
"Baiklah kalau begitu saya yang telepon saja." Reno langsung mengambil ponselnya dan menghubungi polisi.
Sedangkan Fino dan Mahardika yang masih belum menyadari keberadaan Reno dan Deril masih terus saja berbincang-bincang. Mahardika dengan bangganya menceritakan kelicikannya pada putranya itu.
"Kamu Tahu Fino kenapa nenek Siva tiba-tiba sakit dan terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang tanpa bisa berjalan seperti orang lumpuh waktu itu?"
Fino menggeleng. "Kenapa memangnya Pi? Bukannya nenek hanya sakit seperti orang lansia pada umumnya?" tanya Fino tak mengerti.
"Bukan, itu bukan sakit alami."
"Maksud papi, itu adalah kesengajaan?"
"Pinter. Nenek Siva seperti itu setelah ku beri ramuan dari tabib itu, ayahnya Rizka."
"Apa? Papi melakukan itu semua? Gila papi."
"Harus gila Fin. Kalau kita ingin mendapatkan sesuatu perjuangan kita harus total. Harus mau melakukan apa saja."
Deril dan Reno semakin kaget mendengar pengakuan Mahardhika.
"Tapi untuk apa?" tanya Fino masih tidak mengerti dengan jalan pikiran ayahnya.
"Nenek Siva harus mati terlebih dahulu kemudian baru Reno agar semua warisan bisa jatuh ke tangan kita sebagai kerabat terdekat mereka. Namun saat aku tahu anak tabib itu hamil anakmu, aku jadi berpikir lain. Lebih baik kita pakai cara halus saja dengan memanfaatkan mereka."
Prok! Prok! Prok!
"Bagus, hebat ya rencana kalian. Aku akui paman memang lihai mengecoh kami." Reno berjalan mendekat ke arah Fino dan Mahardika.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Mahardika masih dengan sikap tenangnya.
"Saat sebelum paman mengakui bahwa paman lah pembunuh kedua orang tuaku."
"Wah sepertinya kamu salah dengar. Kita tidak pernah berbicara tentang Ragil kan Fino?"
"Iya Pi."
"Kalian pikir saya budeg begitu?!" Reno berucap dengan wajah yang memerah. Kobaran matanya dipenuhi amarah.
"Pembunuh seperti kalian tidak pantas hidup. Hutang nyawa dibalas nyawa." Reno mendorong tubuh Mahardika dan Fino bersamaan dengan kedua tangannya. Mereka yang tidak siap langsung terjungkal ke belakang. Apalagi tenaga Reno kali ini terasa lebih kuat tiga kali lipat.
Reno kemudian memukul mereka dengan membabi buta secara bergantian. Mahardika dan Fino bangkit lalu melakukan perlawanan hingga terjadilah perkelahian.
Tidak terima sang atasan dikeroyok, Deril pun ikut terjun dalam perkelahian tersebut membela Reno. Perkelahian pun menjadi sengit karena keempatnya sama-sama gesit. Hingga akhirnya Fino dan Mahardika berhasil dilumpuhkan oleh keduanya.
__ADS_1
Fino dan Mahardika pun sudah tidak bisa lagi melakukan perlawanan karena sudah babak belur.
Tidak begitu lama saat mereka sedang gesit-gesitnya melakukan perkelahian akhirnya polisi datang.
"Jangan bergerak atau kami tembak!" Polisi berjalan ke arah mereka semua sambil menodong pistol ke arah mereka.
Mahardika tersenyum, dalam hati ia bersyukur pasti salah satu dari pekerja di rumahnya, baik itu asisten rumah tangga maupun pak satpam bergerak cepat dengan melapor kepada polisi bahwa Reno dan Deril sedang mengamuk di rumahnya.
"Jangan bergerak!" Dua polisi tampak menodong ke kepala Fino dan Mahardika.
"Loh Pak ada apa ini? Kenapa Bapak polisi malah mau menangkap kami?" tanya Fino heran.
"Dengarkan dulu Pak! Bapak salah sasaran. Yang tuan rumah di sini itu kami dan mereka yang datang langsung melakukan kekacauan. Seharusnya bapak menangkap mereka!" Mahardika menuding ke arah Reno dan Deril.
"Anda ditangkap karena kasus pembunuhan dan percobaan pembunuhan."
Mata Mahardika dan Fino pun terbelalak.
"Itu fitnah Pak saya tidak melakukan semua itu."
"Anda bisa menjelaskan nanti di kantor polisi." Salah satu polisi langsung memborgol tangan keduanya agar tidak kabur dan menyeretnya keluar.
