Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 19


__ADS_3

Anin dan Delano sudah tiba di taman belakang rumah milik Delano. Milik mamanya lebih tepatnya. Karena mama Delano suka banget sama taman-taman seperti ini. Anin pun saat sampai, ia benar-benar kagum. Delano yang melihat senyum Anin seketika menatap senyuman itu hingga menghilang dari pandangan mata Anin.


"Kamu suka suasana seperti ini? Tanya Delano dan hanya dibalas anggukan oleh Anin.


"Kalau kamu bosen di apartemen kamu kesini aja. Mama pasti seneng. Dia ada teman ngobrol. Kalau aku jarang dirumah nin, aku lebih sering diluar.


Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba bibi datang membawa dua minuman dan cemilan untuk Anin dan Delano.


"Ini minumannya tuan." ucap bibi setelah meletakkan minuman dan cemilan di atas meja.


"Makasih ya bi." balas Delano. Setelah bibi pergi, kini hanya tinggal Delano dan Anin.


"Emm Delan, bibi tadi udah lama ya kerja di rumah kamu?" Tanya Anin


"Iya, sejak papa nggak ada." ucap Delano.


"Emang papa kamu kemana?"


"Papa ninggalin aku sama mama diusia aku yang masih sekitar 7 tahun kalau nggak salah. Waktu itu papa ketahuan punya wanita lain diluar sana. Mama sampai marah besar dan mengambil kembali aset-aset mama yang hampir dirampas oleh mereka berdua."


"Berarti semua kekayaan itu punya mama kamu?"


"Iya. Papa dulu karyawan mama waktu di butik. Papa awalnya hanya karyawan biasa. Tapi papa dan mama dekat dan akhirnya papa memegang jabatan bagus di sana . Dan ternyata hubungan mereka berlanjut sampai menikah. Dan tak sampai disitu saja, setelah menikah papa meminta mama untuk jadi ibu rumah tangga saja. Jadi urusan pabrik, butik, dan sebagainya papa yang urus. Dan mama percaya aja sama papa. Tapi tahun ke tahun, aku kayaknya sekitar umur 5 tahun, mama itu baru menyadari keganjalan yang ada. Dan hampir saja kita yang akan bangkrut, kalau waktu itu mama tidak gerak cepat."


"Dan tidak sampai disitu, setelah papa ketahuan, mama minta pisah, dan papa senang, dan ia setuju."


"Ternyata kamu punya kisah yang begitu pedih juga." ucap Anin

__ADS_1


"Ya gitu. Makanya diusia mama yang sudah tidak muda, mama pengen liat aku punya pasangan. Aku sebenarnya bukan nggak mau punya pasangan, tapi aku lebih mentingin mama aku dulu. Aku mau menghabiskam waktu buat mama, aku ingin buat dia bahagia."


"Aku mau nanya lagi boleh?" Tanya Anin.


"Iya boleh dong.."


"Mama kamu sakit ya?"


"Kamu nebak dari mana?"


"Tadi waktu makan, aku liat mama kamu kok kek lemes gitu. Tapi dia berusaha buat senyum sih."


"Mama emang gitu. Apalagi kamu kan bakal jadi calon mantunya. Jadi mama mau buat kamu beranggapan mama senang dengan kehadiran kamu walau sebenarnya fisiknya tidak mendukung. Mama sakit paru-paru. Tapi mama berobat rutin kok. Kamu doain ya biar mama cepat sembuh dan bisa melihat kita nikah nanti."


"Kamu ini dari tadi ngomongnya nikahlah, calon mantulah. Kita aja nggak ada hubungan apa-apa."


Anin hanya membalas dengan memukul lengan Delano. Entah kenapa lelaki di sampingnya ini se PD itu.


****


Karena waktu sudah larut malam, Anin akhirnya pamit pulang. Tentunya diantar lagi oleh Delano. Sebelum pulanh, Anin menyempatkan bertemu mama Delano dulu.


Tok..tok...


"Iya masuk.." ucap Mama Delano dari dalam.


Ceklek...

__ADS_1


"Eh kamu Anin. Ada apa sayang?"


"Tante, Anin izin pamit pulang dulu ya. Soalnya besok pagi Anin ada urusan di kampus."


"Oh baiklah. Kalau kamu nggak sibuk main kesini ya."


"Iya tan.."


"Anin?"


"Ya tante?"


"Duduk sini sebentar sayang."


"Ada apa tante?"


"Tante boleh minta sesuatu sama kamu?"


"Emangnya tante mau apa?"


"Kamu jangan manggil tante lagi ya, tapi panggil mama. Entah kenapa sejak kamu datang kerumah ini, mama itu senang sama kamu."


"Iya tan..ehh maaf iya ma. Ya udah Anin pamit pulang ya ma. Mama banyak istirahat, jangan lupa minum obatnya."


"Makasih ya nak." ucap Mama Delano dan langsung memeluk Anin.


Momen kehangatan itu dilihat langsung oleh Delano. Ternyata tak sia-sia ia mencintai perempuan yang baru ia kenal. Semoga dengan ini mama bisa tersenyum terus.

__ADS_1


__ADS_2