
"Iya Nona saya tahu, tapi kita harus punya bukti dulu. Baru kita jembloskan dia dalam penjara."
"Iya Tuan Mark benar, tetapi bagaimana caranya?"
"Nanti saya pikirkan Nona. Sekarang Nona masuk dulu bel tanda masuk kelas sudah berbunyi."
"Iya Tuan Mark aku permisi dulu."
Mark hanya mengangguk dan menunggu di luar kelas sedang Rindu masuk ke dalam kelas.
"Siapa yang mau mengambilkan buku laporan praktikum kemarin di ruang laboratorium? Ibu lupa tidak membawanya kemari." Guru Biologi meminta salah satu dari muridnya untuk mengambilkan tetapi tidak ada seorang pun yang menawarkan diri.
Semenjak kematian Fian waktu itu anak-anak tidak ada yang berani pergi ke tempat itu dengan alasan takut. Mereka hanya mau datang ke tempat itu kalau beramai-ramai.
"Kenapa tidak ada yang mau membantu ibu?"
"Takut Bu," jawab salah satu orang mewakili yang lainnya.
"Takut kenapa?"
"Takut jadi korban seperti Fian atau bahkan didatangi roh Fian yang penasaran karena sampai saat ini pembunuhnya belum diketemukan juga," timpal yang lain hingga membuat semua penghuni kelas itu jadi merinding.
"Ya nggak ada yang bisa bantu ibu dong? Kalau begitu biar ibu kosongkan saja nilai ujian praktek kalian." Sebenarnya guru Biologi itu sama saja dengan muridnya. Sama-sama takut pergi ke ruang lab seorang diri tetapi dia tidak mungkin mengaku kepada murid-muridnya karena gengsi.
"Ya jangan begitu lah Bu. Masa kerjaan kami sia-sia begitu?"
"Kalau begitu kamu ambil sana!"
"Tidak ah Bu, biar deh saya tidak dapat nilai. Yang penting satu kelas sama semua, sama-sama tidak dapat."
"El kamu yang ambil sana, kamu kan nggak mungkin takut sama Fian kan. Toh dia dulu kekasih kamu," ujar Luna.
"Enak saja yang namanya hantu ya tetep saja takut, nggak perduli hantu mantan kekasih, orang tua, teman ya sama aja tetap menakutkan," tolak Eliza sambil menggerakkan kedua bahunya, merinding.
"Ayo yang mau ibu kasih tambahan nilai 30, lumayan kan?"
Seisi kelas tidak ada yang menjawab.
"Ibu tambahin, nanti ibu traktir bakso di kantin."
Tidak ada yang tertarik. Semua murid tetap diam.
"Ya sudah kalau begitu, deal nilai psikomotorik kalian kosong," ancam guru Biologi lagi.
Sebenarnya guru Biologi itu sudah meminta bantuan guru-guru lain tetapi sepertinya dirinya dikerjai karena ketahuan penakut.
"Mana ada guru Biologi penakut?" goda guru-guru yang lain.
"Aku juga manusia Pak, Buk," kata guru Biologi itu kepada para guru yang meledeknya.
"Biar saya yang ambil Bu." Akhirnya Rindu yang menyanggupi melihat yang lain tidak ada yang berani.
"Bagus kalau begitu, ini kuncinya."
Rindu maju ke depan meraih kunci di tangan guru tersebut lalu melangkah ke luar.
"Hati-hati," ujar guru itu saat Rindu sampai di depan pintu kelas.
__ADS_1
"Iya Bu."
"Oh ya Rin, berkasnya ada di meja yang paling depan."
"Iya Bu."
"Mau kemana Non?" tanya Mark.
"Wah aku lupa ada Tuan Mark. Ikut yuk Tuan!"
"Kemana Nona?"
"Ke laboratorium IPA mau mengambil hasil laporan praktikum yang tertinggal di sana."
"Oh oke mari."
Mark berjalan di belakang Rindu.
"Ini ruangannya Nona?"
"Iya Tuan. Tuan Mark tunggu saja di luar. Rindu takut timbul fitnah kalau kita berdua ada dalam ruangan."
"Baiklah Nona saya tunggu di sini. Kalau ada apa-apa panggil Mark saja."
"Oke siap Tuan."
Rindu masuk ke dalam ruangan sedangkan Mark menunggu di luar.
"Mana sih kok tidak ada?" gumam Rindu seorang diri karena tidak menemukan kertas-kertas tersebut.
