Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 34. Curiga


__ADS_3

Reno hanya menarik nafas panjang. "Baiklah Der, kita pergi," ajaknya pada Deril dengan hati yang pasrah.


"Oke Tuan."


Deril pun beranjak pergi dari tempat mereka berada.


"Der tunggu!"


Deril menoleh. "Ada apa Tuan?"


"Tolong pesankan aku tiket ke Amerika sekarang!"


"Sekarang Tuan?" tanya Deril heran.


Reno hanya mengangguk.


"Bukankah kita harus mencari Rindu terlebih dahulu sebelum berangkat?"


"Tidak usah, biar aku s PPuruh orang nanti buat mencari Rindu sekaligus membawanya kepadaku nanti di Amerika." Reno berkata itu sambil melirik sang nenek yang masih tampak cuek.


"Baik Tuan." Sesuai perintah Deril langsung menelpon seseorang dan meminta suruhannya tersebut supaya mengurus dua paspor untuknya dan juga Reno.


"Bagaimana?"


"Sudah Tuan. Mereka bilang jadwal penerbangan ke Amerika dua jam lagi dan aku meminta Rendra untuk mengambil jadwal itu agar tidak terlalu lama menunggu."


"Bagus, kita memang harus segera pergi dari sini. Sekarang bantu aku berkemas dan setelah ini kita ke apartemenmu untuk mengemas barang-barangmu."


"Oke siap."


Mereka langsung pergi menuju kamar Reno dan langsung beres-beres.

__ADS_1


Nenek Siva yang mengikuti langkah keduanya mulai ketar-ketir melihat Reno dan Deril benar-benar mengepak pakaian Reno dan barang-barang yang mereka butuhkan.


"Bagaimana ini? Sepertinya mereka benar-benar serius." Nenek Siva memandang nanar ke arah cucunya. Wajah putranya berputar di ingatannya.


"Ma tolong jagain Reno saat aku tidak ada di sisinya." Ragil mengatakan itu pada nenek Siva saat Reno baru lahir. Saat itu Ragil terbiasa ke luar negeri meninggalkan sang istri yang hanya berdua dengan nenek Siva.


"Pasti. Mama janji akan menjadi nenek yang siaga."


Air mata tampak Meluruh di pipi nenek Siva.


"Nenek jangan menangis. Ini kan sudah pilihan Nenek." Reno yang melihat nenek Siva termenung di depan pintu langsung beranjak ke arahnya dan mengusap air mata di wajah keriputnya.


"Nenek tidak apa-apa." Nenek Siva langsung pergi dari depan kamar Reno.


Apapun yang terjadi dia tidak akan pernah merestui cucunya tersebut untuk bersanding dengan Rindu. Gadis kampung yang katanya mau masuk ke dalam keluarganya hanya untuk balas dendam dan menghancurkan keluarganya itu.


Awalnya nenek Siva tidak begitu percaya dengan informasi tersebut tetapi setelah tahu bahwa memang benar Rindu adalah anak dari korban kecelakaan maka keyakinannya semakin kuat.


"Ya sudahlah kalau begitu." Sepertinya Reno hanya bisa pasrah. Ia kembali ke samping Deril.


"Tuan, ini laptopnya yang mana yang harus dibawa?"


"Sebentar Der." Reno menahan untuk menjawab pertanyaan Deril saat melihat ekspresi nenek Siva yang mencurigakan saat menerima telepon dari seseorang.


Reno langsung berjalan mengendap-endap hingga ia berdiri tepat di belakang nenek Siva.


📱"Sudah Fin, aku sudah meminta gadis itu untuk menjauhi Reno. Jadi kamu tenang saja. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka bersatu."


"Fin? Fin siapa yang dimaksud nenek?" tanya Reno dalam hati.


📱"Bagus Nek, gadis itu tidak boleh masuk ke dalam keluarga kita kalau tidak mau berabe urusannya."

__ADS_1


📱"Tapi Fin, Reno sekarang malah mau pergi."


📱"Pergi kemana Nek?"


📱"Keluar negeri. Katanya dia mau tinggal di sana selamanya. Semua berkas-berkas perusahaan dia limpahkan pada nenek."


"Wah bagus dong kalau begitu," batin Fino.


📱"Nenek tidak perlu khawatir, dia pasti hanya mengancam nenek saja. Fino yakin dia tidak akan tega meninggalkan nenek sendirian dan pergi keluar negeri. Dia hanya berpura-pura saja agar nenek terpaksa merestui hubungannya dengan gadis itu."


📱"Ya nenek berharap semoga yang kau ucapkan itu benar Fino. Kalau tidak nenek takut benar-benar kehilangan Reno."


"Fino?" Reno lalu bergegas kembali ke dalam kamarnya sendiri sedang nenek Siva masih terlihat serius mengobrol.


"Der ikut aku!"


"Ini belum kelar Tuan, belum aku masukkan semuanya."


"Tinggalkan! Ada yang lebih penting daripada hanya sekadar berkemas."


"Baik Tuan." Meski tidak mengerti Deril tetap menurut.


"Kita harus pergi ke rumah paman Mahendra. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Fino."


Barulah Deril mengerti apa yang diinginkan atasannya itu.


"Baik Tuan, mari kita bergegas pergi."


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏

__ADS_1


__ADS_2