
Di lokasi shooting perdana, Chen Mo telah mempersiapkan segalanya. Bukan persiapan tentang penampilannya, Chen Mo telah mempersiapkan sebuah pengakuan hatinya. Telah lama memendam perasaan kepada Zi Wei membuat Xiao Mo memberanikan diri untuk mengakui bahwa dia sangat mencintai Zi Wei.
Meski sempat mendapat larangan dari Huang Yin, Xiao Mo tetap bersikeras akan meluapkan perasaannya kepada Zi Wei. Selama ini Huang Yin telah curiga jika Chen Mo akan benar-benar melakukan hal yang dinilai bisa menghancurkan karier serta hubungannya dengan Zi Wei.
"Xiao Mo, sudah kukatakan berkali-kali bahwa dia tidak mungkin akan menerimamu sebagai kekasihnya. Karena, dia telah memilih Tuan Shen." Huang Yin berusaha menghalangi jalan Xiao Mo.
Namun, Chen Mo yang sudah menyiapkan sebuah cincin serta berbagai bunga mawar tidak bergeming. Karena dia hanya percaya dari apa yang akan terucap dari bibir manis Zi Wei saja. "Jika tidak seperti ini, Jiejie tidak akan tahu perasaanku padanya."
"Lihatlah! kau saja menyebutnya Jiejie? Jadi perasaanmu itu hanya sebatas rasa suka terhadap kakak saja." Berulangkali Huang Yin melarang Xiao Mo.
Kedua manik Xiao Mo berbinar kala melihat kedatangan Zi Wei di lokasi shooting perdana. Dia sudah sangat yakin akan mengungkapkan perasaannya pada Zi Wei.
Namun, rasa puas Xiao Mo itu harus dia kubur sementara karena Sutradara Lin telah memanggilnya untuk pengambilan scene bersama Shen Jun. Rencananya Xiao Mo dan Shen Jun akan menjalani hidup seperti rakyat biasa pada umumnya.
Chen Mo tidak keberatan jika shooting akan dimulai lebih awal. Semua itu atas saran Jun karena tidak bisa berlama-lama membiarkan Zi Wei di tempat berangin seperti ini. Menilik status Jun dan karena pria itu sangat mengkhawatirkan kesehatan Zi Wei, Jun menggunakan kekuasaannya untuk memajukan lebih awal proses shooting.
Zi Wei menunggu kedua artisnya di tempat tunggu para kru. Pandangan mata wanita itu tidak lepas dari Xiao Mo dan juga Shen Jun. Karena bagaimanapun keduanya adalah bagian dari Big Star, jadi sudah seharusnya jika Zi Wei sangat memperhatikan mereka.
Shooting berjalan cukup kondusif, bahkan warga sekitar yang diperbolehkan menonton bisa diajak kompromi. Semua itu karena keramahan kru acara dan juga artis pendukung.
"Syukurlah," gumam Zi Wei bisa bernapas lega. Dia lalu teringat kesepakatan dengan Shen Jun yang mengatakan jika Zi Wei akan kembali pulang jika Shooting telah berjalan separoh waktu.
Berulangkali juga Jun mengirimi pesan ke ponsel Zi Wei yang berisi perintah agar Zi Wei istirahat di rumah. Alhasil, karena sudah berjanji maka Zi Wei harus menepati janjinya.
"Iya, iya aku pulang. Bawel,"
Zi Wei segera merapikan barangnya dan segera beranjak seperti yang diinginkan oleh Jun tadi. Zi Wei mengambil tasnya dan keluar dari lokasi shooting.
__ADS_1
Tetapi, ada yang tidak beres. Chen Mo tampak mengejar Zi Wei hingga menuju tempat parkir. Dengan alasan tidak ingin lewat begitu saja, Chen Mo akan mengutarakan perasaannya.
"Jie ... tunggu!" panggil Chen Mo menyusul di belakang Zi Wei.
Zi Wei yang dipanggil pun menoleh ke belakang dan mendapati Xiao Mo mengikutinya. "Ada apa, Xiao Mo? Bukankah kau masih harus shooting?"
"Jie, aku ingin bicara sebentar." Chen Mo menghalangi jalan Zi Wei dan mengajak Zi Wei menuju mobilnya.
