Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 35. Terkuak


__ADS_3

"Baik Tuan, mari kita bergegas pergi."


Mereka berdua pun langsung bergegas ke luar rumah. Setelah masuk ke dalam mobil, Deril langsung melajukan mobil tersebut ke rumah Mahardika yang merupakan anak tiri dari nenek Salma.


"Cepat Der, kok kamu melajukan mobilnya seperti keong sih, lambat amat," protes Reno.


"Tapi bukankah Tuan tidak suka berkendara cepat ya." Deril lupa sejak kejadian penculikan oleh Rangga dulu Reno sudah tidak takut berkendara dengan kecepatan yang relatif tinggi.


"Itu dulu sekarang tidak lagi. Aku lelah kau anggap bos lelet."


"Sorry Tuan, itu kan dulu lagi pula saya hanya bercanda."


"Tidak usah dipikirkan Der, sekarang percepat laju mobilnya! Aku tidak sabar ingin tahu apa alasan Fino mengompori nenek untuk membenci Rindu."


"Sesuai permintaan." Deril menambah kecepatan mobilnya. Mobil berjalan mulus di jalanan hingga sampai pada rumah yang juga terlihat besar. Jika dibandingkan dengan rumah yang ditempati Reno, rumah ini besarnya tiga perempat.


"Pak, Finonya ada?" tanya Reno sambil turun dari mobil sedang Deril masih belum turun.


"Eh Den Reno, ada Den. Tadi saya lihat dia mengobrol santai di taman belakang bersama Tuan Mahardika."


"Oke kalau begitu saya langsung ke sana saja," ujar Reno.


"Baiklah saya antar Den."


Reno hanya mengangguk. Satpam tersebut mendahului langkah Reno karena ingin memberitahukan pada majikannya bahwa ada tamu.


"Pokoknya papi tidak mau tahu kamu harus berhasil membujuk nenek Salma mu agar mendesak Reno untuk menikahi Riska."


Reno menahan pak satpam untuk tidak memberitahukan tentang keberadaannya.


Reno lalu meminta satpam itu kembali ke pos penjagaan lagi dan pak satpam hanya mengangguk. Saat pak satpam berbalik, Deril datang.


"Der."

__ADS_1


Tanpa melanjutkan perkataanya Deril sudah terlihat mengangguk. Dia sangat paham apa yang diinginkan atasannya.


Deril langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian beraksi.


"Sudah Pi, tetapi kata nenek Salma Reno tetap ngotot tidak mau menikahi Riska. Bahkan Reno mengancam akan pergi dan tinggal di luar negeri untuk selamanya."


"Bagus dong kalau begitu."


"Bagus apanya Pi? Berarti Rizka tidak akan pernah menikah dengan Reno."


"Bodoh tujuan kita kan hanya menguasai perusahaan Reno. Kalau dengan mudahnya Reno meninggalkan semua fasilitas dan perusahaan yang dipegangnya jadi rencana untuk memaksa dia menikahi Riska tidak berguna lagi. Kamu tahu nenek Salma kan sudah tua dan tidak pernah ada pengalaman dalam memegang perusahaan. Jadi kalau Reno dan Deril pergi perusahaan akan jatuh ke tangan kita," jelas Mahardika panjang lebar.


"Paman," gumam Reno sambil menggelengkan kepala, tak percaya paman yang dipercayainya selama ini ternyata punya rencana untuk mengambil alih kepemilikan perusahaan.


"Papi benar untuk apa kita susah-susah memaksa Reno menikahi Rizka dan menjebak Reno agar seolah tidur bersama Rizka kalau akhirnya cucu papi yang ada dalam perut Rizka jugalah yang akan memiliki perusahaan itu. Hahaha...." Fino tertawa keras.


"Kurang ajar dia Der. Jadi itu alasannya kenapa aku dipaksa untuk menikahi Riska. Karena wanita itu hamil anaknya dan ingin melimpahkan tanggung jawab padaku."


"Bukan hanya sekedar tanggung jawab Tuan tapi dia ingin putranya mendapat perusahaan karena Tuan akan menganggapnya putra Tuan sendiri."


"Kamu tahu Fin sebenarnya kalau tidak karena si Dipta itu mungkin perusahaan sudah ada dalam genggamanku dan jabatan kamu tidak akan hanya sebagai kepala bagian produksi."


"Dipta bukannya ayahnya Deril ya Pi?"


"Iya benar. Dia yang mengambil alih perusahaan saat kedua orang tua Reno tewas waktu itu padahal papi yang sudah bekerja keras membuat mobil Ragil blong hingga akhirnya mobil Ragil hilang kendali dan menabrak apa saja yang ada di hadapannya. Eh nggak tahunya tuh orang yang memetik hasil perjuanganku."


Mendengar pembicaran Mahardika dengan Fino putranya, Reno naik darah. Wajahnya memerah karena dikuasai amarah.


"Brengsek ku bunuh kau paman." Reno beranjak dari tempatnya berdiri dan hendak memukul Mahardhika tetapi ditahan oleh Deril.


"Tuntaskan dulu Tuan, barangkali ada rahasia yang belum terungkap."


Akhirnya Reno mencoba menahan diri.

__ADS_1


"Kenapa bisa Pi, seharusnya papi yang paling berhak atas perusahaan itu dibandingkan Paman Dipta?"


"Itulah kelicikan dia. Dia menghasut semua pemilik saham di perusahaan itu untuk menolak saya dan mencalonkan dirinya."


"Itu tidak benar Tuan. Aku percaya ayahku tidak seperti itu."


"Tenang Der, dengarkan dulu!" Kali ini Reno yang menenangkan Deril.


"Sepertinya sebentar lagi semua rahasia terkuak."


Deril hanya mengangguk.


"Terus papi diam saja?"


"Tentu saja tidak, papi tidak mau rugi begitu saja. Ketika nenek Salma dan Dipta menyuruh saya untuk memberikan uang belasungkawa dan permohonan maaf terhadap para korban kecelakaan waktu itu, papi kasih ke mereka seperempatnya saja."


"Mereka tidak menuntut?"


"Ya menuntut lah tapi papi kan punya seribu kelicikan hingga akhirnya mereka menyerah dan tidak menagih lagi dan untuk korban yang namanya Rindu itu memang sengaja papi tidak kasih karena mereka itu orang kampung, pasti tidak tahu apa-apa."


"Jadi benar Der apa yang dikatakan bibi Yani sama paman Dahlan?" Deril dan Reno hanya saling pandang.


"Jahat benar dia Tuan. Lebih baik kita telepon polisi saja."


"Iya Der cepat telepon polisi."


"Mana ponsel Tuan?"


"Loh buat apa?"


"Buat menelpon polisi karena punyaku harus digunakan untuk mengambil rekaman mereka barangkali masih ada rahasia lainnya."


"Baiklah kalau begitu saya yang telepon saja." Reno langsung mengambil ponselnya dan menghubungi polisi.

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2