Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 41. Hari Bahagia


__ADS_3

"Oke siap," ujar Deril dan langsung bergegas pergi untuk menyiapkan segala kebutuhannya.


Sampai di hotel tempat di mana seharusnya pernikahan antara Reno dan rindu dilangsungkan Deril lalu menyuruh orang-orangnya untuk menyiapkan segala keperluan agar pernikahan Reno tetap berlanjut Dan disaksikan oleh semua tamu undangan di dalam hotel tersebut.


"Oke siap Tuan perintah akan kami laksanakan secepatnya," ucap salah satu anak buah dari Reno. mereka yang diperintahkan segera melakukan tugasnya.


"Kamu tahan agar semua undangan tidak beranjak dari tempat dulu."


"Baik Tuan."


"Sip."


Deril lalu menemui kepala pelayan agar tetap melayani para tamu yang hadir di sana. Terlihat ketua pelayanan di pojok sebuah ruangan sedang memarahi anak buahnya.


"Ada apa ini Bu Ani? Kenapa marah-marah?" tanya Deril sambil berjalan mendekat.


"Maafkan Tuan atas kelalaian kami. Kalau gadis ini tidak menyuruh wanita tadi untuk mengantarkan minuman, calon pengantin wanitanya pasti tidak akan tertusuk."


Deril memandang wanita yang ditunjuk oleh Bu Ani itu dengan tatapan menusuk.


Gadis itu menunduk. "Maaf Tuan saya tidak tahu kalau gadis itu adalah seorang penjahat. Saya pikir dia adalah salah satu anggota kami karena memakai seragam pelayan." Gadis itu terlihat gemetar dan matanya tampak berkaca-kaca.


"Bagaimana kamu bisa tidak tahu siapa teman-temanmu?"


"Itu karena ... aku masih baru. Ampuni aku Tuan aku benar-benar tidak tahu."


"Benar begitu Bu Ani?"


"Iya Tuan dia baru masuk dua hari yang lalu."


"Ya sudah kalau begitu kalian kembali ke tempat masing-masing. Layani para tamu."


"Pernikahannya tetap dilanjutkan Tuan? Calon istri Tuan Reno sudah sembuh?"


"Sembuh tidak, tetapi lukanya tidak terlalu parah jadi acara tetap akan dilanjutkan."


"Oh syukurlah kalau begitu Tuan." Bu Ani merasa bersyukur sekali sebab kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Rindu dia bukan saja akan kehilangan modalnya tetapi juga bisa dituntut atas kelalaian salah satu karyawannya.


"Ya sudah kalau begitu lakukan tugas kalian."


Deril mengawasi beberapa anak buahnya yang terlihat sibuk. Ada yang membantu memasang layar layaknya bioskop. Ada pula yang mengantarkan semua peralatan untuk mendekor kamar rawat Rindu ke rumah sakit. Tak lupa pula meja ijab serta pak penghulu dibawa ke rumah sakit. Meskipun pernikahan diadakan di salah satu ruangan di rumah sakit tetapi anak buah Reno menginginkan pernikahan itu tetap terkesan mewah dan berkesan.


Melihat kamar rawatnya dihias Rindu terlihat kaget.


"Ren ini rumah sakit atau kamar pengantin sih?"


"Dua-duanya," ujar Reno terkekeh.


"Ini ulah Deril pastinya tapi kamu suka kan?"


"Suka banget Ren," ujar Rindu begitu kagum dengan kelihaian para desain interior yang telah berhasil menyulap ruangan tersebut sehingga terlihat begitu mewah dan elegan.


"Ini semua untuk my princess," ucap Reno membuat Rindu tersipu malu.


Setelah beberapa jam dipenuhi kesibukan memeriksa tambahan peralatan di acara pernikahan akhirnya Deril bernafas lega.


"Hah kelar semuanya."

__ADS_1


Dia langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Deril pada anak buah yang ditugaskan mengawasi persiapan di rumah sakit.


"Beres Tuan semuanya berjalan lancar."


Deril memeriksa sekitar. Para Kameramen sudah siap di tempat masing-masing.


Di depan kedua mempelai sudah ada laptop yang tersambung ke acara di hotel seperti layaknya zoom.


"Bagaimana Tuan Reno sudah siap?"


"Siap." Reno menunjukkan kedua jempolnya.


"Nona Rindu?"


"Siap Tuan Deril."


"Panggil Deril saja Nona karena sebentar lagi aku akan jadi bawahanmu juga."


"Ah Deril."


"Ya sudah kalau siap, sebentar." Deril mengechat MC yang ada di hotel untuk memulai acara ijab qabul.


