Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 30. Penyesalan Reno


__ADS_3

Mendengar bunyi benda jatuh Reno menoleh. Dia mengernyit melihat ada lukisan pecah tak jauh dari tempatnya duduk dan juga seorang gadis yang sepertinya ia kenal berkelebat di depannya kemudian berlari menjauh.


Reno bangkit dari duduk lalu berjalan ke arah lukisan itu. Ia berjongkok untuk memeriksa lukisan tersebut. Karena pecah ia duduk dan menyambung lukisan tersebut sehingga terlihat utuh kembali.


Ada gambar sepasang merpati di bagian atas bingkai tersebut. Namun yang membuat


Reno terhenyak adalah ketika membaca tulisan yang terbingkai pigura itu di bawah gambar sepasang merpati yang kesemuanya terbuat dari kulit kerang.


Semoga kita selalu bersama, menjadi dua sejoli yang tak bisa terpisahkan layaknya burung merpati ini. Love Reno from Rindu.


"Rindu!" seru Reno dan dia langsung berlari mengejar gadis tersebut tanpa mempedulikan para karyawannya yang menatap aneh pada dirinya.


Reno kamu mau kemana?" Nenek Siva menghadang Reno di depan pintu keluar.


"Tolong Nek aku harus pergi. Ada yang harus aku jelaskan pada gadis tadi," mohon Reno.


"Tidak boleh. Kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Sebentar lagi acara ijab qabul akan segera dimulai."


Reno tidak peduli, dia sedikit mendorong tubuh nenek Siva hingga agak oleng lalu berlari keluar.


"Deril, batalkan acara pernikahannya! Aku berubah pikiran. Aku tidak mau menikahi wanita itu."


"Baik Tuan."


"Satu lagi, betulkan lukisan tadi dan tolong simpanlah untukku!"


"Baik Tuan."


Lalu dalam sekejap Deril langsung membubarkan pesta. Semua orang yang hadir tampak penasaran dengan alasan yang membuat pernikahan sang atasan harus digagalkan. Namun ada sebagian yang lain yang memang tidak perduli dengan semua itu karena memang tidak pernah suka dengan calon mempelai wanitanya. Mereka menganggap wanita itu terlalu sombong. Belum menjadi Nyonya pemilik perusahaan saja sudah berlagak sok, bagaimana kalau benar-benar menjadi istri Reno, menurut mereka.


"Deril apa yang kau lakukan, Seenaknya saja menghentikan pesta," bentak nenek Siva sambil berkacak pinggang.


"Tapi ini adalah perintah Tuan Muda, Nyonya," sanggah Deril.

__ADS_1


"Di sini itu yang mengatur semuanya adalah diriku. Tidak ada yang bisa membantah perintahku termasuk Reno," ujar nenek Siva lagi.


"Kalau tahu sikap Nyonya akan menjadi seperti ini. Lebih baik kami biarkan Nyonya mati saja saat kritis waktu itu," batin Deril.


Deril mengingat saat dokter sudah menyerah dan mengatakan bahwa nenek Siva sudah tidak bisa disembuhkan, Reno langsung membawanya pulang. Sampai di rumah Reno mengusahakan pengobatan secara non medis untuk sang nenek.


Waktu itu Reno terlihat depresi dan tidak siap kehilangan sang nenek setelah beberapa tahun ditinggal kedua orang tuanya. Apapun dia akan lakukan asal sang nenek juga tidak meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Pengobatan non medis menjadi pilihan alternatif setelah pengobatan medis sudah tidak bisa diandalkan. Berharap dengan pengobatan itu akan bereaksi terhadap tubuh sang nenek hingga akhirnya bisa tersadar kembali dan sembuh.


Beberapa ustadz, dukun bahkan tabib ia datangkan demi kesembuhan nenek Siva. Karena Reno sangat iba melihat sang nenek yang berada di fase antara hidup atau mati dan ini berlangsung hampir satu tahun sampai Reno tidak bisa memikirkan hal lain dan hanya fokus pada nenek Siva.


Bahkan pekerjaan di kantor kalau tidak ada Deril pasti sudah terbengkalai. Dokter mengatakan nenek Siva hanya hidup dengan bantuan alat medis saja dan jika dicabut akan tiada. Namun kenyataannya nenek Siva masih hidup meski dalam keadaan sekarat.


Namun untuk beberapa waktu tidak ada seorang pun yang berhasil menyembuhkan sang nenek.


