
Sampai di dalam sebuah ruangan rumah sakit Rindu mengernyit melihat siapa yang berbaring di atas brankar.
"Dia kan ...."
"Kamu kenal dengan dia?" tunjuk Reno pada Fino.
"Nggak sih cuma dia pernah ...."
"Pernah ganggu kamu?" Reno memotong perkataan Rindu.
"Bukan, tapi dia yang bilang kalau orang tuamu memang sengaja menabrak kedua orang tuaku," jelas Rindu.
"Oh dia ternyata? Pantas saja."
Rindu menatap wajah Reno. "Pantas?" tanya Rindu tak mengerti.
Reno mendesah kasar. "Yah begitulah. Om Mahardika, ayah dia yang membuat mobil kami blong hingga terjadilah kecelakaan itu yang membuat kedua orang tua kita sama-sama meninggal dunia."
"Oh jadi dia pelakunya?"
"Bukan dia sih tapi hanya ayahnya saja. Dia tidak tahu apa-apa."
"Terus kenapa tadi aku dengar dia kabur dari mobil polisi?"
"Ingat tentang penjualan sosisku yang kalah di pasaran dengan produkmu dulu?"
"Iya emang kenapa?"
"Dia lah pelakunya. Sengaja mengurangi bahan agar dia bisa mengambil keuntungan darinya."
"Oh begitu ya."
"Iya dan dia telah menghamili Rizka dan menjebakku untuk bisa menikahi wanita itu."
"Bisa ya?"
"Bisalah, tentunya dengan ide ayahnya itu. Ingat dengan penyakit nenek yang bahkan dokter pun kebingungan dengan penyakitnya itu?"
Rindu hanya mengangguk.
"Nenek sengaja diberi ramuan oleh tabib yang bekerjasama dengan om Mahardika dan disembuhkan pula dengan syarat aku harus menikahi putri tabib itu."
"Jadi itu alasannya kamu mau nikahi dia?"
Reno mengangguk.
"Sorry bukan maksudku khianati kamu, tetapi karena tabib itu minta paling tidak 7 bulan saja jadi aku sanggupi dan aku sudah janji pada diri sendiri untuk tidak menyentuh sampai pada saatnya tiba pada waktu perpisahan."
"Aku bisa mengerti."
"Terima kasih dan ini juga tidak lepas dari pemaksaan nenek lampir itu." Reno terkekeh.
"Durhaka ya kamu bilang nenek sendiri mak lampir. Mau ku jewer lagi?"
__ADS_1
"Ampun Nek, bercanda," ujar Reno sambil mengangkat dua jari telunjuknya membentuk piss.
"Maaf jangan berisik!" Seorang dokter berjalan ke arah mereka.
"Oh ya maaf Dok, bagaimana keadaan cucu saya?"
"Pasien dalam keadaan kritis. Tubuhnya membentur aspal dengan keras. Pasien mengalami perdarahan otak. Kalau saja bisa sembuh kemungkinan terbesar dia akan stroke. Namun apapun bisa terjadi. Berdoalah agar prediksi kami salah dan pasien bisa sembuh seperti semula."
"Baik Dok, terima kasih," ujar Nenek Siva.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."
"Silahkan Dok dan terima kasih." Sekarang Reno yang menjawab.
Dokter itu mengangguk dan berlalu pergi.
Sepulang dari rumah sakit Reno langsung menyuruh Rindu untuk menelpon bibi dan pamannya di kampung karena kalau mereka menyetujui, hari ini juga Reno ingin mengajak Rindu ke sebuah butik untuk memesan gaun pengantinnya nanti mumpung ia belum sibuk. Ini ia lakukan karena satu minggu ke depan acaranya mulai padat.
Setelah tahu hubungan mereka dan lamaran pernikahan disetujui, Reno langsung mengantarkan Nenek Siva pulang ke rumah terlebih dahulu kemudian mengajak Rindu ke sebuah butik.
"Punya rekomendasi butik terbaik?" tanya Reno saat hendak menyetir mobilnya kembali.
"Aku mana tahu Ren butik terbaik di kota ini. Aku kan orang kampung."
"Kali aja pernah dengar dari teman, internet atau televisi gitu."