"Tapi Pak, tunggu dulu. Saya ingin menghubungi ibu saya dulu."
"Laporan palsu," tambahnya.
"Kalau masalah itu biar kita bicarakan di kantor nanti." Polisi tampak menyeret tubuh Fino yang tidak bergeming di tempat. Ia tidak mau mengikuti langkah polisi.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba terdengar suara khas orang yang sudah lansia tetapi bernada tegas.
"Ibu tolong bantu lepaskan kami. Cucu kesayanganmu ini mulai berulah lagi." Mahardika bersimpuh di kaki nenek Siva sambil menuding Reno kembali.
"Apa yang dia lakukan lagi?" tanya nenek Siva pada Mahardika.
"Dia memfitnah kami telah membunuh Ragil dan istrinya."
"Reno!" bentak nenek Siva sambil melangkah ke arah Reno.
"Apa yang kau lakukan ini sungguh keterlaluan. Ternyata gadis itu telah berpengaruh besar terhadap dirimu. Dia telah mencuci otakmu menjadi tidak beres seperti ini. Membuatmu buta dan lupa siapa yang kamu tuduh macam-macam ini. Dengar dia ini pamanmu. Paman yang selama ini membantu nenek untuk melindungimu," ucap nenek Siva dengan suara keras.
"Reno tidak punya paman yang tidak punya hati."
"Reno, jaga ucapanmu!" bentak nenek Siva sekali lagi.
__ADS_1
"Der!" Reno yang tidak mau berdebat meminta Deril menunjukkan semuanya.
Deril pun mengangguk dan melangkah ke arah nenek Siva.
Fino dan Mahardika mengernyit, menebak-nebak apa sekiranya yang akan dilakukan Deril terhadap nenek Siva.
"Nyonya tidak boleh berkesimpulan sebelum melihat semuanya."
"Apa maksudmu Der? Ini urusan keluarga bukan urusan perusahaan. Lagipula meskipun urusan perusahaan sekalipun kamu sudah tidak berhak ikut campur karena kamu sudah keluar dari perusahaanku. Jadi ingat, kamu tidak perlu ikut campur!" Nenek Siva berkata sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah Deril.
"Maaf Nyonya kali ini saya terpaksa ikut campur tapi setelah ini saya janji tidak akan mengulanginya lagi. Nyonya dengarkanlah dulu karena ini adalah bukti dari semuanya. Setelah itu Nyonya silahkan memutuskan sendiri."
"Baiklah silahkan tunjukkan bukti yang kau maksud itu."
"Nyonya siapkan jantung Nyonya dulu agar tidak kaget." Deril menunjukkan rekaman video yang diambilkan tadi.
Wajah Mahardika dan Fino terlihat pucat. Mereka menebak-nebak sekiranya bukti apa yang akan Deril tunjukkan. Mereka sama sekali tidak berpikir bahwa pembicaraan mereka lah tadi yang akan membawa mereka pada kehancuran.
Nenek Siva pun terlihat serius menatap ponsel Deril. Wajahmu terlihat pucat, sedih dan marah secara bersamaan.
Beberapa saat kemudian dia mendingan kepala.
"Bawa mereka Pak! Berikan hukuman yang setimpal untuk mereka. Kalau perlu tembak mati langsung pun tidak apa-apa."
Fino dan Mahardika tampak terbelalak. "Apa maksud ibu? Mengapa ibu tega melakukan ini?"
Nenek Siva bergerak mendekat Mahardika kembali.
"Dasar anak tiri tidak tahu diuntung! Menyesal aku merawatmu seperti anak sendiri. Kau malah tega membunuh adik kandungmu sendiri hanya demi harta. Biadap!" Nenek Siva mendorong kepala Mahardika dengan keras.
"Pak bawa mereka secepatnya! Aku tidak sudi melihat wajah yang penuh tipu daya itu."
"Bu, maafkan aku. Aku khilaf." Mahardika kembali bersimpati di kaki nenek Siva.
Nenek Siva mendorong tubuh Mahardika dengan keras. "Jangan pernah menyentuh tubuhku lagi dengan tubuh kotormu itu!" Setelah berkata seperti itu nenek Siva berlalu pergi tanpa sepatah katapun.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏
Hai! Hai! Hai! Othor datang lagi tentunya dengan rekomendasi novel yang seru dari salah satu teman othor. Jangan lupa dikepoin ya, siapa tahu kalian suka. Nih dia novelnya.
__ADS_1