Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 14


__ADS_3

Delano dan juga Anin sudah tiba di sebuah taman. Ada hiasan di sepanjang jalan masuk ke taman itu. Anin masih bingung dengan semua ini.


"Ayo turun." Ucap.Delano membuat lamunan Anin buyar.


Delano lebih dulu keluar dari mobil, tak lama Anin juga ikut menyusul langkah Delano yang sudah berjalan lebih dulu itu.


Setiba di dalam, Delano berhenti tepat di depan sebuah meja bundar yang sudah terhias sebuah bunga hiasan. Tak lupa sebuah bunga yang sudah di hias berbentuk buket.


"Duduk Anin." ucap Delano setelah menarik sedikit kursi untuk Anin. Setelah Anin duduk Delano langsung menuju ke kursinya.


Prok...prok...prok...


Tak lama datang dua orang memakai pakaian koki membawa sajian makanan untuk Anin dan Delano. Dua gelas minuman, dan beberapa menu makanan, dua piring di letakkan di hadapan Anin dan Delano sebagai makanan utama. Dan dua dessert diletakkan juga di atas meja.


"Selamat menikmati menu istimewa dari kami Tuan Nona. Ucap salah satu pelayan dan langsung pamit dari hadapan Delano. Kini keduanya masih saling diam. Belum ada percakapan.


"Ayo Anin di coba makanannya." ucap Delano akhirnya.


Anin tanpa membalas ucapan Delano, ia langsung mencicipi makanan yang tersaji di hadapannya.

__ADS_1


"Anin..." Ucap Delano ditengah keduanya fokus mencicipi makanan di hadapan masing-masing.


Anin hanya mengangkat kepala dan menatap ke arah Delano. Seakan sebagai jawaban dari panggilan Delano tadi.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Delano lagi.


"Aku baik." ucap Anin dan kembali menyendokkan makanan kemulutnya. Itu ia lakukan untuk menghindari kebohongan yang baru saja ia ucapkan. "Aku tidak baik-baik saja saat kamu tidak ada kabar sama sekali Delano." lanjut Anin lagi tentunya hanya ia ucapkan dalam hatinya.


"Syukurlah. Aku pikir kamu tidak baik-baik saja karena merindukanku." ucap Delano membuat Anin tiba-tiba tersedak.


Uhuk...uhuk...


"Makanya kalau mau bohong itu dipikir-pikir ya." ucap Delano lagi membuat Anin seketika membulatkan matanya mendengar ucapan Delano barusan.


Tak ingin menjawab lagi karena itu memang adanya, Anin kembali memakan makanannya. Tak lama, keduanya sudah selesai makan.


"Ada apa kamu membawaku kemari?" Kali ini Anin yang mencoba bicara duluan.


"Aku merindukan mu Anin." Ucap Delano lalu ia tersenyum pada Anin.

__ADS_1


"Aku minta maaf ya jika belakangan ini aku tidak menjawab panggilan darimu, aku tidak membalas pesan-pesanmu, walau aku juga sebenarnya ingin sekali membalas dan menjawab semua panggilanmu. Tapi hari ini aku langsung mendatangimu kerumah. Dan maaf ya jika aku hanya bisa memberikanmu hadiah kecil seperti ini. Dan hanya seikat buket untukmu. Aku harap kamu tidak marah."


"Aku menghubungimu karena ada urusan soal apartemen."


"Jadi keputusan kamu gimana?"


"Sebelumnya aku berterimakasih sama kamu karena sudah mau menyiapkan tempat tinggal yang begitu nyaman buatku. Tapi aku rasa pemberian kamu terlalu berlebihan. Kamu pasti mengeluarkan uang yang banyak. Tapi kenapa kamu malah merepotkan dan menyusahkan diri kamu sendiri dengan memberikan aku fasilitas semewah dan terbilang fantastis itu."


"Kamu tidak usah khawatir atau merasa bersalah karena aku mengeluarkan uang terlalu banyak untukmu. Itu tidak penting Anin. Tapi yang terpenting sekarang bagi aku itu kamu. Dan aku sudah menceritakan semua tentang kamu pada mama. Dan diluar dugaan aku, mama suka sama kamu juga. Dan malahan mama sebenarnya yang memberikan aku ide buat fasilitasi tempat tinggal buat kamu."


"Oke tapi kamu kan bisa sewain kost-kostan yang murah kalau emang kamu maunya begitu."


"Maaf ya Anin bukannya aku mau pamer, tapi yang jelas aku mau memberikan yang terbaik buat orang yang berhasil buat aku nyaman sama dia. Dan kamu berhasil Anin. Tolong kamu terima ya. Cuma itu yang bisa aku berikan buat kamu."


Anin menghembuskan nafasnya kasar lalu ia meneguk minumannya sekedar melegakan tenggorokannya yang kering.


Aku harap kamu memang tulus sama aku Delano. Aku cuma takut, rasa-rasanya aneh, aku baru mengenalmu beberapa hari, dan tiba-tiba tanpa ada angin maupun hujan kamu memberikan aku apartemen. Huft..." ucap Anin dalam hatinya.


****

__ADS_1


__ADS_2