
Sepulang sekolah, seperti biasa Rindu di antar oleh Mark.
"Mark bagaimana dengan ponsel tadi?" tanya Rindu saat mereka berada dalam mobil dalam perjalanan pulang.
"Sepertinya baterai ponsel tersebut minta diganti," ujar Mark.
"Kalau begitu kita berhenti saja dulu di konter depan sana," ujar Rindu.
"Baik Nona." Mark pun menepikan mobilnya saat melihat konter di pinggir jalan.
Mereka pun meminta petugas konter membenarkan handphone tersebut.
"Wah ini parah Mas, Mbak. lcd-nya rusak harus di ganti baterai juga."
"Tidak apa-apa Mas diganti saja," sahut Rindu.
"Tapi apa tidak sebaiknya membeli ponsel baru saja?"
"Maksudnya Mas?" tanya Rindu tidak paham.
"Harga lcd dan baterai cukup mahal dan umur ponsel belum tentu bertahan lama jadi daripada memperbaiki ponsel ini alangkah lebih baik kalau membeli yang baru."
"Tidak apa-apa Mas, kami butuh ponsel tersebut karena di sana ada data-data penting. Apa kalau lcd diganti data-data yang ada dalam ponsel akan hilang?" tanya Rindu.
"Tidak Mbak data-data aman karena telah tersimpan di perangkat penyimpan data (Cloud Server)."
"Kalau begitu perbaiki saja Mas tidak apa-apa saya akan bayar berapapun asalkan ponsel tersebut bisa menyala kembali," ujar Mark.
"Baik Mas." Petugas konter pun mulai merombak ponsel dan memperbaikinya.
Sambil menunggu perbaikan ponsel Rindu dan Mark duduk di kursi sambil berbincang-bincang.
"Mark kira-kira Reno sudah sampai belum?"
"Sepertinya sudah Nona."
"Dia sudah menelponmu Mark?"
"Tidak Nona, apa dia tidak menelpon Nona?"
"Aku tidak tahu Mark sebab ponselku ada di rumah."
"Oh iya-iya saya lupa kalau ke sekolah tidak boleh membawa ponsel."
Rindu mengangguk. "Teleponin dong Tuan Mark!" pinta Rindu.
"Baiklah." Mark pun menurut, dia langsung menghubungi nomor Reno. Setelah panggilan tersambung Mark mengulurkan ponselnya ke tangan Rindu.
"Ini Nona, Tuan Reno."
"Oh oke." Rindu pun meraih ponsel tersebut lalu menjauh dari tempat duduk Mark.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian ia kembali ke samping Mark dengan muka sedihnya.
"Apa ada sesuatu yang tidak baik yang terjadi dengan Tuan Reno Nona?" tanya Mark melihat muka murung Rindu.
"Tidak Mark tapi neneknya Reno sakitnya semakin parah. Reno sekarang ada di rumah sakit menjaga neneknya yang opname."
"Oh saya turut berduka cita Nona tetapi apakah Nona mau saya antar ke sana?"
"Pengennya sih begitu Tuan Mark tetapi kita selesaikan kasus ini dulu."
"Kasus apa sih Nona? Mengapa Nona terlalu yakin bahwa dalam ponsel tersebut ada sesuatunya," ujar Mark.
"Saya tidak tahu Tuan Mark tetapi entah mengapa aku yakin di dalam sana ada bukti. Untuk apa bayangan itu menuntun aku ke arah ponsel tersebut kalau tidak ada yang penting di dalam sana. Kau tahu Mark di ruang laboratorium sana pernah ada salah satu temanku yang tiba-tiba ditemukan tergeletak tidak bernyawa dan polisi menyimpulkan ia mati terbunuh tetapi sayangnya sampai saat ini belum terungkap siapa yang melakukan aksi kejahatan itu," terang Rindu.
"Oh begitu ya Nona? Apa jangan-jangan bayangan yang Nona lihat tadi adalah roh teman Nona tersebut yang ingin menunjukkan bukti."
"Bisa saja Tuan Mark. Aku memang berpikirnya ke arah sana."
"Ini Mas, Mbak sudah selesai. Bisa dicek dulu barang kali ada data-data yang hilang."
"Wah terima kasih Mas, gercep banget deh Mas nya. Aku suka datang ke konter ini."
"Kalau begitu kalau beli kuota sama pulsa jangan di tempat lain ya Mbak, di sini saja," kelakar petugas konter.
