Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 26


__ADS_3

Hari ini, Anin akan berbelanja keperluan kostnya. Mumpung hari ini libur, ia memilih berkegiatan lain.


"Hem bosen juga kalau pergi sendiri. Elena sibuk nggak yah? Telpon aja deh."


Anin segera mengambil ponselnya dan mencari kontak Elena. Tak lama panggilan terhubung.


Tut..tut...tut...


[Halo Anin, tumben nih?]


[Kamu sibuk nggak hari ini?]


[Enggak juga sih, ada kuliah satu tapi jam 9 nanti selesai. Ada apa?]


[Temenin aku belanja yuk...!]


[Boleh, tapi traktir makan ya. Lapar nih bos]


[Iya aman itu]


[Oke deh, aku kuliah dulu baru jemput kamu. Jangan lupa share lokasinya..!]


[Makasih ya Len.]


Masih menunjukkan pukul 07.30, Anin sarapan lebih dulu baru kembali melanjutkan beberes rumahnya. Setelah semua beres, Anin merebahkan badannya di atas tempat tidurnya.


****


Sudah hampir jam 9 pagi, Anin sudah bersiap untuk bepergian. Tak lama, ponselnya bergetar dan ternyata dari Elena.


[Aku udah ada di depan]


Setelah membaca pesan dari sahabatnya itu, Anin bergegas keluar dari kamar kostnya tak lupa ia menguncinya dan menyusul Elena yang sudah menunggunya di luar.


Anin kini sudah berada di dalam mobil Elena. Elena langsung melajukan kendaraannya meninggalkan kos milik Anin.


"Anin, gimana kelanjutan hubungan kamu sama Delano-Delano itu?"


"Nggak tahu aku Len. Karena masalahnya ini ribet Len."


"Iya aku paham."


"Tapi semalam dia memuin aku, dan ngajakin ngobrol."


"Terus?"


"Ya dia nanya gimana dengan kejelasan hubungan kita. Tapi kamu kan tau sendiri akar permasalahannya seperti apa, aku ke ibu aku patuhnya kek gimana."


"Iya sih. Oh iya kita mau langsung ke toko perabotan aja nih?"


"Iya.."


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah tiba di sebuah toko perlengkapan rumah tangga. Begitu ramai para ibu-ibu berbelanja disini, ada juga para bapak-bapaknya yang menemani istrinya berbelanja.


Untungnya Anin sudah menulis list barang yang akan di beli. Jadi tidak memakan waktu lagi saat berbelanja. Setelah semua barang yang terlist sudah dibeli, Anin dan Elena kembali .


"Mau makan dulu atau mau langsung pulang nih?"


"Hah? makan dong. Kan tadi udah aku janji mau traktir."


"Kalau jalan ke mall masih sanggup nggak nih kamu Anin? Soalnya ada mau aku beli disana."


"Alah alasan. Bilang aja mau ditraktir makan di mall."


"Hehehehe."


"Ya sudah buruan kita kesana."


"Auuchhh manis banget cih cahabat aku ini."


Anin tak menjawab ledekan sahabatnya itu, biarlah terserah dia mau ngapain.


Anin dan Elena sudah masuk di area mall. Keduanya langsung menuju ke salah satu toko yang ingin di datangi oleh Elena. Setelah puas berkeliling dan barang yang dibeli sudah ada, kini keduanya menuju tempat makan dan mereka akan kembali pulang. Ternyata Elena ada jam kuliah dadakan sekitar satu jam lagi.

__ADS_1


Tak memakan waktu yang lama, Anin dan Elena sudah selesai makan, dan Elena mengantar Anin pulang ke kostnya.


"Nanti aku bolehkan main kesini nin?"


"Iya datang aja."


Setelah berpamitan, Elena langsung melajukan mobilnya meninggalkan kost Anin dan menuju ke kampusnya. Anin memasukkan satu per satu barang belanjaannya dan beristirahat sejenak.


Anin beranjak mengambil buku catatannya dan duduk di meja belajarnya. Ia kemudian menyalurkan isi hatinya lewat tulisan. Saat sedang asyik menulis, ponselnya berdering. Entah siapa yang menelponnya. Anin segera mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Ternyata Delano lagi.


"Ada apa kak?" ucap Anin langsung tanpa menunggu sang lawan bicara untuk memulai obrolan.


"Bisa kita bertemu? Ada mama aku juga pengen ketemu kamu. Please Anin."


"Dimana?"


"Gimana kalau di cafe ****?"


"Baiklah."


Anin segera mengakhiri panggilan itu dan bergegas siap-siap. Saat tengah bersiap-siap terdengar suara ketukan pintu dari luar. Anin segera keluar dan membuka pintu.


"Misi mbak, saya mau nganter motor. Bener ini mbak Anindya?


"Iya mas saya sendiri."


"Baiklah, ini kunci motornya mbak."


Anin menerima kunci motornya dan sang kurir langsung pergi. Anin segera masuk dan menghubungi ibunya lebih dulu.


Tutt..tutt


[Assalamu'alaikum nak.]


[Wa'alaikumussalam bu, bu ini motor Anin udah nyampe]


[Alhamdulillah, kamu gimana kabarnya nak?]


[Uhukk....uhukk..]


[Bu...ibu sakit ya?]


[Nggak kok nak, ini ibu lagi sambil makan.]


[Ya sudah bu, Ibu sehat selalu ya..]


Setelah panggilan berakhir, Anin memasukkan ponselnya ke dalam tas, tak lupa dompet ia masukkan juga. Setelah semua siap, Anin segera keluar dari kostnya, tak lupa ia mengunci dan melajukan kendaraannya menuju cafe yang mereka sudah janjian tadi.


