
"Kau tidak memberiku ucapan selamat, Nona Wei?" Shen Jun merasa jika perlakuan Zi Wei padanya tidaklah adil. Jika Zi Wei masih tetap berlaku manis kepada Chen Mo, tetapi tidak dengannya.
"Tuan Shen adalah artis papan atas, dan pasti sering memenangkan penghargaan apapun." Zi Wei berjalan mengantar Shen Jun menuju van mewah miliknya agar tidak segera diserbu oleh pihak media.
Meskipun sering lolos casting ataupun memenangkan penghargaan seperti yang dikatakan oleh Wei Wei, tetap saja Jun ingin Zi Wei bangga padanya.
Sehingga, Jun menangkap tangan Zi Wei sebelum masuk ke mobil penyanyi terkenal itu. "Apa kau selalu seperti ini pada semua orang, Nona Wei?"
Namun, belum sempat Zi Wei menjawab pertanyaan Shen Jun, sutradara Lin datang memanggil mereka berdua.
"Maafkan aku, tetapi aku berniat mengajak kalian berdua makan siang sebagai ucapan selamat. Namun, jika kalian tidak keberatan."
Jika Shen Jun tidak sibuk, mungkin Zi Wei akan mengizinkan artisnya makan bersama. Tetapi, Jun harus segera menyelesaikan beberapa single pengisi album terbarunya. "Tetapi, Tuan Shen harus ... "
Shen Jun segera memotong ucapan Zi Wei, "Kami tidak keberatan, Sutradara Lin. Alangkah baiknya jika Chen Mo juga diundang pada acara makan kali ini."
Tentu saja Sutradara Lin bersyukur karena Jun bersedia makan bersamanya, "Kalau untuk hal itu, kamu tidak perlu mengkhawatirkan. Aku juga sudah mengundang Chen Mo dan juga asistennya."
Zi Wei tidak bisa lagi menolak kemauan Sutradara Lin, wanita itu hanya bisa menghela napas panjang serta berlapang dada. Meskipun Zi Wei keberatan, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Sutradara mengajak Shen Jun dan juga Zi Wei bergabung di tempat makan yang letaknya tidak jauh dari tempat audisi. Sepanjang perjalanan menuju tempat makan itu, hati Zi Wei terus tidak tenang. Bagaimanapun juga selama dia dekat dengan Jun, Zi Wei selalu tertekan hingga Zi Wei terus mengatur napasnya.
Chen Mo dan Nona muda Huang tampak datang terlebih dahulu. Rumah makan yang tidak cukup ramai ini juga mengusik hati Zi Wei.
Sebagai seorang pelindung artis, naluri melindungi Zi Wei terus berjaga. Hingga tanpa sadar, wanita itu mengeluarkan topi dari dalam tasnya. Barang penyamaran seperti ini memang tak pernah terlepas dari bawaannya.
Niat hati Zi Wei memberikan topi itu kepada Xiao Mo terhenti karena Shen Jun menahannya. "Kau tidak perlu sejauh ini, lihatlah ... dia memiliki asisten sendiri." tegur Shen Jun mengingatkan posisi Zi Wei.
"Tapi ... dia masih berada di bawah tanggungjawabku,"
"Jangan memanjakannya, kapan dia akan belajar mandiri jika kau selalu memperhatikan hal kecil seperti ini. Xiao Mo harus terbiasa dengan keadaan." Apa yang dikatakan Shen Jun ada benarnya, bukan karena Jun terlalu terbakar api cemburu. Namun, Xiao Mo benar-benar harus belajar menghandle setiap masalah yang dia timbulkan.
Zi Wei berniat menyimpan kembali topinya. "Kenapa tidak kau berikan saja padaku? Kau ini asistenku!" Jun kembali mengingatkan posisi Zi Wei sementara untuk ini.
"Kau juga tidak dewasa," cibir Zi Wei.
Meskipun kesal, nyatanya Zi Wei bersedia meminjamkan topi hitam miliknya kepada Shen Jun. Sebenarnya, topi itu tidak cukup besar. Tetapi, Jun tetap memakainya dan meskipun Jun juga membawa benda serupa.
Mereka semua duduk berdampingan di sebuah kedai pangsit kuah di dekat tempat audisi. Tempat ini memang sering disinggahi artis lainnya, oleh karena itu pemilik kedai cepat tanggap jika ada publik figur yang datang dengan menutup sementara tempat usahanya. Sehingga mereka yang memiliki nama besar, bisa leluasa makan di tempat tersebut tanpa harus terganggu oleh penggemar ataupun paparazi.
"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Sutradara Lin kepada calon partner kerjanya nanti. Dan semuanya mengangguk mengiyakan.
...****************...
Selamat malam kakak-kakak pembaca yang terkasih.
