
"Pembunuhan? Kantor polisi? Pantas saja mereka ngotot ingin memperbaiki ponsel tersebut dibandingkan beli yang baru. Ternyata ponsel tersebut menyimpan bukti-bukti."
Setelah beberapa saat berada di jalanan akhirnya mereka sampai ke kantor polisi.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya pak polisi setelah mempersilahkan mereka duduk.
"Kedatangan kami kemari hanya ingin meminta Bapak untuk mengusut tuntas kasus pembunuhan yang terjadi di SMA 1 Pak," terang Rindu.
"Kasus kematian anak bernama Fian kah yang adik maksud?"
"Iya benar Pak. Mengapa penyelidikannya di hentikan?"
"Dihentikan sementara karena sampai saat ini kami belum menemukan bukti yang valid. Untuk saat ini kami masih berfokus pada masalah lainnya."
"Bagaimana kalau saya mendapatkan buktinya? Apa secepatnya bisa diproses?"
"Oh tentu saja bisa. Adik punya bukti apa?"
"Ini Pak dalam ponsel ini terekam beberapa kasus pembunuhan yang pelakunya adalah salah satu murid di sekolah kami. Jadi tidak menutup kemungkinan pelaku yang sama yang telah melakukan pembunuhan terhadap Fian." Rindu mengeluarkan ponsel milik Fian.
Polisi itu meraih ponsel tersebut dan memeriksanya.
"Oke kalau boleh tahu adik menemukan ponsel saudara Fian di mana?"
"Di dalam laboratorium IPA pak di lemari tempat alat-alat praktikum di simpan.
"Aneh dulu saat kami memeriksa ruangan itu tidak menentu ponsel ini."
"Mungkin keberadaannya dulu terhalang benda lain Pak, jadi tak terlihat."
"Mana mungkin? Tapi bisa jadi sih. "Oke saya cek dulu isinya." Polisi tersebut nampak melihat-lihat isi ponsel Fian.
"Adik benar, siapa nama pelaku pembunuhan ini?"
"Rangga Pak."
"Baiklah kalau begitu kami akan menyelidiki apakah video ini asli apa palsu juga. Kami juga akan menyelidiki apakah kematian saudara Fian ada hubungan juga dengan saudara Rangga ini, sebelum menjebloskan dia dalam penjara. Adik bisa pergi dan barang bukti bisa ditinggal di sini."
"Baik Pak kalau begitu kami permisi."
Polisi itu mengangguk dan tampak memberikan ponsel tersebut pada rekannya.
"Terima kasih atas kerjasamanya," ujar polisi tersebut.
"Sama-sama Pak," ujar Rindu dan Mark serentak lalu mereka kembali ke mobil.
"Aku lega Tuan Mark karena sebentar lagi Rangga akan tertangkap dan tidak akan ada lagi yang menggangu Reno dan juga diriku. Jadi Tuan Mark nanti terbebas untuk melindungi ku lagi karena sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
__ADS_1
"Ah Nona begitu senang ya terbebas dariku."
"Ah Tuan Mark jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin Tuan Mark direpotkan terus. Jadi Tuan Mark bisa nyanyi dan beristirahat."
"Nona lupa masih ada teman Nona yang bernaung Eliza itu yang bisa menggangu Nona. Lagipula kalau saya tidak bekerja saya tidak punya uang Nona."
"Iya juga ya Tuan Mark. Maafkan saya."
"Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan."
"Ngomong-ngomong Tuan Mark tahu orang tua Reno kemana? Ya aku tahu Reno hanya tinggal bersama neneknya. Apakah bercerai dan meninggalkan Reno sendiri?"
"Tidak Nona, sebenarnya kedua orang tua Reno sudah tiada akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu ketika Tuan Muda Reno masih duduk di bangku SMA."
"Oh, berarti nasibku sama Reno tuh sama. Sama-sama ditinggal orang tua karena kecelakaan."
"Benarkah?"
"Iya Tuan Mark, cuma Reno kan sudah SMA sedang aku waktu itu masih SMP."
"Oh, berarti kalian jodoh," ucap Mark.
"Loh kok bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Iya lah karena nasib kalian sama berarti kalian pantas bersatu."
Tidak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah Rindu.
