Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 43. Sosis


__ADS_3

Setelah tujuh hari dirawat di rumah sakit akhirnya pagi ini Rindu sudah bersiap-siap untuk pulang. Sebenarnya sudah dua hari yang lalu dokter sudah memperbolehkan Rindu pulang tetapi Reno minta waktu dua hari lagi sampai luka Rindu benar-benar mengering.


Yani dan Dahlan yang selama ini rela menunggui keponakannya daripada harus kembali ke kampung pun sudah siap mengantar Rindu ke rumah suaminya.


Setelah mengurus biaya administrasi rumah sakit Reno pun kembali ke kamar rawat dan bertanya pada semuanya apakah sudah siap untuk keluar.


"Sudah semua barang-barang sudah ku kepak," sahut Yani.


"Kita pulang sekarang." Reno meraih tubuh Rindu dan langsung menggendongnya.


"Ren turunkan aku! Malu dilihat orang-orang." Rindu memukul bahu Reno agar pria itu melepaskan dirinya.


"Kenapa harus malu? Kita tidak berbuat yang aneh-aneh."


"Apa ini bukan aneh namanya, kau menggotongku seperti bayi."


"Ah sudah jangan pikirkan omongan orang yang penting kita tidak menganggu mereka. Aku menggendongmu seperti ini ya berarti aku sayang sama kamu."


"Tapi aku sudah sembuh, aku bisa jalan sendiri."


"Ingat seorang istri harus nurut sama suami. Aku tidak mau ksmu sakit lagi kalau banyak gerak.


"Hem jadi dokter sendiri," gumam Rindu. "Baiklah terserah kamu." Rindu pasrah saja dengan maunya Reno.


Tanpa bicara apa-apa lagi Reno langsung membawa Rindu keluar rumah sakit diikuti Bibi Yani dan Paman Dahlan di belakang sedangkan Nenek Siva lebih suka menunggu sambil membantu menyiapkan suguhan untuk Paman Dahlan dan Bibi Yani di rumah.


Sampai di parkiran Deril dan Nadia sudah menunggu. Reno langsung berjalan ke arah mereka dan mendudukkan Rindu di kursi mobil.


"Rin kamu masih sakit ya perutnya kalau berjalan?" tanya Nadia.


"Nggak sih Nad cuma dia tuh yang berlebihan."


"Biasa dia takut istrinya bred," bisik Deril di telinga Nadia membuat gadis itu tersenyum.


"Kenapa kalian senyum-senyum? Ngetawain kami ya?" tanya Reno sambil menatap keduanya dengan tatapan curiga.


"Tidak kok Tuan mana mungkin kami berani menertawakan kalian berdua."


"Ya sudah kalau begitu jalan!"


"Baik Tuan." Deril langsung menyetir mobil menuju kediaman Reno.


Setelah satu jam berjalan mulus di jalanan akhirnya mobil itu kini sudah memasuki pekarangan rumah Reno.


"Sekarang aku mau jalan sendiri, kalau tubuh nih dibiasakan manja nggak baik." Katanya sambil membuka pintu mobil.


"Aw." Rindu hampir saja terpeleset untung Yani segera keluar dan menangkap tubuh Rindu kalau tidak dia pasti tersungkur ke lantai.


"Apa kataku kamu jangan banyak gerak dulu," ujar Reno dan langsung menggendong tubuh rindu kembali menuju kamarnya.


Sampai di kamar ia menurunkan Rindu di atas ranjang. "Istirahatlah."


"Aku bosen Ren istirahat terus."


"Pokonya hari ini kamu harus fit nanti malam kau harus membayar malam kita yang tertunda."


"Dihias juga ya Ren kamarnya?" tanya Rindu sambil memandangi seluruh ruangan dengan takjub tanpa mendengarkan perkataan Reno tadi.

__ADS_1


"Iyalah kan ini kamar pengantin kita."


"Udah lewat Ren udah seminggu yang lalu. Lagian kan dikamar rumah sakit juga udah dihiasi."


"Beda dong itu kan kamar palsu nah yang ini baru kamar kita yang asli. Sudah istirahat saja dulu saya mau menemani Bibi dan Paman juga semuanya."


Rindu hanya mengangguk lalu berbaring kembali.


Reno menemui Paman Dahlan, Bibi Yani, Nadia dan Deril yang mengobrol di ruang tamu dengan bertemankan camilan dan beberapa jenis minuman yang segar-segar.


Lama mengobrol akhirnya mereka dipersilahkan untuk makan bersama. Setelah makan mereka menemui Rindu di kamarnya.


"Rin, Ren Paman dan bibi pamit pulang ke kampung ya? Ribet deh aku manggil kalian sebab namanya mirip," ujar Paman Dahlan sambil tersenyum.


