
Pagi ini Anin dan Ibunya sudah siap untuk menuju ke kost Anin. Tak butuh waktu lama keduanya sudah tiba, Anin segera memasukkan barangnya satu-satu meski sedikit kerepotan.
Ibunya sibuk mengurus pembayaran Anin untuk setahun kedepan. Setelah barang-barang masuk Anin langsung duduk di kursi. Kebetulan di kamar Anin itu ada fasilitas meja belajar, dapur, kamar mandi, tempat tidur.
Ibunya Anin beristirahat sejenak karena ia akan kembali pulang, membutuhkan waktu lima jam. Setelah cukup beristirahat, Ibunya Anin berpamitan. Saat ibunya sudah pulang, Anin kembali ke kamar kostnya dan kembali membereskan kamarnya.
Hampir dua jam akhirnya kamar Anin sudah beres. Ia beristirahat sejenak sembari memainkan ponselnya. Hingga ia tertidur saat sedang memainkan ponselnya.
****
Hampir tiga jam terlelap, Anin bangun juga akhirnya. Ia gegas ke kamar mandi dan menyegerakan melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat, Anin berencana keluar jalan-jalan sekitar kost. Sekaligus mencari makan malam. Meskipun ada stok mie instan, Anin masih malas untuk masak.
Saat tengah berjalan, Anin melihat ada penjual nasi goreng. Akhinya Anin memutuskan untuk membeli nasi goreng saja untuk ia makan malam ini.
Tak jauh dari penjual nasi goreng tadi, ada juga penjual sate. Setelah pesanan nasi goreng Anin selesai ia berbalik arah menuju ke kosnya. Tapi ia singgah di penjual sate. Setelah persediaan makan malam Anin lengkap semua, Anin kembali berjalan menuju ke arah kostnya.
Baru saja ia hendak masuk pagar, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Kak Delan? Kok bisa disini?"
"Tadi nggak sengaja liat kamu dari penjual sate. Jadi aku ikutin."
"Ya sudah kak, ayo masuk."
__ADS_1
Untungnya Anin membeli banyak makanan, jadi ia berbagi makanan dengan Delano. Anin menyiapkan makanan yang ia beli tadi dan dua botol air dingin.
"Kak maaf ya nggak ada piring, soalnya belum belanja."
"Iya nggak papa. Mau aku temenin belanja?"
"Emang besok nggak ada jadwal kuliah?"
"Ada tapi cuma pagi, paling jam 10 selesai."
Anin dan Delano fokus pada makanan di hadapannya. Apalagi Anin ia sangat lapar. Setelah selesai makan, Anin membereskan bekas makanan mereka, lalu kembali menemui Delano.
"Mumpung masih belum terlalu malam, jalan yuk! Deket sini aja.."
Delano menunggu Anin di motornya. Tak lama Anin sudah keluar dengan tas kecilnya. Mereka menuju sebuah taman yang masih ramai pengunjung, kebetulan disana juga masih banyak penjual makanan dan minuman.
Saat keduanya sampai, keduanya menuju sebuah bangku yang masih kosong. Delano pergi sebentar membeli minuman untuk keduanya.
"Ibu sudah pulang ya?"
"Iya tadi pagi Ibu pulang."
"Anin, gimana soal hubungan kita?"
__ADS_1
"Aku sebenarnya bingung, bohong jika aku mengatakan jika aku tak ada lagi. Tapi kini aku benar-benar paham, bahwa kita tidak benar-benar berada dalam kata "Kita". Ibu pernah bilang kalau perempuan itu harus berani. Berani melakukan apa saja yang diimpikannya. Tapi teman berani adalah resiko. Berani jatuh cinta, berarti berani terima patah hati, berani merindu, resikonya berpilu, berani bicara, resikonya kecewa. Kita sebagai.manusia dihadapkan pada dua pilihan, mau pergi atau tidak, mau berhasil atau gagal, mau jujur atau bohong, tapi yang berhubungan dengan jatuh tidak ada pilihannya."
"Tapi aku masih mencintai kamu juga Anin."
"Kak rasa-rasanya kita percuma berjuang keras untuk ini, untuk itu, berharap kita bisa bersama lagi, tapi semua kembali pada orang tua kita. Suatu saat nanti, jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, kita akan kembali dipertemukan."
"Apa rasa sayang dan cintamu itu sudah memudar padaku Anin?"
"Apa pertanyaan itu mesti harus aku jawab kak? Rasanya kak Delan sudah pasti tahu jawabannya." Keduanya saling terdiam.
"Aku pamit pulang kak. Terimakasih atas jalan-jalannya."
"Aku anterin pulang ya."
"Nggak usah kak, Anin bisa sendiri."
Tanpa menunggu jawaban dari Delano, Anin segera beranjak dari taman itu menuju ke kostnya. Untungnya jaraknya bisa ia tempuh dengan berjalan kaki.
Setibanya di kost, Anin segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Kenapa perasaan ini begitu sulit? Aku harus apa? Aku masih mencintainya tapi ibu lebih dari segalanya."
Anin membawa semua masalah dan pikirannya yang kacau dengan tidur. Benar saja, tak butuh waktu lama, Anin sudah terlelap.
__ADS_1