Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 37. Restu


__ADS_3

"Sudah ayo berdiri!" perintah seorang polisi. Mereka pun bangkit dari lantai.


"Ikut kami!"


"Tunggu Pak! Saya tidak tahu apa-apa. Ini semua rencana papi dan saya tidak pernah terlibat sedikitpun." Fino tampak tidak terima kalau dia harus dihukum hanya gara-gara kesalahan ayahnya.


"Tidak bisa kau tetap harus dihukum," timpal Deril.


"Deril!" bentak Fino tidak terima.


"Kau mungkin tidak terlibat dengan rencana paman Mahardika, tetapi saya memiliki bukti kejahatan lainnya."


"Maksudmu apa sih Der?"


"Saya mendapatkan laporan dari perusahaan bahwa kamu lah yang memanipulasi biaya produksi dan mengurangi bahan-bahan produksi sehingga hasil produksi kita sempat tidak laku di pasaran. Hebat kamu ya giliran saya cek kamu berikan sampel yang asli."


"Itu fitnah Deril. Pasti mereka yang mengatakan itu adalah orang yang iri denganku."


"Sekarang kau bisa berkata begitu, tetapi kalau kamu melihat video rekaman dimana kamu memerintah dengan keras karyawan bawahanmu untuk melakukan kecurangan kau pasti akan diam. Kau tenang saja, Deril tidak akan melaporkan seseorang pada polisi tanpa bukti."


Deril tampak menghela nafas. "Silahkan dibawa saja Pak!"


"Baik terima kasih atas laporannya dan kami permisi dulu."


"Sama-sama Pak." Polisi langsung membawa mereka ke luar pekarangan rumah dan memasukkan pada mobil polisi.


Setelah polisi sudah hilang dari pandangan mereka, kedua orang itu hanya saling pandang lalu sama-sama menghela nafas lega.


"Aku tidak menyangka Der, kematian orang tuaku ternyata direncanakan. Kalau saja aku tidak melompat dari mobil waktu itu pasti aku juga akan meninggalkan dunia ini, sedang mereka pasti tertawa puas dan bisa menguasai semua yang seharusnya menjadi milikku," ujar Reno dengan wajah sedih sambil menyandarkan bahunya ke dinding sambil memejamkan mata. Dalam terpejam ia seolah melihat kedua orang tuanya melambaikan tangan dan tersenyum padanya.


"Papa! Mama!" teriak Reno. Lalu sekelebat bayangan itu langsung menghilang.


"Ada apa Tuan?" tanya Deril heran.


"Ah tidak apa-apa Der," jawab Reno sambil membuka matanya kembali.


"Kita susul nenek," lanjutnya.


Deril hanya mengangguk dan mengikuti langkah Reno keluar lalu menyetir mobilnya menuju kediaman nenek Siva.


Sampai di halaman rumah, Reno melihat nenek Siva duduk dengan berpangku tangan di salah satu kursi yang ada di depan kamarnya. Pandangannya terarah ke tanaman bunga yang bermekaran yang ada di taman depan rumah, tetapi Reno yakin pikiran nenek Siva tidak ke arah sana. Melainkan jauh ke masa lalu. Tentu saja memikirkan anak dan menantunya yang telah tiada.


"Nenek." Reno duduk di kursi di samping nenek Siva sedang Deril tampak mondar-mandir tak tentu arah.


Nenek Siva menoleh. "Maafkan nenek," ujarnya.

__ADS_1


"Nenek tidak salah, hanya saja mudah terpengaruh oleh mereka."


"Kau ingin bertemu dengan gadis itu?" tanya nenek Siva kemudian.


"Sangat Nek, tapi kalau nenek keberatan biar nanti saja nenek menunjukkan keberadaannya. Sekarang nenek istirahat saja." Reno berkata dengan halus karena tahu sang nenek pasti syok.


"Kita temui sekarang."


"Nenek yakin?"


"Iya. Nenek ingin kamu segera menikah mumpung kegagalan pernikahan kamu itu belum menyebar luas," ujar Nenek Siva sambil tersenyum.


"Ah Nenek, pengen sekali sih Reno menikah?"


"Iya lah Ren, kau lihat saja rumah ini begitu terasa sepi. Nenek berharap kalau kamu punya istri apalagi anak, rumah ini akan kembali ceria seperti saat ada papa dan mamamu di sini." Wajah Nenek Siva terlihat sendu kembali kala mengingat Ragil, putranya.


