat ekspresi ketakutan Alya.
"Saye nak, awak katakan ... awak tadi tuh nak minta tolong ape pada saye?" tanya Zein kemudian.
Alya yang mendengar penjelasan dari Zein, jadi malu dan salah tingkah.
"Cepat katakan, awak nak minta tolong ape?" tanya Zein mengulang.
"Saye ... saye, nak minta tolong belikan pembal**ut. Sebab, saye tak bawa stok banyak," ucap Alya malu.
"What?!" pekik Zein.
Alya yang mendengar teriakan Zein, jadi terkejut.
"Pakcik, tak payah lah jerit macem tuh." Alya mengomeli Zein.
"Awak ne lah, saye fikir awak nak minta tolong ape. Saye, tak pernah beli benda yang awak sebutkan tadi tuh," jelas Zein jujur.
"Lantas, saye nak minta tolong pada sape?"
"Saye, tak tau jalan ... skirt(rok) saye juga dah terkena noda tamu bulanan saye," ucap Alya kemudian dengan lirih.
Zein yang tak tega pun, akhirnya mau menolong Alya.
"Baik lah, saye akan belikan benda tuh buat awak." Zein berucap.
"Pakcik serius kah?" tanya Alya berbinar.
"Hem."
"Tapi, Ade syaratnya." Zein melanjutkan ucapannya kembali.
"Ape syaratnya?" Alya balik bertanya.
"Awak, mesti cakap minta tolong yang elok pada saye," sahut Zein tersenyum.
"Pakcik, boleh kah tolong saye?"
"No, tak seperti itu. Bila awak panggil saye Pakcik lagi, saye tak nak tolong awak," ancam Zein.
"Abang, boleh kah saye minta tolong pada Abang?" tanya Alya.
Zein pun tersenyum. "Ok, nanti saye beli ...."
"Aunty, kita bedua dah selesai! Mane tuala(handuk) kita!" teriak Shanaz dan Allysa dari dalam kamar mandi.
"Ye, sekejap." Alya langsung bergegas menuju kamar mandi.
Karna hari udah mau menjelang magrib, Zein berniat menelpon Mamanya. Untuk mengabari pada Mamanya, jika mereka tak bisa pulang ke rumah. Lalu, Zein mengambil handpone-nya dan segera menekan nomor Mamanya.
Tut!
Tut!
Tut!
Panggilan akhirnya tersambung.
["Hello, assalamualaikum ... Zein?"]
["Waalaikumsalam, Ma.]
Zein pun menceritakan pada Mamanya, tentang dirinya dan Alya beserta ke dua anaknya, yang tak bisa pulang.
["Ye, Zein tak ape. Tapi, awak jangan rusak anak dara orang ye Zein. Alya tuh perempuan baik-baik," pesan Mama pada Zein ]
["Mama ... tak payah risau, Zein tak akan lakukan hal buruk seperti tuh, Ma. Lagian, Ade Anak-anak juga kat dalam bilik," jelas Zein.]
Dan, sambungan telpon pun tersambung.
TBC
__ADS_1
Terimah kasih, buat yang udah berkenan mampir di cerita receh saya. Dan, jangan lupa tinggalin jejaknya ya gengs.