
****
Setelah berbincang dengan adik iparnya, via handphone. Makcik Diana pun merasa lebih baik dari sebelumnya. Sementara di kediaman Makcik Suh, suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar. Langsung bertanya kepadanya mengenai masalah apa yang terjadi pada kakak iparnya, yang tak lain merupakan istri dari almarhum Abangnya.
"Kenape dengan Kak Long, Mi? Ade masalah kah dengan Faiz atau yang lain?" tanya suami Makcik Suh.
Huft!
"Ye, Bih. Ne soal Zein, Faiz ... dan Alya," sahut Makcik Suh menghela nafas berat.
"Maksud Umi?" tanya Abi penasaran.
Makcik Suh pun akhirnya menceritakan kepada suaminya, seperti yang diceritakan Makcik Diana kepadanya tadi via handphone.
"Astaghfirullah ... kenape, semua jadi macem ne. Kasihan sangat Zein," ucap suami Makcik Suh prihatin terhadap Zein.
"Tuh lah, Bih. Umi juga merasa kasihan pade Zein, baru saje dia nak mulai hubungan serius dengan perempuan. Tapi malah jadi seperti ne," sambung Makcik Suh.
"Kita do'akan saje, Mi ... semoga Zein ikhlas dan tabah," ucap suami Makcik Suh kemudian.
*
*
*
POV Makcik Diana
Aku sangat senang, ketika Doktor dari rumah sakit Singapore yang merawat Faiz, anak lelakiku yang paling bungsu. Memberitaukan aku bila keadaan Faiz mulai membaik, dan boleh balik rumah meskipun Faiz masih tak boleh berjalan lagi. Setelah 2 tahun Faiz koma kerana accident, akhirnya Allah mengabulkan do'aku untuk kesihatan dan kesembuhan Faiz anak bungsuku.
Setiap hari selepas aku sholat ... siang dan malam, aku selalu mendo'akan agar ke dua anak lelakiku bahagia. Meskipun mereka bedua telah dewasa, bahkan Zein anak tertuaku dah berkeluarga. Aku akan selalu mendo'akan mereka, sebab mereka adalah Anak-anakku. Kebahagian mereka, adalah kebahagiaanku juga.
__ADS_1
Zein anak tertuaku, setelah ia dikhianati oleh mantan istrinya yang bermain serong dengan rekan kerjanya Zein. Sampai 5 tahun lebih perceraian itu berlalu, namun ... aku tak pernah melihat Zein dekat dengan perempuan mana pun. Kesehariannya hanya disibukkan dengan pekerjaan di syarikat(perusahaan). Ya, setelah Zein memutuskan resign menjadi kapten awak kapal pesiar. Zein sekarang mengambil alih untuk menghandle syarikat, yang didirikan oleh almarhum suamiku, yang tak lain Papanya. Dahulunya setelah Papa Zein meninggal, aku lah yang turun tangan mengambil alih syarikat almarhum suamiku agar tak bangkrap. Sebab, Faiz dan Zein massa tuh tak berminat dibidang bisnis.
Dan, selepas Zein bercerai dengan mantan istrinya. Tak lama kemudian Zein memilih resign dari pekerjaannya. Dan ia pun mulai berminat membantuku, untuk mengelolah syarikat yang dah bertahun-tahun didirikan oleh almarhum Papanya.
Hingga pade massa aku datang ke resto adik iparku, yang berada di Klang. Aku pun berjumpa dengan Alya, perempuan comel dan juga baik. Aku merasa bahwa Alya ne cocok dengan Zein, dan dugaanku pun betul. Massa aku nak mencari ke dua cucuku, aku tengok Alya begitu lembut dan sabar melayani Shanaz dan Allysa. Aku pun tak sengaja tengok Zein, ikut serta tengah memperhatikan Alya massa tuh. Dan akhirnya aku pun membujuk adik iparku, agar mengizinkan Alya bekeje di rumahku hanya untuk menjaga Shanaz dan Allysa saja. Awalnya Suh tak nak melepas Alya untuk bekeje di rumahku, namun aku terus membujuknya dan menceritakan padanya, bahwa aku nak menjodohkan Alya pade Zein. Bila Alya keje dirumahku, maka Alya dan Zein boleh berjumpa. Shanaz dan Allysa pun sangat suka pade Alya. Akhirnya ... Suh pun mendukung rencanaku, dan setelah beberapa bulan berlalu. Zein mengatakan bahwasannya ia suka pade Alya, mendengar Zein berkata macem tuh aku sangat senang, sebab aku tak payah susah-susah untuk mendekati Zein dan Alya lagi.
