Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 32. Kedatangan Nenek Siva.


__ADS_3

"Baiklah kalau itu keinginanmu kami akan menyembunyikan di mana keberadaan mu dari pria itu," ujar Dahlan disertai anggukan dari Yani.


"Makasih paman."


"Iya Nak, hati-hati selalu ya."


"Baik paman. Sudah dulu ya Rindu mau istirahat."


"Baik istirahatlah."


Telepon pun ditutup.


Rindu langsung membaringkan tubuhnya kembali di atas ranjang. Baru saja hendak memejamkan mata terdengar pintu kamar diketuk.


"Siapa sih, baru aja mau istirahat," keluh Rindu.


"Sebentar!" Rindu turun dari ranjang lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. " Eh Bu Sari, ada apa Bu?"


Bu Sari adalah pemilik kosan tempat Rindu tinggal sekarang.


"Maaf mengganggu tapi ada tamu yang mau bertemu denganmu."


Rindu tampak mengernyit. "Siapa ya Bu?"


Bu Sari tampak mengangkat bahu. "Tidak tahu, tapi kalau menilik dari penampilannya sepertinya dia orang kaya. Ayo dia menunggumu di ruang tamu!"


"Baiklah Bu." Rindu mengikuti langkah Bu Sari ke arah ruang tamu.


"Itu dia, silahkan mengobrol. Saya buatkan minuman dulu." Bu Sari pergi meninggalkan Rindu yang tampak terbengong di pintu.


"Kira-kira siapa dia ya?" Rindu berjalan pelan ke arah wanita yang tampak duduk membelakanginya sambil menebak-nebak. Dia merasa tidak pernah ada sanak famili di kota.


"Maaf apa benar nenek mau bertemu saya?" Rindu tidak dapat menahan rasa penasarannya saat melihat ternyata yang dikatakan tamu untuknya oleh Bu Sari adalah seorang perempuan tua yang sama sekali tidak ia kenal.


Melihat Rindu sudah duduk di sofa di depan ia duduk, nenek Siva bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Saya minta kamu jauhi Reno."


"Oh jadi dia neneknya Reno," batin Rindu.


"Dasar perempuan kampung. Kau mau memanfaatkan cucu saya ya. Dasar parasit, tahunya nebeng doang. Kalau jelek ya jelek saja, terima nasibmu. Tidak usah menghayal jadi orang cantik kalau tidak punya biaya untuk operasi plastik. Orang miskin saja sok-sokan."


Rindu hanya terdiam sambil mengelus dadanya sendiri mendengar ocehan perempuan tua yang sebenarnya sudah bau tanah itu.


"Kenapa diam? Benar apa yang saya katakan?"


"Maaf Nek kalau untuk biaya operasi wajah saya, Reno sendiri yang berinisiatif untuk membiayai, saya tidak pernah meminta atau bahkan memaksanya. Kalau keluarga nenek tidak ikhlas saya akan mengembalikannya."


"Wah hebat, orang miskin berlagak kaya. Prok-prok-prok." Nenek Siva bertepuk tangan.


"Kembalikan kalau kau mampu." Nenek Siva menantang Rindu.


"Nenek jangan khawatir. Besok saya akan menelpon bibi dan paman untuk menyiapkan uangnya."


"Bagus kalau begitu. Satu lagi, jangan pernah dekati ataupun berani merayu Reno lagi karena dia sudah punya seorang istri atau kalau tidak siap-siaplah dicap sebagai pelakor."


"Nenek tenang saja tanpa diminta pun aku tidak akan menemui Reno lagi."


"Ya saya cukup tahu diri dan asal nenek tahu saja saya tidak suka bersama keluarga orang-orang yang telah membuat kedua orang tuaku meninggal tanpa ada simpati sedikitpun."


"Apa maksudmu? Jangan sembarangan menuduh keluargaku. Keluargaku bukanlah pembunuh. Kau bisa ku tuntut dengan pasal pencemaran nama baik kalau kau begini."


"Silahkan Nek, dan nenek cari tahu saja siapa korban yang telah mereka buat menjadi buruk rupa. Nenek tahu uang yang Reno berikan untuk biaya operasi wajah saya tidak cukup menggantikan rasa sakit hatiku karena kehilangan kedua orang tua."


Gleb.


"Siapa gadis ini yang sebenarnya?" tanya Nenek Siva di dalam hati. Tanpa bicara lagi akhirnya nenek Siva langsung meninggalkan tempat.


"Kemana tamunya neng?" tanya Bu Sari sambil membawa dua gelas minuman di atasnya.


"Sudah pergi Bu."

__ADS_1


"Ya mubasir dong ibu bikin minuman ini."


"Biar Rindu yang minum saja Bu." Rindu langsung mengambil gelas tersebut dan meneguknya. Habis satu gelas dia ambil gelas yang satunya.


"Kamu haus atau apa sih?"


"Hausnya double Bu, habis marah-marah."


Bu Sari hanya menggeleng sambil berkata dalam hati. "Pantesan tamunya keburu pulang."


Rindu kembali ke kamar dan langsung menelpon bibinya di kampung untuk menyiapkan uang yang akan dikembalikan kepada Reno.


Esok hari Reno benar-benar mengajak Deril untuk ke kampung menemui Rindu karena sudah tidak sabar bertemu dengan gadis tersebut di kota. Reno yakin Rindu pasti kembali ke kampung halamannya.


"Tolong Bik katakan dimana Rindu berada!" mohon Reno pada Yani.


"Maaf Nak Reno bibi tidak tahu," jawa Yani. Sebenarnya dia tidak tega berbohong pada Reno tetapi kalau dia jujur tidak akan merubah keadaan bahwa Reno sudah menjadi suami orang. Jadi tidak baik kalau Reno masih saja dekat dengan Rindu, bisa-bisa keponakannya itu akan dicap sebagai pelakor seperti halnya yang nenek Siva katakan.


"Mau apa kamu ke sini? Apa mau menagih hutang-hutang Rindu?" tanya Dahlan dengan wajah yang nampak memerah.


"Maksud paman apa? Hutang apa? Aku ke sini hanya mencari Rindu tidak lebih."


"Sudahlah Ren tidak usah berkelit. Kalau kamu mau nagih ya tagih sendiri saja, tidak usah menyuruh nenekmu segala. Apalagi sampai mengata-ngatai Rindu. Begitu-begitu dia juga punya keluarga," ujar Dahlan masih dalam keadaan emosi.


"Nenek? Mengata-ngatai Rindu?"


"Tidak usah pura-pura tidak tahu," ujar Dahlan lagi.


"Bang," protes Yani.


"Der, berarti nenek tahu dimana Rindu sekarang."


"Iya Tuan sepertinya kita harus memaksanya untuk memberitahukan keberadaan Rindu."


"Kamu benar Der, kita kembali ke kota sekarang."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2