Hingga akhirnya seorang yang bergelar tabib datang dan menyampaikan akan menyembuhkan sang nenek dengan satu permintaan. Tabib itu meminta Reno mau menikahi putrinya.


Awalnya Reno menolak tetapi saat tabib itu meminta waktu 7 bulan saja akhirnya Reno menyanggupi. Saat itu Deril mencoba mengeluarkan pendapat agar Reno tidak gegabah mengambil keputusan.


"Deril, Rindu tidak boleh tahu. Ini hanya 7 bulan saja. Aku berjanji tidak akan menyentuh putri tabib ini."


"Bagaimana kalau sampai Tuan beralih menyukai putri tabib ini?"


"Deril jangan meragukan ku. Perasaanku sudah terkunci untuk Rindu. Jadi tidak mungkin aku bisa berpaling darinya. Lagipula kamu tidak bisa menyembuhkan nenekku kan?"


Deril hanya menelan ludah mendengar kalimat terakhir dari Reno.


"Tidak masalah kalau memang Tuan Muda tidak bisa mencintai ataupun menyentuh anak saya kalau memang sudah ada orang lain di hati Tuan Muda. Saya hanya ingin anak saya punya status menikah saja," sambung tabib tadi.


Mendengar perkataan orang tersebut Deril menjadi kaget. Ia langsung menarik Reno keluar kamar nenek Siva.


"Apa Tuan tidak merasa aneh dengan perkataan tabib tadi?" tanya Deril curiga.

__ADS_1


"Sudah lah Deril saat ini yang penting kesembuhan nenek saya. Buang rasa curiga mu itu jauh-jauh. Tolong jangan beri tahu Rindu dulu. Nanti di tengah-tengah pernikahanku aku akan mencoba bernegosiasi dengan putri tabib tersebut."


"Terserah Tuan Muda lah kalau begitu," ucap Deril pasrah, dalam hati berharap agar nenek Siva tidak sembuh dengan tabib tadi tetapi sembuh dengan pengobatan orang lain saja. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan, setelah diobati tabib tersebut, perlahan-demi perlahan nenek Siva bangkit dan sekaligus malah terlihat sehat.


"Kenapa bengong Deril? Cepat cari Reno dan bawa kemari! Pernikahan ini tidak boleh gagal," perintah nenek Siva.


Tanpa mendengar perkataan nenek Siva Deril masuk ke dalam. Ia mencari lukisan yang dimaksud oleh Reno. Lalu meminta seseorang untuk memperbaikinya.


"Berarti gadis tadi adalah Nona Rindu. Pantas saja Tuan Reno langsung mengejarnya. Semoga semuanya baik-baik saja dan Nona Rindu bisa mengerti keadaan Tuan Reno," batin Deril dalam hati. Dia juga merasa bersalah karena ikut merahasiakan semuanya dari Rindu.


Setelah menyuruh seseorang untuk memperbanyak lukisan tersebut, Deril akhirnya keluar dari ruangan untuk membantu Reno mencari Rindu.


Nenek Siva tampak menghalau orang-orang yang hadir untuk tidak beranjak dari tempat dulu karena pernikahan tidak akan akan dibatalkan, hanya ditunda beberapa waktu saja. Semua orang pun menurut karena kebanyakan tamu undangan adalah karyawan yang takut dipecat kalau berani melawan perintah.


"Bagaimana Tuan, sudah bertemu?" Setelah beberapa waktu berkeliaran di jalan akhirnya Deril malah menemukan Reno bukannya Rindu.


Reno tampak menggeleng lemas. "Belum Der." Padahal sudah seharian dia mencari Rindu tetapi tidak bertemu juga.


"Aku juga tidak bertemu," sambung Deril.


"Tapi apakah Tuan yakin dia itu Nona Rindu?"


"Yakin Der. Dia pasti kecewa. Andai aku menuruti pendapatmu dulu pasti semua tidak akan seperti ini. Aku menyesal Der."


"Sudahlah Tuan yang sudah berlalu tidak perlu disesali. Lebih baik kita cari dia saja sampai ketemu. Nanti saya akan menyuruh orang-orang untuk ikut mencarinya."


"Kalau belum ketemu juga gimana Der?" tanya Reno khawatir.


"Kalau tidak ketemu di kota ini kita langsung datang ke rumahnya saja di kampung," saran Deril.


"Haaah." Reno menarik nafas panjang. "Baiklah kalau begitu. Kalau sampai besok belum ketemu juga, kita langsung ke rumahnya."


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2