
Setelah menyalami para undangan secara online akhirnya Reno menyerahkan semua tanggung jawab acara kepada Deril dan dirinya menyusul sang istri untuk naik ke ranjang. Beruntung ranjang mereka sudah diganti dengan yang lebih besar dan lebih nyaman.
"Gini amat ya jadi pengantin di rumah sakit," keluhnya. Namun ia tetap terlihat tersenyum senang.
Deril meminta MC yang ada di sana untuk melanjutkan acara sesuai yang sudah mereka jadwalkan. Kemudian dirinya mengajak orang-orang yang ada di rumah sakit tersebut untuk kembali ke hotel dan hanya meninggalkan dua pengawal saja yang menjaga keamanan di luar kamar rawat Rindu.
Jauh di hotel sana, MC pun mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan dengan diiringi musik dari beberapa artis ternama dalam negeri. Banyak teman-teman Reno yang ikut menyumbang lagu membuat pesta semakin meriah meski sang pemilik pesta tidak ikut menikmatinya. Kedua mempelai sudah terjun ke alam mimpi masing-masing.
Apalagi saat orang-orang memaksa Deril untuk menggantikan posisi pengantin untuk melempar bunga kepada para tamu undangan, suasana semakin semarak saja.
"Ayolah Der aku hadir ke sini untuk berebut lemparan bunga biar aku cepat bisa nikah nggak gagal-gagal terus," kelakar seorang teman Deril yang juga merupakan teman Reno.
"Nggak usah percaya sama begituan, itu hanya mitos belaka kalau ingin cepat nikah minta jodoh sama Tuhan," ujar Deril menanggapi permintaan konyol teman-temannya.
"Ayolah Der please, kalau nggak ada acara begituannya nggak seru padahal teman-teman kan pada nungguin."
"Kalau begitu kalian langsung ke rumah sakit saja ketemu langsung dengan pengantin. Minta Tuan Reno sama Nona Rindu untuk melakukannya."
Mendengar perkataan Deril teman-temannya tidak datang ke rumah sakit melainkan menghubungi Reno dengan ponselnya.
"Siapa sih malah-malam begini masih nelepon?" Reno meraih ponselnya yang sudah terlepas dari saku jasnya.
"Halo siapa ini?" tanya Reno tampak melihat kontak di ponselnya.
"Mana acara lempar bunganya?"
Reno terhenyak dan langsung menatap layar ponselnya melihat siapa yang menelpon dirinya saat ini.
"Adam?! Ada apa sih ganggu orang aja."
"Ih yang baru nikah tapi tidak bisa malam pertama emang mau ngapain?"
"Sahabat Lucnut loh ya bukannya ikut berduka malah ngejek. Mana nggak jenguk lagi," protes Reno.
"Tenang, besok kita semua ke sana."
"Iya kan guys?" Adam beralih bertanya pada teman-temannya.
"Yo'i."
"Kami kan ada di rumah sakit, harus ya lempar bunganya? Ke sini aja biar nanti aku timpuk kalian dengan satu truk bunga, tapi bunganya masih mau aku pesan dulu." Reno terkekeh.
"Nggak pokoknya harus sekarang."
"Ngeyel nih kalian." Reno langsung menutup teleponnya.
Deril tertawa melihat teman-temannya dibuat kesal oleh Reno.
Tak terima sambungan telepon diputus teman-teman Reno meneror dengan terus menelpon secara bergantian.
"Akh, berisik." Reno kesal mendengar ponselnya tidak berhenti bergetar membuat Rindu ikut terbangun.
"Kenapa sih Ren?"
"Teman-teman nih nggak ada kerjaan masa kita diminta untuk lempar bunga. Sudah tahu juga kita ada di rumah sakit."
"Sabar Ren angkat saja tanya maunya apa?"
"Malas Ren."
"Yasudah biar saya yang angkat."
__ADS_1
Reno hanya mengangguk dan Rindu tampak mengobrol dengan teman suaminya itu.
"Ren mereka cuma mau kita lempar bunga online saja." Rindu menyampaikan perkataan Adam pada Reno.
"Dia memang aneh, mana aku yang ngobrol langsung." Reno mengambil ponselnya kembali.
"Kau pikir bisa sampai ya Dam ke tangan kalian kalau cuma dilempar online?!"
"Bisa lah kan ada perantaranya."
"Maksudnya?"
"Aku chat saja ya."
Adam langsung mengirimi chat kepada Reno.
"Ya sudah serahkan ponselmu pada Deril."