Layar laptop sudah terhubung ke acara yang ada di hotel begitupun layar yang ada dihadapan para tamu undangan, sudah terlihat Rindu dan Reno duduk di depan pak penghulu.


"......Oke acara inti yang kita tunggu-tunggu dari tadi adalah ijab qabul dari kedua mempelai. Kedua mempelai apakah sudah siap?"


"Siap," sahut Reno dan Rindu hanya mengangguk.


"Ren ini kayak acara pertunjukan saja bukan acara pernikahan," bisik Rindu di telinga Reno.


"Sudah tidak usah dipikirkan, ikuti saja alurnya," balas Reno dan Rindu hanya mengangguk.


"Pak penghulu silahkan dimulai!"


"Sebentar, ini walinya mana?"


"Kami serahkan pada pak penghulu saja," ujar Dahlan.


"Kamu bukan walinya?"


"Bukan Pak saya hanya suami dari bibinya."


"Oh saya pikir anda Hilman, ayahnya."


"Bukan Pak, ayahnya sudah meninggal."


"Oke, benar sudah siap? Bisa dimulai?" tanya pak penghulu lagi.


"Siap Pak."


Pak penghulu mengulurkan tangan untuk menjabat Reno dan Reno menerima jabatan tangannya.


"Saudara Reno saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak yang bernama Rindu Maharani binti Hilman Hermawan dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar 20 juta 2 ratus 2 ribu dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Rindu Maharani binti Hilman Hermawan dengan maskawin tersebut dibayar tunai."

__ADS_1


"Bagaimana para saksi sah?"


"Sah," ucap beberapa orang yang hadir di ruangan rumah sakit.


"Sah, sah, sah!" Terdengar teriakan dari area hotel yang terdengar melalui laptop.


"Alhamdulillah." Pak penghulu langsung membaca doa nikah setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah.


Beberapa orang maju ke depan untuk menyerahkan mahar. Reno mengambil mahar tersebut dan menyerahkan pada Rindu.


"Makasih ya Ren," ucap Rindu dengan mata yang berkaca-kaca karena rasa haru.


"Sama-sama. Semoga kamu betah ya hidup sama aku." Rindu hanya mengangguk.


Reno memasang cincin kawin di jari manis Rindu yang sebelah kanan dan menciumnya setelah selesai gantian Rindu yang memasang di jari manis Reno.


"Selamat ya kalian sudah menikah jadi tanggung jawab kami sudah menjadi tanggung jawab kamu Ren."


"Iya Bik, pasti saya akan bertanggung jawab atas semuanya tentang Rindu."


Setelahnya Reno langsung melakukan sungkeman pada Bibi Yani dan Paman Dahlan juga nenek Siva. Sebenarnya Rindu pun ingin melakukannya tetapi dirinya kesulitan karena lukanya tak mendukung.


"Sudah nggak usah sungkem salaman biasa aja," ucap Nenek Siva.


"Terimakasih atas pengertiannya Nek."


"Iya kamu istirahat sana takut lukamu parah kalau dipaksakan untuk terus duduk."


"Iya Nek."


"Sudah sana istirahat biar aku yang menyapa para tamu secara online," ujar Reno.


Dia pun menjawab setiap orang yang maju ke layar dan mengucapkan selamat untuknya sedang Rindu sudah terkapar di ranjang karena kelelahan. Benar kata nenek Siva dia tidak boleh terlalu lama duduk. Duduk sebentar saja perutnya sudah terasa ngilu apalagi kalau sampai lama.


"Hai Ren selamat ya, mana Rindu?" terdengar suara Nadia dari balik laptop.


"Tuh dia." Reno menunjuk Rindu yang sudah terbaring dengan kamera yang mengikuti arah telunjuknya.


"Hai Rin selamat ya."


"Makasih Nad kamu nggak ke sini?"


"Tadi aku mau ikut tapi dilarang oleh Tuan Deril."


"Eh ada yang nyebut aku, apa jangan-jangan ada yang kangen ya sama aku?" Wajah Deril mendadak muncul di layar membuat Nadia terlonjak kaget ke belakang.


"Ais, kayaknya kamu suka deh sama aku sampai berjingkrak-jingkrak seperti itu," goda Deril.


Nadia semakin mendekati layar dan mencebik setelahnya langsung berlari kabur membuat orang-orang yang ada di samping Reno tertawa renyah. Ada sebagian anak buah Reno yang langsung menatap Deril.


"Apa lihat-lihat?"


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak. Jangan lupa mampir juga yuk ke karya Oktavia Hamda Zakhia di bawah ini dan nikmati keseruan membacanya!🙏


__ADS_1


__ADS_2