Hampir 20 menit Anin menempuh perjalanan, akhirnya Anin sudah tiba. Ia langsung memarkirkan motornya dan berjalan masuk ke dalam cafe.


Saat di dalam, ia menilik tiap sudut, berharap orang yang ia cari, ketemu. Dan benar saja sorot matanya menangkap sosok Delano dan mamanya.


Anin segera menghampiri Delano dan mamanya. Sedang Delano yang menyadari kedatangan Anin tersenyum.


"Duduk Anin." Ucap mamanya Aninn Anin segera duduk di samping Delano.


"Gimana kabar kamu Anin?


"Alhamdullillah baik ma"


"Ibu kamu masih ada disini nak?"


"Nggak ada ma, ibu sudah pulang"


"Anin, maaf ya mama jadinya nyuruh kamu kesini."


"Iya nggak papa ma."


"Mama berharap kalian bisa bersama lagi. Anin, mama minta maaf ya. Mama nggak tahu, jika Mas Danu itu Papa kamu. Tapi mama udah minta pisah dari mas Danu."


"Kenapa ma?"


"Bagi mama kebahagiaan Delano lebih utama."

__ADS_1


"Maaf Ma, Anin permisi dulu." ucap Anin dan melangkah pergi meninggalkan Delano dan mamanya.


Delano mengejar Anin yang hendak menyalakan mesin motornya, dengan gerak cepat, Delano mencabut kunci motor Anin dan memasukkan ke dalam saku celananya.


"Anin please, kasih aku waktu buat kita bicara, buat kita nyelesaiin masalah kita."


"Apa lagi yang perlu di selesaikan kak? Sudah jelas aku dan kak Delan sudah tidak bisa bersatu."


"Kamu nggak denger mama aku bilang apa tadi? Dia susah minta pisah dari papa."


"Cihhhh, kakak pikir papa akan semudah itu melepas mama ? Nggak kak..!!!


"Tapi setidaknya beri aku ruang untuk bicara sama kamu."


"Selesaian dulu perkara papa jika kak delan memang serius padaku." ucap Anin dan segera mencoba mengambil kunci motor dari sakunya, namun ia tidak berhasil.


Karena tidak mau berdebat, Anin menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depan Anin. Anin segera masuk ke dalam taksi, sebelum ia bemar-benar masuk ia berbalik.


"Tuh balikan aja sama motor aku."


"Jalan pak."


"Anin tunggu..!!!"


"Aninnn!!! Arggggg!!!"


Delano tak putus asa, ia mengejar Anin memakai motor Anin, berusaha menghindar, ternyata Delano lebih cepat dan gesit soal berkendara. Kini Delano menghadang jalan Anin.


"Gimana ini mbak?"


"Saya turun disini saja pak, makasih ya pak. Maaf sebelumnya."


"Iya sama-sama mbak."


Melihat Anin turun, Delano tersenyum. Anin melangkah demi langkah mendekat ke arah delano.


"Makasih ya Anin kamu mau temuin aku. Izinkan aku buat bicara sama kamu. Please.."


"Ya.."


"Kita ngobrol di sana aja nggak papa?"


"Ya."


Delano berjalan lebih dulu, disusul Anin yang mengekori langkah Delano.


"Terimakasih ya Anin, kamu udah mau ngasih kesempatan buat aku. Rasanya itu kayak kita waktu awal-awal dulu. Kamu ingetkan waktu kamu habis ujian duduk di bangku depan fakultas lalu makan roti dan susu, lalu aku datang minta roti kamu."


"Aninnnn.."


"Kenapa ya kita berada di situasi yang serumit ini? Kenapa aku terus bertahan ketika aku tahu kamu kecewa dan menjauh dari aku? Dan hal yang selalu aku pertanyakan kenapa Tuhan mempertemukan kita dan mendekatkan kita, padahal kita begitu sulit untuk bersama dalam situasi seperti ini. Tidak seperti kemaren-kemaren. Anin, sejak kamu menjauh, bahkan ibu kamu melarang kita bersama lagi, aku seperti orang gila, duduk dilantai, bersandar di dinding, diam, dan merenung, lalu tiba-tiba air mata ini menetes padahal aku tidak mau menangis."


"Apakah sebegitu parahnya kamu saat merasakan kehilangan kak?"


"Apa masih harus aku mengulangnya Anin?"


"Maafin aku kak, jujur aku juga merasakan berat dengan semua ini. Rasanya begitu tidak adil. Siapa yang tidak sakit, jika baru saja semalam kita saling mengutarakan perasaan kita, lalu waktu pagi datang, harusnya menjadi pagi yang indah, tapi ternyata semua hanya mimpi. Semuanya berantakan."


"Aku mau kejujuran dari kamu Anin? Apakah rasa sayangmu itu untukku masih ada?"


Anin hanya menggangguk, ia semakin hari justru tidak bisa menahan. Melihat anggukan kepala dari Anin, Delano langsung memeluk Anin.


"Aku merindukanmu."


"Aku juga kak. Tapi gimana dengan ibu?"


Delano melepas pelukannya, dan menatap teduh ke arah Anin.


"Kita lewatin sama-sama, kita selesaikan urusan mama dulu baru ibu. Kamu yang sabar ya.." ucap delano sambil mengelus kepala Anin. Sungguh ini yang Anin rindukan.


Keduanya menghabiskan waktu bersama. Bercerita dengan penuh tawa diantara keduanya. Rasanya kedua insan begitu bahagia, terasa seperti awal saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga malam hari keduanya masih bersama. Keduanya mencari makan malam, dan setelah itu Delano akan mengantar Anin pulang ke kostnya.


****

__ADS_1


__ADS_2