"Siap Mas, berapa semuanya?"
Petugas itu pun menyebutkan biaya servis dan alat-alat ponsel Rindu.
"Di minimarket sana Mbak ada mesin ATM nya," tunjuk petugas konter.
"Kalau begitu saya ke sana dulu," ujar Rindu sambil mengeluarkan kartu tersebut dari dalam dompetnya dan hendak keluar dari gedung konter. Namun segera dicegah oleh Mark.
"Tidak usah Nona biar saya yang bayar," ujar Mark.
"Serius Tuan Mark? Gratiskah?"
"Serius Nona, nanti aku minta ganti sama Tuan Muda Reno," ucap Mark dengan tampang seriusnya.
"Ya ... Tuan Mark. Kalau begitu nanti aku ganti saja. Jangan merepotkan Reno," ujar Rindu kemudian.
"Siap Nona," ujar Mark terkekeh.
"Coba aku cek ponselnya dulu."
"Hah ternyata benar," ujar Rindu kaget.
"Apanya yang benar Nona?" tanya Mark tidak mengerti.
"Ini lihat Tuan Mark. Ini benar ponsel Fian. Ini ada foto dilayar ponselnya."
"Coba lihat!" Mark meraih ponsel tersebut dari tangan Rindu.
__ADS_1
"Aneh," ujar Mark lagi.
"Apanya yang aneh Tuan Mark?"
"Coba lihat di bawah fotonya tertulis:
'Apa yang kamu lakukan jika melihat kawanmu sendiri melakukan kejahatan di depan matamu sendiri?
Rindu segera merampas ponsel tersebut dari tangan Mark karena saking penasarannya. Matanya terbelalak saat melihat ternyata apa yang diucapkan oleh Mark adalah benar.
Rindu lalu menscrol ponsel Fian tersebut mulai dari galeri yang berisi foto-foto sampai ke video.
Saat melihat koleksi foto tampak biasa-biasa saja. Beberapa foto Fian yang berselvi ria dengan para sahabatnya.
Ada juga beberapa foto Fian yang hanya berdua bersama Eliza. Tidak ada yang aneh. Foto-fotonya wajar saja. Hanya saja Rindu merasa aneh ternyata Fian juga mengoleksi foto dirinya yang masih berwajah jelek.
Namun saat sampai ke video Rindu terlonjak kaget melihat video yang di simpan oleh Fian.
Beberapa foto pembunuhan terekam dalam kameranya dengan judul 'Dilema' dan beberapa yang lain diberi judul 'Mau melapor diancam mati.'
Karena penasaran Rindu memaksa dirinya untuk menonton video tersebut sampai selesai meski dirinya tampak meringis dan takut.
Rindu terbelalak melihat siapa yang melakukan aksi pembunuhan tersebut. Karena tidak percaya dia melihat video yang lainnya. Hasilnya sama, pelakunya dari semua pembunuhan itu adalah Rangga.
"Rangga?" Wajah Rindu tampak pucat.
"Kenapa Nona?" tanya Mark penasaran melihat perubahan raut wajah Rindu.
"Kamu lihat sendiri Mark!" Rindu menyodorkan ponsel tersebut ke tangan Mark.
"Gila ini kan pria itu Nona?"
"Iya Mark aku curiga dia juga yang membunuh Fian."
"Wah bahasa nih bocah. Masih muda sudah sadis."
"Kita harus melapor ke polisi secepatnya Mark kalau tidak saya takut ada korban selanjutnya," ujar Rindu gemetar karena takut.
"Tenang Nona, jangan terlalu panik."
"Aku takut Mark. Aku takut Rangga mencelakai Reno. Aku yakin yang semalam melakukan penculikan terhadap Reno adalah dia. Bukannya kau lihat sendiri tadi buktinya bahwa di tubuh dia ada bekas pukulanmu."
"Nona benar, kalau begitu sekarang kita langsung ke kantor polisi."
"Ayo Mark kita harus secepatnya melapor." Mereka berdua berjalan masuk ke dalam mobil sedang petugas konter yang mendengar sekilas pembicaraan mereka menjadi kaget.
"Pembunuhan? Kantor polisi? Pantas saja mereka ngotot ingin memperbaiki ponsel tersebut dibandingkan beli yang baru. Ternyata ponsel tersebut menyimpan bukti-bukti."
Bersambung....
Jangan lupa like dan komentarnya! Terima kasih 🙏
__ADS_1