"Mana sih? Kata ibu tadi ada di meja sana tapi kok tidak ada?"
Saat masuk ke dalam sebuah ruangan tiba-tiba saja angin di dalam ruangan berhembus kencang. Ada kertas yang jatuh di hadapan Rindu.
Rindu berjongkok dan meraih kertas tersebut. Ia lalu membacanya. "Ah ini dia." Rindu tersenyum sumringah.
"Tapi mana punya kelompok yang lain? Ini cuma laporan punya kelompok 5."
Rindu mencari-cari keberadaan kertas yang lainnya.
"Tunggu kayaknya kertas itu tadi jatuh dari atas lemari sana."
Rindu meraih kursi dan menyeretnya sampai tepat di depan lemari. Setelahnya ia naik ke atas kursi dan mencari-cari keberadaan kertas laporan yang lainnya.
"Nah ini dia. Ibu aneh kenapa Mala meletakkannya di atas lemari. Karena tadi ada di meja. Bikin pencarian lama saja." Rindu menggerutu sendiri.
"Sudah ketemu Nona?" teriak Mark dari luar. Dia nampak khawatir karena Rindu lama padahal katanya mau mengambil berkas laporan praktikum saja.
"Sudah Tuan, ini juga Rindu mau keluar." Rindu tak kalah berteriak.
Rindu turun dari kursi dengan segepok kertas ditangan dan hendak keluar. Namun tiba-tiba sekelebat bayangan seolah menghipnotis dirinya untuk mengikuti arah bayangan itu bergerak.
Rindu pun mengikuti sampai bayangannya itu hilang di samping rak yang berisi peralatan praktikum.
Rindu melihat sebuah ponsel tergeletak begitu saja di samping mangkok praktikum.
"Ponsel siapa ini?"
__ADS_1
Rindu meraih ponsel tersebut dan memeriksanya.
"Ternyata mati." Rindu meletakkan lagi. Namun rasa penasarannya yang begitu tinggi membuat ia meraih kembali.
"Bayangan siapa tadi? Mengapa seolah ingin aku melihat keberadaan ponsel ini?"
Rindu mengelap ponsel tersebut lalu memasukkan ke dalam kantong seragamnya.
"Lebih baik aku minta bantuan Tuan Mark untuk mencari tahu apa isi ponsel ini." Setelah mengatakan ini Rindu baru tersadar dengan keadaan sekitar. Dia merasa ketakutan dan langsung berlari keluar dengan kencang. Peluh dingin mengucur dari tubuhnya.
"Ada apa Nona?" tanya Mark saat menyadari muka Rindu tampak pucat.
"Tuan Mark ada hantu di dalam," ucap Rindu dengan bibir bergetar karena takut.
"Mana ada hantu di siang bolong seperti ini Nona." Mark nampak tidak percaya.
"Ah Tuan Mark. Kamu pikir aku bercanda atau kamu berpikir aku bermimpi apa?"
"Bukan begitu Nona saya hanya ... Nona untuk ponsel siapa?"
"Ini Tuan Mark, aku tidak tahu. Sekelebat bayangan tadi mengarahkan aku ke ponsel ini."
"Benarkah? Coba lihat!"
Rindu memberikan ponsel tersebut ke tangan Mark.
Mark menerima lalu memeriksanya.
"Ponselnya mati Nona?"
Rindu mengangguk. "Tapi saya curiga isinya ada yang penting."
"Kala begitu aku yang simpan. Nanti saya akan coba di rumah untuk menghidupi kembali."
"Iya Tuan Mark. Sekarang Rindu kembali ke kelas dulu."
"Oke ayo."
Mereka pun berjalan beriringan menuju kelas dengan Mark yang masuk menimang-nimang ponsel tersebut.
"Tuan Mark simpanlah jangan sampai ada yang melihat ponsel tersebut sebelum kita melihat isinya."
"Baik Nona."
Seperti biasa Rindu masuk kelas dan Mark menunggu di luar.
"Ini Bu, semua berkas laporannya." Rindu menyodorkan kertas-kertas tersebut ke tangan guru Biologi.
"Wah terima kasih, jangan lupa nanti ibu tunggu di kantin untuk traktiran baksonya."
"Wah Rindu hebat selain cantik dia sekarang juga pemberani," ujar beberapa teman di dalam kelas.
Rindu hanya menanggapinya dengan senyuman meski dalam hati tidak ingin mengakui bahwa dia pemberani. Sebenarnya dia takut sama seperti yang lainnya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
__ADS_1