Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 22. Ingatan


__ADS_3

Namun Reno tidak memperdulikannya. Dia tetap berteriak sekencang-kencangnya.


"Sumpal mulutnya biar tidak berisik!"


"Baik Bos."


Orang yang diperintahkan pun langsung menyumpal mulut Reno dengan kain. Lelaki itu bergerak-gerak ingin memberontak tetapi sayang tenaganya tidak kuat karena kedua tangannya sedang diikat ke belakang.


"Emh-emh." Semakin bercucuran saja keringat yang keluar dari tubuh Reno. Terlintas di bayangannya kejadian waktu ia masih remaja. Saat itu dia sedang diajak kedua orang tuanya untuk refreshing, jalan-jalan keluar kota sebagai bentuk kebahagiaan setelah sang papa memenangkan tender.


Tak disangka mobil yang dikendarai mereka remnya malah blong.


"Reno lompat!" teriak sang papa saat mengetahui bahwa rem mobilnya sedang bermasalah.


"Apa yang terjadi Pa?" tanya Reno dengan khawatir.


"Remnya blong cepat lompat!" teriak sang papa lagi tanpa basa-basi. Sebenarnya dia tidak ingin membuat putra dan istrinya khawatir karena tahu bahwa mereka dalam keadaan bahaya tetapi apalah daya keselamatan mereka sedang dipertahankan.


Reno hanya menggeleng. Dia tidak mau meninggalkan kedua orang tuanya.


"Cepat kalian lompat! Setelah ini papa yang akan melompat," jelas Papa Reno kepada anak dan istrinya. Barulah keduanya sadar bahwa mereka memang dalam keadaan bahaya dan benar-benar harus melompat.


Mereka semua yang ada di dalam mobil panik. Apalagi saat membuka mobil mereka, ternyata pintu mobil rusak, tidak bisa dibuka sama sekali.


"Auw." Mama Reno mengaduh kesakitan karena tubuhnya terbentur body mobil sebab mobil melaju sangat kencang. Reno pun tampak jadi panik. Raut wajahnya ketakutan melihat mobil itu semakin melaju kencang dengan mulus.


Mereka beralih membuka kaca mobil. Namun nihil kaca mobilnya juga tidak bisa dibuka, entah mengapa semuanya tiba-tiba mendadak rusak.


Dengan susah payah Reno dan sang Mama mencari sesuatu yang ada dalam dalam mobil untuk bisa digunakan memecahkan kaca. Sesaat kemudian sang mama menemukan barang yang bisa dia gunakan untuk memukul.


"Mundur Ren!" perintah mama Reno kepada putranya sebelum dia memecahkan kaca. Dia tidak mau pecahan kaca itu mengenai dan melukai sang putra.


Praangg.

__ADS_1


Akhirnya dengan usaha yang gigih kaca itu pecah juga.


"Cepat Ren lompat!" teriak sang Mommy. Dia membantu Reno melompat dari mobil tetapi ketika dirinya mau menyusul sang putra, sudah terlambat karena mobil yang ditumpanginya sudah menabrak mobil yang ada di hadapannya.


Braak.


Kecelakaan beruntun terjadi karena posisi mereka kini berada dalam kemacetan arus lalu lintas. Setelah menabrak mobil yang ada di depannya mobil terpental ke arah yang berlawanan hingga menabrak mobil yang melaju kencang dari arah depan.


Braak.


Terdengar suara benturan dari kedua mobil.


"Mama! Papa!"


Reno yang melihat dari jauh mobil orang tuanya berteriak histeris dan segera berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat kecelakaan. Ia sampai tidak memperdulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat terhempas ke aspal saat melompat dari mobil yang berlari kencang.


Terdengar teriakan histeris dari berbagai arah, dari orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Beberapa pengendara mobil terlihat panik dan segera membawa kendaraan mereka menjauh. Beberapa lainnya ada yang menolong para korban.


