Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 29. Kecewa


__ADS_3

1,5 Tahun Kemudian.


Rindu berlari-larian sepulang sekolah dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir manisnya sambil memegang kertas ditangan.


"Bik! Bibik!" panggilnya kepada Yani yang sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Bik aku ada kabar gembira nih," teriak Rindu dari serambi rumah.


Mengingat tidak biasa Rindu heboh seperti itu, Yani langsing cuci tangan dan mengeringkan dengan lap kain. Ia kemudian bergegas keluar dari dapur dan menemui Rindu. "Ada apa sih Rin? Berisik banget siang-siang begini emang kamu nggak capek apa teriak-teriak seperti itu? Apa menang undian mobil ya," protes Yani karena melihat rindu yang begitu heboh sepulang sekolah.


"Ini lebih dari dapat mobil Bik."


"Iyakah? Apa kamu dapat rumah? Atau helikopter?"


"Ih Bibik mana ada undian helikopter?"


"Berarti mobil dong?"


"Hem Bibik, ada-ada saja. Bukan undian Bik tapi aku dapat beasiswa di salah satu kampus ternama di kota besar."


"Iyakah? Terus kamu mau ambil?"


"Iyalah Bik eman-eman udah kuliah gratis, tiap bulan aku juga dibayar."


"Ada ya yang seperti itu?" tanya Yani heran.


"Ada asal prestasiku enggak boleh jeblok nantinya."


"Wah bagus itu jadi kamu akan semakin bersemangat untuk mempertahankan nilaimu nanti, syukur-syukur bisa lebih baik."


"Amin, tapi Bik ...," ujar Rindu ragu.


"Tapi apa lagi? Masih khawatir dengan usaha kamu di sini?"


Rindu menggeleng.


"Terus kenapa? Kalau untuk urusan usaha sosis biar paman sama anak-anak yang nge-handle. Kamu fokus saja dengan kuliahmu."


"Bukan begitu, Rindu hanya tidak tega meninggalkan bibi sama paman berdua saja."


"Tidak usah memikirkan kami. Kejar saja cita-citamu. Di sini banyak orang kok, jadi bibi sama paman tidak akan kesepian."


"Bibik yakin?"


"Iyalah yakin. Sekarang kamu mandi dan ganti baju setelahnya kita makan siang bersama."


"Oke siap Bik." Rindu berlari ke kamarnya. Setelah menaruh tas dan mengambil handuk ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membesar diri.


Kini Rindu, Yani dan Dahlan sudah duduk di meja makan, siap untuk menyantap hidangan di meja makan.


Kepiting yang dimasak asam pedas menjadi lauk pilihan Rindu kali ini.


"Hem enak banget, bibik memang pintar memasak. Kenapa tidak buka restoran atau kafe saja," canda Rindu.


"Terus yang mana yang akan bibi kerjakan? Mengurus usaha sosis mu, mengurus toko, dan sekarang disuruh buka restoran pula? Apa bibi tidak boleh istirahat ya," kelakar Yani.

__ADS_1


Rindu hanya nyengir kuda, menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Bik, apa Reno nggak pernah kemari ya saat Rindu di sekolah?"


"Nggak pernah Rin, memang kenapa?"


"Tak terasa sudah setahun dia nggak pernah ke sini Bik. Rasanya Rindu sudah kangen sama tuh orang."


"Kenapa nggak ditelpon dan suruh main ke sini lagi?" tanya Dahlan.


"Nggak bisa Paman," sahut Rindu murung.


"Nggak bisa kenapa? Dia nggak bisa ke sini? Sibuk kali, maklumlah dia kan pengusaha."


"Bukan begitu Paman tapi handphone-nya yang tidak bisa dihubungi."


"Iyakah? Kenapa tidak mencoba menghubungi Deril saja?"


"Percuma paman, ponsel mereka berdua sama-sama tidak bisa dihubungi, haaah." Rindu menghela nafas panjang lalu meletakkan sendok nya di atas piring begitu saja. Selera makannya yang sempat menggebu-gebu tadi hilang sudah.


"Menyesal dulu aku tidak ikut Mark ke rumah Reno. Kalau dulu aku mau pas diajak dia, pasti aku tahu dimana tempat tinggal Reno."


"Mark sekarang dimana? Kamu kan bisa bertanya padanya?"


"Terakhir saat dia pamit padaku, katanya dia sudah berhenti kerja sama Reno dan saat itu ia pamit mau keluar negeri. Namun sayang dia tidak memberitahu ku dia mau ke negara mana dan aku lupa menanyakan alamat Reno pada saat itu. Aku pikir Reno kan pasti ke sini lagi, nggak tahunya ...."


"Bentar, sepertinya dia pernah memberi paman alamat kantor mereka. Dimana ya paman menaruh kartu nama itu?" Dahlan tampak memijit pelipisnya sambil berpikir.


"Oh di laci, di atas sertifikat tanah. Bentar paman ambil dulu." Dahlan pun ikut berhenti makan karena tak tega melihat raut wajah Rindu.


"Kau tahu sepertinya sekarang kartu nama itu lebih berharga daripada sertifikat tanah," sahut Dahlan sambil menunjuk Rindu dengan dagunya. Yani yang mengerti akan kode Dahlan akhirnya memilih diam.


Beberapa saat kemudian Dahlan datang dan mengulurkan kartu tersebut pada Rindu.


"Terima kasih Paman. Paman memang selalu bisa diandalkan," ujar Rindu tersenyum senang.