Wo datang bawa cerita baru, yang berjudul SINDROM TUAN PUTRI
Bab 1
__ADS_1
Dahulu kala, di sebuah negeri nun jauh di sana, hiduplah seorang putri yang baik, cantik dan pintar. Tapi seorang penyihir iri pada sang putri hingga si penyihir pun mengutuk sang putri "Mulai sekarang, semua orang yang kau sukai tidak akan membalas perasaanmu"
Sayangnya, kutukan itu benar-benar bekerja dan terjadi secara nyata.
Perkenalkan, tuan putri tersebut adalah Laura. Dia adalah putri tunggal seorang konglomerat. Tapi sayang, semua orang yang disukainya, tidak satu pun menyukai dirinya kembali'.
Saat dia kecil, dia menghadiri sebuah pesta. Dia bertemu dengan seorang bocah lelaki yang disukainya. Tapi entah apa yang terjadi, sepatu Laura Chen tiba-tiba melayang dan mengenai tumpukan gelas wine hingga gelas-gelas itu hancur berantakan. Bocah lelaki itu kesal setengah mati dan membenci Laura sejak saat itu.
Saat dia menghadiri pernikahan pamannya, tiba-tiba dia menyela prosesi pernikahan dengan menyatakan dirinya ingin menjadi mempelai sang paman. Awalnya sang paman hanya tersenyum, menganggapnya gadis kecil cute.
Tapi kemudian Laura malah mulai serius melabrak sang pengantin wanita dengan kata-kata kasar, menuduh mempelai pamannya telah mencuri pamannya dan dengan sombongnya menyatakan dirinya jauh lebih segala-galanya daripada mempelai sang paman. Seketika itu pula sang paman tak menyukai Laura.
**
Dan pernah suatu ketika Laura sedang asyik tidur saat tiba-tiba saja pelayan membangunkannya dan memberitahu bahwa orang tuanya akan datang. Laura langsung bangkit dengan panik dan cepat-cepat berdandan sebelum orang tuanya datang sementara para pelayan sudah menyiapkan berbagai perlengkapan seperti baju-baju dan segala macam aksesoris mewah untuknya.
Sambil berdandan, dia memberitahu kita tentang dirinya. Dia adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis Dowel Grup. Kekayaan keluarganya sangat amat besar sampai bisa dibilang tidak masuk akal. Jika gadis-gadis kecil pada umumnya bermain boneka, saat kecil Laura justru bermain dengan tas-tas dan perhiasan mewah. Saat dia keluar, akan ada supir yang mengantarkannya. Dan di dalam rumah, dia dilayani oleh banyak pelayan.
Dia tidak pernah bekerja dan nilainya di sekolah biasa-biasa saja. Lukisannya juga jelek, tapi berkat statusnya, dia selalu dipuji-puji. Dan pada usia 10 tahun dia sudah membuka galeri seni sendiri. Dan segala hal yang dia unggah ke internet, langsung jadi hits. Hidupnya bisa dibilang adalah sebuah kejayaan. Akan tetapi, apakah hidupnya benar-benar sesempurna itu?
Tak lama kemudian, Ibu Laura datang. Tapi Laura malah panik dengan kedatangan ibunya yang begitu mendadak. Lalu tak lama kemudian, seorang nyonya konglomerat juga tiba di sana. Ibunya Laura mencoba menawari sang nyonya teh, tapi Nyonya menolak dengan dinginnya dan Ibu Laura langsung kecut. "Siapakah Nyonya itu?"
Inilah rahasia kecil Laura yang tidak diketahui siapapun. Nyonya kaya itu adalah Ambar yang merupakan ibu sah di mata hukum Laura. Laura pernah bercerita bercerita bahwa ibu kandungnya adalah selingkuhan dari mendiang ayahnya dan Nyonya Ambar adalah istri sah mendiang ayahnya. Dan di mata orang lain, Nyonya Ambar adalah ibu sahnya
Tujuan kedua ibunya kemari adalah untuk mengabarkan pada Laura bahwa mereka akan menikahkannya. Saat Ibu kandungnya Laura berceramah panjang lebar tentang pernikahan padahal dia sendiri tidak pernah dinikahi ayahnya Laura. Nyonya Ambar langsung menyela dan to the point memberitahu Laura bahwa dia akan dijodohkan dengan Zidane.
**
Tapi Nyonya Ambar tidak peduli, Laura akan tetap menikah dengan Zidane apapun yang terjadi. Dia menekankan bahwa dia melakukan semua ini hanya karena Laura adalah anak mendiang suaminya. Bahkan untuk membujuk Laura, Nyonya Ambar memberinya sebuah hiasan kepala berbahan berlian mewah yang sukses membuat Laura luluh dan mau menghadiri pesta itu.
