Takdir Cinta Zi Wei

Takdir Cinta Zi Wei
Bab 29


__ADS_3

Kesalahpahaman ini dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh Shen Jun dengan mengkonfrontir tentang ketidakadaan kabar Zi Wei selama ini. Zi Wei berdalih telah mengurus cutinya kepada perusahaan. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tegur Shen Jun.


Perselisihan keduanya berakhir ketika Ibu mengajak mereka berdua untuk masuk ke ruang pemujaan.


Ibu berkata, "Xiao Jun, sejak pagi tadi Wei Wei membantu ibu menyiapkan persembahan untuk ayah."


Rupanya kakek telah menunggu mereka semua di ruang pemujaan. Altar untuk peringatan kematian ayah telah di siapkan dengan aneka rupa jamuan serta sesembahan. Tak lupa pula lilin-lilin juga menghiasi meja yang di atasnya tertera potret tampan ayah Zi Wei.


Kakek memimpin doa anggota keluarganya. Shen Jun sendiri tidak tampak kikuk sama sekali dengan prosesi tersebut. Jauh di lubuk hatinya, dia bersyukur karena keluarga Zi Wei begitu baik dengan menerima kehadirannya. Apalagi kakek sangat menyukainya.


Untung saja dalam perjalanan ke Chengdu tadi Shen Jun menggunakan tiket kelas satu, sehingga kehadiran Jun ke kota ini tidak diketahui oleh fans ataupun orang yang mengenalnya.


Mereka bertiga kemudian secara bergantian saling berlutut di depan foto mendiang Ayah Zi Wei seusao kakek memimpin sembahyang.


"Lihatlah Xiao Wu, menantumu begitu patuh!' puji kakek begitu Shen Jun selesai berlutut di depan foto mendiang Ayah Zi Wei.


"Kakek ... berhentilah menganggap orang lain sebagai anggota keluarga kita!" protes Zi Wei tidak terima jika kakek menganggap Shen Jun sebagai menantu keluarga ini.


Sembahyang peringatan usai, dan Ibu segera mengajak keluarganya untuk makan malam bersama.


"Xiao Jun, di mana kau bermalam? Jika kau tidak keberatan, kau bisa bermalam di sini!" tawar Ibu ketika memimpin acara makan malam bersama mereka.


**


Di tempat lain, seseorang tampak geram karena melihat grafik nilai keuntungan perusahaannya yang terus merosot turun.


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, jika Big Star Entertainment terus mendapatkan keuntungan, kita akan tenggelam. " Seorang pria tua yang menjadi panutan pertemuan membuka pembicaraan.


Sebagai perusahaan investor, pria tua itu merasa rugi dengan perusahaan pesaing Big Star Entertainment tersebut karena tidak mampu mengambil keuntungan dari para artisnya.


"Tenanglah, Lao Han. Aku akan mengupayakan agar Big Star segera hancur. Segala macam cara akan kami gunakan. Bahkan jika perlu kita bisa mempengaruhi para investor agar mencabut investasi mereka di Big Star." Pemimpin agensi pesaing Big Star memastikan jika kesialan mereka akan segera berlalu.


Ketua Han adalah pemimpin perusahaan investasi terbesar di Beijing. Dia telah banyak membantu banyak perusahaan bersekala kecil hingga besar dengan nilai investasi yang fantastis.


Siapa sangka, dari curahan hati sang putri Kexin. Lao Han begitu berambisi ingin menghancurkan Big Star Entertainment di bawah kepemimpinan Bos Huang.


**


Jika para musuh sedang menyusun strategi untuk menghancurkan Big Star Entertainment, Shen Jun sendiri tidak khawatir sama sekali. Pria simple itu selalu bisa mengatasi masalah dengannya caranya sendiri. Bahkan seperti di rumah Zi Wei ini, meski Zi Wei terus menghindarinya, Shen Jun tetap bisa mendekati wanita itu.


Tak ingin berdebat lagi dengan Shen Jun, Zi Wei beralasan mengantuk dan masuk ke dalam kamarnya menyisakan kakek dan Shen Jun di ruang tamu.

__ADS_1


"Kenapa dengan istrimu? Apa kalian sedang bermasalah?" tegur Kakek karena melihat Zi Wei begitu membenci Shen Jun di rumahnya.


"Ah, itu hanya perasaan kakek saja. Lian memang seperti itu orangnya."


"Kau harus mengalah pada istrimu! itu adalah kunci awet rumah tangga, Nak."


Shen Jun seperti tidak percaya jika kakek menasehatinya, bahkan meski di kehidupan ini mereka berdua belum menikah tetapi kakek menganggap mereka berdua telah bersama.


"Tunggu apa lagi? Cepat susul dia!"


Shen Jun mengikuti saran kakek dengan berpura-pura masuk ke dalam kamar Zi Wei. Dia tahu pasti Zi Wei akan memberikan penolakan. Tetapi, Shen Jun telah menyiapkan beribu alasan untuk bersama selama semalam dengan Zi Wei.


"Laopo, aku tahu aku yang salah! tolong bukakan pintu untukku?" ucap Shen Jun memanggil Zi Wei dengan sebutan khusus untuk wanita yang telah dia nikahi.


