Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 40. Usul Deril


__ADS_3

"Bereskan dia!" perintah Reno sambil membawa Rindu berlari ke luar hotel.


Deril memerintahkan anak buahnya untuk mengurus wanita tersebut sekaligus menelpon pihak rumah sakit agar segera bersiap-siap sedang dirinya langsung menyusul Reno ke luar hotel.


"Akkh sakit." Rindu mengerang kesakitan saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Kau harus bertahan Rin. Kau janji ya untuk tidak meninggalkan aku," ucap Reno dengan air mata yang berderai bahkan menetes di pipi Rindu yang kini sedang ada dalam pangkuannya.


Rindu hanya menatap mata Reno dengan mata yang berkaca lalu menutup mata secara perlahan.


"Rindu, bangun Rin! Tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak sanggup berpisah darimu. Hiks hiks hiks." Reno terisak.


"Ini bagaimana Der apa aku harus mencabut pisaunya?" Reno semakin gelisah saat melihat Rindu sudah tak sadarkan diri.


"Jangan Tuan, nanti dia bisa kehilangan banyak darah. Tahan sebentar lagi kita sampai," cegah Deril sambil menyetir mobil dengan kecepatan penuh.


Sampai di rumah sakit Beberapa perawat sudah standby di luar dan langsung membawa Rindu ke ruang IGD.


"Tolong selamatkan dia Dok," ucap Reno saat melepas Rindu masuk ke dalam ruangan.


"Pasti kami akan memberikan pelayanan yang terbaik." Dokter tersebut menepuk pundak Reno sebelum akhirnya menutup pintu.


Di luar Deril tampak sibuk menelpon sedang Reno hanya mondar-mandir seperti setrikaan. Ia begitu gelisah dan benar-benar takut akan kehilangan calon istrinya.


"Tuan tenanglah, duduk di sini!" Deril menepuk tempat duduk di sampingnya.


"Bagaimana aku bisa tenang Der sedang Rindu dalam keadaan seperti itu," protes Reno. "Pokoknya kalau sampai terjadi sesuatu sama Rindu wanita itu tidak boleh hidup lagi."


"Tenang Tuan aku sudah menyuruh anak buah kita untuk membereskan dia. Sebelum tahu keadaan Rindu kita tidak akan dulu menyerahkan dia kepada polisi."


"Bagus dia harus tersiksa dulu sebelum akhirnya jatuh ke tangan polisi."


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terlihat dibuka.


Reno dan Deril segera menghampiri dokter. "Bagaimana keadaannya Dok?"


"Luka pasien tidak terlalu dalam jadi bisa dikatakan lukanya tidak terlalu serius. Sekarang pasien pun sudah sadar."


"Syukurlah." Deril meraup kedua tangannya sedang Reno langsung bersimpuh di lantai, melakukan sujud syukur.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat terlebih dahulu. Jadi untuk beberapa hari saya sarankan agar pasien dirawat di sini dulu sampai benar-benar pulih."

__ADS_1


"Baik Dok."


"Wah Tuan Muda Reno baru saja menikah ya?" tanya dokter tersebut menyadari pakaian Reno dan pasiennya sama-sama memakai baju pengantin.


"Belum Dok, baru saja mau ijab, eh pengantin perempuannya kena tikam."


"Sabar, itu mungkin karena kualat, lupa mengundang teman papamu yang satu ini." Dokter tersebut menggoda Reno sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Maaf Om Dokter Reno lupa."


"Iya nggak apa-apa, aku cuma bergurau. Silahkan ditunggu di ruang perawatan calon istrinya akan kami pindahkan ke sana."


Reno hanya mengangguk dan lebih memilih mengikuti perawat yang mendorong brankar menuju ruang rawat pasien.


"Reno." Rindu menatap Reno yang sedang menggenggam tangannya.


"Iya?"


"Maafkan aku ya."


"Untuk apa?"


"Gara-gara aku acara pernikahan yang kau siapkan dengan banyak perjuangan sia-sia," ucap Rindu merasa bersalah.


"Ren...."


"Sebentar ya saya keluar dulu. Nyonya besar sudah ada di luar. Dia memintaku untuk menjemputnya."


"Iya Der."


Deril mengangguk kemudian keluar dan kembali bersama Nenek Siva juga Yani dan Dahlan. Tangis mereka pecah karena melihat Rindu terbaring di atas brankar Padahal mereka belum tahu keadaan Rindu bagaimana. Yani dan Dahlan ingat peristiwa beberapa tahun lalu saat keponakannya itu melewati masa-masa kritis. Mereka takut hal yang sama terulang dengan hasil yang berbeda. Yani dan Dahlan takut kali ini Rindu tidak akan mampu bertahan.


"Eh Bibi dan paman kok nangis sih? Nenek juga," ujar Rindu membuka matanya yang tadi sempat terpejam.


"Ah kamu, aku pikir kamu masih tidak sadarkan diri," ujar Yani.


"Aku nggak apa-apa Bi," ucap Rindu.


"Syukurlah," ucap ketiga orang yang baru tiba itu.


Akhirnya orang-orang yang ada di ruangan tersebut tampak mengobrol saat tahu keadaan Rindu baik-baik saja. Mereka bertiga sepakat untuk melanjutkan pernikahan keduanya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau pernikahan kalian tetap dilanjutkan?"


"Mana mungkin, Rindu masih tidak diizinkan pulang oleh dokter. Keadaannya harus dipantau takut ada infeksi di lukanya," ucap Reno.


"Tidak masalah kalian bisa menikah di sini," usul paman Dahlan.


"Paman," protes Rindu.


"Bukan apa-apa Rin, mereka kan sudah menyiapkan segalanya untuk pernikahan kalian. Tentunya kamu juga tidak mau kan itu semua jadi sia-sia."


"Iya Paman tapi kalau menikah di sini kan sama aja. Semua fasilitas di sana tidak akan terpakai. Apa Rindu harus kembali ke sana ya untuk sementara nanti kalau acara ijab aku kembali ke sini lagi."


"Tidak usah kau istirahat saja. Aku tidak masalah dengan biaya yang dihabiskan untuk acara itu yang terpenting adalah keselamatan dan kesehatanmu," ujar Reno pada Rindu.


"Bagaimana kalau kalian menikah di sini tapi acara di sana tetap berlanjut," usul Deril.


"Bagaimana bisa Der?" tanya Reno.


"Bisalah saya akan buat seperti Live. Kalian menikah di sini tetapi para tamu undangan tetap bisa melihat acara ijab qabul di sana melalui layar."


"Wah kalau begitu aku setuju dengan usul Deril," ucap Nenek Siva.


"Wah sepertinya menarik," ucap Yani.


"Tapi semua keputusan ya tetap pada kalian berdua," ujar Dahlan.


"Bagaimana Rin?" tanya Reno.


"Tambah biaya lagi dong Ren."


"Nggak apa-apa Rin yang penting nanti kalau kamu sudah dibolehkan pulang langsung bisa kuboyomg ke rumah, biar ada yang rawat."


"Terserah bagaimana baiknya lah Ren."


"Bagaimana? Kalau semua setuju akan langsung ku urus semuanya."


"Oke Der kau urus saja semuanya."


"Oke siap," ujar Deril dan langsung bergegas pergi untuk menyiapkan segala kebutuhannya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak! Selagi menunggu up novel ini mampir yuk ke karya Reni.T, dijamin ceritanya bikin baper. Capcus, langsung kepoin.



__ADS_2