
Anin sudah tiba di unit apartemennya. Ia gegas menuju kamar utamanya, tak lupa ia menyalakan AC dikamar dan segera bersih-bersih. Setelah bersih-bersih Anin langsung menuju kasur dan segera istirahat.
Pagi ini Anin bangun lebih awal, karena ia akan ke kampus. Sebelum ke dapur membuat sarapan, Anin menyempatkan untuk menelpon ibunya. Setelah beberapa menit menelpon, panggilan berakhir dan Anin bergegas menuju dapur.
Pagi ini ia akan membuat nasi goreng dan udang goreng yang dibaluri tepung hingg membuatnya crispy. Hampir 30 menit Anin telah selesai memasak, ia langsung bergegas mandi.
30 menit berlalu Anin sudah siap tak lupa tas yang berisi berkas-berkas perkuliahannya. Anin langsung segera sarapan, dan bersiap ke kampus.
Kini pukul 08.00, Anin sudah ada diparkiran Apartemen. Dan ia begitu kaget, kendaraan yang dimaksud Delano ternyata mobil. Ia langsung mengambil ponselnya dari dalam tas dan mencari kontak Delano.
Tutt..tut..
"Pagi Anin sayang."
""Delan, ini kenapa kendaraannya mobil? Motor sudah cukup kok buat aku."
"Biar kamunya nggak kepanasan."
"Aku nggak tahu bawa mobil Delan."
"Astaga benarkah? Terus gimana dong? Maaf yaa sayang."
__ADS_1
"Ya sudah, aku mau ke kampus."
Panggilan diakhiri oleh Anin. Akhirnya Anin memesan taksi untuk ke kampusnya. Tak lama taksi pesanan Anin sudah datang dan segera melaju menuju kampus Anin.
Saat baru saja Anin hendak memasuki fakultasnya, ponsel yang sedari tadi ia genggam bergetar menandakan ada pesan masuk.
["Nanti aku jemput ya.Maaf nggak bisa nganter soalnya aku ada meeting pagi-pagi sekali."]
"Meeting apa sih? Terserah dialah."
Anin memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan kembali fokus menyelesaikan urusannya.
****
Saat Anin baru saja keluar dari fakultasnya, tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat mobil yang sangat ia kenal.
Sosok yang sedari tadi di dalam mobil perlahan keluar dan berdiri disamping mobil dan melambaikan tangan ke arah Anin. Entah kenapa Anin kurang nyaman di posisi ini. Bagaimana tidak, kini seluruh mata memandang ke arah Delano. Delano dengan jas yang masih melekat di badannya. Menambah aura ketampanannya semakin menyilaukan siapa saja yang memandangnya.
"Hufft dasar kegatelan banget sih. Nggak nyadar apa cewek-cewek terkagum-kagum padanya." gerutu Anin dalam hatinya.
Anin langsung mendekat ke arah Delano. Dan sosok itu tersenyum semanis manisnya untuk Anin.
__ADS_1
"Ayo pulang." ucap Anin dan langsung berjalan di pintu sebelah. Delano yang melihat tingkah Anin seketika berbeda, menaikkan alisnya setinggi-tingginya dan segera masuk ke pintu kemudi.
Mobil dinyalakan dan segera melaju meninggalkan area kampus. Ditengah perjalanan, mobil berhenti di sebuah restauran yang menyajikan aneka makanan dari korea.
"Kok berhenti?" tanya Anin yang masih di rundung rasa kesal.
"Emangnya kamu nggak laper? Hampir setengah hari dikampus. Ayo turun."
Anin tanpa menjawab ikut langsung keluar dari mobil dan mengikuti langkah Delano dari belakang. Delano langsung menuju meja yang paling belakang.
Tak lama, seorang pegawai restoran menghampiri keduanya.
"Silahkan mas ini buku menunya." ucap pegawai restoran itu dan memberikan dua buku menu. Setelah selesai memesan, dan pegawai restoran pun telah pergi dari hadapan Delano dan Vania.
"Kamu kenapa tiba-tiba kayak kesal gitu? Aku ada salah?"
"Nggak papa. Cuma lagi pengen diam aja." ucap Anin.
Kini pesanan mereka telah datang dan keduanya menyantap hidangan yang masih baru-baru selesai di masak itu. Dan keduanya segera pulang. Sepanjang perjalanan pun tak ada pembicaraan diantara keduanya. Hingga sampai di depan unit apartemen pun Anin langsung masuk. Tanpa berkata apa-apa, Anin langsung masuk tanpa pamit pada Delano.
Delano membiarkan rasa kesal Anin mereda, ia akan tunggu Anin di ruang tamu saja. Delano segera mengambil kunci akses miliknya dan menempelkannya di pintu. Saat sudah terbuka, Delano langsung merebahkan badannya di sofa.
__ADS_1
"Eh tapi kalau aku tidur disini, bisa-bisa badanku sakit semua lagi. Mending aku tidur di kamar tamu aja." ucap Delano lagi.
Sementara itu di kamar, Anin masih menggerutu karena Delano. Agar rasa kesalnya reda, ia merebahkan badannya di kasur dan tak lama ia pun terlelap.