"Sama-sama. Sebaiknya kamu temui dia nanti setelah kamu sudah ke kota untuk kuliah biar tidak repot dua kali."


"Iya paman rencananya Rindu memang mau menemukan dia saat sudah masuk kuliah."


"Memangnya kapan kamu sudah bisa masuk kuliah?" tanya Yani.


"Sepertinya Minggu depan, tapi masih belum masuk normal sih. Mungkin hanya lihat-lihat kampus dulu sambil mencari informasi tempat kos yang murah tapi nyaman."


"Lebih baik kamu datangi Reno dan minta tolong dia buat carikan tempat kos yang baik untukmu. Dia kan lebih tahu bagaimana kehidupan di kota besar."


"Nanti aku coba Paman."


"Ide bagus, kalau begitu kita lanjutkan makannya," ujar Yani kemudian.


Dahlan dan Rindu mengangguk dan melanjutkan makan yang sempat terhenti tadi.


_______________________________________________________


Hari yang ditunggu pun tiba. Hari ini Rindu sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota. Melihat-lihat keadaan kampus sekaligus mencari kosan yang cocok untuknya.

__ADS_1


Semua pakaian sudah di kepak ke dalam koper. Kini Rindu tampak melenggang di depan kaca untuk memastikan penampilannya sudah rapi dan cantik atau belum.


"Sudah nggak usah terlalu lama ngaca. Mau pakai apapun sekarang ponakan tante pasti cantik."


"Ah Tante bikin Rindu geer saja," ujar Rindu sambil terkekeh.


"Bagaimana sudah siap?" tanya Dahlan yang tiba-tiba masuk ke kamar Rindu menemui istri dan keponakannya.


"Sudah Paman."


"Oke kalau begitu kita berangkat."


Rindu mengangguk lalu mengambil tas dan mengalungkan di leher. Setelah itu ia mengambil lukisan yang dia buat dari kerang untuk diberikan kepada Reno. Selama seminggu ini Rindu sengaja datang ke desa tetangga yang dekat dengan pantai untuk belajar membuat bingkai lukisan dari kerang dan menggambar dua ekor merpati dari kulit kerang di tengah bingkai tersebut dengan menggunakan mesin. Sedangkan Yani membantu membawakan koper ke dalam mobil.


Meski hanya dengan mobil pick up yang biasa mengangkut sosis mereka mengantar Rindu hingga ke Jalan Raya sebelum akhirnya Rindu menaiki Bus menuju kota besar.


"Hati-hati Rin, meski tinggal di kota bibi harap kamu tidak mudah terjerumus pada pergaulan bebas," nasehat Yani.


"Iya Bik terima kasih atas nasehatnya. Sebisa mungkin Rindu akan menjauhi itu semua."


"Hidup di kota itu keras Nak saya harap kamu bisa menjaga diri dan tidak terjebak dalam keadaan apapun yang merugikan dirimu. Pandai-pandailah menjaga diri dan kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan mengabari kami."


"Baik Paman."


Sesampainya di kota, Rindu langsung berkeliling kampus. Setelah puas ia langsung menuju perusahaan Reno.


Rindu baru ingat bahwa hari ini adalah hari minggu setelah turun dari angkutan umum di depan perusahaan Reno. Sebab tadi saat ke kampus, meski hari Minggu kampus masih lumayan ramai.


"Kok malah ramai sih di sini. Apa ada acara perusahaan ya?" Rindu masuk ke dalam menerobos kerumunan orang-orang. Semua orang tidak menggubris Rindu yang main masuk saja karena menganggap gadis itu adalah salah satu tamu undangan.


"Bos kita aneh ya, dari sekian banyak tempat malah memilih perusahaan sebagai tempat acara berlangsungnya pernikahan."


"Iya benar, biasanya yang lain akan memilih hotel, vila, pantai, restoran atau tempat romantis lainnya untuk melangsungkan pernikahan," timpal yang lain.


Deg. Tiba-tiba hati Rindu menjadi was-was. Dalam hati bertanya siapa bos yang mereka maksud. Apakah dia salah masuk perusahaan?


Rasa penasaran membuat Rindu terus melangkah masuk ke dalam. Hingga akhirnya ia berhenti di depan dua mempelai yang sudah duduk di meja ijab.


Rindu mengawasi tubuh pengantin pria. Ia mengernyit apakah itu benar-benar Reno. Namun beberapa saat ketika mempelai pria menghadap ke depan ternyata pria itu adalah.


"Reno!" seru Rindu. Nafasnya seakan berhenti seketika melihat orang yang dirindukannya selama ini telah memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya.


Tak terasa air mata Rindu meleleh. Pegangan tangannya seolah melemah.


Prak


Lukisan yang ada di tangan jatuh seketika. Rindu langsung berlari ke keluar ruangan tersebut dengan air mata yang semakin deras mengalir dan kekecewaan yang begitu besar.


"Reno aku tidak menyangka kau begitu mudah melupakan dan berpaling dariku. Ah seharusnya aku sadar dia yang begitu cepat bisa tertarik padaku seharusnya memang muda tertarik pula pada gadis lain. Rindu kau begitu bodoh. Mana mungkin seorang pengusaha Reno bisa mencintaimu dengan tulus?" rutuk Rindu pada diri sendiri di dalam hati.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak! Maafkan Author ya, yang jarang update. Itu karena othor punya 2 novel on going. Sambil menunggu othor update lagi mampir yuk ke novel othor lainnya. Ni dia novelnya.🙏


__ADS_1


__ADS_2