Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 10


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, akhirnya Anin dan Delano sudah tiba di halaman rumah Anin. Dengan rasa yang tak menentu, Anin langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.


Betapa hancurnya hati Anin, seketika langkahnya terhenti melihat sosok pria yang sudah meninggalkan ia dan Ibunya lalu datang kembali. Tak jauh dari posisi Papanya berdiri, Ibunya Anin terkapar dilantai. Lemah dan tak berdaya. Kondisi ibu Anin membuat emosi Anin memuncak pada papanya itu.


"Wahh,, kamu liat Bella, anak kesayangan kamu sudah datang menjemputmu." ucap Papanya Anin.


Anin yang sedari tadi amarahnya sudah tak terbendung langsung mendekati papanya.


"Papa jahat.." Bentak Anin. Tetes air mata tak henti-hentinya keluar dari pelupuk mata Anin.


"Liat hasil didikan Bella, liat ini..!!!! Anakmu dengan beraninya membentak papanya.


"Papa cukup..!!!" Teriak Anin lagi.


"Selama ini Anin masih sabar menghadapi sikap Papa yang seperti ini, tapi kali ini Anin tidak bisa diam saja. Apa belum cukup papa menyakiti Ibu ? Hah? Jawab pah!!! Kalau pergi sini pah sakiti Anin saja, pukul Anin saja.!! Tampar Anin saja. Tapi jangan sekali-kali papa menyakiti Ibu."


Plakkkk!!


Plakkkk!!

__ADS_1


Tamparan di pipi kanan dan kiri Anin. Kini wajah yang cantik dan tampak putih ini, kini berubah merah tak lupa gambaran tangan Papanya.


"Sudah puas pah?"


"Saya mohon papah keluar dari rumah ini sekarang..!!!" Teriak Anin lagi.


Bukannya menuruti permintaan Anin, Papa Danu malah berjalan mendekat ke arah Ibu Anin.


"Ingat ya Bella, aku akan mengurus hak asuh Anin. Jadi kamu tidak akan bisa bersama dengan Bella. Jadi selagi hak asuh itu belum terproses silahkan nikmati masa-masa indah bersama anakmu ini." ujar Papa Danu dan langsung keluar dari rumah.


Saat dipintu, Papa Danu melirik tajam ke arah Delano. Delano hanya berusaha mengalihkan padangannya. Setelah Papanya pergi, Anin langsung mendekat ke Ibunya. Ia memeluk Ibunya dengan sangat erat.


"Ibu....maafin Anin karena ninggalin ibu sendiri disini hiks hiks.." lirih Anin.


"Anin, biar aku saja yang bawa Ibu kamu ke kamar, kamu buatin ibu kamu teh hangat saja biar perasaannya bisa legaan." ucap Delano tiba-tiba


Anin tanpa menjawab langsung menuju ke arah dapur. Sedang Delano memapah Ibunya Anin menuju ke kamarnya. Delano dengan sangat hati-hati mendudukkan Ibunya Anin dipinggir ranjang, lalu lelan-pelan mencoba baring.


"Terimakasih ya nak, sudah bantu Ibu dan juga Anin." ucap Ibu setelah diantara keduanya tidak ada obrolan sama sekali.

__ADS_1


"Sama-sama bu. Ibu harus sabar. Ibu harus kuat. Anin masih butuh Ibu." sahut Delano. Ia bingung ingin berkata apa lagi selain berkata itu.


"Kamu temannya Anin dikota?" Tanya Ibu lagi


"Iya bu, kebetulan saya juga baru habis ujian di kampus yang sama dengan Anin." balas Delano jujur.


Tak lama, mumcul Anin dengan membawa satu buah nampan berisi teh hangat, kompresan hangat, dan beberapa kue untuk Delano.


Anin dengan telaten mengompres luka-luka yang ada di wajah Ibunya. Sungguh sakit hati Anin melihat ini semua.


"Bu, maaf jika Anin membahas ini di waktu yang tidak tepat seperti ini. Anin sudah memutuskan untuk tidak lanjut kuliah jika hasilnya Lulus nantinya. Anin akan terus di samping Ibu. "ucap Anin.


"Anin, Ibu hanya minta satu itu saja sama kamu nak. Kamu mau ya?" pinta Ibunya Anin.


Saat ibunya dibiarkan istirahat, Anin dan Delano keluar dari kamar Ibunya dan menuju ruang tamu.


"Delano, terima kasih banyak atas bantuannya hari ini." ucap Anin. Maaf juga aku belum bisa ngobrol tentang yang kemaren sama kamu. Aku harap kamu mengerti." ucap Anin lagi.


"Aku tahu kok, karena satu alasan 'Trauma'. Benar begitu? Ucap Delano lagi. 5 menit kamu tidak menjawab, itu artinya benar."

__ADS_1


Kini keduanya masih sama-sama diam, Anin sibuk dengan semua masalah yang berkecamuk. Sedang Delano sedang menanti jawaban dari Anin.


****


__ADS_2