Untung saja Ibu tidak tahu menahu ataupun mendengar rencana Shen Jun. Jika tidak, keduanya pasti akan habis seketika.


Shen Jun terus mengetuk pintu kamar Zi Wei dengan memanggilnya dengan sebutan Laopo yang berarti sayang itu.


Kakek tersenyum dan mengacungi jempolnya kepada Shen Jun atas usahanya menaklukkan Zi Wei cucunya.


Merasa terganggu, akhirnya Zi Wei keluar dengan menjulurkan kepalanya saja guna mengintimidasi Shen Jun.


"Wèishéme?" tanya Zi Wei dengan juteknya. (Kenapa?)


"Kalian selesai urusan kalian dengan pikiran tenang. Jangan seperti anak kecil!" Kakek terus menunggu di depan kamar Zi Wei dengan tatapan hendak menerkam mangsa.


Shen Jun berdalih jika kakek terus memintanya untuk merayu Zi Wei dan tidak akan meninggalkan tempatnya sebelum ia masuk ke dalam kamar Zi Wei untuk berbaikan.


"Tidak masuk akal!" bisik Zi Wei dengan kedua mata nyaris mencuat ke depan.


Shen Jun tidak perlu persetujuan dari Zi Wei tidak untuk masuk. Pria itu mendorong tubuh Zi Wei yang dia anggap bisa menghalangi jalan masuk ke kamar seraya berkata, "Kita bukan sekali ini saja mengabiskan malam bersama, bukan?'


"Laogong, kau keterlaluan! dasar ... " umpat Zi Wei dengan bersedekap di balik pintunya yang kini tertutup.


"Apa kau tidak merasa bersalah padaku? Kenapa aku seperti menantu yang dicampakkan olehmu di sini?"


"Sejak kapan kau menjadi bagian rumah ini?"


"Sejak kau hadir di hidupku."


Zi Wei kesal hingga dia mengacak-ngacak rambunya akibat ulah Shen Jun. Dia juga tidak menyangka jika ada seorang pria yang begitu tidak punya malu seperti Shen Jun.

__ADS_1


"Aku harus menyingkirkan rasa malu untuk mendapatkanmu kembali."


Zi Wei lalu mengambil selimut tebal yang tersimpan di dalam lemari kamarnya dan mulai membentangkan di lantai agar tidak terjadi kontak fisik dengan pria tak tahu diri itu.


"Jadi, mari kita tidur bersama, Laopo!"


"Sekali kau memanggilku dengan sebutan itu lagi, aku bersumpah akan membuatmu dalam masalah, Tuan Shen."


**


Pada akhirnya baik Zi Wei maupun Shen Jun yang kini berbaring di atas ranjang tidak ada yang merasa kantuk. Keduanya kesulitan untuk sekadar memejamkan mata. Terlebih lagi, Zi Wei lupa tidak membawa obatnya. Hingga selama dua hari ini, dia tidak mengkonsumsi obat tidurnya.


"Apa kau kau minum? Sepertinya aku menyimpan beberapa kaleng bir."


Zi Wei sempat menyimpan beberapa kaleng bir sisa sembahyang untuk ayahnya tadi. Dan Shen Jun juga tidak keberatan dengan mengiyakan ajakan Zi Wei karena tidak bisa tidur.


Zi Wei mengambil dua kaleng bir dari dalam lacinya. Meski bukan minuman jenis mahal, tetapi setidaknya bisa membuat mereka berdua tenang sebelum tidur.


Tak ... bunyi kaleng bir yang terbuka oleh keduanya secara bersamaan.


Shen Jun dan Zi Wei minum di atas lantai beralasan selimut tebal tadi. Mereka berdua menghadap ke arah jendela kamar yang sengaja Zi Wei buka tirainya.


"Aku minta maaf, Wei er!"


"Eh ... " Zi Wei menoleh ke arah Shen Jun yang tiba-tiba meminta maaf padanya.


"Semua ini salahku, aku yang salah karena menyudutkanmu."


Namun, Zi Wei tidak menanggapi Shen Jun dengan terus minum bahkan ketika bir di dalam kaleng miliknya habis, Zi Wei mengambil lagi beberapa dan terus meminumnya hingga berniat untuk ma buk.


"Aku sudah melupakan semuanya," Kini, wanita itu bersuara. Pelan tapi pasti, Zi Wei memang telah berserah pada takdir dengan menerima seperti apa karma untuknya.


"Aku tidak perlu kau melupakan aku, semua ini salahku. Jika bukan karena kebodohanku. Kita pasti tidak akan seperti ini."


"Shen Jun, " Zi Wei memanggilnya dengan tanpa embel-embel Tuan seperti biasanya.


Kemudian, Zi Wei melanjutkan, "Aku sudah menerima takdir ini. Aku bahagia dengan kehidupanku kini, jadi jangan susahkan dirimu untuk menebus semuanya. Karena kau dan aku telah berakhir." Entah wanita itu sadar atau dipengaruhi oleh minuman beralkohol, yang jelas Zi Wei benar-benar tidak ingin terlibat dalam kehidupan dahulunya.


...****************...


__ADS_1



__ADS_2