Takdir Gadis Si Buruk Rupa

Takdir Gadis Si Buruk Rupa
Part 25. Apa Tandanya Itu Rangga?


__ADS_3

"Aku harap perasaanmu tidak akan berubah terhadapku kalau tahu ayahku lah penyebab kematian kedua orang tuamu," batin Reno sambil menyelipkan anak rambut Rindu di telinganya.


Masih dalam posisi yang sama mereka melihat ke arah luar. Tampak Mark sedang berusaha melawan pria misterius itu sedang Deril dengan lincahnya menghadapi ketiga orang yang menyerangnya.


"Ternyata Deril hebat juga," ujar Reno pada Rindu karena melihat Deril bisa memukul telak ketiganya sedang ketika dia dipukul balik dirinya mampu berkelit padahal dirinya dikeroyok bertiga.


Tidak butuh waktu yang lama ternyata keduanya mampu melumpuhkan musuh masing-masing.


Ketiga orang yang dihajar oleh Deril akhirnya memutuskan untuk kabur seketika. Mereka lari terpontang-panting meninggalkan tempat dengan tubuh yang penuh luka.


Deril hendak mengejar ketiga orang tersebut tetapi niatnya dia urungkan karena melihat Mark sepertinya kewalahan menghampiri lawannya itu.


"Gila ternyata orang itu tangguh juga," ujar Deril karena melihat lawan Mark tidak menyerah juga setelah beberapa kali mendapat pukulan dari Mark.


Pemuda itu mengambil tali yang tadi dipegang oleh anak buahnya dan hendak memukulkan kepada Mark. Namun Mark segera menangkap dan berhasil mendapatkan tali itu.


Mark lalu mencambuk badan, leher dan tangan pria itu.


"Katakan siapa dirimu dan apa keinginanmu!" bentak Mark.


Pria itu tidak mau menjawab.


"Deril!" Mark memberi kode kepada Deril dengan gerakan kepalanya agar membuka helm yang melekat di kepala pemuda tersebut.


Deril pun melakukan apa yang diperintahkan sedang Mark mencoba menahan tubuh pria tersebut agar tidak kabur.


"Baik aku akan katakan siapa diriku," ujar pria bertopong helm tersebut.


"Baik cepat katakan!"


perintah Mark.


"Aku adalah ...." Melihat kedua fokus dengan apa yang dibicarakannya pria itu langsung mengambil langkah untuk kabur.


"Kejar dia!" perintah Deril. Mark pun melakukan apa yang diperintahkan. Namun sayang pria itu langsung masuk ke dalam mobil yang dibawa anak buahnya tadi lalu mengemudikan dengan kecepatan penuh. Ternyata mobil tersebut masih bisa berjalan dengan normal meski bodynya sudah tidak karuan dan kaca depannya sudah pecah.


Deril dan Mark pun menghampiri Reno dan Rindu dalam mobil dan hendak mengejar mereka.


"Tidak perlu dikejar! Ini sudah malam. Kasian Rindu kalau harus dibawa mengejar orang itu," ujar Reno.


"Kamu yakin?" tanya Rindu.


Reno mengangguk. "Yang penting aku selamat, kita semua selamat. Ke depannya kita harus berhati-hati saja. Malam ini kita kembali ke rumahmu saja, aku mau istirahat. Kamu besok juga harus sekolah kan?" tanya Reno dengan muka lelahnya.


Rindu memandang wajah prianya lalu mengangguk.


"Ya sudah Mark, kita kembali ke kampung!"

__ADS_1


"Siap Tuan."


Mark pun memutar arah mobilnya dan kembali ke kampung Rindu.


Sampai di rumah Deril memilih tinggal di rumah yang ditempati oleh Mark sedang Reno dimintai untuk tinggal bersama rindu karena gadis itu ingin mengobati luka-luka di tubuh reno.


"Kalian duduk saja sebentar biar aku buatkan teh hangat dulu," ujar Rindu sambil melangkah ke dalam.


"Sudah kamu obati saja Reno biar bibi yang buatkan minum," cegah Yani.


Rindu pun mengangguk dan meneruskan langkahnya tetapi bukan ke dapur melainkan ke dalam kamarnya sendiri.


Beberapa saat kemudian Rindu datang membawa kotak obat.


"Ayo buka bajunya," pinta Rindu pada Reno.


"Ish, buka baju? Emang kita mau ngapain?" goda Reno sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan omes di sini banyak orang," ujar Rindu.


"Kalau nggak ada orang berarti boleh ya?"