"Terima kasih Tuan Mark."
"Sama-sama."
_____________________________________________________
Esok hari sekolah tampak ramai melibihi hari-hari biasa.
"Ada apa ya ini kok ramai sekali, berisik lagi?" tanya Rindu pada salah satu teman sekelasnya.
"Ada polisi Rin."
"Polisi?"
"Iya Rangga ditangkap dengan tuduhan telah membunuh Fian dan beberapa orang lainnya. Ngeri banget si Rangga itu Rin, untung kamu sudah putus dengannya."
"Iya kamu benar." Rindu menepuk pundak teman sekelasnya itu. "Ya sudah aku ke sana dulu."
Gadis itu hanya mengangguk.
__ADS_1
Rindu berjalan menuju ke tempat beberapa polisi berkumpul. Guru-guru juga tampak berkumpul di sana. Nampak Rangga sudah diborgol.
"Gadis ini yang sudah melapor dan memberikan bukti Pak Bu," ujar seorang polisi kepada bapak kepala sekolah dan beberapa guru yang lainnya.
"Benar Rin?" tanya guru Biologi.
"Iya Bu, ternyata ibu menyuruhku mengambil berkas laporan praktikum ke ruang lab ada hikmahnya," ujar Rindu pada guru tersebut.
Guru itu hanya terlihat mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih Dek Rindu berkat kamu kami bisa menemukan pembunuh Fian."
"Sama-sama Pak dan terima kasih juga kalian bisa bergerak cepat. kalian hebat bisa langsung tahu bahwa pembunuh Fian adalah dia juga padahal yang ada di video kan rekaman pembunuhan orang lain."
"Kami sudah melacak kontak terakhir yang menghubungi saudara Fian adalah dia fan beberapa saat kemudian Saudara Fian dinyatakan sudah tidak bernyawa."
Rangga memandang Rindu penuh dendam karena telah berani melaporkan dirinya. Kalau saja dia tidak dalam jeratan borgol pasti dia sudah menerkam tubuh Rindu.
Beberapa saat kemudian polisi berpamitan kepada para guru dan membaca Rangga ke dalam mobil.
Rindu hanya berharap agar Rangga tidak melarikan diri karena kalau sampai itu terjadi dirinya akan berada dalam keadaan bahaya. Rindu menyayangkan sikap polisi tadi yang memberi tahu pada guru-guru bahwa dirinya yang memiliki bukti dan melapor padahal Rangga masih ada di sana.
Setelah semua polisi dan Rangga pergi para murid yang penasaran mulai mendatangi guru-guru dan bertanya.
"Terima kasih Nak Rin, meski Fian tidak bisa kembali ke dunia ini tapi saya puas penjahatnya sudah tertangkap." Ternyata orang tua Fian juga hadir hari itu.
"Sama-sama Tante."
Semua murid yang mendekat mulai bertanya motif apa yang membuat Rangga sampai tega melakukan hal kejam tersebut.
"Sebenarnya Rangga itu memiliki gangguan kejiwaan. Kalau sesuatu yang diklaim miliknya disasar orang maka dia tidak akan membiarkan orang tersebut hidup," jelas salah seorang guru.
"Wah ngeri sekali Itu Pak."
"Iya benar. Menurut pengakuannya tadi dia menjadi kejam seperti itu karena melihat kedua orang tuanya dibunuh di depan dirinya sewaktu kecil dan waktu itu mereka tidak mendapat keadilan. Penjahatnya lolos begitu saja. Hal itu membuat trauma sekaligus ingin membalas dendam tetapi dengan orang yang salah."
"Wah kalau begitu sepertinya dia lebih cocok masuk rumah sakit jiwa ya Pak ketimbang penjara."
"Biarlah polisi yang mengurus semua dia pantasnya di tempatkan dimana. Mungkin dipenjara juga bisa sambil diberikan terapi agar otaknya tidak selalu merespon ke arah membunuh," jelas guru itu lagi.
"Iya Pak, saya harap semoga setelah ini dia jera. Kasihan masih muda, masih umur 17 tahun sudah seperti itu," ujar murid yang lain.
"Semoga," sambung Rindu.
Bersambung....
jangan lupa like-nya!🙏
__ADS_1