"Udah mau balik sekarang ya Paman dan Bibi?" Rindu terlihat sedih karena harus berpisah dengan keduanya.


"Iya tadi Reno mengajak kami untuk tinggal di sini beberapa waktu tapi kami tidak bisa terlalu lama di kota ini. Kasihan anak-anak takut kelabakan mengurus usaha kecil-kecilan kita."


"Iya Bi Rindu ngerti."


"Terima kasih ya Paman dan Bibi sudah membantu Reno menjaga Rindu."


Paman Dahlan menepuk pundak Reno. "Tidak usah berterima kasih. Rindu itu keponakan kami jadi dia juga tanggung jawab kami."


"Tidak Paman dia itu kan sudah jadi istri saya jadi sepenuhnya sudah menjadi tanggung jawab saya."


"Bagus saya harap kamu memang bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Namun, perlu diingat kalau Rindu salah ditegur ya jangan dibiarkan sebab sekarang sudah tidak ada kami di sampingnya yang bisa mengawasi dia."


"Siap Paman."


"Kasih makan juga," seloroh Yani.


"Jangan dikasih makan sosis doang karena dia sudah hafal rasa-rasa sosis di pasaran. Nanti mentang-mentang sama-sama juragan sosis makanannya favoritnya jadi sosis semua," ujar Yani menggoda Reno sambil tersenyum jahil.


"Bibi salah dia masih belum merasai satu sosis yang lain. Yang rasanya dijamin enak dan nikmat."


"Emang ada ya?"


"Ada lah nanti aku kasih dia tiap malam." Reno terkekeh.


"Apaan?" Deril terlihat begitu serius memikirkan sosis jenis apa yang dimaksud oleh Reno.


Nadia langsung berbisik di telinga Deril.


"Owalah aku pikir apaan, ha ha ha ha."


"Ren pasti kamu ini mesum lagi. Lihat tuh si Nadia sama Deril menertawakanmu. Sudah kubilang kalau sama Paman dan Bibi jangan begitu. Memalukan." Rindu mencebik lalu memalingkannya muka.


Mendengar perkataan Rindu semua yang ada di tempat itu malah tertawa karena mengerti kemana arah pembicaraan Reno itu.


"Tuh kan mereka ketawa, ini gara-gara kamu," kesal Rindu.


"Bercanda Rin soalnya aku lihat kamu sedih karena mau berpisah dengan mereka. Maaf ya Paman, Bibi."


"Iya dimaafkan. Boleh kasih makan sosis ya Ren tapi jangan sering-sering takut dia nggak kuat dan malah tubuhnya jadi kurus kering."


"Bibi!"

__ADS_1


"Ini Sosis yang mana dulu?" Nenek Siva menyambung pembicaraan mereka.


"Sosis biasa Nek yang ada di perusahaan," bohong Reno.


"Kalau bikin orang kurus kok diproduksi?"


"Khusus untuk yang mau diet Nek." Reno cekikikan.


"Oh."


"Sudah ya Rin aku pergi."


"Iya Bi hati-hati ya."


"Hati-hati Bik dan kalau ada waktu sering-sering main ke sini."


"Kamu juga Ren sering-sering bawa Rindu ke kampung ya kalau kangen sama kami."


"Iya Bi."


"Ya sudah kami pergi," ucap Dahlan.


"Der antar mereka."


"Kemana Tuan?"


"Terserah mereka mau diantar sampai mana. Sampai rumah pun kalau kamu sanggup ya nggak apa-apa."


"Baik Tuan."


"Sampai terminal saja," sahut Bivi Yani.


"Eh Nad kamu juga ikut pulang?" tanya Rindu.


Nadia mengangguk. "Semoga kamu bahagia di sini ya Rin. Aku pasti merindukanmu."


"Aku juga Nad."


"Kalau begitu aku antar sampai kampung."


"Cih mentang-mentang ceweknya mau pulang juga langsung sigap nganterin sampai kampung."


"Aku kan memang selalu siap siaga Tuan."


"Iya deh iya sana antarkan mereka biar tidak kemalaman nanti sampainya. Nanti kalau kamu sekira malam pas mau balik kamu bermalam saja di situ takutnya kejadian waktu itu terulang kembali."


"Baik Tuan kalau begitu kamu permisi."


"Baiklah hati-hati di jalan."


Deril menunjukkan dua ibu jari


tangannya dan langsung berjalan keluar!


Bersambung...


Jangan lupa mampir juga yuk ke novel di bawah ini dijamin ceritanya seru abis. Yuk kepoin!👇

__ADS_1



__ADS_2