Hingga akhirnya ... Zein pun mengatakan jika ia berniat melamar Alya. Aku yang mendengarkannya semakin senang, apalagi massa Doktor dari Singapore memberitau aku, bahwasannya Faiz anak bungsuku kesihatannya telah membaik. Masya Allah ... tak henti-hentinya aku mengucap syukur pade Allah. Sebab, akhirnya ... Allah telah mengabulkan do'aku.
Namun, kebahagian yang aku rasakan tuh tak berlangsung lama. Dikarenakan ... ternyata perempuan yang nak Faiz pinang tuh adalah Alya. Rasanya dunia ne sangat sempit, bagaimana pun Zein dan Faiz adalah anakku. Tapi, aku juga tak boleh menentang takdir Allah. Sebab ne semua terjadi kerana takdir Allah. Apalagi massa aku tengok Alya menangis, aku tau dia pun bingung dan serba salah.
Saat Alya kata, ia memilih Faiz daripada Zein. Aku tau ... Alya melakukan ne semua, sebab dia merasa bersalah pade Faiz. Dan ketika aku tanya apakah ia suka pade Zein? Dari matanya, aku tau jika Alya memang mulai mencintai Zein. Begitu pula dengan Zein, ia juga mencintai Alya. Namun cinta mereka bedua tak boleh bersatu. Sebab takdir Allah tak memihak pade cinta mereka bedua.
Malam ne aku betul-betul penat hati, dan penat raga. Aku senang melihat Anak bungsuku bahagia, sebab dia boleh bersatu kembali dengan perempuan yang dicintainya. Namun aku tak sanggup melihat Anak tertuaku patah hati, sebab perempuan yang ia cintai harus menikah dengan adiknya sendiri.
Akhirnya aku pun menelepon Suh adik iparku, aku pun menceritakan padanya mengenai Zein, Faiz, dan Alya. Setelah cukup lama berbincang dengannya, aku pun mulai merasa tenang.
Dan sekarang ... aku tinggal memikirkan bagaimana caranya, agar Zein ikhlas dan boleh terima atas ape yang terjadi nanti.
****
2 hari kemudian ....
Zein yang udah menyelesaikan semua urusannya di Singapore. Langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Melaka. Ia pun mendapat jadwal penerbangan Singapore-Kuala Lumpur pada pukul 5 petang.
Karna ini masih pukul 4 petang, Zein pun memilih untuk berbelanja oleh-oleh di pusat perbelanjaan yang tak jauh dari Changi airport.
"Masih ade massa 1 jam lagi sebelum take off," ucap Zein saat melihat jam tangan branded, yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Saye nak beli something lah, buat Alya dan Anak-anak," lanjut Zein kemudian.
Tak lama kemudian, Zein pun telah selesai berbelanja. Lalu ia kembali ke bandara.
__ADS_1
Waktu penerbangan ke Kuala lumpur pun tiba, Zein yang udah nggak sabar untuk segera bertemu dengan Alya dan ke dua anaknya, merasa penerbangannya kali ini begitu lama. Ia pun terlihat tak tenang.
"Awak dah tak sabar ye, nak jumpa dengan Istri dan Anak-anak awak?" tanya Pakcik yang duduk di kursi bersebelahan dengan Zein.
Zein pun menanggapi dengan senyum.
"Sabar, jarak dari Singapore ke KL tuh hanya 1 jam saje. Lepas tuh, awak boleh jumpa dengan Istri dan Anak-anak awak," lanjut Pakcik itu kemudian, yang dari tadi memperhatikan kegelisahan Zein.
"Ye, Pakcik. Tapi saye tinggal kat Melaka, bukan kat Kuala Lumpur," sahut Zein sembari tersenyum.
"Berarti awak kena sabar," sambung Pakcik itu tersenyum juga.
"Pakcik tinggal kat KLCC, bila awak tak rindu sangat dengan Istri dan Anak-anak awak. Pakcik akan ajak awak singgah ke rumah Pakcik," goda Pakcik itu kemudian.
Zein pun jadi tersenyum malu.
"Bila hanya singgah sekejap tak ape Pakcik,"
"Hem ... saye, Zein ... Pakcik." lanjut Zein kemudian memperkenalkan dirinya.
"Saye, Amir." sambung Pakcik itu kemudian.
1 jam kemudian, pesawat pun landing di bandara Kuala Lumpur dengan selamat.
"Zein, kejap lagi nak magrib. Awak ikut ke rumah Pakcik saje, lepas magrib ... biar supir Pakcik yang hantar awak ke Melaka." ajak Pakcik itu, dan memberi usul pada Zein.
"Terimah kasih Pakcik, tapi saye tak nak repotkan Pakcik," tolak Zein sopan.
"Ok. Awak hati-hati ye, salam untuk familly awak kat rumah."
TBC
__ADS_1
Thanks buat yang udah mampir di cerita recehku 😘. Jangan lupa tinggalin jejaknya ya gengs 🥰😅