
"Mommy! Mommy!"
Seorang anak kecil seumuran dua tahunan menarik rok Rindu sambil merengek.
"Ada apa lagi sayang?"
"Gendong."
"Kan sudah, tadi."
"Kulang." Gadis kecil itu merengek dengan suara cadelnya.
"Nanti siang lagi ya sayang pagi ini Mommy mau kuliah dulu."
"Njak oleh, Mommy njak oleh ninggalin Alindi lagi."
"Mommy bisa telat Nak kalau kamu begini terus."
Reno yang melihat Arindi menempel pada Rindu akhirnya mendekat dan menggendong putrinya.
"Sama Daddy aja yah?"
Gadis kecil itu tampak cemberut.
"Njak mau anti Daddy ninggalin Alin juga."
"Nggak sayang hari ini Daddy bakal bersama Arindi terus."
"Memang kamu nggak mau kerja Mas?" tanya Rindu heran padahal baju Reno sudah seperti orang yang siap pergi ke kantor.
"Aku mau ngantor tapi mau bawa dia."
"Jangan Mas nanti dia ngerecokin pekerjaan kamu. Mending dia ikut aku aja."
"Nanti kamu diketawain sama teman-teman kamu, kuliah bawa anak. Dikiranya mau ke posyandu aja." Reno terkekeh.
"Tapi aku takut kamu nggak fokus kerja."
"Nggak apa-apa kok di sana kan banyak orang, lagi pula hari ini pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak."
"Apa aku berhenti aja ya Mas? Kasihan dia tiap hari selalu merengek saat aku tinggal pergi."
"Loh kok berhenti? Janganlah, eman-eman. Lagian kamu kan nggak seharian juga kuliah nanti siang udah balik. Tahan lah sebentar tahun ini kan sudah kelulusanmu."
"Iya sih tapi Mas yakin mau bawa dia?"
"Yakin, kan ada baby sister juga yang nanti bakal bantu jagain dia."
"Baiklah kalau begitu."
"Ya sudah yuk kita berangkat."
Reno berjalan menuju mobil sambil menggendong putrinya sedangkan Rindu membantu membawakan tas kerja Reno.
"Mbak Siska ayo ikut, Mbak."
Baby sister Arindi berjalan dengan tergopoh-gopoh.
"Kemana Nya?"
"Ke kantor Mas Reno. Hari ini Arindi ikut sama Daddy-nya."
"Loh kok mendadak Nya? Siska belum ganti baju ini."
"Nggak usah Mbak Siska sudah cantik kok, sekarang Mbak Siska langsung masuk mobil aja!"
"Baik Nya."
"Nek kita pergi dulu ya!" Pamit Rindu saat berpapasan dengan Nenek Siva di garasi mobil.
"Arindi ikut ya?"
"Iya Nek."
"Pergilah dan hati-hati."
Reno pun melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka menuju kampus Rindu terlebih dahulu.
"Aku duluan ya Mas." Rindu menyalami tangan Reno saat mobil sudah berhenti di depan kampus.
__ADS_1
"Iya hati-hati."
"Putri Mommy sini! Mommy mau cium dulu."
Rindu pun menciumi pipi putrinya itu.
"Baik-baik ya sama Daddy. Jangan ganggu pekerjaan Daddy." Seolah mengerti bocah kecil itu mengangguk.
"Mbak Siska jaga dia ya!"
"Pasti Nya."
"Sudah ya Mas aku pergi dan kalian hati-hati." Reno mengangguk dan Rindu keluar dari mobil.
"Dada sama Mommy dulu." Reno berbicara pada putrinya.
"Da ... da Mommy." Arindi melambaikan tangan kepada Rindu dibalas lambaian tangan pula disertai senyuman dari mulut Rindu.
"Dada!"
Reno melajukan mobilnya kembali dan sekarang menuju kantor.
Rindu berjalan ke dalam kampus dengan hati yang bahagia. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna seperti itu. Punya keluarga yang lengkap, suami yang kaya tapi setia dan bahkan mendukung dirinya untuk mengejar cita-cita. Meskipun pada akhirnya Rindu akan memilih menjadi seorang istri dan ibu daripada sebagai wanita karir karena ia ingin lebih dekat dengan anak dan suami.
Kalau dia ingat kisah dirinya beberapa tahun yang lalu saat sebelum bertemu Reno, ya pada saat itu hanya cacian dan bulian yang ia dapatkan. Dia sama sekali tidak menyangka hidupnya akan sebahagia ini. Bahkan untuk bermimpi pun dia tidak berani.
"Arindi sama Mbak Siska dulu ya, Daddy mau kerja dulu." Reno menyerahkan putrinya pada Siska saat dirinya sampai di depan pintu ruangannya.
Bocah kecil itu tidak menjawab hanya terlihat cemberut sambil memperlihatkan matanya yang mulai berkaca-kaca, hendak menangis.
"Ya sudah ayo ikut Daddy ke dalam." Reno yang tidak tega akhirnya mengambil alih kembali Putri kecilnya dari gendongan Siska.