"Kalau Reno sih mau asal sama Rindu, tetapi gadis itu belum tentu mau Nek, apalagi dia baru saja masuk kuliah."


"Biar nenek yang merayu dia agar mau menikah denganmu. Dia kan masih bisa kuliah meskipun sudah menikah?"


Reno hanya mengangguk.


"Ayo kita ke kosannya sekarang."


"Baik Nek."


"Eits mau kemana? Jangan pergi!" cegah Nenek Siva.


Deril menoleh. "Ada apa lagi Nyonya?"


"Kembalilah ke perusahaan. Kalau gaji yang ditawarkan pihak perusahaan luar negeri lebih besar daripada di perusahaan kami, maka kamu tenanglah saya akan meminta Reno untuk menaikkan gajimu."


"Itu pasti Nek, dia telah banyak membantu Reno."


"Tidak usah Nyonya, Tuan Reno. Yang penting kerjaku cocok untuk kalian pasti saya akan tetap mengabdi pada kalian."


"Tidak apa-apa Der, anggap itu bonus untukmu dan sekarang saya mohon kembalilah ke perusahaan terlebih dahulu. Setelah urusanku selesai saya juga akan kembali."


"Baik Tuan." Deril pun pergi meninggalkan kediaman Reno dan Nenek Siva menuju perusahaan sedang Reno dan Nenek Siva langsung pergi ke tempat Rindu.


 


"Rin ada tamu yang ingin bertemu denganmu," ujar ibu kos saat Rindu tampak serius membaca sebuah buku sambil bersandar di pinggiran ranjang.


"Siapa Bu?"

__ADS_1


"Katanya bibi kamu yang dari kampung."


"Benarkah Bi?" tanya Rindu antusias.


"Ya sudah saya akan langsung ke sana," lanjutnya.


Ibu kos itu mengangguk dan pergi.


Rindu mengikat rambutnya yang terurai panjang dan langsung menuju tempat dimana para anak kost bisa menerima tamu.


Sampai di depan pintu, Rindu mandek melihat siapa yang ada dalam ruang tersebut. Ia kemukakan berbalik dan melangkah pergi.


"Rin! Rin tunggu!" Reno berlari menyusul Rindu.


"Mau apalagi Ren? Kamu ingin menagih hutang itu? Atau mau melihat nenekmu itu mengata-ngataiku lagi?"


"Maafkan aku Rin, maafkan nenek juga."


"Sudahlah Ren lebih baik sekarang kamu pergi. Nanti aku transfer uangmu itu."


"Ini bukan masalah uang Rin tetapi masalah lain."


"Masalah apa lagi Ren? Masalah pernikahan kalian? Sudahlah tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku nggak mau ikut campur. Silahkan saja kamu mau menikah dengan siapapun, aku sudah tidak perduli. Apa masalah orang tuamu yang telah menabrak orang tuaku hingga meninggal dan tidak ada ucapan kata belasungkawa sedikitpun?"


"Dengarkan aku dulu Rin, itu tabrakan saat itu adalah ketidaksengajaan."


"Sudahlah Ren tidak perlu mengelak, aku sudah tahu semuanya. Orang tuamu tidak menyukai orang tuaku kan hingga akhirnya menabrak mobil orang tuaku hingga mereka menghembuskan nafas terakhir saat itu juga."


"Kau dapat info dari mana itu?"


"Adalah kamu tidak perlu tahu."


"Itu tidak benar Rin, kalau memang berniat membunuh orang tuamu mereka tidak perlu melakukan sendiri. Mereka bisa menyuruh orang lain. Kenyataan yang sebenarnya mobil kami blong saat itu hingga kami hilang kendali. Aku ada saat itu dan kedua orang tuaku juga ikut meninggal setelah kecelakaan."


"Apa! Orang tuamu juga meninggal dalam kecelakaan itu?" Rindu terlihat kaget.


"Itu benar. Kamu tahu sendiri kan aku hanya tinggal berdua dengan nenek dan beliau sekarang datang untuk meminta maaf sekaligus ingin melamar mu untukku."


"Apa?"


Bersambung....


Jangan lupa like-nya!🙏


Sambil menunggu othor update lagi mampir yuk ke sini. Dijamin ceritanya seru abis.

__ADS_1



__ADS_2