
Mobil melaju kencang di jalanan hingga beberapa saat ia telah sampai kepada tempat yang sepi dan gelap di mana Deril berada.
Tampak Deril masih berusaha memasang ban baru ke mobil.
"Tinggalkan mobil itu dan ikut aku!" seru Mark dari dalam mobil.
Deril pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
"Nona? Nona kok ikut?"
"Mark kamu ...."
"Aku yang memaksa Mark." Rindu memotong ucapan Deril langsung.
"Tapi Nona Tuan Reno pasti marah kalau tahu ...."
"Jangan terlalu dipikirkan, biar aku nanti yang jelaskan. Tugas kalian sekarang adalah menyelamatkan Reno tidak usah berpikir yang lain.
"Baiklah Nona." Mereka berdua akhirnya bungkam dan fokus menatap jalanan.
"Ini kemana? Kok arahnya bercabang tiga?" tanya Mark bingung harus mengarahkan mobilnya kemana saat mereka sampai di jalan pertigaan.
Mobil berhenti sejenak. Deril memeriksa ponselnya. Sebenarnya ia melacak keberadaan Reno melalui ponsel Reno tetapi ternyata dia tidak berhasil. Mungkin ponsel Reno sudah lowbet atau mungkin sudah terjatuh dan rusak.
"Tuan tahu siapa yang membawa Reno?" tanya Rindu sebelum memastikan jalan mana yang harus diambil.
"Tidak Nona tetapi saya yakin mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang untuk menculik Tuan Reno. Terbukti dengan banyaknya paku-paku yang bertebaran di jalanan dan munculnya beberapa orang langsung.
__ADS_1
Rindu tampak berpikir sebentar.
"Berarti orang itu tahu Reno akan keluar malam dari daerah ini. Tidak salah lagi orang yang ingin mencelakai Reno pasti tahu seluk-beluk tempat ini. Lebih baik kita ambil jalan yang kiri saja karena jalan itu biasanya tidak akan di ambil oleh orang-orang yang melintas di malam hari karena selain sepi dan angker, di sana juga ada jurang yang curam. Kalian tahu di tempat itu sering ditemukan adanya pembunuhan."
Mendengar perkataan Rindu, Deril menjadi merinding, tetapi dia tidak boleh takut kalau tidak ingin terjadi sesuatu pada sang bos.
Sedangkan Mark tanpa diperintah ia langsung berbelok ke arah yang ditunjukkan oleh Rindu.
Mobil semakin masuk ke dalam. Sepi, benar-benar sepi. Hanya suara angin dan jangkrik yang terdengar di telinga. Suara pohon bambu yang diterpa angin semakin membuat suasana jadi mencekam.
Namun semakin jauh mobil melaju, mereka melihat ada mobil yang melaju dengan kecepatan tidak stabil. Bahkan mobil itu masih tetap berjalan meski terlihat oleng ke kanan kiri.
"Mungkin itu!" tunjuk Deril pada mobil tersebut.
"Percepat laju mobilnya!" perintah Rindu. Mark pun melakukan apa yang diperintahkan.
"Gila, orang ini tidak takut mati," gumam Reno dalam hati.
Dia yang tidak fokus akhirnya mengerem mendadak dan keluar dari pintu mobil kemudian berlari ke luar. Ketiga orang dalam mobil mungkin sudah pingsan karena kepala mereka terbentur ke badan mobil berkali-kali. Reno harap sih demikian agar hanya satu orang saja yang bisa mengejarnya.
Ketika Reno kabur orang itu malah menyerangnya dengan motor. Reno nampak gusar ia berlari sekuat tenaga hingga ia sampai ke pinggir jurang. Beruntunglah motor yang dikendarai orang tersebut macet sebelum berhasil menabrak Reno masuk jurang.
"****!" Pemilik motor gede turun dan menendang bagian motornya.
"Tapi baguslah aku harus menyelesaikannya semua ini dengan tangan. Sepertinya lebih menarik."
Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Ia berjalan perlahan menghampiri Reno dan menodong pisau di leher Reno.
__ADS_1
Reno kebingungan. Diam dia bisa mati di tangan pria di hadapannya mundur dia bisa terkubur dalam jurang.
"Apa mau mu?" tanya Reno masih berusaha tenang.
"Aku mau kamu mati." Satu tangan menahan pisau dileher satu tangan hendak mendorong tubuh Reno.
Bug.
Tiba-tiba ada seseorang yang memukul kepala pria tersebut dengan keras hingga pria tersebut kehilangan keseimbangan. Pisau di tangan terjatuh begitu saja dan ketika hendak memungut benda itu dengan cepat Mark menghajarnya pria tersebut.
"Ayo Tuan kita ke mobil!" Deril menarik tangan Reno dan membawanya ke dalam mobil sedang dia keluar lagi karena melihat Mark di keroyok oleh 4 orang. Ya ternyata orang dalam mobil sadar dan keluar membantu sang bos.
"Rindu," ujar Reno saat melihat Rindu dalam mobil.
Rindu mengangguk dan segera memeluk tubuh Reno. "Aku takut kehilangan kamu," ujarnya sambil menangis haru.
Reno menatap wajah Rindu yang berurai air mata. "Jangan menangis, aku janji tidak akan meninggalkanmu."
Rindu menatap balik wajah Reno dan mengangguk.
Keduanya saling mengeratkan pelukan. Berharap Tuhan tidak akan memisahkan mereka seperti halnya Tuhan memisahkan keduanya dengan orang tua mereka.
"Aku harap perasaanmu tidak akan berubah terhadapku kalau tahu ayahku lah penyebab kematian kedua orang tuamu," batin Reno sambil menyelip anak rambut Rindu di telinganya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak! Jangan lupa like-nya🙏
__ADS_1