Tapi begitu kedua ibunya pergi, Laura langsung mendesah sedih. Dia menyadari tidak masalah siapapun yang harus dinikahinya, toh semuanya akan sama saja, dia hanya menikah demi bisnis. Tapi apakah semua orang yang disukainya, benar-benar tidak akan menyukainya.
Malam harinya, Laura didandani hingga tampak begitu cantik bak putri saat datang ke pesta dan menarik perhatian banyak orang. Nyonya Ambar puas melihat penampilannya lalu memberitahu bahwa Zidane ada di atas dan mengenakan setelan tuxedo putih.
Laura pun pergi mencari pangerannya. Karena sudah 9 tahun dia tidak bertemu Zidane. Laura sebenarnya tidak tahu bagaimana rupa Zidane sekarang ini. Tapi sesampainya di atas, dia melihat seorang pria tampan memakai tuxedo putih sedang memainkan piano.
Yakin pria itu adalah Zidane, Laura pun langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya. lalu tanpa mengucap sepatah kata, Laura tersenyum padanya dan duet memainkan piano bersamanya. Pria itu menatapnya dengan keheranan tapi dia tetap berduet dengan Laura.
Setelah duet mereka usai, Laura dengan pedenya mengira kalau pria tampan itu akan memujinya. Tapi pria itu cuma menatapnya dengan bingung. Laura pun memperkenalkan namanya, tapi pria itu malah tampak semakin bingung. Laura mulai kesal dan menggerutu pria itu dalam hatinya. Dia terus bersabar menunggu pria itu bicara padanya.
Tapi saat akhirnya pria itu bicara padanya, dia malah bilang "Maaf, bisakah kau pergi? Aku ingin melanjutkan permainan pianoku."
Belum sempat dia protes, seorang pria lain tiba-tiba muncul dan dia juga memakai setelan tuxedo putih dan mengkritik sikap kurang baik pria pertama pada wanita. Mengira pria kedua itu pengganggu, Laura dengan dinginnya mengkritik balik sikap tidak sopan si pria kedua yang telah menganggu mereka.
Tertarik dengan sikap Laura pria kedua itu memberikan sebatang bunga untuk Laura sambil menggombal sementara pria pertama kembali melanjutkan permainan pianonya. Laura berterima kasih atas bunganya tapi dia berusaha mengusir pria kedua dengan memberitahunya bahwa dia ingin melanjutkan kencannya.
"Kencan?" tanya pria kedua kaget lalu protes pada pria pertama "Senior, aku memintamu memainkan piano, bukannya menggoda wanita. Tapi sudahlah. Aku, Zidane, bukan orang yang akan mempersulitmu."
Laura sontak kaget "Apa bilang apa? Kau Zidane?"
__ADS_1
Zidane yang asli membenarkannya dan memberitahu Laura bahwa yang bermain piano itu adalah teman sekelasnya Jonathan. Walaupun sangat malu, tapi bukannya meminta maaf atas kesalahannya dalam mengenali orang, Laura malah menyalahkan Jonathan dan menuduh Jonathan berpura-pura jadi Zidane.
Tidak terima, Jonathan langsung mengoreksi, bahkan sejak awal dia tidak pernah mengatakan apapun tentang identitasnya. Tapi demi menutupi rasa malunya, Laura tetap bersikeras menyalahkan Jonathan dan menuduhnya pembohong.
Setelah Jonathan pergi, Laura mengingatkan Zidane akan masa lalu mereka saat mereka berumur 10. Mereka pertama kali bertemu di sebuah pesta dan di pesta itu tak sengaja dia kehilangan sepatunya dan Zidane lah yang menemukan sepatunya. Laura dengan pedenya mengklaim bahwa itu adalah kenangan indah. Tapi
Di pesta yang mereka hadiri waktu mereka kecil, Laura kecil berkeliaran mencari sepatunya yang hilang. Zidane kecil muncul tak lama kemudian memberikan sepatu Laura kecil yang dia temukan itu.
Tapi Laura yang sepertinya sangat menyukai dongeng putri, langsung menyuruh Zidane untuk memakaikan sepatu itu di kakinya seperti yang dilakukan para pangeran di negeri dongeng. Tapi Zidane kecil menolak keras, "Memangnya kau itu apa sampai berani menyuruhku memakaikan sepatumu?"
Marah mendengar ucapan kasar Zidane, Laura langsung melemparkan sepatu itu pada Zidane, tapi lemparannya terlalu keras hingga mengenai tumpukan gelas wine sampai gelas-gelas itu pecah. Saat Ayahnya Zidane menanyakan apa yang terjadi, Laura langsung menuduh Zidane lah pelakunya. Zi dan Zidane berusaha membela diri, tapi Ayahnya tak percaya dan langsung menghukum Zidane dengan memukuli bokongnya.
