
Zi Wei seketika menjatuhkan ponsel dalam genggamannya seusai melihat pengakuan Shen Jun dalam live streamingnya. Dada wanita itu kembali terasa sesak hingga membuatnya jatuh berlutut pada akhirnya.
Tak sampai mendengar Shen Jun mulai menyanyi, anggota tim di ruangan itu mengkhawatirkan keadaan Zi Wei yang tiba-tiba lemas seketika. "Nona Wei, Anda baik-baik saja?" tanya anak buah Zi Wei.
Wajah Zi Wei tampak pucat pasi seperti seorang pasien anemia akut. Dia berusaha bangkit dengan bantuan kaki meja dan bersusah-payah. "Aku baik-baik saja, kalian selesai urusan rumor itu. Katakan pada bagian public relationship untuk menjawab semua pertanyaan dari pihak media sesuai jawaban Shen Jun tadi." ucap Zi Wei sebelum berjalan linglung keluar ruangan.
"Ini tidak mungkin, bukan? Bagaimana bisa dia mengingat semua hal sebelum kelahiran ini? Apa dia memiliki ingatan khusus seperti aku?" Zi Wei terus bertanya-tanya di dalam hati.
Zi Wei teringat, sebelum meninggal pada kehidupan yang lampau dia sempat mengatakan sesuatu kepada Pangeran Shen.
"Kematian ini sebagai tanda kesetiaanku pada Selatan, dan kematian ini juga sebagai tanda berakhirnya hubungan di antara kita." itulah ucapan terakhir sebelum putri Dinasti Wei Utara menutup mata di ujung kaki Pangeran Shen.
Sesuai menghunus pedang dan menusuknya ke dada Zi Wei, tubuh Pangeran Shen seperti lemas seketika. Darah yang mengalir deras membasahi kamar Putri Mahkota menjadi saksi kekejaman yang dia lakukan kepada istrinya sendiri.
Tanpa terasa bulir bening menganak di ujung matanya, bukan lantaran hasil dari kemenangan membunuh pengkhianat. Tetapi, Putra Mahkota Shen seperti kehilangan jiwanya.
Dengan tangannya lah dia menghabisi nyawa sang istri secara membabi buta, "Jika memang benar adanya, lebih baik aku mati saja!"
Putra Mahkota membalik pedangnya dan dia arahkan ke lehernya sendiri. Pangeran Shen ingin menebus semua dosanya dengan cara yang setimpal yakni menghilangkan nyawanya sendiri.
Untung saja, kasim agung yang datang bersama dengan prajurit yang lain mampu menggagalkan usaha bunuh diri Shen Jun.
Sejak saat itulah, Shen Jun seperti kehilangan jati dirinya. Bahkan ketika Utara menyerang karena pihak Selatan telah menodai kepercayaan mereka, Shen Jun tidak mampu menahan gejolak perang.
__ADS_1
Perang antar negara tidak bisa lagi dicegah, dan pada saat perang besar tersebut Shen Jun gugur di tangan Jendral Yan yang tidak lain kekasih masa kecil Zi Wei.
"Aku berharap dengan kematianku ini, takdir di antara kami akan berlanjut. Jika kami tidak bisa bersama di kehidupan ini, aku berharap kami berdua bisa bersama di kehidupan selanjutnya."
**
Huang Yin mendengar kabar dari anggota tim yang lain tentang keadaan Zi Wei. Gadis itu berlari ke kantor Zi Wei. Dengan napas tersengal-sengal A Yin mengetuk pintu ruangan Zi Wei. Namun, tidak ada suara sama sekali dari dalam. Sehingga Huang Yin yang merasa anak dari Bos Big Star Entertainment memberanikan diri masuk ke ruangan Zi Wei.
Pandangan mata A Yin langsung tertuju pada Zi Wei yang kini menyandarkan punggungnya di kursi dengan mata terpejam.
"Maaf, apa aku mengganggumu, Jie?"
"Duduklah! ada apa?" tanya Zi Wei mulai membuka kedua matanya.
Zi Wei mencondongkan dirinya mendekati Huang Yin dan menjitak dahi gadis itu. "Kata siapa? Aku ini wanita kuat." kilahnya.
"Aduh, sakit tahu. Iya aku juga heran wanita keji seperti dirimu mana mungkin bisa sakit."
Zi Wei mengubah posisinya, kini dia duduk di dekat sudut meja Huang Yin, dia berniat untuk menguji gadis kecil itu dengan kemampuannya kini.
"Bagaimana kau kini mengurus Chen Mo?" tanya Zi Wei lebih serius lagi.
"Penjualan album Mingguannya menduduki tiga teratas di QQ Music, dan di NetEase Xiao Mo masih mencapai puncaknya dalam tiga hari ini."
__ADS_1
Zi Wei memberi tepuk tangan atas penjelasan dari Huang Yin. Meskipun dia telah mengetahui hasil penjualan album Chen Mo dari laporan pihak penjualan, tetapi Zi Wei masih memuji berkat jasa Huang Yin. "Nona Huang, kau telah berusaha mengurus Xiao Mo dengan baik."
"Tentu saja, Jie. Kau kira aku akan kalah darimu? Aku ini tulus pada Xiao Mo. Ingatlah itu!"
Tawa Zi Wei tak berhenti, Huang Yin terus saja membahas jika dirinya adalah orang yang mencintai Chen Mo. Padahal kenyataannya baik Zi Wei ataupun anggota tim yang lain juga menyayangi Xiao Mo. "Baiklah, aku bisa bernapas lega jika kau menyukainya."
Huang Yin tersenyum mengejek karena baik dulu maupun sekarang Zi Wei adalah saingannya untuk mendapatkan cinta Chen Mo.
"Tolong dalam seminggu ke depan, kau atur semua jadwal Chen Mo. Konsultasilah dengan pihak Big Star dan rekanan yang lain. Atur jadwal pemasaran album maupun jadwal acara lainnya."
Sontak Huang Yin mendongak ke arah Zi wei yang duduk di atasnya. Selama ini, dia hanyalah asisten yang mengurusi keperluan Chen Mo saja. Tetapi, kini Zi Wei memintanya melakukan tugas Manager artist.
"Aku hanyalah personal asistantnya, kenapa harus repot mengurus jadwal juga? Kau kenapa, Jie?"
"Aku baru saja mengajukan cuti tahunan. Kau tahu selama tahun baru sepanjang aku bekerja di sini tidak pernah libur. Kini, aku ingin istirahat sejenak, Nona Huang." Zi Wei berjalan ke arah jendela ruang kerjanya dan menikmati sentuhan sinar matahari dengan jendela terbuka.
"Baiklah jika kau mempercayakan Chen Mo padaku, lalu bagaimana dengan Shen Jun Gege?"
Hahaha Zi Wei kembali tertawa tetapi tidak menatap Huang Yin sedikitpun. "Pihak management akan mengurusnya." jawab Zi Wei singkat.
Huang Yin kembali dari ruangan Zi Wei setelah mendengarkan keinginan Zi Wei untuk cuti. Sebenarnya dia menyayangkan pengambilan cuti itu. Bukan lantaran tidak bisa menjaga Chen Mo, tetapi Huang Yin merasa jika Zi Wei telah bisa mengatur kakak sepupunya itu. "Bukankah mereka berdua cocok? Jarang sekali aku lihat Gege bisa cocok dengan Managernya." keluh Huang Yin.
...****************...
__ADS_1