Merasa ada yang penting seperti kata Chen Mo, tanpa curiga Zi Wei mengikuti Chen Mo membawanya. Zi Wei benar-benar sangat peduli terhadap Xiao Mo.
"Wei, Jie ..." Chen Mo membuka bagasi belakang mobilnya dan mengeluarkan satu buket bunga mawar berwarna merah yang dihiasi pita serta kartu ucapan.
Banyaknya kuntum mawar menandakan tanggal keduanya pertama kali bertemu dikalikan dengannya lamanya perkenalan mereka. Mawar indah itu berjumlah 21 tangkai dengan kuntum yang merekah layaknya perasaan Chen Mo kepada Zi Wei.
"Apa maksudnya ini, Xiao Mo?" tanya Zi Wei tidak menyangka jika Chen Mo akan memberinya bunga mawar tanpa perayaan apapun.
Zi Wei cukup terkejut dengan pengakuan cinta Chen Mo padanya. Hanya saja, Zi Wei masih mampu menguasai galeri emosinya dengan tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
"Xiao Mo, kau pasti salah."
"Tidak, Jie! aku sudah menyukaimu dari dulu."
"Kau salah, Xiao Mo. Perasaanmu itu bukan cinta, melainkan hanya rasa syukur saja padaku. Masa depanmu masih panjang." Benar masa depan Chen Mo masih panjang, sehingga Zi Wei mengingkari agar Chen Mo tidak melakukan hal sia-sia seperti ini. Karena usaha yang dia lakukan selama ini akan percuma jika Chen Mo menggunakan hatinya.
"Tidak, aku yakin dengan perasaanku, Jie!"
Tanpa mereka sadari, ada sebuah mata yang menangkap pertemuan rahasia ini dan mengabadikannya dengan kamera ponsel. Chen Mo terus saja menyakinkan bahwa perasaan ini tulus pada Zi Wei.
__ADS_1
Dan Zi Wei sendiri juga kesulitan menyakinkan Chen Mo bahwa yang dia rasakan adalah omong kosong. "Kau harus memikirkan masa depanmu, Xiao Mo. Aku hanya ingin kau sukses atas kariermu."
"Tapi aku mencintaimu, Jie!"
Untung saja, ada seseorang yang menggagalkan pengakuan Chen Mo kepada Zi Wei. Siapa lagi jika bukan Shen Jun. Pria itu dengan wajah penuh amarah menarik tangan Zi Wei kemudian mencercanya dengan kesal. "Ini akibatnya jika kau tidak mau mengikuti kemauanku! kau terus saja meminta hadir di lokasi shooting. Kini lihatlah dirimu! kau tak ada bedanya dengan mayat hidup."
Zi Wei menoleh dengan wajah penuh pertanyaan, "Apakah dia memarahi aku karena belum pulang? Atau dia mendengar Xiao Mo menyatakan perasaannya padaku?"
"Kenapa hanya melihat saja? Kau ingin pingsan dan mati di sini?"
"Ge, kenapa kau marah pada, Wei Jie?" Chen Mo keberatannya jika Shen Jun meneriaki Zi Wei.
"Kau tidak tahu, sejak pagi tadi wanita ini berkelit. Dalam keadaan sakit memaksa ikut denganku karena tidak mau ditinggalkan."
Sontak Chen Mo dan Zi Wei menatap Shen Jun secara bersamaan. "Kapan aku mengatakan hal seperti itu?"
"Ayolah, aku pasti malu karena ada Xiao Mo." Jun membawa paksa Zi Wei masuk ke van mewahnya dan meminta sang sopir membawa Zi Wei pergi. Jika perlu pergi jauh agar Chen Mo tidak bisa melihatnya.
"Jangan berani keluar rumah tanpa persetujuan dariku!" ancam Shen Jun dari balik jendela mobil sebelum kepergian Zi Wei.
"Apa salahku? Hei Tuan Shen. yang sakit aku kenapa otakmu yang bermasalah?"
"Salahmu adalah terlalu baik pada semua orang. Jika kau masih keras kepala, aku bersumpah kau tidak akan bisa lagi kembali ke Big Star." Ancaman Shen Jun tidak main-main. Sebagai pemilik saham terbesar, mudah baginya memutuskan apa saja. Jangankan memecat Zi Wei, menghancurkan karier Chen Mo juga sangat mudah baginya.
...****************...
__ADS_1