"Nggak pernah."
"Oke kalau begitu bagaimana kalau kita ke Kembar Butik saja?"
"Tenang aku kenal baik dengan tante Syasa, pemilik butik itu. Kalau ada acara kantor aku biasanya mesan sama dia."
"Oh begitu ya?" Rindu berkata dengan mulut membulat.
"Kenapa begitu? Mau aku cium tuh bibir?"
"Ish, mesum sekarang ya." Rindu mendorong tubuh Reno. Pria itu hanya terkekeh.
"Latihan, kan kalau sudah nikah harus mesum sama istri sendiri." Reno malah tertawa renyah membuat Rindu mencebik.
"Tuh kan bibirnya gitu lagi, fix nih orang mau dicium."
"Ren!" bentak Rindu kesal.
"Aku masih polos jangan ngomong begituan," ujarnya kemudian.
"Nanti aku polosin semuanya sesudah menikah." Reno semakin menggoda Rindu membuat gadis itu memutar matanya malas lalu memalingkan muka.
"Jadi nggak ke Kembar butik? Kalau tidak aku mau kembali ke kosan." Rindu ngambek.
"Iya-iya deh."
🌟🌟🌟🌟🌟
__ADS_1
Satu bulan kemudian.
Reno dan Nenek siva mengajak beberapa orang itu ikut acara lamaran ke kampung halaman Rindu.
Setelah acara lamaran usai, esok hari Rindu di bawa ke kota untuk acara pernikahan.
Pernikahan di adakan di salah satu hotel yang cukup mewah yang ada di ibu kota.
Pemandangan hotel pun sudah didekorasi dengan indah. Berbagai macam makanan sudah siap di meja prasmanan. Para undangan sudah berdatangan. Pak penghulu pun sudah menunggu di meja ijab.
Sorak-sorai tamu undangan yang hadir memenuhi seluruh isi ruangan ketika seorang MC mempersilahkan sepasang pengantin untuk memasuki area.
Semua orang nampak bersuka cita, terutama keluarga dekat, karyawan di kantor Reno, teman-teman Reno dan juga Nadia yang ikut hadir di acara pernikahan Rindu sahabatnya meski mereka sudah tidak satu sekolah lagi.
Namun ada seorang wanita yang sangat membenci pernikahan ini. Ya seorang wanita yang berdiri di sudut ruangan berbaur dengan para pelayan sedang menatap kesal pada sepasang pengantin yang berjalan beriringan.
"Kau tidak boleh bahagia setelah apa yang telah terjadi pada Fino." Wanita itu meremas jari-jari tangannya.
"Kau kira bisa bahagia setelah membuat anak dalam kandunganku akan kehilangan ayahnya." Wanita itu bergumam.
Seorang pelayan menatap wanita itu dengan aneh. Namun wanita itu membalas dendam senyuman sehingga pelayan itu akhirnya tersenyum pula. Dia yang masih baru bergabung dengan tim catering tidak tahu bahwa sebenarnya wanita itu bukan bagian dari timnya.
"Biar saya yang bawa." Wanita tersebut meraih nampan berisi segelas minuman.
"Baiklah tolong bawakan pada pria itu." Pelayan tersebut menunjuk seorang pria yang tadi memesan minuman padanya.
"Baik."
"Terima kasih."
Wanita itupun berjalan ke depan tetapi bukan ke arah yang ditunjuk oleh pelayan tadi.
"Loh-loh dia mau kemana?" Pelayan tersebut panik apalagi setelah melihat wanita itu sampai di belakang Rindu sambil mengeluarkan pisau dari dalam pakaiannya.
Pelayanan wanita tadi berteriak, "Awas!"
Rindu menoleh dan reflek berteriak. "Awas Ren!"
Sreeek.
Pisau menembus perut Rindu.
"Akhhh!" Rindu mengerang kesakitan.
"Rindu!" Teriakan Reno memenuhi ruangan sambil tangannya meraih tubuh Rindu yang hampir terkulai lalu menggotongnya.
"Bereskan dia!" perintahnya sambil membawa Rindu berlari ke luar hotel.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Yuk mampir ke novel temanku juga ceritanya asyik Loh. Nih dia novelnya.
__ADS_1