Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 7


__ADS_3

Kini sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Dan Anin baru selesai dengan wawancaranya. Tinggal menunggu hasilnya aja. Semoga ia diterima.


Saat ia keluar dari fakultas, ternyata Delano sudah ada menunggunya. Ia langsung menghampiri Delano. Delano yang menyadari Anin disampingnya, tersenyum pada Anin.


"Ayo naik." perintahnya sambil menepuk jok motornya.


"Naik kemana? Maksudnya apa? Aku juga ada motor kok tadi aku parkir di sana."


"Iya tau, nanti motor kamu di bawa pulang sama temanku."


"Nggak usah repot-repot. Aku bisa sendiri bawa motor aku pulang" ucap Anin dan langsung meninggalkan Delano.


"Emang motor kamu bisa jalan kalau nggak ada kuncinya?"


"Maksudnya?"


Delano tak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya. Anin yang kesal dengan tingkah manusia dihadapannya ini menggerutu dalam hati. Bisa-bisanya ia bertemu manusia model begini.


Anin mencoba mengecek tasnya. Ia mencari kunci motornya. Tapi yang ia cari tidak ia dapat.


"Duh kunci motorku kemana ya? Perasaan tadi aku jelas-jelas masukin ke tas. Gerutu Anin pelan tapi Delano masih mendengarnya.


"Kuncimu ada di temanku, mungkin motormu lagi otw kerumahmu. Eh maksudnya rumah teman kamu."


Melihat raut wajah Anin yang kebingungan, Delano terkekeh.


"lucu banget sih." gumam Delano. Ternyata didengar oleh Anin.


"Hah? Apanya yang lucu? Kalau motor aku hilang gimana? Itu motor aku satu-satunya loh."


"Bisa diem nggak sih? Cerewet." ucap Delano tak lupa ia dengan gaya mencebiknya.


"Buruan naik." Ucap Delano lagi.

__ADS_1


Akhirnya dengan sangat sangat terpaksa Anin naik juga di motor Delano. Disepanjang perjalanan keduanya saling terdiam. Delano hanya melirik sekilas saja dari kaca spion motornya.


Setelah setengah jam berlalu, keduanya tiba di sebuah hamparan rumput hijau dan disana ada danau. Tanpa bicara sepatah kata pun, Delano langsung turun dari motornya dan berjalan ke arah danau. Anin hanya mengikuti saja dari belakang.


Kini keduanya duduk di pinggir danau. Pemandangan danau yang membuat mata seketika kagum. Semua rasa kesal hilang di telan oleh keindahan danau. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Hemm."


Anin yang mendengar itu segera menoleh ke sumber.


"Kenapa?"


"Nggak papa. Dari tadi diam bae. Nggak mau nanya gitu?" Ujar Delano


"Ya sudah, sekarang jelaskan semua yang menurut kamu mesti dijelasin."


"Jadi....."


"Jadi sejak kamu pamit sama aku kemaren dikampus, aku iseng ngikutin, sampe kamu singgah diminimarket hehehe."


"Kamu nggak ada kegiatam lain apa selain ngikutin dan kepoin hidup orang?"


"Duh jangan marah dong Anin. Kan cuma ngikutin."


"Iya ngikutinnya bikin aku takut tau nggak sih."


"Takut? Kamu takut sama aku?"


"Duh kecoplosan lagi." lirih Anin.


"Aku pulang naik taksi aja. Makasih."


Karena Anin berjalan cepat, Delano tak sempat mengejar. Biarlah nanti ia akan cari tahu sendiri.

__ADS_1


"Kok dia bilang takut sih? Emang muka aku nyeremin? Ahhh tau deh."


****


Pov Delano


Kenalin nama aku Delano. Aku sebenarnya mahasiswa semester 3 disalah satu universitas yang ada dikota. Saat itu aku memang ada urusan di rektorat. Tapi sampai disana, sorot mata ini menangkap pada sosok perempuan seperti kebingungan gitu. Akhirnya aku mencoba mendekatinya barangkali ia butuh bantuan.


Ternyata perempuan itu bernama Anindya. Nama yang manis menurutku. Ternyata dia lagi nyari informasi soal pendaftaran mahasiswa baru. Dan setelah ia dapat informasi dari kampus ku dia pergi. Tapi penasaran, ia mau ke kampus mana lagi?


Akhirnya aku mengikutinya, ku ikuti dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia masuk ke salah satu kampus swasta. Tak lama, kuliat ia sudah keluar lagi dari gerbang. Akhirnya aku ikuti lagi kemana dia pergi. Ternyata tak jauh dari gerbang tadi ia berhenti lagi. Akhirnya aku ikuti dia kemana perginya.


Dari kejauahan aku melihatnya sedang ngobrol dengan seorang ibu-ibu dan dari percakapan yang kutangkap sepertinya Anin akan ikut tes disini. Itu artinya aku jauh darinya.


Aku tidak berhenti mengikutinya, hingga ia singgah di sebuah minimarket. Aku juga ikut masuk ke dalam kebetulan juga ada yang ingin aku beli. Hingga keasyikan belanja aku tak sengaja menabrak Anin. Hingga Anin tak jadi belanja karena kesal denganku. Aku jadinya tidak jadi belanja juga. Aku langsung mengikuti Anin lagi, ternyata disini rupanya ia tinggal.


Keesokan paginya, aku sengaja datang lebih pagi kesana. Niatnya mau ngobrol sama Anin. Tapi ternyata kuliat dari kejauhan ia sudah siap dengan beberapa barang bawannya. Seperti mau melakukan perjalanan jauh.


Samar-samar ku dengar, pembicaraan Anin dan temannya. Ternyata Anin akan pulang ke rumahnya. Dan ia akan kembali saat mau tes di kampus tadi.


"Jadi bener dugaanku, kalau Anin akan kuliah disana."


Aku tidak mungkin mengikuti Anin pulang kerumahnya. Aku juga ada kesibukan lain. Satu-satunya cara aku harus ikut tes sama kayak Anin.


Setelah sampai di rumah, aku langsung mengambil ponsel dan menghubungi kontak mama.


"Halo Delan, Tumben nih anak mama nelpon."


"Ma, tolongin Delano dong."


Akhirnya Delano menceritakan dari awak hingga akhir ke mamanya. Dan mamanya dengan semudah itu menyetujui. Wah sultan emang beda..


Notes : Mamanya Delano seorang pengusaha tersukses di kota. Jadi maklumlah kalau untuk urusan seperti itu bagi mama Delano hal yang mudah

__ADS_1


__ADS_2