Teringat akan kenangan itu, Zidane sekarang menyadari gadis cantik di hadapannya itu adalah Laura. Laura langsung mengulurkan tangannya, ingin menyalami tunangannya. Tapi Zidane langsung menampik tangannya dengan kasar.
Tapi karena tak mau menjadi perhatian banyak orang, apalagi ada orang tuanya juga di sana, Zidane pun langsung menarik Laura keluar ke pinggir kolam renang untuk bicara berdua dan menuntut Laura untuk membatalkan pertunangan ini. Tapi Laura mengingatkan Zidane bahwa itu adalah keputusan yang dibuat oleh kedua orang tua mereka.
"Kau pikir aku suka tertawa denganmu?"
"Baguslah. Aku tidak akan menikahimu,"
"Apa kau punya kepribadian ganda. Tadi saja kau terpesona olehku,"
"Si-siapa yang terpesona olehmu. Berhentilah berkhayal"
Tak percaya, Laura langsung mengeluarkan jurus rayuannya dengan menarik Zidane mendekatinya "Kau yakin tidak mau menikah denganku?"
Tapi Zidane langsung mendorong tangan Laura darinya dan menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh tidak mau menikahi gadis itu karena dia sudah menyukai orang lain. Zidane bahkan dengan bangganya berkata bahwa pacaranya adalah wanita yang sangat baik, manis dan berbakat. Dia wanita yang sangat berbeda dan tidak punya penyakit putri seperti Laura.
Saat Laura menuntut untuk bertemu dengan wanita yang disukainya itu, Zidane langsung memanggil wanita itu sekarang juga dan merangkulnya dengan sayang. Wanita itu adalah Suli dan dia bekerja di sana sebagai pelayan di sana. Laura jelas langsung tersenyum sinis melihat rival cintanya ternyata nggak level.
Suli tampaknya wanita yang pemalu dan rendah diri. Saat Laura memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Zidane, Suli langsung melepaskan diri dari pelukan Zidane tapi tetap menggenggam erat tangannya lalu dengan suara sangat pelan berkata "Zidane, kurasa dia sangat cantik. Dan hanya seseorang seperti dia yang pantas bersanding denganmu," ucap Suli.
Laura sama sekali tak mempercayai sikap rendah diri Suli, malah kesal melihat sikap Suli yang nempel terus ke Zidane bahkan sampai memanggilnya Pangeran. Laura langsung menginterogasi Suli, "Bagaimana pertama kali kalian bertemu?"
Suli dengan gugup menjawab bahwa mereka bertemu di restoran tempatnya bekerja.
Kesal, Zidane memperingatkan Laura untuk tidak menganggu Suli. Tapi Laura langsung mengusir Suli dengan menyuruhnya untuk kembali bekerja dan berhenti menggenggam tangan pacarnya. Saat Suli masih diam, Laura langsung membentaknya hingga Suli semakin ketakutan.
Saking takutnya, dia sampai terjatuh dan tak sengaja memecahkan piring-piring. Zidane langsung membantunya berdiri tapi Suli cepat-cepat melepaskan diri dari Zidane dan meminta maaf pada Laura karena telah menggenggam tangan tunangan Laura.
Laura yang sama sekali tak mempercayai Suli dan beranggapan kalau Suli itu cuma akting, langsung menyindir perbedaan kelas antara dirinya dengan Suli dengan cara memberitahu pelayan itu bahwa harga piring-piring yang dia pecahkan itu harganya berkali-kali lipat lebih mahal daripada gajinya Suli sementara piring-piring yang paling bawah itu harganya sama dengan gaji pelayannya karena itu barang palsu.
Kesal, Zidane langsung memarahi Laura "Kau tidak berubah sedikitpun. Itu kan cuma beberapa piring pecah. Kau pikir kau benar-benar seorang putri? Kuberitahu kau, kau dan aku itu MUSTAHIL! Menyerah saja!"
Zidane hendak membawa Suli pergi. Tapi Laura menghentikan mereka. Saat Laura berusaha melepaskan genggaman tangan Laura dia melakukannya dengan terlalu keras hingga malah membuat mereka bertiga oleng dan terjatuh kedalam kolam.
Kedua wanita itu sama-sama tidak bisa berenang. Tapi Zidane sama sekali tak memperdulikan Laura dan lebih memilih menyelamatkan Suli. Laura panik bukan main saat dirinya terus tenggelam tanpa ada yang menolongnya...
Tapi tiba-tiba si pianis tadi, Jonathan melompat kedalam kolam dan menyelamatkan Laura.
__ADS_1
Tapi dalam aksi penyelamatan itu, tangan Jonathan malah tak sengaja menyentuh da da Laura. Jelas saja Laura langsung menjerit heboh dan menuduh Jonathan pria cabul.