"Oke."
"Nih Der, Reno mau ngomong."
Deril pun meraih ponsel dari tangan Adam.
"Halo Tuan."
"Der boleh minta tolong untuk lempar bunganya?"
"Maksudnya Tuan?"
"Kami kan lempar dari sini jadi tidak mungkin sampai ke sana. Oleh karena itu saat kami melempar bunga yang terlihat di layar kau juga lempar dari atas pelaminan biar sampai kepada para tamu."
"Apa?"
"Baik Tuan." Akhirnya Deril pasrah.
"Konyol ya ide kalian. Nggak salah ya kalian nyuruh aku? Berarti kalian tidak ingin cepat menikah secara aku kan jomblo." Deril terkekeh sambil berjalan naik ke atas panggung.
Namun sampai di bawah panggung Deril sempat terhenti melihat Nadia sudah ada di atas terlebih dahulu. Tangan gadis itu dipegang oleh teman-teman perempuan Deril.
"Ngapain kalian bawa dia kemari?"
"Ini sudah perintah Reno dia yang akan menemani kamu melempar bunga."
Deril hanya menggeleng. "Ya sudah kalian turun sana."
"Oke bos." Para gadis itu turun panggung sambil cekikikan.
Deril baru tahu dirinya dan Nadia sedang dikerjai oleh teman-temannya. Namun bagi Deril tidak masalah dia justru senang.
Berbanding terbalik dengan Deril yang tampak senang dan tenang, Nadia tampak grogi apalagi saat melihat orang-orang bersorak-sorai.
"Aku turun aja deh." Nadia hendak pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Deril.
"Mau kemana?"
"Turun."
"Nggak boleh, selesaikan mandat dari Tuhan Reno dan Nona Rindu dulu." Reno menggenggam tangan Nadia agar tidak kabur membuat suasana semakin ramai saja.
"Baiklah mana bunganya kita langsung lempar saja."
__ADS_1
"Tunggu sampai terlihat di layar, Tuan Reno dan Nona Rindu melempar bunganya."
Nadia mengangguk dengan wajah yang terus menunduk. Rasa malu terhadap orang-orang menyergap hatinya.
Namun begitu lama berdiri acara lempar bunganya masih belum dimulai.
Deril memberi kode kepada MC agar segera dimulai.
"Sebentar Tuan, Tuan Reno belum siap."
Deril dan Nadia memandang Reno dan Rindu yang tampak terkekeh di layar.
"Hmm, dikerjain kita," gumam Nadia.
"Ayo Tuan Reno, Nona Rindu kami sudah beku di sini," protes Nadia.
Rindu menunjukkan kedua jempolnya. "Kalian juga cocok jadi pengantin."
Nadia tampak melengos, tiba-tiba saja tubuhnya terasa panas.
"Kami sudah siap Pak," ujar Reno.
"Baiklah acara lempar bunga segera dimulai. Satu, dua ,tiga, lempar!"
Reno dan Rindu pun melempar bunga disambut Deril dan Nadia.
Para tamu undangan pun berebut untuk mendapatkan bunga tersebut tetapi akhirnya bunga itu berakhir di Adam.
Adam dan teman-teman yang lain naik ke atas panggung dan menyerahkan bunga tersebut kembali kepada Deril dan Nadia.
"Semoga samawa ya dan bunganya buat kalian saja."
"Ya benar-benar di kerjain!" seru Nadia dan langsung turun dari atas panggung.
Deril mengambil bunga tersebut dan ikut turun lalu mengejar Nadia.
"Malu-maluin tahu nggak sih teman-teman kamu Tuan. Rindu sama Reno juga keterlaluan." Nadia terlihat cemberut dan merasa kecewa.
"Maafkan mereka semua. Mungkin mereka keterlaluan, tetapi jujur aku suka."
"Suka?" tanya Nadia bingung bukannya ikut kesal malah mengatakan suka.
"Iya, karena ...."
"Karena apa?"
"Karena ... I Love you," ucap Deril sambil mengulurkan bunga di tangannya.
Untuk sementara Nadia terlihat membeku.
"Gimana terima nggak?"
Dengan malu-malu Nadia mengangguk.
"Ye, kita berhasil." Sorak-sorai temen Deril semakin menjadi dan ternyata adegan Deril tersebut tersorot kamera hingga nampak di layar.
"Ah aku jadi malu," ujar Nadia sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏 Mampir juga yuk ke karya Santi Suki, dijamin seru. Capcus...👇
__ADS_1