Reno melihat beberapa orang berusaha mengeluarkan kedua orang tuanya dari dalam mobil pun dengan mobil yang ada di depan mobil orang tuanya.


Reno langsung menelpon pak Dirta. Asisten papanya sekaligus ayah dari Deril, asistennya sekarang.


Kedua mobil terlihat berasap, semua orang mulai menjauh karena tahu mobil itu akan segera meledak. Namun Reno seperti terhipnotis di tempat. Ia enggan menjauh padahal mobil di depannya mulai mengeluarkan api.


"Tuan muda sebaiknya kita pergi ke rumah sakit menyusul kedua orang tuamu." Asisten Dirta mengamati arah pandangan Reno. Tak sengaja dia menangkap sosok gadis dalam mobil yang terlihat sudah tidak berdaya. Posisi gadis itu susah terlihat dari luar.


"Pak tolong! Di dalam mobil masih ada orangnya."


Polisi yang sudah ada di tempat itu segera bertindak. Mereka segera mengeluarkan tubuh seorang gadis dari dalam mobil. Sebelum mobil itu benar-benar meledak, gadis itu berhasil di selamatkan dan dilarikan ke rumah sakit.


Sampai di rumah sakit papa Reno sempat berpesan untuk menyerahkan perusahaan kepada Dirta sampai Reno dewasa karena waktu itu Reno masih kelas 1 SMA. Setelah berpesan, kedua orang tua Reno mengembuskan nafas terakhir.


Reno menangis sejadi-jadinya. Tangisan pilu yang menyayat hati mengiringi kepergian kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sudah jangan menangis terus. Mereka akan sedih kalau sampai kau terpuruk. Percayalah setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya asal kita pandai membaca dari sudut pandang yang berbeda." Dirta berucap sambil menepuk bahu Reno.


"Tenanglah ada paman yang akan menjagamu," imbuhnya.


Reno hanya mengangguk sambil mengusap air matanya.


"Paman bagaimana dengan nasib anak tadi?"


"Keadaannya kritis. Wajah bagian bawahnya terkena kobaran api. Entahlah mungkin nyawanya tidak bisa terselamatkan. Kalaupun selamat pasti akan meninggalkan cacat di wajahnya.


Benar kata Dirta, Reno seharusnya masih bisa bersyukur mengingat anak tadi bukan hanya kehilangan orang tuanya tetapi dia juga harus kehilangan masa depan karena wajah atau bagian tubuh lainnya mungkin saja cacat


"Paman, antarkan aku ke ruangannya!"


"Ayo kita ke sana!" Dirta melangkah ke luar setelah menyuruh seseorang untuk mengurus pemakaman kedua orang tua Reno.


Kini mereka melangkah ke ruangan gadis kecil itu. Nampak peralatan medis memenuhi seluruh tubuhnya.


"Dokter bagaimana keadaan pasien ini?" tanya Dirta pada dokter yang baru saja menangani pasien tersebut.


"Keadaannya kritis dan wajahnya melepuh. Dia mengalami koma."


Dirta dan Reno terperanjat. Dirta langsung menelpon seseorang supaya mengurus biaya perawatan pasien yang ada di hadapannya kini.


Reno melangkah, mendekati ranjang pasien. Dia menatap iba pada gadis yang terbaring lemah di hadapannya kini.


...****************...


"Rindu!" Reno langsung terduduk dengan nafas terengah-engah. Entah kekuatan dari mana, dia menendang para penjahat itu dengan kakinya hingga mereka terpental. Lalu dengan susah payah menarik kain yang ada di mulutnya dengan kaki. Setelah itu mengangkat kedua tangan melewati kepala sehingga berada di depan. Baru setelah itu dia membuka ikatan itu dengan mulut.


Setelah terlepas dia mulai menghajar penjahat-penjahat itu termasuk sang sopir.


"Pelankan laju mobilnya atau kau mati," ancam Reno sambil mengalungkan tali yang tadi mereka putar-putar di hadapan Reno sebelum membuatnya pingsan.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2