
"Itu benar. Kamu tahu sendiri kan aku hanya tinggal berdua dengan nenek dan beliau sekarang datang untuk meminta maaf sekaligus ingin melamar mu untukku."
"Apa?"
"Iya aku ingin menikahi mu, nenek pun sudah merestui."
"Tidak semudah itu Ren, pernikahan itu bukan mainan. Aku ini seorang wanita, jadi tidak mungkin menyakiti wanita lainnya." Wajah Rindu terlihat sendu.
Di satu sisi dia merasa masih mencintai Reno tetapi di sisi lain dia tidak ingin menjadi penghancur rumah tangga orang lain. Yang dia tahu Reno sudah menikah dan benar kata Nenek Siva kemarin kalau dia adalah wanita baik-baik maka dia harus menjaga harkat dirinya agar tidak dicap sebagai pelakor.
"Maksud kamu apa Rin?" tanya Reno tidak mengerti dengan pernyataan Rindu. Dia lupa kemarin hampir menikahi wanita lain.
Nenek Siva yang mengerti arah pikiran Rindu langsung keluar ruangan. Ia langsung bersimpuh di kaki Rindu membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Maafkan nenek Nak Rindu, maafkan! Nenek telah menuduh dirimu macam-macam. Nenek telah menganggap mu sebagai pelakor. Namun nenek mohon terima lah lamaran kami agar kamu mau menikah dengan Reno."
Rindu berjongkok dan membantu Nenek Siva berdiri. "Bangunlah Nek, Rindu sudah memaafkan Nenek."
"Terima kasih tetapi Nenek ingin mendengar jawabanmu sekarang tentang lamaran kami."
Rindu terlihat ragu-ragu, menatap wajah Reno kemudian menatap wajah Nenek Siva. "Kalau soal itu Nek, maafkan Rindu. Rindu tidak bisa." Rindu langsung berlari menjauh menuju bangunan dimana kamarnya berada.
"Tunggu Rin! Tunggu!" Reno mengejar Rindu lalu menahan gadis itu dengan meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Ada apa lagi? Semuanya sudah jelas bukan?" Rindu terus saja melangkah ke depan meski tangannya masih dalam pegangan tangan Reno membuat tubuh pria itu sedikit terseret.
"Apanya yang jelas? Kau menolak ku tanpa alasan," protes Reno sambil terus mengikuti langkah Rindu.
Rindu berhenti mendadak dan menoleh membuat Reno yang kaget hampir saja tubuhnya menabrak tubuh Rindu.
"Alasannya sudah jelas. Kau sudah menikah, kau sudah punya istri. Enak saja, aku nggak mau dimadu. Madu bagimu manis, enak, gurih tapi bagiku bagai racun," cerocos Rindu membuat Reno malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ..., kamu ngomong apa sih?"
Rindu terlihat cemberut. "Malah ketawa lagi. Dah lah aku mau pergi." Ia berlalu dengan kesal sedang Reno masih saja terpingkal-pingkal.
"Eh Rindu tunggu!" Hampir saja Rindu menutup pintu rumah kosannya.
"Aku sama Rizka belum menikah!" teriak Reno membuat Rindu langsung termangu di pintu. Tangannya yang hampir menutup pintu berhenti seketika.
__ADS_1
Reno berlari mendekat. "Kalau tidak percaya tanya nenek langsung."
Rindu masih saja diam, antara percaya dan tidak percaya dia menatap Reno. Pria itu hanya tersenyum melihat Rindu menatapnya seperti itu.
"Kenapa, baru sadar ya kalau aku tampan?" godanya.
"Ish." Rindu memukul dada Reno. "Kamu serius?" Matanya terlihat berbinar kembali.
Reno mengangguk dan meraih tubuh Rindu dalam pelukannya "Kapan aku pernah bohong sama kamu?" Tangannya terurai membelai rambut Rindu dan menyelipkan anak rambut di telinga Rindu.
"Kali aja bohongin aku," ujar Rindu dengan suara manja.
"Berarti deal ya kalian harus menikah secepatnya," ujar Nenek Siva yang berjalan mendekat.
"Ah Nenek, kasih waktu lah dia. Kasihan mungkin belum siap," ucap Reno padahal dirinya berharap bisa menikahi Rindu secepatnya.
"Kalau mau ditunda lagi ya kalian tidak boleh bertemu dulu sampai menikah."
"Ah nenek tega amat sih, mau misahin Reno sama Rindu lagi." Reno merajuk.
"Bukan begitu Ren tapi kalau kalian setiap kali bertemu posisinya seperti itu bukan tidak mungkin nantinya nikahnya married by accident kata anak-anak zaman sekarang." Nenek Siva tampak terkekeh.
"Abisnya sudah sangat kangen," bisik Reno di telinga Rindu kemudian ikut terkekeh.
"Nenek sok tahu ah dengan istilah anak zaman sekarang," protes Reno.
"Bagaimana Nak Rindu, terima lamaran kami?" tanya Nenek Siva untuk memastikan. Dia tidak menggubris ucapan Reno.
"Kalau soal itu saya harus membicarakan terlebih dahulu pada bibi dan paman di kampung Nek."
"Baiklah kamu sampaikan dulu pada mereka. Kami akan menunggu kabar baiknya."
"Iya Nek kalau begitu nanti Rindu langsung telepon mereka."
"Baiklah, lebih cepat lebih bagus. Kalau begitu kami pergi dulu. Besok kami kembali lagi."
"Baiklah Nek."
Nenek Siva hanya mengangguk dan berlalu pergi. Beberapa saat kemudian dia berbalik.
__ADS_1
"Ren pulang!"perintahnya pada Reno yang tidak bergeming di tempatnya.
Rindu mendorong tubuh Reno ke arah Nenek Siva.
"Tidak mau, aku maunya nginap di sini," ujar Reno sambil nyengir kuda menunjukkan deretan giginya yang putih rapi.
"Pulang!" Nenek Siva menjewer telinga Reno dan menyeretnya, membuat Rindu tertawa renyah.
Drt ... drt ... drt.
Terdengar ponsel Reno bergetar.
"Sebentar Nek."
Nenek Siva melepaskan tangannya di telinga Reno membiarkan pria itu agar leluasa menerima panggilan telepon.
"Ada apa Ren?" tanya Nenek Siva melihat ekspresi lain di wajah Reno.
"Fino melarikan diri dari mobil polisi Nek dan sekarang dia dilarikan ke rumah sakit karena tertabrak mobil."
"Apa? Kamu tidak salah informasi kan Ren?"
"Tidak Nek, ini polisi langsung yang menelpon Reno. Sebaiknya kita sekarang langsung ke rumah sakit."
"Baiklah ayo cepat Ren!"
"Rin saya dan nenek pergi dulu ya."
"Aku ikut Ren."
"Baiklah kalau begitu ayo."
Rindu pun mengangguk dan mengikuti langkah Reno ke dalam mobil.
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Jangan lupa mampir ke karya temanku juga yuk, dijamin ceritanya seru abis👍 Nih dia novelnya.
__ADS_1