
"Pelankan laju mobilnya atau kau mati," ancam Reno sambil mengalungkan tali yang tadi sempat mereka putar-putar di hadapan Reno sebelum membuatnya pingsan.
Sopir itu pun menurut dan memelankan laju mobil. Tanpa pikir panjang Reno membuka pintu mobil dan mendorong orang tersebut keluar dari mobil. Kini ia yang mengambil alih menjadi sopir, dia lupa ketiga orang di belakang masih ada dalam mobil dan jangan lupakan orang yang memakai motor moge tadi dengan helm hitam masih terus mengikuti mobil tersebut dari belakang.
Saat Reno memutar kemudi salah satu dari ketiga penjahat yang ada di belakangnya langsung mencekal leher Reno.
"Kau harus mampus!" teriaknya sambil menyeringai.
"Ha ha ha ...."
Kedua orang yang lainnya malah tertawa.
"Tahan! Tahan jangan kau bunuh dia dulu. Lumpuhkan saja! Kau tahu bos yang menyuruh kita untuk membunuh orang ini masih terus mengikuti. Kau tahu itu artinya apa?"
"Tidak," jawab yang satunya.
"Itu berarti dia ingin melenyapkan orang ini dengan tangannya sendiri."
"Oh, oke kalau begitu kita tahan saja."
Reno menggertakkan giginya karena geram. Dalam hati bertanya siapa orang yang telah berani bermain-main dengan seorang Reno.
"Berapa dia membayar kalian? Aku bisa menggantinya sepuluh kali lipat."
"Ha ha hahaha." Dua orang tertawa keras, tidak percaya dengan ucapan Reno sedangkan yang satunya mulai terpengaruh.
"Bagaimana kalau kita terima tawanan dia? Sepuluh kali lipat loh kita bisa kaya."
"Alah jangan percaya sama omongan dia. Orang yang tidak berdaya pasti akan melakukan tipu muslihat agar bisa terbebas dari bahaya."
"Eh begitu ya. Baiklah kalau begitu terserah kalian saja."
Reno marah melihat mereka menyepelekan dan menganggap dirinya hanya menipu mereka. Meski dengan posisi leher yang dicekik dia tetap melajukan mobilnya. Dia yang biasanya takut dengan laju mobil yang kencang kini malah menyetir dengan kecepatan penuh sehingga pegangan tangan pria yang mencekik lehernya terlepas dan ketiga orang dalam mobil itu malah terpental ke bagian kanan dan kiri mobil.
Reno bahkan memundurkan mobilnya dengan mendadak sehingga orang yang ada dalam motor gede yang sedari tadi mengejarnya hampir terpental dari motor karena tidak siap dengan perlawanan yang mendadak.
_________________________________________________________________
Di tempat lain Rindu merasa gelisah. Sedari tadi dia hanya menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Matanya sudah mengantuk tetapi anehnya saat mencoba memejamkan mata ia sama sekali tidak bisa terlelap.
__ADS_1
"Ada apa ini? Mengapa perasaanku tidak enak?" Ia langsung bangkit dari berbaringnya dan duduk bersila.
"Reno, apa yang terjadi dengannya. Mengapa aku begitu khawatir?" Ia meraih handphone di atas nakas lalu menghubungi Reno.
"Ah, ada dimana dia sekarang. Mengapa operator menjawab berada di luar jangkauan?" Semakin khawatir saja hati Rindu dibuatnya.
"Deril ya, aku harus hubungi dia. Barangkali dia bisa ditelepon." Sambil berkata tangannya dengan cekatan memencet nomor telepon Deril.
Tut tut tut.
Panggilan tersambung tetapi tidak ada yang mengangkat.
"Kemana tuh orang? Apa lagi nyetir, makanya mengabaikan panggilan dariku?"
Deril yang mendengar ponselnya berdering, mulai sadar dengan keadaan sekitar. Ia mencari bunyi tersebut dari mana. Ya ponselnya tadi terlepas dari kantong celana saat tubuhnya dilempar ke pinggir jalan.
"Tuan muda." Deril pikir yang menelpon itu adalah Reno. Ia langsung mencari ponsel miliknya.
"Itu dia." Ternyata ponsel tersebut ada di balik semak-semak rerumputan. Ia bangkit dan meraih ponselnya.
"Halo Tuan ...." Suara Deril tertahan ketika mendengar suara siapa ya menelponnya.
"Tuan Deril, Reno mana? Mengapa saat aku menelpon tadi malah operator yang menjawab berada di luar jangkauan?"
"Apanya yang gawat Tuan Deril? Apa yang terjadi pada Reno?" Rindu semakin khawatir. Keringat langsung bercucuran dari tubuhnya karena begitu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Reno.
Deril tahu Rindu sangat khawatir tetapi dalam situasi seperti itu dia harus jujur, tidak boleh ada yang ditutupi demi keselamatan sang bos.
"Nona Rindu tolong kamu berikan telepon ini pada Mark, aku mau bicara langsung sama dia!"
"Baiklah." Rindu langsung bergegas keluar kamar.
"Mau kemana?" tanya Yani ketika melihat Rindu keluar rumah di tengah malam.
"Menemui Mark Bik, sesuatu yang tidak baik terjadi pada Reno."
"Apa?" Yani tampak kaget.
"Ya sudah kalau begitu bibik ikut."
__ADS_1
Rindu mengangguk. Mereka pun berjalan ke rumah yang ditempati bodyguard Reno yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah mereka.
Sampai di sana, Mark ternyata belum tidur. Pria itu tampak bersantai di depan rumah dengan segelas kopi dan sepiring gorengan.
"Mark Deril mau bicara." Tanpa basa-basi Rindu langsung menyerahkan ponsel miliknya ke tangan Mark.
Mark mengernyit dalam hati bertanya kenapa Deril menghubunginya malam-malam. Kalau bertanya kabar Rindu tidak mungkin karena wanita itu kini ada di hadapannya dan bahkan menerima telepon langsung dari Deril.
Namun tanpa banyak bertanya Mark langsung menerima telepon Deril.
"Ada apa Tuan?"
"Kamu bisa kemari? Kita harus menolong Tuan Reno. Dia di culik."
"Apa?" Mark terlonjak kaget.
"Posisi kamu dimana sekarang?"
"Aku tidak tahu ini daerah mana. Yang kutahu ini jalan keluar dari daerah Rindu dan tempat ini sepi. jauh dari rumah-rumah penduduk juga banyak semak belukarnya."
"Aku ikut, aku tahu itu daerah mana."
"Kamu serius Rin?" tanya Yani ragu.
"Jangan Nona ini berbahaya," larang Mark.
"Aku harus ikut biar kita bisa cepat menyelamatkan Reno. Hanya aku kan yang tahu daerah mana saja di sini."
"Tapi Nona?"
"Mark ayolah jangan banyak berpikir, keselamatan Reno sekarang yang harus jadi prioritas."
"Baiklah ayo!" Mark langsung sigap mengeluarkan mobil dari dalam garasi.
"Hati-hati Rin, kamu jangan sampai lengah." Yani menepuk pundak keponakannya.
"Doakan ya Bik kami bisa secepatnya berhasil menyelamatkan Reno," ucap Rindu sambil masuk ke dalam mobil.
"Pasti doaku untuk kebaikan kalian semua," ujar Yani sambil melangkah pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak, baik berupa like, komentar, gift, Vote dan yang pasti rate bintang 5. Terima kasih🙏