"Mbak Siska tunggu di sini saja."
"Deril suruh sekretaris kita agar mengajak Siska duduk bersamanya."
"Baik Tuan."
Reno pun masuk ke dalam ruangan.
"Nah sekarang Arindi duduk ya, Daddy mau kerja dulu," ucap Reno sambil mencium pipi dan hidung gadis kecilnya itu.
"Kau cantik seperti Mommy." Reno mencubit pipi tembem putrinya. Bocah kecil itu tertawa tidak jelas.
Beberapa saat bocah itu anteng duduk sambil melihat Reno yang membubuhkan tanda tangan di beberapa berkas. Namun setelah itu ia malah merebut pulpen dan mencoret berkas yang ada di hadapannya.
"Astaga Sayang itu berkas penting." Reno tampak menggaruk kepalanya.
"Der!" panggilnya.
"Ada apa Tuan Reno?"
"Ada kopiannya nggak berkas ini? Buatkan yang baru!"
"Memang kenapa Tuan?"
"Udah dicoret nih sama Arindi." Reno menunjukkan berkas yang dicoret putrinya.
Deril terkekeh. "Dia mau gantikan Tuan Reno mungkin memimpin perusahaan."
"Iya kali."
Deril mengambil berkas itu dan langsung keluar.
"Eh Der."
"Iya?"
"Tolong suruh siapapun terserah kamu untuk membeli karpet bulu beserta beberapa mainan untuk Arini biar dia bisa main sendiri tanpa mengganggu pekerjaanku."
"Baik Tuan."
Beberapa saat kemudian orang yang diperintahkan untuk membeli mainan pun datang.
"Tuan!"
"Masuk dan langsung tata di sana. Setelah itu tolong suruh masuk baby sister putriku yang ada di luar dan jangan tutup pintunya."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Akhirnya Reno pun bisa meneruskan pekerjaannya tanpa diganggu oleh putri kecilnya itu.
Hingga siang menjelang Rindu yang sudah pulang langsung menuju ke kantor.
"Mas!"
"Udah pulang sayang?"
"Heeh, bagaimana putri kita bandel nggak?"
"Bandel kayak Mommy-nya."
"Loh kok kayak aku? Sudah kubilang nggak usah dibawa kalau sekiranya mengganggu pekerjaanmu." Rindu meraih putrinya lalu menggendong dan menciumi pipinya kembali.
"Anak Mommy asem." Rindu menggelitik Arindi membuat gadis kecil itu cekikikan.
"Nggak kok."
"Aku keluar dulu ya Nya."
"Iya Sis."
Siska keluar dan menutup pintu.
Tok tok tok
Di luar terdengar ketukan pintu.
"Masuk!"
Seorang sekretaris masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak."
"Suruh masuk."
Beberapa saat kemudian tampak sepasang manusia masuk ke dalam.
"Bibi, Paman apa kabar?"
Rindu bangun dari duduknya. "Bibi?"
"Iya sayang bibi sama paman ke sini."
Mereka pun langsung menyalami Dahlan dan Yani.
"Kok bibi tahu kami ada di sini?"
"Nggak tahu sih kalau kamu ada di sini cuma kalau Reno kami yakin pasti masih di sini makanya bibi langsung ke sini sebab jaraknya juga lebih dekat dengan terminal.
"Oh, ya sudah ayo masuk."
Dahlan dan Yani memilih menghampiri Arindi yang duduk di karpet.
"Wah cucu Oma sudah besar ya."
"Iya Oma," jawab Rindu. "Bibi gemukan sekarang ya."
"Sudah isi dia," bisik Dahlan.
"Alhamdulillah setelah sekian tahun akhirnya dikasih momongan juga ya Bik Semoga lancar sampai persalinan."
"Amin. Kalian nggak ada rencana nambah lagi?"
"Nggak ada Bik Arindi aja masih rewel."
"Dia rewel karena belum punya adik saja entar kalau sudah punya adik yakin deh pasti anteng. Nanti kita buat yang laki-laki," ujar Reno sambil terkekeh.
"Ih kamu maunya bikin-bikin terus."
"Tapi kamu suka, kan?"
"Suka asal jangan dibuat anak dulu." Rindu cemberut.
"Yah maunya, itu mauku," ujar Reno membuat semua orang yang hadir di tempat itu tertawa renyah.
Tamat.
__ADS_1
Terima kasih ya buat semua yang sudah mengikuti novelku yang gaje ini. Semoga kalian panjang umur diberikan kesehatan selalu, murah rezeki dan sukses selalu. Amin. Kalau berkenan bisa mengunjungi karyaku yang lainnya ya. Ada yang tamat judulnya: "Biarkan Kami Yang Menyatukan" dan Terpaksa Menikahi Putri Mafia (sekuelnya) Ada yang on going berjudul: "Hurt Second Wife." Nggak mampir juga nggak apa-apa kok yang penting mampir ke sini ya. Dijamin ceritanya seru abis!🙏Capcus...👇