"Enak aja emang kamu pikir aku cewek apaan? Berpikir itu jangan kejauhan. Orang aku cuma mau ngobatin luka-luka kamu saja," ujar Rindu cemberut.


"Iya-iya aku kan cuma bercanda, serius amat," ujar Reno sambil membuka kemejanya.


"Mata itu juga dikendalikan. Kalau tiap lihat cewek kedip-kedip begitu aku hanya takut akan terus berkedip tidak mau berhenti kayak lampu plip-plop," ujar Rindu lagi sambil membersihkan luka-luka Reno dengan alkohol kemudian mengoleskan Betadine dengan kapas.


"Enak ya yang punya kekasih ada yang ngobatin, nah kami berdua siapa coba yang mau ngobatin," keluh Deril disertai anggukan Mark.


"Biar aku obatin juga nanti," ujar Rindu. Sontak Rindu mendapat pelototan dari Reno.


"Nggak lah Tuan, mana berani kami minta bantuan Nona Rindu," ujar Mark.


"Sebenarnya bukan tidak berani tapi takut macan yang ada di samping Nona Rindu ngamuk," bisik Deril di telinga Mark.


"Apa bisik-bisik? Kalian obati saja sendiri. Emang tidak bisa gantian apa?"


Rindu tak sengaja menekan leher Reno saat mengobati karena mendengar nada bicara Reno yang nampak ngegas.


"Auw sakit, pelan-pelan dong Rin."


"Iya maaf tidak sengaja," ujar Rindu merasa bersalah.


"Nggak apa-apa."


"Biar saya yang bantu obati, sekarang minum dulu." Yani datang meletakkan beberapa gelas minuman di atas meja ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak usah Bik, kami bisa sendiri," ujar Deril merasa tidak enak terutama pada Dahlan yang ada di sampingnya.


"Tidak apa-apa kalau butuh bantuan bilang sama kami," kata Dahlan.


"Terima kasih Paman tapi benar kita bisa obati sendiri."


"Oh ya sudah kalau begitu, silahkan diminum dulu."


"Terima kasih."


Mereka pun menikmati minuman hangat di tengah cuaca malam yang dingin sambil bercengkrama. Setelah beberapa saat mereka permisi pulang sedang Rindu dan Reno sudah istirahat terleih dahulu di kamar masing-masing.


_____________________________________________________


Esok hari. Pagi-pagi sekali, Reno dan Deril pamit pulang karena mendapat telepon bahwa nenek Reno penyakitnya semakin parah. Sejak semalam beliau sesak nafas. Perawat yang ditugaskan oleh Reno untuk menjaga sang nenek sudah berulangkali menelpon, tetapi telepon Reno tidak aktif dan Reno pun tidak tahu sudah terlempar kemana ponselnya itu.


Karena Reno tidak dapat dihubungi terpaksa perawat tersebut mencari tahu nomor ponsel Deril lalu menghubungi Reno melalui nomor tersebut.


Setelah Reno pergi Rindu kemudian berangkat sekolah. Seperti biasa dia diantar dan dijaga oleh Mark. Reno memerintahkan Mark untuk semakin memperketat pengawasan terhadap Rindu mengingat apa yang terjadi semalam pada dirinya mungkin saja terjadi pada Rindu.


Saat berada di depan pintu gerbang sekolah, Rindu berpapasan dengan Rangga. Lelaki itu sepertinya ingin menghindar dari gadis tersebut. Setelah melihat Rindu dia langsung pergi menjauh.


Hal itu membuat Rindu dan Mark menjadi curiga. Mereka dengan sengaja mengikuti langkah Rangga masuk ke dalam area sekolah.


Saat Rangga berbincang-bincang dengan salah satu temannya, Mark tampak memperhatikan Rangga.


Ia membelalak melihat bekas cambukan yang ada di lengan dan leher pria tersebut sama persis seperti yang dirinya buat semalam.


"Ada apa Tuan Mark?" tanya Rindu melihat raut wajah Mark lain.


"Nona, bekas goresan di leher dan tangan pria itu persis yang saya bikin semalam."


"Tuan Mark serius?"


Mark hanya mengangguk.


"Apakah itu tandanya yang ingin mencelakai Reno adalah Rangga?"


"Bisa jadi Nona."


"Tapi untuk apa?"


"Kalau motivasinya, hanya dia yang tahu Nona."


"Ini tidak bisa dibiarkan Tuan Mark. Dia harus masuk penjara."


"Iya Nona saya tahu, tapi kita harus punya bukti dulu. Baru kita jembloskan dia dalam penjara."

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!🙏


__ADS_2