
Keduanya masih saling terdiam. Hanya ada sesekali hembusan dari keduanya.
"Kamu mau berbagi cerita padaku?" Tawaran dari Delano membuat Anin seketika menatap mata indah milik Delano.
"Jujur kak, aku pun ingin merasakan yang namanya cinta tapi lagi dan lagi rasa takut dan trauma itu muncul. Ketika aku tahu bahwa kakak mencintaiku, waktu kakak menyatakan perasaan kakak padaku, aku sangat senang. Ternyata masih ada yang mencintaiku. Apalagi aku malu padamu kak atas apa yang pernah kakak lihat waktu itu."
"Anin, aku mencintaimu dengan tulus. Tapi aku juga sadar bahwa aku tidak bisa memaksamu begitu saja. Toh lagian juga, sebuah hubungan yang didasari karena keterpaksaan nggak baik. Makanya aku nggak terlalu maksain kamu. Biarlah waktu yang akan menjawab ini semua. Ya sudah, ini sudah larut malam, aku pamit pulang ya." ucap Delano sambil mengelus kepala Anin dengan lembut.
Delano segera beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar tamu tadi untuk mengambil barang miliknya. Kini keduanya sudah berada di pintu utama. Sebelum benar-benar pulang Delano kembali menatap wajah perempuan di hadapannya. Sungguh rasanya ia ingin melihat wajah itu setiap saat. Tapi Ia bisa apa, cinta tak bisa dipaksakan.
"Aku pulang ya. Kamu baik-baik disini. Kalau kamu mau keluar, hubungi aku aja, aku akan antar ya." ucap Delano dan hanya di balas anggukan oleh Anin.
"Aku juga mencintaimu kak." ucap Anin tiba-tiba saat Delano hendak membuka pintu.
Delano yang mendengar pengakuan itu seketika berbalik dan kini keduanya saling berhadapan.
Anin langsung berhambur ke pelukan Delano. Delano yang merasakan pelukan itu, ia membalasnya dan tersenyum. Akhirnya penantian itu datang juga.
"Terimakasih ya Anin."
Anin yang mendengar ucapan Delano langsung merenggangkan pelukannya dan menatap kedua bola mata yang begitu indah itu.
"Terimakasi untuk apa kak?"
"Terimakasih karena kamu sudah buat aku percaya dan merasa layak untuk dicintai."
__ADS_1
"Bukannya kebalik ya kak? Harusnya aku yang berterimakasih karna kakak mencintaiku meski waktu itu aku belum percaya."
"Intinya aku senang malam ini. Terimakasih ya Anin."
Kini keduanya saling berpelukan. Melepas rasa sesak yang keduanya tahan karena sama-sama masih ada keraguan. Dan akhirnya malam ini kedua rasa itu kini saling menyatu.
"Ya sudah, aku pulang ya. Selamat malam cinta." Ucap Delano dan segera pulang. Ketika sosok Delano sudah tak terlihat, Anin melangkah masuk ke apartemen dan tak lupa ia mengunci semua pintu dan jendela. Setelah semua beres dan aman, Anin langsung menuju ke kamarnya. Ia sudah mengantuk sedari tadi.
****
Pagi ini Anin tidak ada kegiatan di kampusnya. Jadi hari ini ia bisa bersantai-santai di apartemen. Tiba-tiba ibunya menelpon. Gegas Anin segera mengangkat panggilan dari Ibunya.
[Assalamu'alaikum ibu]
[Waalaikumussalam nak, gimana kabarnya nak?]
[Gimana kemaren nak? Aman semuakan?]
[Iya bu, ya walaupun pengurusannya lumayan lama tapi akhirnya selesai juga. Jadi tinggal nunggu jadwal pengenalan kampus aja]
[Hari ini ke kampus nak?]
[Enggak bu, nanti tiga hari lagi baru ke kampus]
[Anin, ibu mau kejujuran dari kamu nak]
__ADS_1
Deghh
[Soal apa bu]
[Tadi pagi-pagi sekali nak Delano nelpon ibu. Kalian ada apa?]
[Maksudnya bu?]
[Benar kamu sama nak Delan pacaran nak?]
[I-iya bu..maafin Anin bu.]
Terdengar hembusan nafas kasar dari seberang. Ada apa sebenarnya sama ibu?
[Bu? Ada apa?]
[Anin sebaiknya kalian hentikan hubungan kalian itu. Kalian tidak boleh menjalin hubungan]
[Tapi bu? Anin cinta sama Kak Delano. Dia pun juga sama bu]
[Anin stop.!!! Lupakan Delano mu itu. Lebih baik sekarang kamu beresin pakaian kamu, Ibu lagi diperjalanan menuju tempatmu. Ibu akan carikan tempat tinggal untukmu meski bukan apartemen nak ya.]
[Tapi bu-]
Tuttt..
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya sih? Pindah? Kenapa tiba-tiba gini? Ya tuhan baru juga semalam jadian, pagi ini harus berakhir?
Kira-kira ada apa ya dengan Anin dan Delano?