Takdir Seorang Anindya

Takdir Seorang Anindya
Bagian 17


__ADS_3

Setelah puas mengelilingi seluruh ruangwn tanpa ada yang terlewatkan satupun, Anin menyusul Delano yang sedari tadi duduk di ruang tamu.


Saat melihat Anin sudah duduk di sofa yang jaraknya tak terlalu jauh dari tempat Delano duduk.


"Ini minum. Tapi kayaknya nggak dingin, soalnya kelamaan kamu room tournya. Atau aku gantiin aja ya."


"Makasih Lan." ucap Anin


Tak lama Delano datang membawa satu minuman dingin untuk Anin. Lalu memberikan pada Anin. Anin langsung membuka segelan minuman dan segera meneguk. Ia memang sedari tadi sudah haus.


"Ya sudah, aku pamit pulang dulu ya. Kamu istirahat sana. Sebentar malam aku jemput kamu lagi kesini, kita kerumah ya. Mama aku ngajakin kamu makan malam bersama di rumah."


"Iya lan. Terimakasih ya."


"Sama-sama" ucap Delano dan mengelus lembut pucuk kepala Anin.


"Ohiya ingat, jangan sekali-kali kamu buka pintu, kalau aku yang datang aku langsung masuk karena aku punya kunci akses kamar ini."


"Iya Delano."


"Sana gih masuk istirahat, jam 8 malam aku kesini lagi."


Delano langsung keluar dan meningggalkan unit Anin. Anin yang begitu capek diperjalanan, ia langsung menuju kamar dan merebahkan badannya.


"Astaga aku lupa ngabarin ibu." ucap Anin dan langsung mengambil ponsel yang sejak tadi ia tidak sentuh. Ternyata ada lima panggilan tak terjawab dari Ibunya dan satu pesan dari Elena.

__ADS_1


Anin gegas menghubungi Ibunya..


Tut....tut..


"Assalamualaikum Anin, Ya Allah akhirnya kamu hubungin ibu juga. Ibu khawatir sama kamu sampai-sampai ibu hubungin temen kamu si Elena.


"Maaf ya bu, Anin baru buka handphone."


"Iya nak. Ya sudah kamu istirahat saja dulu. Nanti kita telponan lagi. Kamu jaga diri baik-baik ya nak."


"Iya bu. Ibu juga hati-hati disana."


Setelah selesai menghubungi Ibunya, Anin membuka pesan dari Elena.


Begitulah isi pesan dari Elena. Membuat Anin terkekeh. Ia sudah membayangkan wajah sahabatnya itu. Anin langsung menekan tombol memanggil.


Tut...tutt


["Halo Elena".]


["Hemmm"]


["Yah Elena ngambek."]


["Maaf ya Elena. Aku lupa ngabarin kamu. Oh ya besok aku mau ke kampus untuk pendaftaran ulang. Kita ketemuan yuk."]

__ADS_1


["Selamat ya Anin, akhirnya doa kamu terkabul dan bisa kuliah juga akhirnya. Oh ya kamu tinggal di apartemen mana? Enak banget sih kamu bisa pacaran sama anak sultan. Daebakk.."]


["Sultan apaan sih? Terus pacar, pacar siapa?]


["Ya siapa lagi kalau bukan Delano."]


["Masa? Tapi dia tidak pernah cerita. Ohiya aku tinggal di apartemen *****, nanti kamu kapan-kapan nginep sini ya."]


["OMG Anin, apart kamu apart termewah di kota. Dan hanya para sultan aja yang sanggup. Gilaa bener dah doi kamu."]


["Sultan apaan sih? Kamu dari tadi selalu bilang sultan lah, anak sultan lah. Tau ah. Aku mau istirahat dulu. Jumpa esok ya len.]


["Okedeh. Ohiya saran aku, caritau tuh asal usul doi kamu. Buktiin ucapan aku kalau dia itu anak sultan. Bye..."]


Panggilan berakhir.


"Biarlah nanti saja aku tanyakan langsung pada Delano."


Baru saja Anin hendak memejamkam mata tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ternyata ada pesan dari Delano.


[Selamat istirahat Aninku. Nanti jam 8 malam aku jemput ya❤️"]


Anin hanya membaca pesan itu lalu ia kembali meletakkan ponselnya tak lupa ia mensilent ponselnya dan mengisi baterai ponselnya.


Tak lama Anin pun terlelap

__ADS_1


__ADS_2