Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 31. Kesedihan Rindu


__ADS_3

Sedangkan Rindu setelah berlari dari gedung perusahan langsung menyetop bus angkutan kota.


Ia duduk sambil menyeka air matanya. Namun semakin diseka semakin tambah mengucur saja air mata tersebut. Saat-saat pertemuan pertamanya dengan Reno hingga akhirnya mereka memutuskan untuk di ingatannya.


"Mengapa aku tidak bisa membedakan mana sikapmu yang tulus dan mana yang tidak? Apa tujuanmu membantuku untuk membiayai operasi wajahku? Mengapa kau membuatku yakin bahwa semuanya tulus?"


"Nona kau ingin tahu kenapa Reno mau repot-repot membiayai biaya operasi wajahmu?" Tiba-tiba seseorang berkata pada Rindu.


"Kamu siapa? Mengapa tahu bahwa orang yang ku maksud adalah Reno?"


"Tidak penting siapa saya yang penting adalah kenapa Reno selama ini mau membantu dan mau repot-repot melindungimu," ujar pria itu lagi.


"Karena apa?" tanya Rindu penasaran.


"Karena dia merasa bersalah sebab orang tuanya lah yang membuat orang tuamu meninggal."


"Maksud kamu apa?" tanya Rindu tidak mengerti. Bukankah orang tuanya meninggal karena kecelakaan.


"Orang tua Reno yang telah menabrak mobil orang tuamu dan menyebabkan mereka meninggal di tempat."


"Kau tahu orang tuaku? Mungkin kau salah orang."


"Tidak aku tidak salah orang. Orang tuamu bernama Reta dan Hilman kan? Wajahmu menjadi buruk rupa setelah kecelakaan itu juga, bukan?"


Rindu membelalak mendengar perkataan pria yang duduk di depannya yang seakan tahu mengenai hidupnya pun dengan hidup Reno. Lalu tiba-tiba saja pria itu meminta sopir bus untuk berhenti mendadak dan keluar dari bus tersebut.


"Hei tunggu Mas!"


Orang itu tidak menggubris teriakan Rindu. Dia malah berlari menjauh.


"Ah Reno, jadi itu alasanmu mendekati ku. Kau tidak benar-benar tulus mencintaiku. Makanya kau memilih gadis tadi untuk menjadi istrimu. Kalau begitu aku juga harus belajar melupakanmu," tekad Rindu di dalam hati.


"Hai kau yang di kampus tadi ya?" Tiba-tiba seorang pemuda naik dan duduk di sampingnya.


"Ah iya," jawab Rindu.

__ADS_1


"Perkenalkan namaku Fariz." Pemuda itu mengulurkan tangan dan Rindu pun menerimanya. Mereka bersalaman.


"Rindu."


"Wah nama yang bagus. Nama yang melambangkan bahwa orang lain akan merindukan wajahmu bila tidak bertemu."


Rindu memalingkan muka sambil tertawa mendengar gombalan receh orang yang duduk di sampingnya kini.


"Eh kenapa tertawa?"


"Ah nggak, pengen ketawa aja. Lelah nangis mulu."


"Kau mahasiswi baru ya?"


"Iya."


"Sekarang mau kemana?"


"Mau cari kontrakan dulu."


"Oh kalau boleh aku sarankan. Kenapa nggak ngekos di sekitaran kampus? Lumayan kan selain jaraknya dekat dengan kampus, bisa ditempuh dengan berjalan kaki, di sana juga banyak teman-teman sekampus yang ngekos di sana."


"Aman lah apalagi di sana memang kosan khusus buat putri."


"Kalau harga?"


"Nanti aku bantu negosiasi sama pemiliknya. Kebetulan itu punya tanteku."


"Oke kalau begitu."


Hari itu Fariz menemani Rindu untuk menemui pemilik kosan. Setelah deal akhirnya Rindu masuk ke dalam kamar dan Fariz langsung permisi pulang.


Rindu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa lelah secara fisik dan batin membuat tubuhnya bekerja dua kali lipat.


Rindu memejamkan mata berharap ia lekas tertidur agar tenaganya kembali pulih.

__ADS_1


Namun sayang meski matanya terpejam tetapi sebenarnya ia tidak bisa tidur. Hatinya terus saja memikirkan Reno meski ia telah bertekad melupakan pria tersebut.


"Ayolah Rindu kamu pasti bisa melupakannya. Kau tidak pantas untuk mendampingi Reno, jadi biarkan dia bersama orang lain. Apalagi gara-gara keluarganya kau harus kehilangan kedua orang tuamu." Namun semakin berusaha meyakinkan diri untuk melupakan pria itu semakin sesak rasa di dadanya.


"Ah mengapa begitu sulit melupakan dia." Rindu menangis kembali. Rasa sakit saat mengetahui Reno harus bersama wanita lain sekaligus tahu kenyataan bahwa orang tuanya meninggal gara-gara orang tua Reno sangat menusuk ulu hatinya.


Saat-saat seperti itu ia mendapat telepon dari paman dan bibinya di kampung.


"Halo Bik," ucap Rindu dengan suara seraknya.


"Kau menangis Nak?" tanya Yani.


"Tidak Bik, Rindu hanya batuk saja makanya suara Rindu serak begini."


"Kau jangan berbohong. Meski bukan bibi yang melahirkan kamu ke dunia ini tapi hati bibi bisa merasakan bahwa sekarang kamu lagi bersedih."


"Reno Bik." Akhirnya Rindu tidak dapat menahan, tangisnya pecah kembali.


"Kenapa dengan Reno Nak?" tanya Dahlan mengambil alih ponsel yang ada di tangan Yani.


"Apa dia menyakitimu"


"Dia menikah dengan wanita lain paman."


"Apa?" Yani dan Dahlan membelalakkan mendengar penuturan Rindu.


"Lebih parahnya lagi orang tua Reno lah yang membuat ayah sama ibu meninggal," lanjut Rindu masih dengan tangisnya.


"Nak Rin kamu ...."


"Itu benar paman dan dia mendekati saya hanya untuk ... ah sudahlah Paman kalau Reno ke sana tolong jangan beritahu dimana keberadaan ku, juga nomor teleponku. Mulai hari ini Rindu tidak ingin lagi berurusan dengan orang itu."


"Baiklah kalau itu keinginanmu kami akan menyembunyikan di mana keberadaan mu dari pria itu," ujar Dahlan disertai anggukan dari Yani.


"Makasih paman."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2