
"Mau apa lagi ? Aku lagi sibuk." ucap Anin.
Baru saja Delano hendak mejawab, tiba-tiba obrolan mereka terganggu dengan suara dering ponsel. Keduanya melirik ke sumber ternyata ponsel milik Anin yang berbunyi.
"Ibu? Ada apa ya? Perasaan baru-baru selesai nelpon sama ibu." ucap Anin ia tidak sadar jika ucapannya di dengar oleh Delano.
"Angkat gih, siapa tau penting." ucap Delano. Anin hanya mengangguk lalu segera meraih ponsel yang sedari tadi tidak berhenti bunyi lalu ia menekan layar bertuliskan jawab.
"Ha-"
"Anin, tolong nak."
"Bu... Halo ibu?" ucap Anin dari suaranya ia terdengar panik."
Samar-samar Anin mendengar suara laki-laki dari seberang.
"Papa? Tapi masa iya papa."
Tak lama Elena keluar dari kamarnya.
"Anin, ada apa? Kok panik gitu?" Tanya Elena yang tiba-tiba sudah duduk disamping Anin.
__ADS_1
('Delano mana? Ada kok lagi nyimak pembicaraan Anin wkwkwk')
"Len, kayaknya aku harus pulang sekarang. Aku takut ibu kenapa-napa. Apalagi tadi aku ada denger suara laki-laki. Mungkin itu papa. Jangan sampai hal itu terulang lagi." ucap Anin.
"Terus sekarang gimana? Dari sini kerumah kamu itu butuh waktu 5 jam loh. Dan nggak mungkin kamu naik motor sendirian." ujar Elena.
"Aku anter." ucap Delano tiba-tiba membuat Anin dan Elena memandamg ke arah Delano.
"Kebetulan juga aku tadi kesini naik mobil kok." ucap Delano lagi.
"Nah pas banget. Sudah buruan sana Anin." ucap Elena.
"Anin, please demgerin aku. Aku emang nggak tahu masalah kalian berdua apa. Tapi tolong kali ini, kamu mau dianterin dia ya. Ini demi ibu kamu sendiri Anin. Kamu lupa apa sekejam apa papa kamu itu." ucap Elena sedikit marah.
"Kamu mau Ibu kamu kenapa-kenapa ditangan papa kamu hah?" Bentak Elena lagi.
"Baiklah." ucap Anin.
"Aku ke kamar dulu, buat ngambil beberapa barang." ucap Anin dan berlalu masuk ke kamarnya.
Kini tinggal Elena dan Delano diruang tamu. Ada beberapa pertanyaan yang ingin Delano ucapkan tapi lidahnya serasa kelu.
__ADS_1
"Kalau kamu mau tau ada apa sama Anin, please dekati dia secara baik-baik. Dia itu trauma sama laki-laki. Dan rasa trauma itu datang dari papanya sendiri. Kalian hati-hati di jalan. Aku titip Anin. Jaga dia." ucap Elena dan meninggalkan Delano yang masih mencerna ucapan Elena.
"Trauma? Papanya? Apa mungkin ini alasan Anin bilang ia takut?"
Tak lama Anin sudah kembali menemui Delano. Tanpa basa basi, keduanya langsung saja berangkat. Di sepanjang perjalanan Anin hanya melamun, dari matanya tampak sekali jika ia ingin menangis.
Delano dengan sigap mengambil sapu tangan yang sering ia simpan di kamtong celananya. Lalu ia memberikannya pada Anin. Anin yang melihat aksi Delano menatap lekat mata laki-laki yang kini ada disebelahnya.
"Menangislah jika itu bisa membuat kamu lega." ucap Delano dan tetap fokus menyetir.
Anin yang tidak kuat lagi menahan air mata, segera ia tumpahkan semua benak yang berkecamuk.
"A-aku..." lirih Anin
Delano yang melihat Anin seperti ingin bercerita, ia berhenti di pinggir jalan dan mengambil air putih.
"Kamu minum dulu, biar kamu agak legaan sedikit. Kalau kam u percaya untuk berbagi ceruta kamu ke aku, aku sangat berterimakasih." ucap delano.
"Ibu tunggu Anin pulang." lirih Anin dalam hati.
****
__ADS_1